Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • AMBIVALENSI SOSIAL: KETIKA MEMBUTUHKAN, TETAPI TIDAK INGIN TERLIHAT DEKAT

    24 Jun 2026 | Dilihat: 11 kali

    oleh: Riri Satria

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai hubungan yang tampak membingungkan. Seseorang mencari orang tertentu ketika membutuhkan bantuan, masukan, atau dukungan. Ia menghubungi orang tersebut secara pribadi, meminta pendapatnya, bahkan terkadang sangat bergantung pada kemampuan dan jejaring yang dimiliki oleh orang itu.

    Namun, ketika berada di ruang publik, ia justru menjaga jarak. Ia tidak menunjukkan kedekatan yang sama. Ia enggan terlihat terlalu akrab. Dalam ilmu psikologi sosial, kondisi semacam ini dapat dipahami sebagai bentuk ambivalensi sosial, yaitu keadaan ketika seseorang memiliki dua kecenderungan yang saling bertentangan terhadap hubungan yang sama. Ia membutuhkan hubungan tersebut, tetapi pada saat yang sama ia juga merasa perlu menjaga jarak darinya.

    Fenomena ini terjadi karena manusia hidup di dalam berbagai lingkaran sosial yang sering kali memiliki tuntutan yang berbeda. Seseorang tidak hanya mempertimbangkan hubungan pribadinya dengan individu tertentu, tetapi juga memikirkan bagaimana hubungan tersebut akan dipersepsikan oleh kelompok lain. Ia khawatir terhadap penilaian lingkungan, citra sosial, atau konsekuensi yang mungkin muncul apabila kedekatan itu terlihat secara terbuka.

    Akibatnya, ia menjalani dua sikap sekaligus. Ia mempertahankan hubungan karena merasa hubungan itu penting, tetapi ia juga membatasi pengakuan terhadap hubungan tersebut karena alasan-alasan sosial yang dianggap perlu. Dalam banyak kasus, pelaku ambivalensi sosial tidak selalu memiliki niat buruk. Ia hanya berusaha menyeimbangkan berbagai kepentingan yang menurutnya saling bertabrakan.

    Contoh ambivalensi sosial dapat ditemukan di berbagai lingkungan. Dalam dunia kerja, seorang manajer mungkin sering meminta masukan dari seorang staf senior yang berpengalaman. Ia menghargai kemampuan staf tersebut dan sering memanfaatkan pandangannya dalam mengambil keputusan. Namun, karena alasan politik organisasi atau pertimbangan kelompok tertentu, ia tidak pernah secara terbuka menunjukkan kedekatan dengan staf itu.

    Dalam lingkungan pergaulan, seseorang mungkin tetap menjalin komunikasi dengan teman lamanya yang dianggap cerdas dan dapat dipercaya. Akan tetapi, ia enggan terlihat terlalu dekat karena khawatir tidak sesuai dengan citra sosial yang ingin ditampilkan kepada kelompok pergaulan yang baru. Dalam kedua contoh tersebut, kebutuhan terhadap hubungan tetap ada, tetapi pengakuan terhadap hubungan justru dibatasi.

    Dalam pengalaman pribadi, saya menemukan bahwa ambivalensi sosial bukanlah fenomena yang langka. Saya justru melihatnya  sering dalam berbagai lingkungan pergaulan. Saya bertemu dengan orang-orang yang bersikap hangat dan akrab ketika berinteraksi secara pribadi, tetapi memilih menjaga jarak ketika berada di ruang yang lebih terbuka.

    Saya juga mendapati beberapa teman yang, secara sadar atau tidak sadar, menunjukkan gejala ambivalensi sosial semacam ini. Mereka tetap menjalin komunikasi, tetap membutuhkan pertukaran gagasan, bahkan tetap memelihara hubungan tertentu. Namun pada saat yang sama, mereka tampak berhati-hati untuk tidak terlihat terlalu dekat.

    Pengalaman-pengalaman semacam itu membuat saya menyadari bahwa ambivalensi sosial mungkin jauh lebih umum daripada yang selama ini kita bayangkan.

    Ambivalensi sosial tidak hanya muncul dalam hubungan pertemanan atau hubungan personal. Fenomena ini juga dapat ditemukan dalam hubungan seseorang dengan kelompok, komunitas, atau golongan tertentu di masyarakat. Kita sering melihat seseorang yang secara terbuka menunjukkan sikap kurang menyukai suatu kelompok. Ia mengkritik kelompok tersebut, menjaga jarak, atau bahkan berusaha membangun citra bahwa dirinya tidak memiliki kedekatan dengan mereka.

    Namun, ketika ia membutuhkan dukungan, bantuan, akses, atau keuntungan tertentu, ia justru diam-diam mendekati kelompok yang selama ini dijauhinya. Ia meminta pertolongan, memanfaatkan jaringan yang dimiliki kelompok tersebut, atau berharap memperoleh dukungan dari mereka.

    Akibatnya, muncul kesan bahwa ia memiliki dua wajah yang berbeda. Di satu sisi ia ingin terlihat tidak dekat dengan kelompok itu, tetapi di sisi lain ia tetap membutuhkan keberadaan mereka untuk memenuhi kepentingannya.

    Dalam kehidupan sosial dan politik, perilaku semacam ini bukanlah hal yang asing. Ada orang yang mengkritik suatu komunitas di depan publik, tetapi menjalin hubungan yang sangat baik dengan komunitas yang sama ketika ia membutuhkan dukungan. Ada pula orang yang meremehkan kelompok tertentu dalam percakapan sehari-hari, tetapi segera mendatangi kelompok tersebut ketika menghadapi kesulitan atau membutuhkan bantuan.

    Perilaku seperti ini menunjukkan adanya ketegangan antara apa yang ingin ditampilkan kepada publik dan apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Semakin besar jarak antara citra yang ditampilkan dan tindakan yang dilakukan, semakin kuat kesan ambivalensi sosial yang muncul.

    Dari sudut pandang etika sosial, persoalan utama bukanlah seseorang boleh atau tidak boleh berbeda pendapat dengan suatu kelompok. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam masyarakat yang terbuka. Persoalan muncul ketika seseorang terus-menerus mengambil manfaat dari hubungan tersebut sambil berusaha menyangkal atau menyembunyikan kedekatannya.

    Dengan demikian ambivalensi sosial sering dipandang sebagai bentuk ketidakkonsistenan sikap, bahkan dalam beberapa kasus dapat dianggap sebagai oportunisme sosial. Sebab, yang dipertahankan bukan lagi hubungan yang tulus, melainkan manfaat yang dapat diperoleh dari hubungan tersebut.

    Dengan demikian, ambivalensi sosial dapat dipahami sebagai keadaan ketika kebutuhan terhadap seseorang atau suatu kelompok tetap ada, tetapi pengakuan terhadap hubungan itu justru ditahan karena alasan citra, kepentingan, atau tekanan sosial tertentu. Semakin besar ketidaksesuaian antara sikap yang ditampilkan dan perilaku yang dijalankan, semakin kuat pula kesan bahwa seseorang sedang menjalankan kehidupan sosial dengan dua standar yang berbeda.

    Di era media sosial, ambivalensi sosial menjadi semakin mudah terlihat. Banyak orang aktif berkomunikasi melalui pesan pribadi dengan seseorang, tetapi tidak pernah memberikan dukungan atau pengakuan yang sama di ruang publik. Mereka merasa nyaman memanfaatkan pengetahuan, pengalaman, atau bantuan orang tersebut, tetapi mereka tidak ingin hubungan itu menjadi bagian dari identitas sosial yang terlihat oleh orang lain.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa kehidupan digital tidak hanya memperluas jaringan hubungan manusia, tetapi juga memperbesar kesadaran terhadap citra dan persepsi publik. Akibatnya, sebagian orang menjadi semakin berhati-hati dalam menunjukkan siapa yang mereka dekati dan siapa yang mereka akui sebagai bagian dari lingkaran sosialnya.

    Dari sudut pandang orang yang mengalami perlakuan tersebut, ambivalensi sosial sering menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Ia melihat bahwa keberadaannya dianggap penting ketika dibutuhkan, tetapi kurang dihargai ketika tidak ada kepentingan tertentu. Ia merasa hubungan itu berjalan tidak seimbang.

    Perasaan seperti ini muncul karena manusia pada dasarnya tidak hanya membutuhkan pertukaran manfaat, tetapi juga membutuhkan pengakuan dan penghormatan. Ketika manfaat terus diambil, sementara pengakuan terus ditahan, hubungan menjadi kehilangan unsur ketulusan yang menjadi fondasi penting dalam interaksi sosial.

    Pada akhirnya, ambivalensi sosial mengingatkan kita bahwa hubungan antarmanusia tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Manusia sering berada di antara kebutuhan pribadi dan tekanan sosial. Manusia juga sering berusaha menjaga keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan harapan lingkungan.

    Kebutuhan terhadap hubungan tetap ada, tetapi pengakuan terhadap hubungan justru dibatasi.

    Namun, keseimbangan tersebut seharusnya tidak mengorbankan penghargaan terhadap orang lain. Jika seseorang tetap membutuhkan bantuan, dukungan, atau kehadiran orang lain dalam hidupnya, maka sudah sewajarnya ia juga memberikan penghormatan yang layak kepada orang tersebut. Sebab, kualitas sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh manfaat yang diperoleh, tetapi juga oleh keberanian untuk mengakui dan menghargai orang-orang yang telah memberi arti dalam perjalanan hidup kita.

    Terus terang, saya lebih menyukai sikap yang jelas. Jika seseorang tidak ingin berteman dengan saya, saya tidak akan mempersoalkannya. Justru yang sulit saya pahami  ketika seseorang tetap membutuhkan pertemanan tersebut, tetapi pada saat yang sama enggan mengakuinya.

    Bagi saya, persahabatan bukanlah soal gengsi sosial, melainkan soal ketulusan. Karena itu, saya lebih menghargai perpisahan yang jujur daripada kedekatan yang disembunyikan. Sebab tidak semua orang harus menjadi sahabat, tetapi setiap orang seharusnya dapat bersikap apa adanya.

    So, jangan ambivalen ya ... 🥰😎

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT: 29 – 30 JUNI 2026

    MY QUOTE


    F R I E N D S


    Hide picture