Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MEMBUAT CATATAN PERJALANAN: DARI MELIHAT, MEMAHAMI, HINGGA MEMAKNAI

    07 Sep 2026 | Dilihat: 18 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya cukup sering melakukan perjalanan. Ada perjalanan karena penugasan, menghadiri seminar atau konferensi, ada pula yang memang saya lakukan untuk berlibur, menikmati suasana sebuah kota, atau pulang kampung.

    Berbagai perjalanan itu tentu meninggalkan banyak cerita. Karena itu, membuat catatan perjalanan menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Bukan semata-mata untuk mengingat ke mana saya pernah pergi, tetapi untuk merekam apa yang saya lihat, siapa yang saya temui, apa yang saya rasakan, dan pemikiran apa yang muncul sepanjang perjalanan.

    Dari pengalaman itulah saya mencoba merumuskan beberapa tips sederhana tentang bagaimana membuat catatan perjalanan yang baik. Tentu saja, ini adalah versi saya. Boleh ditambahkan, dikurangi, atau diperbaiki sesuai dengan pengalaman dan gaya masing-masing.

    Bagi saya, catatan perjalanan yang baik tidak sekadar menjawab pertanyaan ke mana saya pergi, tetapi juga berkembang menjadi pertanyaan yang lebih jauh: apa yang saya temukan dan apa maknanya bagi kehidupan?

    Pada tingkat yang paling dasar, catatan perjalanan adalah sebuah catatan tentang apa yang terlihat dan dialami secara fisik. Kita menceritakan tempat yang dikunjungi, jalan yang dilewati, bangunan yang dilihat, makanan yang dicicipi, pemandangan, cuaca, suasana, atau berbagai peristiwa yang kita temui. Ini adalah lapisan pertama dan tetap penting, karena menjadi fondasi dari sebuah cerita perjalanan.

    Namun, menurut saya, deskripsi akan menjadi jauh lebih hidup apabila kita menghadirkan detail-detail kecil, suara kendaraan di jalan, aroma kopi dari sebuah kedai, warna langit menjelang senja, udara pagi, keramaian pasar, atau percakapan singkat dengan seseorang yang kita temui. Jangan hanya mengatakan sebuah kota ramai, gambarkan seperti apa keramaiannya. Jangan hanya mengatakan sebuah tempat indah; ceritakan apa yang membuatnya indah. Dengan demikian, pembaca tidak sekadar memperoleh informasi tentang sebuah tempat, tetapi seolah-olah ikut berjalan bersama kita dan melihat tempat itu melalui mata penulis.

    Namun, catatan perjalanan menurut saya memiliki tingkat kedalaman yang lebih tinggi. Pada tingkat kedua, kita tidak lagi sekadar melihat tempat, tetapi mulai mencoba memahami kehidupan yang ada di balik tempat tersebut. Sebuah pelabuhan, misalnya, bukan hanya tentang kapal, kontainer, dan kegiatan bongkar muat, tetapi juga tentang ekonomi, pekerjaan, teknologi, mobilitas, dan kehidupan masyarakat yang bergantung kepadanya.

    Sebuah kawasan wisata bukan hanya tentang pantai yang indah atau hotel yang nyaman, tetapi juga tentang bagaimana pariwisata memengaruhi ekonomi lokal, kebudayaan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat. Pada tahap ini, perjalanan menjadi sarana untuk memahami realitas sosial. Kita mulai bertanya: mengapa keadaan ini terjadi, siapa yang mendapatkan manfaat, siapa yang terdampak, bagaimana masyarakat berubah, dan ke mana perubahan itu akan membawa mereka.

    Jadi, perjalanan bukan hanya membuat kita menjadi lebih tahu tentang sebuah tempat, tetapi juga membuat kita lebih memahami manusia dan kehidupan yang berlangsung di dalamnya.

    Dan bagi saya, tingkat yang paling tinggi adalah ketika catatan perjalanan mampu membawa pengalaman tersebut ke dalam pengalaman batin dan pencarian makna. Kita tidak lagi berhenti pada pertanyaan tentang apa yang kita lihat dan apa dampaknya bagi masyarakat, tetapi mulai bertanya, apa yang semua ini katakan kepada saya tentang kehidupan?

    Sebuah perjalanan ke pantai pada awalnya mungkin hanya menghasilkan catatan tentang laut, pasir, angin, dan matahari terbenam. Kemudian kita melihat kehidupan masyarakat pesisir dan persoalan ekonomi yang mereka hadapi. Tetapi pada tingkat yang lebih dalam, laut itu sendiri dapat membawa kita kepada perenungan tentang waktu, perubahan, perjalanan manusia, kefanaan, dan hubungan kita dengan alam. Di sinilah perjalanan fisik berubah menjadi perjalanan batin. Kita berangkat untuk melihat dunia, tetapi tempat yang kita kunjungi justru menjadi cermin untuk melihat diri sendiri. Karena itu, bagi saya, catatan perjalanan yang paling menarik adalah yang bergerak dari melihat, menuju memahami, lalu sampai kepada memaknai.

    Kita mulai dengan mata, kemudian menggunakan pikiran, dan pada akhirnya melibatkan batin. Kita mungkin pergi ke sebuah tempat untuk sebuah pekerjaan, seminar, konferensi, liburan, atau pulang kampung. Tetapi ketika perjalanan itu selesai, yang kita bawa pulang seharusnya tidak hanya foto dan oleh-oleh.

    Ada pengalaman, percakapan, pemahaman, dan mungkin sebuah kesadaran baru tentang kehidupan. Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi, melainkan seberapa dalam kita melihat, dan seberapa jauh apa yang kita lihat mampu mengubah cara kita memahami kehidupan.

    Pengalaman menulis buku kumpulan puisi "Winter in Paris" dan "Login Haramain" semakin menegaskan bagi saya bahwa catatan perjalanan memiliki beberapa lapisan kedalaman. Pertama, menangkap apa yang terlihat secara fisik, alam, kota, manusia, sosial, dan budaya. Kedua, memahami kehidupan dan perubahan yang berlangsung di balik apa yang terlihat. Nah, yang lebih dalam adalah menangkap pengalaman batin yang muncul selama perjalanan, lalu mengolahnya menjadi refleksi dan makna.

    Paris bagi saya bukan sekadar kota dalam suasana musim dingin, sementara Haramain bukan hanya tempat berlangsungnya perjalanan ibadah haji, melainkan ruang yang menghadirkan pengalaman spiritual dan perenungan.

    Saya juga pernah menulis sekitar 15 puisi tentang Bali, yang mencoba menangkap Bali dari berbagai sisi, alamnya, kehidupan sosial masyarakatnya, serta kekayaan kulturalnya. Puisi-puisi itu memang belum menjadi sebuah buku, tetapi secara tidak langsung membentuk semacam kumpulan puisi tentang Bali.

    Pada akhirnya, perjalanan menjadi dialog antara dunia luar dan dunia dalam: apa yang kita lihat di luar memantik sesuatu di dalam diri, lalu pengalaman itu kita tuangkan kembali melalui tulisan, puisi, atau karya lainnya.

    Dengan demikian, kita tidak hanya menulis tentang tempat yang kita kunjungi, tetapi tentang bagaimana tempat tersebut menyentuh batin dan mengubah cara kita melihat kehidupan.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    Recent Event: Medan, 28 Agustus 2026

    Recent Event: The 3rd Annual OSH Asia’s Summit 2026

    Riri Satria On Big Thinkers Podcast

    video
    play-sharp-fill

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture