Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Focus Group Discussion (FGD) bertema “Teknologi, Kemanusiaan, serta Kebudayaan.”

    13 Jul 2026 | Dilihat: 29 kali

    Malam ini saya menuntaskan agenda hari ini dengan menjadi narasumber dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) bertema "Teknologi, Kemanusiaan, serta Kebudayaan." Tema ini selalu memiliki tempat yang istimewa dalam perjalanan intelektual saya.

    Sejak masih menjadi mahasiswa, saya meyakini bahwa teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu hadir di tengah kehidupan manusia, memengaruhi cara kita berpikir, bekerja, berkomunikasi, berkarya, bahkan membentuk arah perkembangan kebudayaan.

    Forum diskusi ini diselenggarakan oleh Forum Diskusi Pengamat Teknologi dan Budaya, sebuah komunitas yang menghimpun para akademisi, mahasiswa, peneliti, praktisi, dan aktivis yang memiliki perhatian terhadap perkembangan teknologi beserta dampaknya terhadap kehidupan sosial, kemanusiaan, dan kebudayaan.

    Berdiskusi bersama komunitas seperti ini selalu memberikan energi intelektual tersendiri, karena setiap peserta membawa pengalaman, sudut pandang, dan kegelisahannya masing-masing mengenai masa depan teknologi.

    Sebagian besar materi yang saya sampaikan malam ini diambil dari dua buku terbaru saya, yaitu Teknologi Bukan Musuh dan Masa Depan Sastra & Kecerdasan Buatan. Kedua buku tersebut lahir dari kegelisahan yang sama, yakni bagaimana kita seharusnya memandang perkembangan teknologi secara lebih utuh. Saya ingin menunjukkan bahwa teknologi pada hakikatnya bukanlah musuh manusia.

    Teknologi diciptakan untuk memperluas kemampuan manusia, mempermudah pekerjaan, meningkatkan produktivitas, dan membuka berbagai peluang baru. Persoalannya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada manusia yang menciptakan, mengembangkan, dan menggunakannya.

    Karena itu saya selalu berpendapat bahwa teknologi harus berada di tangan manusia yang kompeten, bertanggung jawab, dan beretika. Kecerdasan buatan, misalnya, dapat menjadi instrumen yang luar biasa untuk mempercepat inovasi, memperluas akses terhadap pengetahuan, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperbaiki pelayanan publik.

    Namun, tanpa fondasi etika yang kuat, teknologi yang sama juga dapat melahirkan disinformasi, manipulasi, pelanggaran privasi, hingga berbagai bentuk ketimpangan baru. Teknologi hanya akan menjadi kekuatan yang membangun apabila diarahkan oleh nilai-nilai kemanusiaan.

    Dalam buku Masa Depan Sastra & Kecerdasan Buatan, saya juga membahas bagaimana penetrasi teknologi mulai memasuki dunia kesusastraan sebagai salah satu pilar kebudayaan. Kecerdasan buatan kini telah memengaruhi proses kreatif, penerbitan, distribusi karya, hingga cara pembaca menikmati sastra.

    Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi akan memasuki dunia sastra, melainkan bagaimana para penulis, penyair, penerbit, dan pembaca dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan keaslian kreativitas, kedalaman refleksi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi ruh sebuah karya sastra.

    Meskipun demikian, fokus utama paparan saya malam ini tetap lebih luas daripada dunia sastra. Yang ingin saya ajak untuk direnungkan bersama adalah bagaimana disrupsi teknologi sedang mengubah hampir seluruh dimensi kehidupan kita: cara kita belajar, bekerja, berinteraksi, membangun relasi sosial, memahami identitas budaya, bahkan memaknai kemanusiaan itu sendiri.

    Di tengah laju inovasi yang semakin cepat, saya percaya bahwa pertanyaan yang paling penting bukanlah "Seberapa canggih teknologi yang mampu kita ciptakan?", melainkan "Apakah teknologi itu membuat manusia menjadi lebih manusiawi?"

    Saya selalu percaya bahwa peradaban yang maju bukanlah peradaban yang memiliki teknologi paling canggih, melainkan peradaban yang mampu menempatkan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat martabat manusia dan memperkaya kebudayaannya. Ketika teknologi berjalan seiring dengan etika, kebijaksanaan, dan nilai-nilai budaya, ia akan menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik. Namun, apabila kemajuan teknologi melampaui kematangan moral manusia, maka disrupsi yang terjadi bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan peradaban.

    Itulah sebabnya, menurut saya, percakapan tentang teknologi harus selalu disertai percakapan tentang manusia, karena pada akhirnya manusialah yang menentukan arah dan makna dari setiap kemajuan teknologi. 👍😎🥰⭐️📚🇲🇨

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture