Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • SEMEN PADANG FC: SEJARAH, HARAPAN, DAN KENYATAAN

    05 May 2026 | Dilihat: 11 kali

    oleh Riri Satria

    Sejak saya remaja mengenal sepak bola, Semen Padang FC adalah klub yang menjadi favorit di kampung halaman saya. Dulu ketika saya SMP dan SMA di kota Padang pada kurun waktu 1983-1988, menonton Semen Padang FC serta PSP Padang berlaga di Stadion Haji Agus Salim adalah sebuah kegembiraan yang sulit dilupakan. Sorak sorai penonton, aroma lapangan, dan rasa bangga sebagai bagian dari kota itu menyatu dalam ingatan yang hingga kini tetap hidup.

    Waktu berjalan, banyak hal berubah, dan kini hanya Semen Padang yang tersisa, sementara PSP Padang entah ke mana nasibnya, seperti sebuah fragmen yang hilang dari sejarah yang pernah begitu dekat.

    Musim 2025/2026 menjadi sebuah cermin panjang bagi Semen Padang FC, bukan sekadar tentang hasil akhir berupa degradasi, melainkan tentang bagaimana sebuah tim menjalani proses yang perlahan-lahan menjauh dari harapan.

    Sejak awal kompetisi bergulir pada pertengahan 2025, tanda-tanda ketidakstabilan sebenarnya sudah terlihat, meskipun belum sepenuhnya disadari sebagai ancaman serius. Poin yang datang tidak pernah benar-benar mampu membentuk ritme, kemenangan terasa seperti jeda sesaat di antara rangkaian hasil yang tidak meyakinkan.

    Perubahan kemudian datang melalui pergantian pelatih, sebuah keputusan yang dalam banyak klub sering dianggap sebagai jalan cepat untuk membalikkan keadaan. Eduardo Almeida yang memulai musim harus mengakhiri perannya lebih cepat pada Oktober 2025. Harapan baru disematkan kepada Dejan Antonic yang datang membawa pengalaman dan ekspektasi akan stabilitas.

    Waktu berjalan, tetapi perbaikan yang diharapkan tidak benar-benar menemukan bentuknya. Tim tetap berkutat di papan bawah, seolah bergerak tanpa arah yang jelas, seperti sebuah mesin yang terus berjalan namun kehilangan sistem penggeraknya.

    Situasi menjadi semakin mendesak ketika memasuki awal 2026. Pergantian kembali dilakukan, kali ini kepada Imran Nahumarury pada Maret 2026. Sebuah kemenangan sempat hadir di awal kepemimpinannya, memberikan ilusi bahwa perubahan mungkin saja terjadi.

    Energi baru terasa, permainan tampak lebih hidup, dan harapan yang sempat redup kembali menyala, meskipun hanya sebentar. Waktu yang tersisa terlalu sempit untuk memperbaiki sesuatu yang telah retak sejak lama. Tim tidak hanya membutuhkan motivasi, tetapi juga fondasi yang tidak sempat dibangun.

    Perubahan pada jajaran pemain, termasuk masuknya beberapa pemain baru dan pemain asing di tengah musim, tidak mampu menggeser arah cerita secara signifikan. Adaptasi membutuhkan waktu, sementara kompetisi tidak pernah menunggu. Kualitas individu yang diharapkan menjadi pembeda tidak cukup kuat untuk mengangkat performa kolektif.

    Ketika satu bagian mencoba bergerak maju, bagian lain justru tertinggal. Kesatuan permainan tidak pernah benar-benar terbentuk secara utuh.

    Tekanan demi tekanan perlahan mengubah wajah tim di lapangan. Kekalahan demi kekalahan bukan hanya mengurangi angka di klasemen, tetapi juga menggerus kepercayaan diri.

    Dalam situasi seperti itu, pertandingan tidak lagi sekadar soal taktik, melainkan juga tentang keberanian untuk tetap bermain lepas. Rasa cemas sering kali muncul lebih dahulu dibandingkan kreativitas. Sebuah umpan sederhana bisa terasa berat, sebuah peluang bisa hilang karena keraguan yang tidak terlihat.

    Puncak dari proses panjang itu hadir ketika Semen Padang harus mengakui keunggulan Dewa United pada salah satu laga penentuan di akhir musim. Kekalahan tersebut bukanlah awal dari kegagalan, melainkan penegasan dari perjalanan yang sejak lama mengarah ke titik itu.

    Degradasi ke Liga 2 menjadi sesuatu yang tidak lagi mengejutkan, tetapi tetap menyisakan rasa getir karena sebenarnya bisa dihindari jika fondasi dibangun dengan lebih kuat sejak awal.

    Kisah ini memperlihatkan bahwa sebuah tim tidak runtuh dalam satu malam. Prosesnya berlangsung pelan, hampir tak terasa, hingga akhirnya menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Pergantian pelatih, rotasi pemain, hingga berbagai upaya perbaikan yang dilakukan di tengah jalan hanya menjadi tambalan pada struktur yang sudah rapuh. Perubahan memang penting, tetapi tanpa arah yang jelas dan waktu yang cukup, perubahan hanya akan menjadi gerak tanpa hasil.

    Semen Padang pada akhirnya memberi pelajaran yang lebih luas tentang sepak bola sebagai sebuah sistem. Kemenangan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang bermain di lapangan, tetapi juga oleh bagaimana sebuah klub merencanakan, membangun, dan menjaga keseimbangan antara strategi, sumber daya, dan kepercayaan. Teknologi, taktik, dan nama besar pelatih tidak pernah benar-benar cukup jika tidak ditopang oleh struktur yang sehat.

    Sepak bola selalu menghadirkan harapan di setiap musim baru. Degradasi bukan akhir dari perjalanan, melainkan jeda yang memaksa sebuah tim untuk menatap dirinya sendiri dengan lebih jujur. Dalam keheningan setelah kompetisi berakhir, mungkin ada ruang untuk memahami bahwa yang hilang bukan hanya poin, tetapi juga arah.

    Dari sana, perjalanan baru bisa dimulai, bukan sekadar untuk kembali ke Liga 1, tetapi untuk menjadi tim yang lebih utuh, lebih siap, dan lebih mengerti bagaimana bertahan di tengah kerasnya kompetisi.

    Saya berharap semoga Semen Padang segera kembali ke Liga 1 tahun depan dan kembali mengangkat marwah sepak bola di ranah Minang.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture