Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • EXPLORING THE BEAUTY AND COMPLEXITY OF SCIENCE

    27 Mar 2026 | Dilihat: 18 kali

    oleh: Riri Satria

    Kadang saya duduk sendiri dan merenung, bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dimaksud ketika seseorang berkata sesuatu itu “ilmiah” atau “scientifically proven”?

    Di permukaan, kata-kata itu terdengar tegas, seolah menutup ruang keraguan. Tapi ketika saya menyelami lebih dalam, saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu penuh nuansa, sama seperti hidup itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan bukan soal kepastian mutlak. Ia bersifat probabilistik, di mana hasilnya selalu datang dengan peluang, margin kesalahan, dan catatan kaki yang panjang. Obat yang menurunkan risiko penyakit, bintang yang diprediksi akan muncul, bahkan teori yang muncul dari simulasi komputer futuristik, semua berbasis bukti, logika, dan pengamatan sistematis, bukan sekadar opini atau firasat.

    Di sinilah keindahannya: meski dunia tidak pernah sederhana, kita bisa menenun pola dari kompleksitas itu. Saya belajar bahwa metodologi ilmiah adalah jantung dari pengetahuan. Ia menuntun kita agar tetap sistematis, terukur, dan objektif.

    Dalam pendekatan modernis, metodologi cenderung kuantitatif, deduktif, dan eksperimental. Kita mulai dari hipotesis yang jelas, mengumpulkan data, mengujinya di lapangan atau laboratorium, lalu menarik kesimpulan yang bisa digeneralisasi. Pendekatan ini terkait erat dengan positivisme, yang meyakini bahwa realitas itu objektif, dapat diukur, dan terlepas dari pengamat.

    Kemudian muncul pendekatan postmodernis, yang membawa perspektif yang lebih radikal. Realitas tidak selalu tunggal, kebenaran bisa relatif, dan bahasa serta budaya membentuk apa yang kita anggap benar. Penelitian postmodern menekankan pluralitas perspektif, analisis kritis terhadap wacana, dan konstruksi sosial pengetahuan.

    Berbeda dengan modernis yang percaya pada aturan dan objektivitas, postmodernis mengajak kita untuk selalu mempertanyakan: siapa yang menentukan apa yang benar, dan dalam konteks apa? Penelitian postmodern sering bersifat interpretatif, kritis, dan menekankan pluralitas perspektif, bukan hanya angka atau generalisasi.

    Selain itu ada metodologi non-positivistik atau interpretatif, seperti fenomenologi atau etnografi, yang menekankan pemahaman mendalam terhadap pengalaman manusia. Peneliti berinteraksi dengan objek penelitian, mengumpulkan data kualitatif, dan menafsirkan makna dari perspektif subjek.

    Berbeda dengan positivistik yang menekankan pengukuran dan verifikasi kuantitatif, interpretatif lebih menekankan konteks, narasi, dan pengalaman manusia yang kompleks.

    Kemudian ada juga pendekatan induktif, seperti Grounded Theory, yang menekankan pembangunan teori dari data nyata, bukan dari hipotesis awal. Peneliti mengamati, mengelompokkan tema, menemukan pola, dan menyusun teori secara sistematis. Ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu harus dimulai dari hipotesis, melainkan bisa muncul dari pengamatan dan refleksi yang cermat.

    Saya juga menyadari perbedaan antara ilmu dan pengalaman subjektif. Puisi, esai, atau refleksi pribadi juga probabilistik, tetapi probabilitasnya lahir dari interpretasi, emosi, dan makna, bukan dari pengamatan yang dapat diuji ulang.

    Kedua dunia ini sama-sama mencoba memahami kehidupan, tetapi caranya berbeda. Ilmu menuntun kita untuk melihat pola di alam dan masyarakat, sementara seni menuntun kita untuk merasakan dunia di dalam diri manusia.

    Kemudian saya berpikir, bukankah ini mengajarkan kita sesuatu yang mendalam tentang diri sendiri? Bahwa mencari kebenaran itu bukan hanya tentang menemukan jawaban pasti, tapi juga tentang bersabar, mengamati, mencatat, dan membiarkan pengetahuan tumbuh secara alami, kadang melalui angka, kadang melalui cerita, kadang melalui interpretasi kritis terhadap pengalaman manusia.

    Ilmu pengetahuan dan metodologi ilmiah, dengan segala probabilitasnya, bukan hanya alat, tetapi sebuah perjalanan reflektif yang mengajarkan kita untuk menghargai ketidakpastian dan tetap berani bertanya.

    Akhirnya saya merenung tentang sifat dinamis metodologi ilmiah. Ilmu tidak pernah berhenti, ia selalu terbuka untuk revisi. Contoh klasik adalah Pluto: pernah dianggap planet dalam tata surya kita, kini diklasifikasi ulang karena definisi dan data baru. Ini bukan kegagalan, melainkan bukti bahwa sains bersifat reflektif dan self-correcting.

    Kadang kita perlu menjaga jarak, mempertanyakan asumsi metodologi, dan bertanya apakah metode yang kita gunakan hari ini masih relevan besok?

    Intinya metodologi ilmiah dari positivistik modernis hingga interpretatif, postmodern, atau induktif seperti Grounded Theory, adalah alat yang dinamis dan reflektif. Ia bukan kebenaran mutlak, tetapi perjalanan memahami dunia, mengajarkan kita menghargai ketidakpastian, tetap kritis, dan berani bertanya.

    Di sinilah keindahan ilmu pengetahua, ia hidup, berkembang, dan selalu menantang kita untuk melihat lebih jauh daripada yang tampak di permukaan.

    --- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture