Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • CATATAN KECIL MENJELANG USIA 56

    13 May 2026 | Dilihat: 10 kali

    oleh: Riri Satria

    Menyambut usia ke-56, seperti biasa saya kembali menuliskan catatan kecil tentang perjalanan hidup yang terasa semakin panjang, namun sekaligus begitu singkat. Ada pertanyaan-pertanyaan yang selalu datang setiap kali ulang tahun tiba, seolah mengetuk pintu batin tanpa bisa dicegah. Apa yang sudah saya lakukan selama ini? Sudahkah hidup saya memberi manfaat bagi orang lain? Ataukah saya hanya sekadar hadir, lalu berlalu begitu saja tanpa meninggalkan arti?

    Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja, sederhana namun mengguncang. Semakin usia bertambah, semakin saya menyadari bahwa hidup ternyata bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan tentang seberapa besar jejak kebaikan yang kita tinggalkan di hati orang lain. Entah mengapa, di usia yang semakin tua ini, saya justru merasa semakin kecil di hadapan kehidupan.

    Sesungguhnya ulang tahun bukanlah sekadar bertambah usia, melainkan hanya bertambah satu tahun perjalanan hidup yang telah ditempuh. Sebab usia manusia sesungguhnya sudah ditentukan, dan itu menjadi rahasia Tuhan yang tak pernah benar-benar kita ketahui. Maka setiap ulang tahun sejatinya bukan hanya pertanda kita bertambah tua, tetapi juga tanda bahwa jatah hidup di dunia ini sesungguhnya berkurang satu tahun lagi.

    Kesadaran itu terkadang menghadirkan rasa hening yang sulit dijelaskan. Ada semacam perenungan diam yang membuat kita bertanya kepada diri sendiri, setelah ini apa lagi? Apa yang akan dilakukan di sisa usia yang masih diberikan Tuhan? Pertanyaan itu terasa semakin penting ketika kita mulai memahami bahwa hidup bukan hanya soal mencapai sesuatu untuk diri sendiri, tetapi juga tentang apa yang bisa kita berikan kembali kepada kehidupan.

    Saya selalu teringat pesan almarhum Papi yang tertanam kuat hingga hari ini. Beliau pernah berkata bahwa ketika berbuat baik kepada sesama, jangan pernah berharap kebaikan itu kembali kepada kita sebagai balasan. Sebab ketika kita mulai menghitung-hitung ganjaran, di situlah keikhlasan perlahan kehilangan maknanya. Berbuat baik sajalah, katanya, karena Langit mencatat semuanya dengan cara yang tak pernah kita pahami sepenuhnya.

    Maka saya belajar untuk memberi tanpa sibuk mengingat-ingat apa yang telah diberikan. Sebaliknya, ketika dibantu orang lain, sekecil apa pun itu, saya berusaha untuk selalu mengingatnya. Sebab bantuan bukan hanya soal materi, tetapi juga soal utang budi dan kasih sayang. Jangan pernah melupakan kebaikan orang kepada kita, namun jangan pernah sibuk mengingat kebaikan kita kepada orang lain. Kalimat sederhana itu terasa semakin dalam maknanya ketika usia terus bergerak maju dan perjalanan hidup semakin panjang.

    Kini anak-anak pun mulai berjalan menuju kehidupan mereka masing-masing. Raihan dan Nadya telah menyelesaikan pendidikan sarjananya. Istri pun memiliki karier baik dan membanggakan.

    Semakin jauh menjalani kehidupan, saya semakin percaya bahwa hidup ini memang seperti rangkaian puzzle yang berserakan. Ketika sedang menjalaninya, sering kali kita tidak memahami kepingan apa yang sedang kita pijak. Ada masa-masa ketika kita bingung, kecewa, mengeluh, bahkan mempertanyakan maksud Tuhan. Mengapa harus begini? Mengapa harus kehilangan? Mengapa jalan hidup terasa begitu berat?

    Namun anehnya, ketika suatu hari kita berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang dengan hati yang lebih tenang, kepingan-kepingan puzzle itu perlahan mulai tersusun. Peristiwa-peristiwa yang dulu terasa menyakitkan ternyata menyimpan pelajaran. Kegagalan yang dulu membuat kecewa justru mengantar kita pada jalan yang lebih baik. Pertanyaan-pertanyaan lama akhirnya menemukan jawabannya sendiri, kadang setahun kemudian, lima tahun, bahkan dua puluh tahun setelahnya.

    Pada akhirnya saya menyadari, Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi selalu memberikan apa yang terbaik untuk kita. Dan sering kali, kita baru memahami maksud-Nya setelah perjalanan itu cukup jauh terlewati.

    Pada titik tertentu, akhirnya kita pun menyadari bahwa perjalanan hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan dan rencana-rencana yang pernah kita bayangkan. Ada realita-realita kehidupan yang hadir di luar pikiran, di luar ekspektasi, bahkan terkadang di luar kemampuan kita untuk memahaminya saat itu juga.

    Ada kehilangan yang tak pernah diperkirakan, ada kegagalan yang terasa menyakitkan, ada pula jalan-jalan kehidupan yang sama sekali berbeda dari impian masa lalu. Namun hidup mengajarkan kita untuk belajar ikhlas dan berbesar hati menerima semuanya sebagai bagian dari perjalanan manusia. Sebab sebesar apa pun keinginan kita, tetap ada kehendak Tuhan yang jauh lebih luas daripada pemahaman kita.

    Di tengah segala hal yang tidak selalu berjalan sesuai harapan itu, kita ternyata masih diberi kehidupan, masih diberi napas, masih diberi kesempatan untuk bangun setiap pagi. Bukankah itu sendiri adalah anugerah yang luar biasa? Bahkan lebih dari itu, kita masih diberikan kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama, untuk menolong, untuk berbagi, untuk menjadi manfaat bagi kehidupan di sekitar kita.

    Saya juga belajar bahwa cinta dan kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk kenyamanan. Ketika menyayangi anak-anak, kita tidak mungkin terus membiarkan mereka hidup dalam zona nyaman tanpa mengenal perjuangan. Ada saatnya mereka harus jatuh, kecewa, dan belajar berdiri sendiri agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Rupanya Allah pun mendidik manusia dengan cara yang sama. Kita dicabut dari kenyamanan, dipaksa menghadapi kesulitan, kehilangan, dan luka-luka kehidupan.

    Saya pernah berada pada fase hidup yang begitu ambisius terhadap karier. Saat itu, segala sesuatu ingin saya ukur dengan angka, target, dan pencapaian yang jelas. Hidup terasa seperti rangkaian proyek besar yang harus diselesaikan dengan sempurna, lengkap dengan key performance indicator atau KPI yang ketat dan rencana-rencana yang disusun sangat rinci. Saya menjalani hari-hari dengan kecepatan tinggi, seolah tidak ada ruang untuk melambat. Semua harus bergerak cepat, semua harus berhasil.

    Ada dorongan besar di dalam diri untuk terus mengejar sesuatu yang lebih tinggi, lebih besar, lebih diakui. Dalam keyakinan saya waktu itu, kerja keras dan disiplin seakan cukup untuk menaklukkan segala kemungkinan. Namun di balik semua itu, diam-diam ada kelelahan yang menumpuk, ada kecemasan ketika realita tidak berjalan sesuai skenario yang sudah saya hitung begitu matang.

    Tahun demi tahun kemudian mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam, bahwa hidup ternyata tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. Ada peristiwa-peristiwa yang datang tanpa aba-aba, ada kehilangan, kegagalan, perubahan keadaan, dan kenyataan-kenyataan yang tidak pernah masuk ke dalam tabel perencanaan mana pun. Bahkan konsep manajemen risiko yang terasa begitu canggih pun pada akhirnya memiliki batas.

    Di situlah saya mulai memahami arti ikhlas menerima realita, bukan sebagai bentuk menyerah, melainkan sebagai cara berdamai dengan kehidupan. Saya belajar bahwa tidak semua hal harus dimenangkan, tidak semua impian harus dipaksakan sesuai kehendak kita. Justru ketika seseorang mulai mampu menerima bahwa hidup memiliki jalannya sendiri, di sanalah kebijaksanaan perlahan tumbuh.

    Wisdom bukan lahir dari keberhasilan semata, tetapi dari kemampuan menyikapi setiap kejadian dengan hati yang lebih tenang, lebih lapang, dan lebih manusiawi.

    Semakin panjang perjalanan hidup seseorang, semakin ia menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar berjalan lurus dan bersih dari kesalahan. Ada masa ketika langkah yang diambil terasa begitu meyakinkan, tetapi pada akhirnya justru membawa diri pada kekeliruan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ada keputusan-keputusan yang meninggalkan penyesalan, ada ucapan yang melukai, ada pula kegagalan yang diam-diam meruntuhkan rasa percaya diri sedikit demi sedikit.

    Dalam perjalanan itu, manusia kerap terjatuh di tempat yang sama, tersesat oleh ambisi, ego, atau harapan yang terlalu tinggi terhadap hidup. Namun anehnya, justru dari luka-luka itulah seseorang mulai mengenal dirinya sendiri dengan lebih jujur. Kesalahan demi kesalahan perlahan mengikis kesombongan, sementara kejatuhan demi kejatuhan membentuk hati menjadi lebih tenang dan lebih bijaksana dalam memandang kehidupan.

    Pada akhirnya, kebijaksanaan tidak lahir dari kehidupan yang sempurna, melainkan dari kemampuan seseorang bertahan melewati berbagai kehancuran dalam dirinya sendiri. Ada rasa lelah ketika harus kembali berdiri setelah berkali-kali jatuh, ada rasa malu ketika mengingat masa lalu yang penuh kekeliruan, tetapi hidup seakan selalu memberi kesempatan baru untuk memperbaiki langkah. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari salah, sebab setiap orang sedang belajar memahami hidup dengan caranya masing-masing.

    Paling penting bukan seberapa sering seseorang terperosok, melainkan keberanian untuk bangkit kembali meskipun hati masih dipenuhi ketakutan dan keraguan. Sebab di sanalah makna kedewasaan perlahan tumbuh: ketika seseorang tidak lagi sibuk menyalahkan keadaan, tetapi memilih melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih lapang, lebih kuat, dan lebih manusiawi.

    Di balik semuanya, selalu ada hikmah yang suatu hari nanti terbuka perlahan. Bukankah Allah adalah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Lalu mengapa kita masih sering meragukan-Nya ketika hidup terasa berat? Mungkin karena kita terlalu ingin memahami takdir dengan logika yang terbatas, padahal tidak semua hal bisa dijelaskan hanya dengan pikiran. Ada bagian-bagian kehidupan yang hanya bisa dipahami oleh hati yang sabar dan penuh syukur.

    Di usia ke-56 ini, saya semakin percaya bahwa ilmu pengetahuan memang penting, tetapi kebijaksanaan jauh lebih menentukan arah kehidupan. Ilmu berbicara tentang kemampuan berpikir dan bernalar, sementara wisdom berbicara tentang hati, empati, rasa, dan kemanusiaan. Keduanya seharusnya berjalan berdampingan, saling melengkapi satu sama lain.

    Maka jika masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah Yang Maha Kuasa, saya ingin terus berusaha memberi yang terbaik kepada masyarakat dan kehidupan secara keseluruhan. Menyebarkan ilmu pengetahuan, membagikan gagasan-gagasan dan pemikiran yang mungkin bisa menginspirasi, menolong semampu yang bisa dilakukan, serta menebar kebaikan sebanyak mungkin selama masih diberi waktu.

    Pada akhirnya, mungkin hidup bukan diukur dari seberapa lama kita berada di dunia, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita tinggalkan setelah kita tiada. Setiap pagi ketika matahari terbit, selalu ada harapan baru, semangat baru, dan kesempatan baru untuk menuliskan puisi kehidupan yang lebih bermakna daripada hari kemarin.

    (Mei 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture