Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BUKU YANG WAJIB DIBACA SETIAP PEMIMPIN

    06 Aug 2026 | Dilihat: 27 kali

    oleh: Riri Satria

    Ketika kemarin saya berbincang dengan Mas Bro Sunil Tolani dalam sebuah episode Big Thinker Podcast. Perbincangan kami mengalir dari pengalaman memimpin organisasi, tantangan transformasi digital, hingga perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat. Kami sama-sama sepakat bahwa menjadi pemimpin pada masa sekarang jauh lebih kompleks daripada beberapa dekade yang lalu.

    Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan yang tepat, tetapi juga harus memiliki kemampuan membaca perubahan, memahami manusia, serta menjaga organisasi agar tetap bertahan menghadapi berbagai bentuk disrupsi.

    Mas Bro Sunil kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat menarik.

    "Bro Riri, kalau hanya boleh memilih beberapa buku yang wajib dibaca oleh setiap pemimpin, buku apa yang akan Anda rekomendasikan?"

    Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Jawabannya justru tidak sesederhana yang dibayangkan.

    Dunia kepemimpinan telah melahirkan ribuan buku yang sangat baik. Peter Drucker mengajarkan pentingnya manajemen yang efektif. John Kotter menjelaskan bagaimana memimpin perubahan. Simon Sinek mengingatkan pentingnya memulai dari alasan yang benar. Stephen Covey membangun fondasi karakter melalui kebiasaan-kebiasaan yang efektif. Jim Collins menunjukkan bagaimana organisasi biasa dapat berubah menjadi organisasi yang luar biasa.

    Saya kemudian menyampaikan bahwa saya memiliki dua jawaban yang berbeda. Jawaban pertama berkaitan dengan buku favorit saya sepanjang masa. Jawaban kedua berkaitan dengan buku-buku yang menurut saya wajib dibaca oleh setiap pemimpin.

    Kalau ditanya buku yang paling saya sukai sepanjang hidup, saya tidak ragu menyebut “Di Bawah Bendera Revolusi” karya Bung Karno. Buku itu bukan sekadar kumpulan pidato dan tulisan. Buku itu merupakan rekaman pergulatan intelektual, semangat kebangsaan, cita-cita kemerdekaan, dan keyakinan Bung Karno terhadap masa depan Indonesia.

    Setiap kali membaca buku tersebut, saya selalu merasakan energi seorang pemimpin yang mampu mengubah gagasan menjadi gerakan, mengubah harapan menjadi perjuangan, serta mengubah rasa percaya diri sebuah bangsa yang terjajah menjadi tekad untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

    Buku itu selalu mengingatkan saya bahwa kepemimpinan bukan hanya persoalan mengelola organisasi atau memenangkan kompetisi.

    Kepemimpinan juga merupakan kemampuan membangun visi, membangkitkan optimisme, dan menyalakan semangat kolektif untuk mencapai tujuan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

    Namun, ketika pembicaraan bergeser kepada buku-buku yang menurut saya wajib dibaca oleh setiap pemimpin, saya justru memilih tiga buku lain. Ketiganya memiliki benang merah yang sama. Ketiga buku tersebut tidak hanya berbicara tentang keberhasilan, tetapi juga menjelaskan mengapa keberhasilan dapat berubah menjadi kegagalan.

    Ketiganya tidak menawarkan optimisme yang berlebihan, melainkan menghadirkan refleksi yang jujur mengenai keruntuhan sebuah bangsa, organisasi, dan peradaban.

    Saya pun menjawab bahwa ada tiga buku yang menurut saya wajib dibaca oleh setiap pemimpin, apa pun bidangnya. Buku pertama adalah “Why Nations Fail”. Buku kedua adalah “Collapse”. Buku ketiga adalah “How the Mighty Fall”.

    Pilihan tersebut mungkin terdengar tidak lazim. Banyak orang mengira seorang pemimpin seharusnya membaca buku tentang motivasi, strategi bisnis, atau teknik kepemimpinan. Saya justru berpendapat bahwa seorang pemimpin harus terlebih dahulu memahami penyebab kegagalan. Pengetahuan mengenai kegagalan sering kali jauh lebih berharga daripada sekadar mempelajari kisah keberhasilan.

    Sejarah memperlihatkan bahwa keberhasilan dapat melahirkan rasa percaya diri. Sejarah juga memperlihatkan bahwa keberhasilan yang tidak disertai kewaspadaan dapat melahirkan kesombongan.

    Buku “Why Nations Fail” karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson memberikan pelajaran yang sangat mendasar mengenai kehidupan sebuah bangsa. Kedua penulis itu berusaha menjawab pertanyaan yang telah lama menjadi perhatian para ekonom dan ilmuwan politik.

    Mengapa ada negara yang begitu makmur, sementara negara lain terus bergulat dengan kemiskinan Mengapa beberapa negara mampu bertahan selama ratusan tahun, sedangkan negara lain terus mengalami krisis?

    Jawaban mereka tidak bertumpu pada kekayaan alam, letak geografis, ataupun budaya semata. Mereka menunjukkan bahwa kualitas institusi merupakan faktor yang paling menentukan. Institusi yang inklusif memberikan ruang bagi masyarakat untuk berinovasi, bekerja, berusaha, dan berkembang. Institusi yang adil melahirkan kepercayaan. Kepercayaan melahirkan investasi. Investasi melahirkan pertumbuhan.

    Pertumbuhan akhirnya meningkatkan kesejahteraan.

    Institusi yang bersifat eksploitatif justru menghasilkan keadaan yang berbeda. Kekuasaan hanya berputar pada kelompok tertentu.

    Kesempatan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Kreativitas perlahan menghilang. Inovasi kehilangan ruang. Masyarakat akhirnya kehilangan harapan.

    Saya memandang pelajaran tersebut tidak hanya berlaku bagi sebuah negara. Organisasi, perusahaan, perguruan tinggi, bahkan komunitas sastra sekalipun memerlukan institusi yang sehat. Kepemimpinan yang baik selalu membangun sistem, bukan sekadar membangun ketokohan. Pemimpin boleh berganti. Nilai, budaya, dan institusi harus tetap hidup.

    Buku “Collapse” karya Jared Diamond membawa pembaca menelusuri perjalanan berbagai peradaban besar yang pernah mencapai puncak kejayaan. Bangsa Maya, masyarakat Pulau Paskah, Viking di Greenland, serta sejumlah kerajaan besar menjadi objek kajian yang sangat menarik. Diamond tidak hanya menceritakan sejarah. Ia mencoba memahami pola yang menyebabkan sebuah peradaban akhirnya menghilang.

    Keruntuhan ternyata tidak pernah terjadi dalam semalam. Keruntuhan selalu diawali oleh serangkaian keputusan yang tampak kecil. Pemimpin mengabaikan tanda-tanda perubahan. Lingkungan mengalami kerusakan. Sumber daya dieksploitasi secara berlebihan. Konflik sosial meningkat.

    Kemampuan beradaptasi melemah. Kesalahan demi kesalahan akhirnya menumpuk menjadi persoalan besar yang tidak lagi dapat dikendalikan.

    Pelajaran tersebut terasa sangat relevan dengan situasi dunia sekarang.

    Perubahan teknologi berlangsung dalam hitungan bulan. Kecerdasan buatan berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Model bisnis berubah. Cara manusia bekerja berubah. Cara masyarakat memperoleh informasi pun berubah.

    Organisasi yang tidak memiliki kemampuan beradaptasi akan menghadapi risiko yang sama seperti berbagai peradaban besar pada masa lalu. Mereka tidak hancur karena diserang dari luar. Mereka perlahan melemah dari dalam.

    Buku “How the Mighty Fall” karya Jim Collins memberikan perspektif yang sangat dekat dengan kehidupan organisasi modern. Collins menjelaskan bahwa keruntuhan organisasi sebenarnya memiliki pola yang berulang. Organisasi yang besar tidak tiba-tiba kehilangan kejayaannya. Proses tersebut berlangsung melalui beberapa tahapan yang sering kali tidak disadari oleh para pemimpinnya.

    Keberhasilan melahirkan rasa bangga. Rasa bangga perlahan berubah menjadi kesombongan. Kesombongan mendorong organisasi melakukan ekspansi tanpa disiplin. Masalah mulai bermunculan. Pemimpin memilih mengabaikan kenyataan. Organisasi kemudian mencari sosok penyelamat. Harapan terhadap solusi instan akhirnya menggantikan kerja keras yang sistematis. Organisasi perlahan kehilangan daya hidupnya.

    Collins mengingatkan bahwa hampir semua organisasi masih memiliki kesempatan untuk bangkit selama para pemimpinnya mampu mengenali tanda-tanda kemunduran sejak dini. Kesadaran menjadi modal pertama untuk melakukan perbaikan. Kerendahan hati menjadi syarat utama agar organisasi dapat terus belajar.

    Saya melihat keempat buku tersebut sesungguhnya saling melengkapi, meskipun masing-masing lahir dari konteks yang berbeda. “Di Bawah Bendera Revolusi” mengajarkan bagaimana membangun sebuah bangsa melalui gagasan, cita-cita, dan semangat perjuangan. “Why Nations Fail” menjelaskan bagaimana sebuah bangsa dapat kehilangan kejayaannya apabila institusinya rapuh. “Collapse” memperlihatkan bagaimana sebuah peradaban dapat runtuh ketika gagal beradaptasi terhadap perubahan. “How the Mighty Fall” menjelaskan bagaimana organisasi besar dapat kehilangan arah akibat kesombongan dan hilangnya disiplin.

    Pandangan tersebut semakin menguat seiring bertambahnya pengalaman saya dalam dunia akademik, pemerintahan, korporasi, dan komunitas. Saya menyaksikan bahwa tantangan terbesar seorang pemimpin bukanlah membangun keberhasilan. Tantangan yang jauh lebih berat adalah menjaga keberhasilan itu agar tidak berubah menjadi awal dari kemunduran.

    Banyak organisasi gagal bukan karena kekurangan sumber daya. Banyak organisasi gagal karena kehilangan kemampuan belajar. Banyak organisasi gagal karena berhenti mendengarkan kritik. Banyak organisasi gagal karena terlalu yakin bahwa kejayaan hari ini akan berlangsung selamanya.

    Pemimpin yang bijaksana tidak pernah merasa dirinya sudah selesai belajar. Pemimpin yang matang selalu membuka ruang bagi gagasan baru, kritik yang membangun, dan perubahan yang diperlukan. Pemimpin yang besar tidak hanya memikirkan bagaimana memenangkan hari ini. Pemimpin yang besar juga memikirkan bagaimana organisasi tetap bertahan puluhan tahun setelah dirinya tidak lagi berada di sana.

    Percakapan saya dengan Mas Bro Sunil Tolani pada hari itu akhirnya mengingatkan kembali sebuah kenyataan yang sering terlupakan. Keberhasilan memang penting untuk diraih. Kebijaksanaan untuk mempertahankan keberhasilan jauh lebih penting untuk dimiliki.

    Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa yang paling menentukan bukanlah siapa yang paling cepat mencapai puncak, melainkan siapa yang paling mampu bertahan ketika dunia terus berubah.

    Bagi saya, “Di Bawah Bendera Revolusi” merupakan buku yang membangkitkan idealisme dan kecintaan kepada bangsa. “Why Nations Fail”, “Collapse”, dan “How the Mighty Fall” merupakan tiga buku yang menumbuhkan kewaspadaan, kerendahan hati, dan kebijaksanaan dalam memimpin.

    Seorang pemimpin memerlukan keduanya. Idealisme memberikan arah. Kebijaksanaan menjaga agar arah itu tidak hilang di tengah perubahan zaman.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture