Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENGAPA KINI SAYA LEBIH SERING MENCARI RUANG TERBUKA?

    13 Jul 2026 | Dilihat: 23 kali

    oleh: Riri Satria

    Siang ini, setelah bekerja sejak pagi di dalam ruangan, saya kembali merasakan sesuatu yang belakangan ini semakin sering terjadi. Pikiran terasa jenuh, seolah-olah membutuhkan ruang untuk bernapas. Tanpa berpikir panjang, saya keluar mencari udara segar, berdiri di ruang terbuka, lalu memotret diri saya di sana.

    Bukan karena pekerjaan telah selesai, melainkan karena saya merasa otak saya membutuhkan jeda. Hanya beberapa menit berada di bawah cahaya alami, memandang pepohonan yang bergoyang tertiup angin, dan menghirup udara luar, perlahan-lahan kejernihan pikiran itu kembali hadir.

    Setelah itu saya kembali bekerja seperti biasa, seolah-olah tombol reset pada pikiran telah ditekan.

    Pengalaman seperti ini semakin sering saya alami dalam beberapa bulan terakhir. Saya mulai bertanya-tanya, mungkinkah perubahan ini berkaitan dengan usia? Kini saya telah melewati usia 56 tahun dan sedang menuju usia 57.

    Dulu saya tidak pernah mengalami hal seperti ini. Saya masih mampu duduk berjam-jam dalam ruang rapat tanpa merasa terganggu oleh ruang yang tertutup.

    Kini tubuh tampaknya memberikan sinyal yang berbeda. Bukan rasa takut berada di ruang tertutup, melainkan kebutuhan untuk sesekali keluar, melihat ruang yang lebih luas, dan merasakan udara yang bergerak bebas.

    Saya tidak tahu apakah ini merupakan salah satu tanda alami dari proses penuaan. Namun, berbagai penelitian dalam ilmu saraf dan psikologi menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, kemampuan mempertahankan perhatian secara terus-menerus memang cenderung menurun, sementara kebutuhan otak untuk melakukan pemulihan justru semakin besar.

    Saya juga mulai menyadari bahwa selama lebih dari tiga dekade pekerjaan saya hampir seluruhnya bertumpu pada aktivitas berpikir. Waktu saya dihabiskan untuk membaca, menulis, mengajar, berdiskusi, menghadiri rapat, menyusun strategi, melakukan analisis, serta mengambil berbagai keputusan.

    Semua itu merupakan pekerjaan yang nyaris tidak menguras tenaga fisik, tetapi sangat menguras energi mental. Saya semakin memahami bahwa kelelahan intelektual sering kali tidak terasa sebagaimana kelelahan fisik. Tubuh mungkin tetap segar, tetapi pikiran perlahan kehilangan elastisitasnya.

    Konsentrasi mulai menurun, ide terasa tidak lagi mengalir, dan muncul dorongan yang kuat untuk keluar dari rutinitas sejenak. Mungkin yang lelah bukan tubuh saya, melainkan sistem perhatian di dalam otak yang telah bekerja tanpa henti.

    Saya kemudian teringat pada konsep dalam psikologi lingkungan yang dikenal sebagai Attention Restoration Theory. Teori ini menjelaskan bahwa perhatian manusia yang terkuras oleh aktivitas berpikir dapat dipulihkan melalui interaksi singkat dengan alam atau ruang terbuka. Tidak perlu mendaki gunung atau berjalan jauh ke tepi pantai. Melihat pepohonan, memandang langit, merasakan cahaya matahari, atau menghirup udara segar selama beberapa menit saja sudah dapat membantu otak melepaskan ketegangan akibat fokus yang berkepanjangan.

    Barangkali inilah sebabnya saya selalu merasa lebih tenang, lebih segar, dan lebih siap kembali bekerja setelah keluar sebentar dari ruang rapat atau ruang kerja. Ternyata yang saya butuhkan bukan waktu istirahat yang panjang, melainkan kesempatan singkat bagi pikiran untuk kembali menemukan ritmenya.

    Semakin saya renungkan, saya juga melihat bahwa kehidupan modern telah mengubah cara kita bekerja. Kita semakin banyak berhadapan dengan layar komputer, telepon genggam, presentasi, dokumen digital, dan aliran informasi yang nyaris tidak pernah berhenti. Di sela-sela rapat pun perhatian kita masih terpecah oleh pesan singkat, surat elektronik, dan berbagai notifikasi. Tanpa disadari, otak dipaksa terus berada dalam kondisi siaga.

    Mungkin karena itulah ruang terbuka menjadi terasa begitu berharga. Di sana tidak ada tuntutan untuk segera menjawab pesan, tidak ada presentasi yang harus disimak, tidak ada angka yang harus dianalisis. Hanya ada langit, angin, pepohonan, dan keheningan yang memberi kesempatan kepada pikiran untuk kembali menjadi sederhana.

    Saya juga mulai berpikir bahwa selama ini kita terlalu sering mengukur produktivitas dari lamanya seseorang duduk di meja kerja atau berada di ruang rapat. Seolah-olah semakin lama bertahan di dalam ruangan, semakin besar pula dedikasinya. Padahal pekerjaan yang mengandalkan kemampuan berpikir tidak selalu mengikuti logika seperti itu. Ada saat-saat ketika keputusan terbaik justru lahir setelah seseorang mengambil jarak beberapa menit dari persoalan yang sedang dihadapinya.

    Ada gagasan yang muncul ketika kaki melangkah pelan di halaman, ketika mata memandang dedaunan, atau ketika napas kembali menemukan iramanya. Dalam pengalaman saya, jeda ternyata bukan lawan dari produktivitas, melainkan bagian dari proses melahirkan kualitas berpikir yang lebih baik.

    Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa mungkin ini memang bagian dari perjalanan hidup. Usia tidak hanya mengubah penampilan fisik, tetapi juga mengubah cara tubuh dan pikiran berkomunikasi dengan diri kita. Jika dahulu tubuh membiarkan saya terus bekerja tanpa banyak protes, kini ia memilih berbicara lebih halus melalui rasa jenuh yang muncul ketika terlalu lama berada dalam ruang tertutup.

    Saya tidak lagi menganggapnya sebagai kelemahan atau penurunan kemampuan. Sebaliknya, saya melihatnya sebagai bentuk kecerdasan tubuh yang mengingatkan bahwa setiap energi memiliki batas dan setiap pikiran membutuhkan kesempatan untuk memulihkan dirinya.

    Barangkali inilah salah satu pelajaran yang baru benar-benar saya pahami menjelang usia 57 tahun. Menjadi lebih matang bukan berarti mampu bekerja tanpa mengenal lelah, melainkan mampu mengenali kapan harus berhenti sejenak agar dapat melangkah lebih jauh.

    Mungkin inilah yang disebut kebijaksanaan, bukan memaksa tubuh mengikuti ambisi, tetapi membiarkan pengalaman, usia, tubuh, dan pikiran saling berdialog dalam irama yang semakin selaras.

    Pada akhirnya saya menyadari bahwa keluar beberapa menit untuk menghirup udara segar bukanlah bentuk pelarian dari pekerjaan. Sebaliknya, itulah cara saya menghormati pekerjaan itu sendiri, agar setiap keputusan yang saya ambil, setiap kalimat yang saya tulis, dan setiap gagasan yang saya bagikan tetap lahir dari pikiran yang jernih dan hati yang tenang.

    Apakah Anda juga memgalami hal yang sama dengan saya?

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]

      Jan 10, 2026
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    RECENT: KULIAH UMUM DEEPFAKE - 01 JULI 2026

    BRANDING YANG TERBAIK


    F R I E N D S


    Hide picture