Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DENGAN KATA DAN KONTEMPLASI, KITA BELAJAR MENJADI PUITIS

    29 Mar 2026 | Dilihat: 16 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya pernah duduk sendirian di depan layar komputer, mengetik kata “puitis” di mesin pencari serta aplikasi AI, seolah-olah makna bisa ditemukan seperti alamat yang pasti, lengkap dengan koordinatnya. Lalu muncullah definisi-definisi itu, rapi, tertib, seakan sudah selesai menjelaskan segalanya. Benarkah demikian?

    Apa yang saya peroleh? Puitis adalah pilihan kata yang estetik, bernada, serta bermakna dalam. Puitis adalah irama, adalah kiasan, adalah getaran yang  dalam. Saya membacanya, mengangguk pelan, tetapi di dalam dada terasa ada sesuatu yang belum selesai. Seolah-olah definisi itu hanya pintu, bukan rumah.

    Barangkali sejak awal, banyak kita yang keliru. Kita mengira puisi itu bentuk, padahal ia adalah cara bernapas. Ia bukan sekadar susunan baris yang dipatah-patahkan, bukan hanya rima yang dijaga seperti janji, melainkan sesuatu yang lebih cair, lebih sulit ditangkap. Ia seperti angin yang lewat di sela-sela kalimat, yang tidak terlihat tetapi membuat daun-daun makna bergetar.

    Kamus seperti KBBI memberi kita batasan, tetapi hidup sering kali melampaui kamus. Ketika dikatakan bahwa puisi adalah bahasa yang dipilih dan ditata secara cermat untuk mempertajam kesadaran, saya mulai mengerti bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar kata, melainkan kesadaran itu sendiri. Kata hanyalah perantara.

    Nah, yang puitis sesungguhnya adalah cara kita memandang, cara kita merasakan, cara kita membiarkan sesuatu menyentuh kita lebih lama daripada yang diperlukan.

    Di titik itu, saya mulai ragu pada anggapan bahwa puisi hanya milik orang-orang tertentu. Memang benar, tidak semua orang mampu menulis puisi. Tetapi bukankah setiap orang pernah merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa biasa?

    Bukankah setiap orang, setidaknya sekali dalam hidupnya, pernah terdiam lebih lama karena sebuah senja, atau kehilangan, atau kenangan yang tiba-tiba datang tanpa diundang? Mungkin di situlah puisi lahir, bahkan sebelum ia sempat dituliskan.

    Saya teringat pada gagasan lama oleh Aristoteles tentang puitis sebagai mimesis, sebagai peniruan kehidupan. Tetapi peniruan di sini bukanlah cermin datar yang memantulkan apa adanya. Ia seperti air yang memantulkan langit dengan sedikit riak, membuat yang nyata menjadi lebih dalam, lebih mungkin, bahkan kadang lebih jujur daripada kenyataan itu sendiri.

    Sesuatu yang puitis tidak hanya berkata, “inilah yang terjadi,” tetapi berbisik, “inilah yang mungkin terjadi di dalam dirimu.”

    Di sanalah perbedaannya dengan tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah mengajak kita berpikir, menyusun argumen, mengukur, membuktikan. Ia seperti cahaya terang yang menyingkap segala sesuatu dengan tegas.

    Tetapi yang puitis adalah cahaya remang, yang tidak menjelaskan segalanya, justru agar kita ikut merasakan. Ia tidak menuntut kita untuk setuju, melainkan untuk tersentuh. Ia tidak memaksa kita memahami, melainkan mengizinkan kita mengalami.

    Di tengah semua itu, saya mulai menyadari sesuatu yang sering kita anggap sepele, yaitu jangan pernah meremehkan kekuatan kata-kata yang puitis. Ia mungkin tampak lembut, bahkan nyaris tak berdaya di permukaan, tetapi justru di sanalah letak kekuatannya.

    Kata-kata yang puitis dapat membangkitkan semangat yang hampir padam, seperti bara kecil yang tiba-tiba menyala kembali ketika disentuh angin. Ia mampu menggugah seseorang dari kelelahan batin yang panjang, memanggilnya pulang ke dalam dirinya sendiri.

    Kata-kata itu juga bisa membuat seseorang terdiam, bukan karena tidak mengerti, tetapi karena terlalu mengerti. Ia bisa menggetarkan emosi yang lama terkunci, membuka pintu yang selama ini kita tutup rapat-rapat. Ia bisa membuat seseorang menangis tanpa tahu persis alasannya, atau tersenyum dalam diam karena merasa akhirnya dimengerti.

    Ada daya yang tidak terlihat, tetapi nyata bekerja dengan daya yang tidak memaksa, namun mengubah.

    Lebih jauh lagi, saya percaya bahwa melalui pemilihan kata-kata, melalui diksi yang tepat dan nyaris presisi seperti denyut nadi, seorang penyair bisa mengguncang dunia hanya dengan tulisan yang puitik. Tidak dengan senjata, tidak dengan kekuasaan, tetapi dengan kalimat-kalimat yang tampak sederhana namun menyimpan daya ledak yang dahsyat.

    Demikian dahsyatnya sebuah puisi, ia bekerja perlahan, merembes ke dalam kesadaran manusia, lalu diam-diam menggeser cara kita melihat dunia. Kadang tanpa kita sadari, sebuah larik mampu mengubah keputusan hidup seseorang, menguatkan yang rapuh, atau bahkan menyalakan keberanian yang lama tertidur.

    Kadang saya merasa, yang puitis itu justru lahir dari ketidaklengkapan, dari sesuatu yang tidak selesai diucapkan, dari jeda di antara kata-kata, dari ruang kosong yang dibiarkan menganga, agar pembaca masuk dan membawa dirinya sendiri ke dalamnya.

    Sebab pada akhirnya, puisi bukan hanya milik penulisnya. Ia menjadi milik siapa pun yang membaca dan menemukan dirinya di sana.

    Mungkin di situlah daya gugah itu bekerja. Bukan sekadar menggugah pikiran, tetapi mengguncang sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang sering kita sembunyikan bahkan dari diri kita sendiri. Ia seperti mengetuk pelan di dalam dada, mengingatkan bahwa kita masih bisa merasa, masih bisa terharu, masih bisa terluka, dan karena itu, masih hidup.

    Saya kemudian menyadari, menjadi puitis bukanlah soal menjadi indah semata. Ia adalah soal menjadi jujur dengan keheingan diri. Ia adalah keberanian untuk tidak selalu menjelaskan, untuk membiarkan makna tumbuh perlahan seperti benih yang ditanam di tanah sunyi. Ia adalah kesediaan untuk tidak selalu pasti, untuk tinggal lebih lama di wilayah kemungkinan.

    Di antara kata dan keheningan, di antara makna yang diucapkan dan yang disembunyikan, kita belajar bahwa puitis bukan sekadar gaya bahasa. Ia adalah kontemplasi atau cara manusia menyentuh dunia tanpa merusaknya, cara kita memahami tanpa harus memiliki, cara kita merasakan tanpa harus menamai semuanya.

    Diam-diam setiap kita sedang belajar menjadi puitis, bukan dengan menulis puisi, tetapi dengan hidup sedikit lebih dalam dari biasanya.

    Namun di antara semua kemungkinan itu, muncul sebuah kegelisahan yang diam-diam mengendap. Jjangan-jangan dari sekian banyak manusia yang menulis puisi, tidak semuanya benar-benar menjadi puitis. Sebab menulis puisi dan menjadi puitis ternyata bukan hal yang sama. Menulis puisi adalah tindakan, di mana ia bisa dipelajari, dilatih, ditiru. Tetapi menjadi puitis adalah pilihan cara memandang kehidupan yang tumbuh dari kedalaman rasa, dari kepekaan yang tidak bisa dipaksakan.

    Seseorang bisa menulis bait demi bait yang rapi, penuh metafora, tetapi tetap terasa kosong, seperti rumah yang indah namun tidak pernah benar-benar dihuni. Sementara yang lain mungkin tidak pernah menulis satu pun tulisan benama puisi, tetapi cara ia menatap hujan, cara ia merasakan kehilangan, semuanya sudah puitis tanpa perlu dituliskan.

    Dan di titik yang lain, saya mulai melihat bahwa manusia sebenarnya memiliki banyak cara untuk menyampaikan dunia kepada sesamanya. Dengan sains atau ilmu pengetahuan, kita berusaha mengungkapkan sesuatu dengan presisi, dengan ketepatan yang hampir tidak memberi ruang bagi keraguan. Kita mengukur, menghitung, memverifikasi, agar apa yang kita katakan berdiri kokoh seperti bangunan yang tidak mudah runtuh.

    Dengan retorika, kita merangkai kata agar menjadi jembatan yang mudah dilalui, agar pesan sampai dengan jelas, efektif, dan dapat dipahami tanpa tersesat.

    Namun dengan yang puitis, kita melakukan sesuatu yang berbeda. Kita tidak hanya ingin dipahami, kita ingin dirasakan. Kita tidak hanya ingin menjelaskan, kita ingin menggugah. Di situlah puitis memiliki daya gedor yang hening namun dalam, daya gugah yang tidak selalu tampak, tetapi mampu mengendap lama di dalam batin seseorang. Ia tidak memaksa kesimpulan, tetapi menyalakan makna di dalam diri pembacanya.

    Barangkali di situlah letak perbedaannya, yang satu berangkat dari kata menuju rasa, yang lain berangkat dari rasa menuju kata, atau bahkan tidak membutuhkan kata sama sekali.

    Menjadi puitis adalah keberanian untuk merasakan dunia lebih dalam dari permukaannya, untuk tidak tergesa-gesa menamai segala sesuatu, untuk memberi ruang bagi makna agar tumbuh dengan caranya sendiri.

    -- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture