Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MERAWAT DIRI DI TENGAH DUNIA YANG TERUS BERGERAK

    26 Mar 2026 | Dilihat: 27 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada bagian dari hari yang selalu saya nantikan, justru ketika tidak ada tuntutan apa pun. Bukan karena saya ingin benar-benar berhenti, tetapi karena di situlah saya merasa kembali menjadi diri saya sendiri.

    Di waktu-waktu luang itu, saya menyadari ada beberapa hal yang hampir selalu saya lakukan, berulang, konsisten, dan tanpa terasa telah menjadi bagian dari cara saya menjalani hidup: membaca, menulis, memberi ruang untuk diri sendiri, berjalan menikmati tempat-tempat yang memberi rasa, dan berdialog dengan orang-orang yang satu frekuensi.

    Membaca, bagi saya, bukan lagi sekadar aktivitas, tetapi sudah seperti kebutuhan. Saya membaca apa saja, buku, majalah, koran, laporan, tulisan digital, apa pun yang bisa memberi saya sudut pandang baru. Topiknya juga ke mana-mana, ekonomi, bisnis, teknologi digital, sains, filsafat, dan lain-lain.

    Kadang saya merasa bukan saya yang memilih bacaan, tetapi justru bacaan itu yang “menarik” saya masuk ke dalamnya. Dari sana saya belajar satu hal yang sederhana tapi penting bahwa dunia ini terlalu luas untuk dilihat dari satu perspektif saja.

    Membaca mengajarkan saya untuk tidak cepat merasa paling tahu, karena selalu ada gagasan baru, cara pandang baru, bahkan cara berpikir yang sama sekali berbeda dari apa yang saya yakini sebelumnya.

    Tetapi membaca saja tidak cukup. Hampir setiap hari saya menulis, terutama menulis reflektif. Ini bukan soal gaya atau estetika, tetapi lebih kepada kebutuhan untuk “merespons”.

    Apa yang saya baca, apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan terhadap perkembangan zaman terutama soal sains, teknologi, ekonomi, semuanya seperti meminta untuk diolah. Dan menulis menjadi ruang saya untuk itu.

    Di sini saya belajar hal kedua bahwa berpikir itu tidak selesai di kepala. Ia baru benar-benar menjadi milik kita ketika kita berani menuangkannya, merapikannya, bahkan mempertanyakannya kembali lewat tulisan. Menulis reflektif membuat saya lebih jujur pada diri sendiri, sekaligus lebih sadar bahwa banyak hal di dunia ini tidak sesederhana yang terlihat.

    Lalu ada satu lagi yang sering kali justru paling saya butuhkan, me time. Duduk dengan kopi hangat atau teh, entah di kafe, di pantai, atau di mana saja. Lebih sering sendiri, meskipun sesekali juga bersama teman-teman, ngobrol ngalor ngidul tanpa arah yang jelas. Tapi kalau jujur, saya lebih banyak menikmati kesendirian.

    Di momen seperti ini, saya tidak sedang mengejar apa-apa. Saya hanya berhenti sejenak, memberi ruang untuk diri sendiri. Dan anehnya, justru di titik itu, refleksi-refleksi kecil sering muncul dengan sendirinya.

    Tentang hidup, tentang perubahan, tentang arah yang sedang saya tempuh. Kadang ditemani musik, yang seolah membantu menerjemahkan hal-hal yang tidak sempat saya tuliskan.

    Di sela-sela itu, saya juga menikmati berjalan, mengunjungi museum, perkampungan lama, bangunan-bangunan tua, atau tempat-tempat eksotik yang menyimpan suasana. Saya tidak lagi mencari puncak atau medan berat seperti dulu. Mungkin memang sudah bukan zamannya lagi, atau mungkin saya yang mulai memahami bahwa tidak semua perjalanan harus ditaklukkan.

    Sekarang saya lebih menikmati hadir di tempat-tempat itu, merasakan atmosfernya, membiarkan diri saya larut tanpa tergesa. Dari sana, sering kali lahir puisi atau tulisan reflektif, seolah perjalanan itu menemukan bentuknya kembali dalam kata-kata.

    Dan ada satu hal lagi yang bagi saya sangat berharga, berdiskusi dengan sahabat-sahabat yang satu frekuensi. Tidak selalu mudah menemukan orang-orang seperti itu. Orang-orang yang tidak hanya mendengar, tetapi juga mampu menantang pikiran, menguji cara pandang, bahkan menggoyahkan keyakinan kita dengan argumen yang jernih.

    Kadang percakapannya ringan, ngalor ngidul ke mana-mana. Tapi tidak jarang juga menjadi serius, dalam, dan justru memperkaya. Di situ saya belajar hal lain bahwa pikiran tidak tumbuh dalam kesendirian semata. Ia juga tumbuh dalam perjumpaan, dalam perdebatan yang sehat, dalam keberanian untuk menerima bahwa mungkin kita tidak selalu benar.

    Ketika momen seperti itu terjadi, ketika bertemu orang yang bisa memberi asupan pemikiran yang segar, yang brilian, rasanya selalu menyenangkan dengan cara yang sulit dijelaskan. Bukan hanya karena apa yang dibicarakan, tetapi karena ada rasa bahwa kita sedang bertumbuh bersama.

    Pada akhirnya semua ini, membaca, menulis, memberi ruang untuk diri sendiri, berjalan menikmati dunia, dan berdialog dengan sahabat, menjadi cara saya merawat diri di tengah perubahan yang tidak pernah berhenti. Membaca memberi saya keluasan, menulis memberi saya kedalaman, me time memberi saya keheningan, perjalanan memberi saya rasa, dan percakapan memberi saya kejernihan.

    Dan mungkin, jika harus saya rangkum secara jujur, pelajaran terbesarnya sederhana saja bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita tahu atau seberapa jauh kita melangkah, tetapi tentang bagaimana kita terus belajar dari dunia, dari diri sendiri, dan dari orang lain dengan tetap menjaga keutuhan diri di tengah segala perubahan.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture