Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Yon Bayu Wahyono
PojokTIM – Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-XIV Tahun 2026 di Provinsi Aceh akan diikuti 14 negara. Jika pada pertemuan-pertemuan sebelumnya hanya melibatkan penyair dari kawasan ASEAN, maka untuk pertama kalinya PPN akan diikuti perwakilan dari Jepang, Turki, dan Tasmania.
“Panitia PPN XIV berusaha meluaskan bukan hanya peserta, tetapi juga cabang seni. Kami akan melibatkan seni rupa dan film sehingga benar-benar mencerminkan kerja kolaboratif antar komunitas dan pelaku seni di Aceh,” ujar Ketua Panitia PPN XIV, Noviati Maulida Rahmah, pada acara peluncuran awal PPN XIV yang dilaksanakan di Aula Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (8/5/2026).
Menurut Novi, sapaan akrabnya, kolaborasi juga ditunjukkan melalui sebaran kabupaten/kota yang akan menjadi tuan rumah kegiatan PPN XIV, yakni Banda Aceh, Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Bireuen. Novi menjamin pertemuan penyair yang dilaksanakan setiap tahun itu akan berlangsung meriah berkat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Aceh, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Bahasa, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Perpustakaan Nasional.
“Aceh dalam kondisi baik dan siap menerima tamu dari berbagai daerah maupun negara. Meski awalnya saya ragu dapat menyelenggarakan kegiatan sebesar ini, terlebih kondisi Aceh yang baru saja terkena musibah banjir bandang dan mahalnya tiket pesawat, tetapi berkat dukungan teman-teman, baik di Aceh maupun dari berbagai daerah, saya akhirnya yakin Aceh bisa menjadi tuan rumah yang baik untuk gelaran PPN XIV,” tegas Novi, yang juga dikenal sebagai penyair.
PPN XIV di Aceh, menurut Ewith Bahar yang memandu jalannya acara dan diskusi, merupakan perhelatan ke-14 dalam rentang 19 tahun. Menariknya, Indonesia sendiri telah menjadi tuan rumah sebanyak sembilan kali.
“Dalam pertemuan awal pembentukan PPN telah disepakati, mengingat geografis Indonesia yang luas dan memiliki provinsi terbanyak di antara negara-negara ASEAN, maka Indonesia mendapat kehormatan tiga kali dalam empat tahun, dan satu kali untuk negara di luar Indonesia. Meskipun aturan ini bersifat cair, artinya bisa berubah sesuai kesepakatan,” terang Ketua Mandataris PPN XIV, Ahmadun Yosi Herfanda, saat diskusi.
Setelah Jakarta dan Aceh, pada 2027 PPN akan digelar di Brunei Darussalam.
Destinasi Terbaik
Wakil Bupati Aceh Tengah, Muksin Hasan, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi soft launching PPN XIV, menyambut antusias gelaran sastra tersebut. Bahkan Aceh Tengah telah menyiapkan dua tempat khusus untuk menjamu peserta PPN.
“Terserah mau pilih di mana, apakah di Negeri di Atas Awan, di pinggir Danau Laut Tawar, atau di tengah kebun kopi,” ujar Muksin.
Menurutnya, Aceh memiliki kekayaan alam yang melimpah, tanah subur, dan masyarakat yang masih mempertahankan ragam budaya, terutama Didong. “Aceh Tengah merupakan salah satu kabupaten tertua di Provinsi Aceh dan penghasil kopi terbaik di dunia. Aceh Tengah juga lumbung penyair, seperti Dr. Salman Yoga,” jelasnya.
Senada dengan Novi, meski Aceh Tengah termasuk wilayah yang terdampak banjir cukup parah—dari 14 kecamatan, delapan di antaranya terdampak—masyarakat tetap bangkit. Bahkan wilayah tersebut sempat terisolasi selama 20 hari akibat putusnya akses jalan.
“Namun masyarakat Aceh tidak berpangku tangan dan hanya menunggu bantuan. Mereka bergotong royong dengan semangat kebersamaan. Kami pun bisa segera keluar dari musibah, dan saat ini seluruh infrastruktur jalan di Aceh Tengah sudah pulih. Tinggal beberapa titik pada jalan penghubung yang masih diperbaiki oleh Kementerian PU,” terang Muksin.
Oleh karena itu, Aceh Tengah siap menyambut dan menjamu para penyair dari berbagai daerah dan mancanegara. “Kopi Gayo dijual dengan kurs dolar Amerika, dan saat ini masyarakat sedang panen kopi. Jadi kami tidak khawatir ketika nilai tukar dolar meningkat,” tambahnya.
Penunjukan Aceh sebagai tuan rumah PPN XIV dinilai tepat. Menurut Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Aceh, Syahrul, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Aceh merupakan yang tertinggi di Sumatra. Bahkan tingkat kunjungan ke perpustakaan di Aceh menempati 10 besar nasional, dengan angka mencapai 14,47 persen.
“Rata-rata kunjungan ke perpustakaan per hari berada di kisaran 500–1.000 pengunjung. Bahkan saat Ramadan 2026 lalu, terjadi lonjakan hingga sekitar 2.500 pengunjung per hari,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Aceh juga terus berbenah agar perpustakaan semakin menarik minat masyarakat, antara lain dengan menambah fasilitas seperti ruang diskusi, ruang IT dengan akses internet gratis, serta kafe perpustakaan.
“Digelarnya PPN XIV di Aceh sejalan dengan kebijakan dan program Pemerintah Aceh, terutama dalam pembangunan manusia. Selama ini kami juga telah mengadakan berbagai kegiatan untuk menjaring minat menulis masyarakat dan menghasilkan karya berupa buku sejarah, kuliner, dan puisi Aceh,” ujarnya.
Di awal acara, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengapresiasi kegiatan soft launching PPN XIV. Menurutnya, kreativitas masyarakat harus terus ditumbuhkan. “Badan Bahasa mendukung kegiatan sastra seperti PPN karena masih satu ranah dengan bahasa,” ujarnya.
Melalui program Bantuan Pemerintah, Badan Bahasa juga memberikan apresiasi bagi sastrawan yang telah berkarya selama 50 tahun, 40 tahun, dan 25 tahun.
“Ada juga bantuan untuk penguatan komunitas, dan tahun lalu sudah ada komunitas sastra di Aceh yang mendapat bantuan dari program tersebut,” jelas Hafidz.
Acara yang dihadiri Sekretaris Badan bahasa Ganjar Harimansyah, Staf Khusus Menteri Kebudayaan, Nissa Rengganis dan kurator lomba penulisan puisi PPN XIV Rini Intama, serta tim pengarah Riri Satria, juga diisi dengan pembacaan puisi oleh penyair-penyair terbaik dari Aceh, Nusa Tenggara Barat, dan Jakarta seperti Imam Ma’arif dan Sutardji Calzoum Bachri.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]