Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Pojok TIM: Puisi dan Makna Sebuah Peradaban

    02 Aug 2026 | Dilihat: 14 kali

    Oleh Riri Satria

    Sejak zaman Plato, pertanyaan tentang manfaat puisi telah menjadi bagian dari perdebatan panjang dalam sejarah pemikiran manusia. Pertanyaan itu terus bergema hingga hari ini, terutama ketika dunia semakin mengagungkan produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan ekonomi.

    Puisi tidak membangun jalan raya, tidak meningkatkan produksi pabrik, tidak menciptakan teknologi baru, tidak menemukan obat bagi penyakit yang mengancam kehidupan manusia, dan tidak menaikkan pendapatan nasional.

    Puisi juga tidak akan menyebabkan harga minyak dunia turun, tidak akan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tidak akan mengatasi kelaparan di berbagai belahan dunia, tidak akan menambah stok pangan, serta tidak akan menyelesaikan persoalan pengangguran. Puisi tidak akan membuat teknologi menjadi semakin canggih atau mempercepat pertumbuhan ekonomi.

    Pertanyaan yang sama pun kembali muncul, untuk apa sebenarnya puisi jika manfaatnya tidak dapat diukur melalui berbagai indikator pembangunan?

    Jawabannya justru terletak pada hakikat manusia itu sendiri. Manusia tidak hanya membutuhkan sandang, pangan, papan, teknologi, dan pekerjaan, tetapi juga membutuhkan makna, harapan, keindahan, dan ruang untuk memahami dirinya. Puisi hadir untuk mengisi ruang yang tidak dapat dijangkau oleh rumus, mesin, atau laporan statistik.

    Puisi membantu manusia menemukan bahasa bagi kegelisahan, kehilangan, cinta, kerinduan, dan harapan yang sering kali tidak mampu diungkapkan melalui percakapan sehari-hari. Puisi mengingatkan manusia bahwa kehidupan bukan hanya tentang menghasilkan sesuatu yang dapat dihitung, tetapi juga tentang merasakan, memahami, dan memaknai pengalaman sebagai sesama manusia.

    Peradaban yang besar tidak pernah dibangun hanya oleh ilmuwan, insinyur, ekonom, atau pengusaha. Peradaban juga tumbuh bersama para penyair, seniman, filsuf, dan budayawan yang menjaga nurani masyarakatnya. Teknologi memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengubah dunia, sedangkan puisi mengingatkan manusia tentang alasan mengapa perubahan itu harus dilakukan.

    Ilmu pengetahuan memperluas batas kemampuan manusia, sementara puisi memperluas cakrawala empati, imajinasi, dan kebijaksanaan. Kemajuan material tanpa kepekaan hanya akan melahirkan masyarakat yang efisien, tetapi miskin makna.

    Puisi mungkin tidak mampu mengenyangkan perut orang yang lapar, tetapi puisi dapat membangkitkan kepedulian yang mendorong manusia untuk memberi makan mereka yang lapar. Puisi mungkin tidak menciptakan lapangan kerja, tetapi puisi dapat menumbuhkan nurani yang melahirkan kebijakan dan tindakan yang lebih berkeadilan.

    Puisi memang tidak dapat diukur dengan grafik pertumbuhan ekonomi atau laporan kinerja industri. Nilai puisi justru hadir dalam cara manusia memandang kehidupan, menghargai sesamanya, serta menemukan arti dari setiap pengalaman yang dijalani.

    Bangsa yang hanya mengejar kemajuan material mungkin akan menjadi kuat, tetapi belum tentu menjadi bijaksana. Bangsa yang tetap memelihara sastra dan puisi sedang merawat jiwanya sendiri agar tidak hilang di tengah derasnya arus kemajuan zaman.

    Peradaban yang sesungguhnya bukan hanya ditandai oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi atau teknologi yang semakin canggih, melainkan juga oleh kemampuan manusianya untuk tetap memiliki hati nurani, merasakan penderitaan sesamanya, serta memaknai kehidupan dengan lebih dalam.

    Sains, teknologi, dan ekonomi membangun dunia yang kita tempati, sedangkan puisi membangun manusia yang akan menentukan seperti apa dunia itu dijalankan.

    2 Agustus 2026


    Riri Satria adalah penyair yang telah menerbitkan sejumlah buku antologi tunggal. Karyanya tersebar di berbagai media. Riri juga dikenal sebagai pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

    Yon Bayu Wahyono

    Sumber: Pojok TIM

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture