Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Akhir-akhir ini ramai sekali pemberitaan, baik di media mainstream maupun media sosial, tentang mahasiswa yang mengalami tekanan berat selama menjalani bimbingan skripsi atau tesis, bahkan sampai mengalami depresi dan gangguan mental.
Persoalan seperti ini tentu tidak sederhana. Bimbingan tugas akhir mempertemukan dua manusia dengan posisi, tanggung jawab, harapan, dan tekanan yang berbeda. Dosen memiliki kewajiban menjaga mutu akademik, sementara mahasiswa sedang berhadapan dengan tuntutan menyelesaikan studi dan menghadapi masa depan.
Saya sendiri adalah dosen di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia dan merasa bahwa persoalan ini perlu kita renungkan dengan kepala dingin. Ada standar akademik yang memang harus dijaga, tetapi standar itu juga harus memiliki proporsi.
Skripsi bukan disertasi doktor. Tesis magister bukan pula disertasi. Setiap jenjang pendidikan memiliki tingkat kedalaman, keluasan, dan tuntutan ilmiah yang berbeda. Dosen perlu men-challenge mahasiswa agar menghasilkan karya terbaiknya, tetapi tantangan tersebut harus ditempatkan secara proporsional.
Menuntut tesis magister memiliki kualitas setara dengan disertasi doktor, atau menuntut mahasiswa S1 dan S2 menghasilkan publikasi dengan kualitas jurnal Q1 sebagai ukuran mutlak, menurut saya bukan lagi sekadar menjaga mutu. Tuntutan seperti itu dapat berubah menjadi beban yang tidak adil bagi mahasiswa. Saya menyebutnya sebagai penzoliman akademik apabila standar yang tidak sesuai dengan jenjang pendidikan dipaksakan kepada mereka.
Kita yang menjadi dosen juga tidak tiba-tiba berada pada posisi seperti sekarang. Kita pernah menjadi mahasiswa. Kita pernah tidak tahu, pernah salah, pernah mendapatkan banyak revisi, kemudian perlahan belajar sampai menjadi semakin mahir. Pengalaman tersebut semestinya membuat kita memahami bahwa pendidikan adalah sebuah proses bertahap.
Dosen juga perlu menyadari bahwa tugas kita bukan sekadar mengajar dan mentransfer pengetahuan. Peran yang jauh lebih penting adalah menjadi learning facilitator, fasilitator yang membantu mahasiswa belajar lebih baik dan berkembang lebih jauh.
Dosen memang harus memberikan tantangan, tetapi tantangan itu seharusnya membuat mahasiswa naik kelas, bukan membuat mereka merasa tidak berharga. Saya sendiri biasanya memulai bimbingan dengan satu pertanyaan sederhana, “Kamu siap?”
Setelah itu kami membicarakan apa yang akan dilakukan, teori apa yang digunakan, metodologi apa yang dipakai, bagaimana mekanisme bimbingan, kapan bertemu, dan target apa yang harus dicapai. Jadwal dan target tersebut menjadi kesepakatan bersama. Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa, mari kita patuhi kesepakatan itu bersama-sama.
Saya juga lebih senang melakukan bimbingan secara kolektif, sehingga suasananya sering lebih mirip focus group discussion atau FGD daripada bimbingan skripsi dalam pengertian konvensional. Mahasiswa dapat belajar dari pertanyaan dosen, sekaligus belajar dari kesalahan dan pengalaman teman-temannya. Cara seperti ini selama ini cukup membantu.
Sekitar 70% sampai 80% mahasiswa yang saya bimbing dapat menyelesaikan skripsi atau tesis tepat waktu. Alhamdulillah, banyak mahasiswa saya yang mematuhi kesepakatan tersebut, dan saya sangat bersyukur karenanya. Memang ada satu, dua, atau tiga mahasiswa yang kemudian tercecer karena berbagai alasan. Sebagian alasannya dapat dipahami dan masuk akal. Sebagian lainnya mungkin merupakan alasan yang dicari-cari. Untuk alasan semacam itu, tentu saya tidak bisa mentolerir.
Saya juga tidak toleran terhadap pelanggaran integritas akademik, seperti plagiarisme, mengambil karya orang lain lalu mengakuinya sebagai karya sendiri, atau bentuk ketidakjujuran akademik lainnya. Mahasiswa boleh belum sempurna. Mahasiswa boleh salah memahami teori atau metodologi.
Mahasiswa tidak boleh mengambil jalan pintas dengan mengorbankan integritas. Saya juga terus terang tidak terlalu respek terhadap mahasiswa yang tidak memiliki fighting spirit. Saya bisa memahami keterbatasan kemampuan dan kesulitan pribadi. Saya sulit menerima sikap tidak mau berusaha.
Mahasiswa yang sudah mempelajari teori tertentu dalam perkuliahan seharusnya memiliki bekal ketika memasuki proses bimbingan. Bimbingan skripsi dan tesis bukan saatnya mengulang seluruh teori dasar dari nol. Mahasiswa perlu datang dengan kesiapan, kemauan belajar, dan komitmen terhadap target yang sudah disepakati bersama.
Ada satu hal yang sangat saya syukuri sampai hari ini. Alhamdulillah, hubungan saya dengan para mahasiswa yang pernah saya bimbing tetap baik. Banyak di antara mereka sekarang bahkan memiliki karier yang jauh lebih hebat daripada saya. Saya justru merasa sangat senang melihat mereka tumbuh, berkembang, dan mencapai sesuatu yang mungkin dahulu belum pernah mereka bayangkan ketika masih menjadi mahasiswa.
Mereka sudah menjadi profesional, pemimpin, pengusaha, akademisi, dan menempati berbagai posisi penting di tempatnya masing-masing. Hubungan kami, bagaimanapun, tidak terputus.
Banyak di antara mereka masih senang berdiskusi dengan saya sampai hari ini. Silaturahmi juga tetap terjaga, setidaknya melalui media sosial. Bagi saya, hal tersebut merupakan salah satu kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan nilai akademik atau jabatan. Ketika seorang mahasiswa yang dahulu duduk di depan kita kemudian menjadi orang hebat, bahkan mungkin jauh melampaui dosennya, tetapi masih merasa nyaman untuk berdiskusi dan menyapa, di situlah saya merasakan bahwa proses pendidikan telah meninggalkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar selembar ijazah.
Saya juga dengan senang hati meminjamkan buku yang saya miliki kepada mereka. Saya berusaha mencarikan jurnal yang sulit mereka temukan apabila jurnal tersebut memang dibutuhkan untuk penelitian mereka. Semua itu saya lakukan bukan untuk membuat mereka bergantung kepada saya, sama sekali bukan, melainkan untuk membantu mereka tumbuh menjadi pembelajar yang mandiri.
Saya juga tidak pernah ingin memaksakan kepentingan pribadi dalam karya akademik mahasiswa. Saya tidak pernah meminta mahasiswa mencantumkan nama saya sebagai penulis pertama dalam sebuah jurnal hanya karena saya pembimbingnya. Menurut saya, itu tidak benar.
Penulis utama tentu mahasiswa yang mengerjakan penelitian tersebut, sedangkan dosen menjadi penulis pendamping apabila memang kontribusinya memenuhi ketentuan akademik. Integritas seperti itu justru lebih penting daripada sekadar mencantumkan nama di sebuah publikasi.
Mahasiswa sendiri memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Ketika memasuki masa bimbingan skripsi atau tesis, mahasiswa seharusnya sudah membawa bekal pengetahuan yang diperoleh selama masa kuliah. Kuliah bukan sekadar proses mengumpulkan nilai dan kemudian mendapatkan ijazah. Kuliah harus menghasilkan pemahaman. Buku harus dibaca dengan serius. Referensi tidak cukup hanya dicari melalui Google lalu dibaca sepotong-sepotong.
Mahasiswa perlu membaca secara komprehensif, membandingkan berbagai sumber, memahami teori, dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk membangun argumen. Belajar memang tidak selalu mudah. Membaca jurnal yang rumit, menerima banyak koreksi, dan berkali-kali melakukan revisi memang bisa melelahkan.
Mahasiswa perlu memiliki ketangguhan untuk menjalani proses itu. Kritik terhadap karya tidak sama dengan serangan terhadap pribadi. Dosen perlu tegas terhadap integritas dan komitmen, sementara mahasiswa perlu menunjukkan kesiapan, disiplin, dan fighting spirit.
Pendidikan tinggi pada akhirnya membutuhkan dua pihak yang sama-sama dewasa. Dosen harus mampu membimbing dengan bijaksana. Mahasiswa harus bersedia belajar dengan sungguh-sungguh. Keduanya harus memahami bahwa proses akademik bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif untuk mendapatkan gelar.
Akhir dari seluruh proses itu sebenarnya sangat sederhana, tetapi justru sangat membahagiakan bagi seorang dosen, yaitu melihat mahasiswa kita diwisuda dan dinyatakan lulus. Saya sering merasa terharu ketika menghadiri acara wisuda mahasiswa yang pernah saya bimbing. Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat mereka mengenakan toga, berdiri di antara para wisudawan, lalu melangkah menuju kehidupan yang baru.
Momen itu sering menjadi pengingat bagi saya sendiri bahwa mungkin inilah salah satu bentuk amanah yang diberikan kepada kita dalam kehidupan. Kita telah berusaha melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita. Itulah tugas kita sebagai dosen.
Kita bukan hanya mengejar berapa banyak mahasiswa yang kita bimbing, berapa banyak artikel yang kita hasilkan, atau berapa banyak jabatan yang pernah kita duduki. Kita juga mewariskan pengetahuan, membangun kepercayaan diri, membuka jalan, dan membantu seseorang menemukan masa depannya. Saya bangga dengan mahasiswa-mahasiswa saya. Saya bangga ketika mereka berhasil.
Saya lebih bangga lagi ketika mereka kemudian menjadi orang yang lebih hebat daripada saya, tetapi tetap menjaga hubungan baik dan masih mau berdiskusi. Pada akhirnya, kebahagiaan seorang dosen bukan terletak pada berapa banyak mahasiswa yang berhasil dibuat takut kepadanya, melainkan berapa banyak mahasiswa yang berhasil tumbuh karena pernah berjalan bersamanya.
Standar akademik harus dijaga, integritas tidak boleh ditawar, fighting spirit harus dipelihara, tetapi tujuan akhirnya tetap satu: membantu mahasiswa menjadi manusia yang lebih berilmu, lebih matang, lebih percaya diri, dan siap melangkah ke dunia dengan kakinya sendiri. Itulah kebanggaan kita sebagai dosen.
Vivat Academia! ![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]