Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MELIHAT TERLALU JAUH: CATATAN TENTANG PALANTIR DAN DUNIA YANG INGIN MEMAHAMI SEGALANYA

    25 Mar 2026 | Dilihat: 23 kali

    oleh: Riri Satria

    Belakangan ini saya banyak dihubungi dan ditanya oleh para sahabat, baik dari media maupun sahabat lainnya, tentang Palantir Technologies. Benda apakah ini? Organisasi apakah ini? Bagaimana cara bekerjanya dan sebagainya. Semoga tulisan singkat ini bisa menjawab keingintahuan teman-teman pada tingkat tertentu.

    Palantir adalah perusahaan perangkat lunak asal Amerika yang bergerak di bidang analisis data. Tapi kalau dijelaskan begitu saja, rasanya masih jauh dari gambaran nyata tentang apa yang mereka lakukan. Karena yang Palantir lakukan bukan sekadar menghitung angka, melainkan menyingkap pola yang tersembunyi di balik lautan informasi yang sangat besar dan beragam.

    Palantir membangun platform yang mampu mengumpulkan data dari berbagai sumber, menghubungkan fragmen-fragmen informasi yang tampaknya terpisah, dan menyusunnya menjadi peta yang bisa dibaca manusia.

    Pemerintah menggunakannya untuk memahami ancaman keamanan, melacak jaringan kriminal, atau merencanakan operasi yang kompleks. Rumah sakit memanfaatkannya untuk membaca arah krisis kesehatan, mengantisipasi wabah, dan menyiapkan sumber daya.

    Perusahaan swasta, di sisi lain, memakainya untuk memahami pasar, memprediksi tren, dan menavigasi ketidakpastian bisnis. Semua pihak percaya bahwa jika data cukup banyak dan cukup terhubung, dunia bisa dipahami dengan cara yang lebih jelas.

    Tetapi Palantir bukan mesin yang membuat keputusan sendiri. Platform ini seperti kaca pembesar raksasa yang menunjukkan hubungan, pola, dan kemungkinan, tapi tetap manusia yang menafsirkan dan menentukan arah. Di tangan yang berbeda, kaca itu bisa menyingkap kebenaran atau menciptakan kesalahpahaman.

    Ada dilema yang tak bisa lepas dari Palantir: antara keamanan dan kebebasan. Teknologi ini memberi rasa aman, tetapi di saat yang sama membuka kemungkinan pengawasan menjadi sesuatu yang normal, yang diterima begitu saja tanpa pertanyaan. Garis tipis antara perlindungan dan kontrol bisa saja dilintasi tanpa kita sadari.

    Sesuatu yang lebih rumit adalah Palantir bekerja dengan data yang tidak pernah netral. Setiap jejak yang terekam membawa sejarahnya sendiri, termasuk prasangka, ketimpangan, dan kesalahan masa lalu. Algoritma yang belajar dari data itu bisa saja mengulang pola-pola lama dengan cara yang lebih halus dan sistematis, kadang lebih sulit dilawan daripada sebelumnya. Dengan kata lain, platform ini tidak hanya menampilkan dunia, ia membentuk cara kita melihat dunia.

    Dalam konteks itu, kekuasaan berubah bentuk. Ia tidak selalu hadir sebagai figur yang terlihat, melainkan tersembunyi dalam sistem, model, dan angka yang tampak objektif. Siapa yang menguasai data dalam skala besar, pada akhirnya memiliki kemampuan untuk memengaruhi keputusan, bahkan tanpa perlu terlihat memaksakan kehendak.

    Dunia yang kita jalani menjadi lebih terprediksi, lebih terkendali, dan lebih rasional, tapi juga berisiko mengikis ruang untuk ketidakpastian, intuisi, dan kejutan berisikan hal-hal yang sering kali membuat hidup terasa hidup.

    Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam cara kita melihat dunia. Kita tidak lagi sekadar mengamati, tetapi berusaha menembus, mengurai, dan meramalkan. Di tengah perubahan itu, nama Palantir Technologies muncul bukan hanya sebagai perusahaan teknologi, melainkan sebagai simbol dari hasrat manusia yang semakin tak sabar terhadap ketidakpastian.

    Nama itu sendiri bukan kebetulan. Ia diambil dari palantír dalam The Lord of the Rings, bola kristal yang memungkinkan seseorang melihat kejadian di tempat lain, bahkan melintasi waktu. Dalam cerita itu kemampuan selalu datang dengan harga, d mana semakin jauh seseorang melihat, semakin besar pula risiko ia kehilangan kendali atas apa yang ia lihat. Ada godaan untuk percaya bahwa penglihatan adalah kebenaran, padahal ia bisa saja hanya potongan yang menyesatkan.

    Di dunia nyata, Palantir bekerja dengan cara yang tidak kalah ambisius, meski tanpa sihir. Ia mengumpulkan data dalam jumlah besar (super big data), menghubungkan fragmen-fragmen informasi yang tersebar (connectng the dots), lalu menyusunnya menjadi pola yang seolah berbicara (pattern development). Dari sana, keputusan dibuat.

    Pemerintah menggunakannya untuk keamanan, rumah sakit untuk membaca arah krisis kesehatan, militer untuk memahami medan perang, perusahaan untuk menavigasi ketidakpastian bisnis. Semua bergerak dalam satu keyakinan yang sama bahwa jika data cukup banyak dan cukup terhubung, maka dunia bisa dipahami dengan lebih jernih.

    Namun di situlah kegelisahan mulai tumbuh. Karena ketika data tidak lagi berdiri sendiri, melainkan disatukan, ia tidak hanya menjelaskan, ia juga membentuk. Ia menciptakan potret manusia yang begitu rinci hingga kadang terasa lebih utuh daripada manusia itu sendiri. Dari kebiasaan kecil hingga pola besar, dari pilihan sehari-hari hingga kecenderungan masa depan, semuanya dapat dibaca sebagai sinyal.

    Dan tanpa kita sadari, kita perlahan berubah dari subjek yang hidup menjadi objek yang dianalisis.

    Ada dilema yang tidak pernah benar-benar selesai, antara keamanan dan kebebasan. Ketika teknologi seperti ini digunakan untuk mencegah kejahatan atau mengantisipasi ancaman, ia terasa perlu, bahkan menenangkan. Tetapi pada saat yang sama, ia membuka kemungkinan bahwa pengawasan menjadi sesuatu yang biasa, sesuatu yang diterima tanpa banyak pertanyaan. Batas antara perlindungan dan kontrol menjadi tipis, hampir tak terlihat, seperti garis halus yang hanya disadari ketika sudah terlewati.

    Satu hal yang lebih mengganggu adalah kenyataan bahwa semua ini sering berjalan tanpa banyak cahaya. Banyak sistemnya tertutup, banyak keputusannya tidak sepenuhnya bisa dijelaskan kepada publik. Kita diminta percaya pada hasil tanpa benar-benar memahami prosesnya. Padahal di dalam proses itulah kemungkinan bias, kesalahan, atau bahkan ketidakadilan bisa bersembunyi. Bukankah postmodenis menolak tafsir tunggal atau narasi tunggal atas suatu fenomena?

    Data tidak pernah benar-benar netral, ia membawa jejak masa lalu, termasuk prasangka dan ketimpangan yang mungkin sudah lama ada. Ketika algoritma belajar dari data itu, ia bisa saja mengulangnya dengan cara yang lebih halus, lebih sistematis, dan justru lebih sulit dilawan.

    Dalam dunia seperti ini, kekuasaan juga berubah bentuk. Ia tidak lagi selalu hadir sebagai figur atau institusi yang terlihat jelas. Ia bersembunyi dalam sistem, dalam model, dalam keputusan yang tampak objektif karena berbasis angka.

    Kita tidak lagi hanya bertanya siapa yang berkuasa, tetapi juga siapa yang mengendalikan cara kita memahami realitas. Karena pada akhirnya, siapa yang menguasai data dalam skala besar, ia memiliki kemampuan untuk menentukan arah keputusan, bahkan tanpa perlu terlihat memaksakan kehendak.

    Di satu sisi, semua ini terasa seperti kemajuan yang tak terelakkan. Kita memang ingin dunia yang lebih terprediksi, lebih terkendali, lebih rasional. Kita ingin mengurangi kesalahan, mempercepat respons, dan memahami kompleksitas yang selama ini terasa di luar jangkauan.

    Tetapi di sisi lain, ada sesuatu yang pelan-pelan tergerus yaitu ruang untuk ketidakpastian, untuk intuisi, untuk kejutan yang justru sering menjadi bagian paling manusiawi dari hidup.

    Saya sering merasa, yang sedang kita bangun bukan hanya teknologi, melainkan cara baru dalam memandang manusia itu sendiri. Dalam sistem seperti ini, manusia mudah direduksi menjadi pola, menjadi kecenderungan, menjadi kemungkinan yang bisa dihitung.

    Masa depan seolah tidak lagi terbuka, melainkan diproyeksikan. Padahal selalu ada bagian dari manusia yang tidak bisa diringkas menjadi data, sesuatu yang liar, tak terduga, dan justru membuatnya hidup.

    Mungkin itulah pelajaran yang diam-diam disisipkan oleh kisah lama tentang Palantír. Bahwa melihat terlalu jauh tidak selalu berarti memahami lebih dalam. Bahwa ada batas di mana keinginan untuk mengetahui segalanya justru bisa membuat kita kehilangan sesuatu yang lebih penting: kebijaksanaan untuk menerima bahwa tidak semua hal perlu diketahui sepenuhnya.

    Di titik ini, pertanyaannya menjadi lebih personal daripada teknis. Bukan lagi sekadar tentang seberapa canggih teknologi seperti Palantir, tetapi tentang seberapa jauh kita bersedia berjalan bersamanya. Apakah kita ingin dunia yang sepenuhnya terbaca, atau dunia yang masih menyisakan misteri? Apakah kita siap hidup dalam sistem yang mungkin memahami kita lebih baik daripada kita memahami diri sendiri?

    Saya tidak memiliki jawaban yang pasti. Hanya ada perasaan samar bahwa di tengah semua kecanggihan ini, kita sedang berdiri di sebuah batas yang tipis. Di satu sisi, ada janji tentang kendali dan kejelasan.

    Di sisi lain, ada risiko kehilangan sesuatu yang tak bisa digantikan oleh angka: kebebasan untuk menjadi tak terduga, dan keberanian untuk hidup tanpa selalu mengetahui ke mana semuanya akan berakhir.

    Mungkin itulah pelajaran yang bisa diambil dari Palantir bahwa memahami segala hal secara sempurna bukan selalu berarti kita lebih bijak. Ada batas di mana keinginan untuk mengetahui segalanya justru bisa membuat kita kehilangan sesuatu yang lebih penting, sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan data, yaitu kebebasan untuk menjadi tak terduga, kemampuan untuk hidup dengan misteri, dan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian.

    Palantir menunjukkan kepada kita bukan hanya dunia yang dapat dianalisis, tetapi juga manusia yang perlahan berubah dalam cara ia dipahami.

    -- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture