Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • BOM WAKTU: KETIKA PUISI MENYIMPAN KEGELISAHAN ZAMAN

    31 Jul 2026 | Dilihat: 15 kali

    oleh Riri Satria

    "Bom Waktu: 100 Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangan" merupakan buku puisi terbaru saya yang terbit pada 2026. Buku ini menjadi buku puisi ketujuh saya sebagai karya puisi pribadi, setelah "Jendela" (2016), "Winter in Paris" (2017), "Siluet Senja dan Jingga" (2019), "Metaverse" (2022), dan "Login Haramain" (2025).

    Di antara rangkaian tersebut terdapat satu karya yang memiliki perjalanan tersendiri, yaitu "Algoritma Kesunyian", buku puisi duet saya bersama penyair Emi Suy yang terbit pada 2023. Setiap buku lahir dari fase kehidupan dan kegelisahan yang berbeda.

    "Jendela" menjadi pintu awal perjalanan kepenyairan saya. "Winter in Paris" karena memang ditulis di Paris pada saat musim dingin, membawa suasana dan pengalaman yang berbeda. "Siluet Senja dan Jingga" mempertemukan refleksi dengan lanskap batin. "Metaverse" mulai membawa puisi saya masuk lebih jauh ke dalam percakapan tentang teknologi dan perubahan peradaban. "Algoritma Kesunyian" mempertemukan suara dua penyair dalam sebuah dialog kreatif. "Login Haramain" membawa saya pada pengalaman spiritual dan perjalanan yang lebih personal di tanah suci ketika menjalankan ibadah haji. "Bom Waktu" kemudian hadir sebagai perenungan terhadap dunia yang lebih luas, tentang manusia dan peradaban yang sedang bergerak menuju sebuah masa depan yang belum sepenuhnya kita pahami.

    Buku ini lahir dari kegelisahan saya melihat arah perkembangan peradaban manusia yang bergerak semakin cepat. Dunia tampak maju, teknologi berkembang begitu pesat, kehidupan menjadi semakin mudah, berbagai batas terasa semakin kabur. Kemajuan menghadirkan begitu banyak kekaguman, sekaligus menyisakan pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab.

    Di balik gemerlap peradaban, saya melihat persoalan-persoalan yang tumbuh perlahan. Ketimpangan antara mereka yang memiliki banyak dan mereka yang nyaris tidak memiliki apa-apa semakin nyata. Lingkungan terus mengalami kerusakan. Keadilan sosial masih menjadi cita-cita yang kerap tertunda. Kemanusiaan perlahan berhadapan dengan logika pertumbuhan yang seolah tidak mengenal jeda.

    Gagasan tentang bom waktu kemudian muncul dari kesadaran bahwa berbagai persoalan tersebut dapat terus menumpuk, disimpan dalam kehidupan sehari-hari, lalu suatu ketika menghadirkan ledakan yang tidak pernah kita perkirakan. Bom itu tidak selalu berbentuk kekerasan. Bom itu dapat berupa kemarahan sosial, kehancuran ekologis, ketimpangan yang semakin dalam, hilangnya empati, serta perlahan pudarnya rasa kemanusiaan.

    100 puisi dalam buku ini merupakan cara saya berbicara dengan kegelisahan tersebut. Puisi bagi saya bukan sekadar permainan kata, estetika, atau ruang untuk merayakan keindahan bahasa. Puisi dapat menjadi cara untuk membaca zaman, mencatat perubahan, mempertanyakan arah perjalanan manusia, sekaligus merawat kekhawatiran agar tidak membeku menjadi diam.

    Pada draft awal, terdapat sekitar 120-an puisi yang terkumpul dari berbagai pengalaman, pengamatan, peristiwa, perjalanan pemikiran, serta kegelisahan yang tumbuh sepanjang waktu. Proses memilihnya menjadi seratus puisi bukan pekerjaan sederhana. Beberapa sahabat membantu membaca, memberikan pandangan, mempertanyakan relevansi, serta menimbang kekuatan setiap puisi. Sebagian harus disisihkan. Sebagian lain dipertahankan karena dianggap memiliki denyut yang lebih kuat untuk berbicara kepada pembaca.

    100 puisi akhirnya menjadi bentuk yang saya anggap paling mewakili kegelisahan tersebut. Angka 100 bukan sekadar jumlah. Angka itu menjadi semacam batas, disiplin, sekaligus keputusan untuk menyisakan hanya puisi-puisi yang benar-benar saya yakini.

    "Bom Waktu" akhirnya bukan sekadar buku puisi keenam dalam perjalanan kepenyairan saya. Buku ini merupakan semacam catatan perjalanan batin seorang manusia yang hidup di tengah zaman yang berubah dengan sangat cepat. Lima buku puisi personal sebelumnya telah membawa saya melewati berbagai ruang pengalaman, dari kesunyian, perjalanan, cinta, teknologi, hingga spiritualitas.

    "Bom Waktu" membawa saya kembali kepada pertanyaan yang lebih besar: ke mana sebenarnya peradaban sedang membawa manusia? 100 puisi dalam buku ini menjadi 100 jendela untuk melihat ketimpangan, lingkungan, teknologi, kemajuan, kemanusiaan, dan masa depan yang sedang kita bentuk bersama. Saya menyadari bahwa puisi mungkin tidak mampu menghentikan kerusakan atau menyelesaikan ketidakadilan.

    Puisi memiliki kekuatan yang berbeda. Puisi dapat membuat kita berhenti sejenak, terdiam, merenung, lalu bertanya kepada diri sendiri tentang dunia yang sedang kita bangun. Barangkali di situlah makna terdalam "Bom Waktu", bukan hanya tentang sesuatu yang suatu saat mungkin meledak, melainkan tentang kesadaran bahwa setiap manusia, setiap generasi, dan setiap peradaban sesungguhnya sedang menentukan apa yang akan diwariskannya kepada masa depan.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku ā€œApa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: ā€œJendelaā€ (2016), ā€œWinter in Parisā€ (2017), ā€œSiluet, Senja, dan Jinggaā€ (2019), ā€œMetaverseā€ (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul ā€œAlgoritma Kesunyianā€ (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: ā€œUntuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnisā€ (2003), trilogi ā€œProposisi Teman Ngopiā€ (2021) yang terdiri tiga buku ā€œEkonomi, Bisnis, dan Era Digitalā€, ā€œPendidikan dan Pengembangan Diriā€, dan ā€œSastra dan Masa Depan Puisiā€ (2021), serta ā€œJelajahā€ (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]

      Jan 23, 2026
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ā  Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa AlaaĀ atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Ā  oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture