Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DI ANTARA GAS DAN REM: REFLEKSI TENTANG LANGKAH HATI-HATI EKONOMI INDONESIA

    23 Mar 2026 | Dilihat: 24 kali

    oleh: Riri Satria

    Saya bukanlah orang yang menekuni dunia perekonomian secara mendalam, apalagi seorang ekonom. Sama sekali bukan! Ini hanyalah semacam refleksi saya mengenai perkembangan ekonomi di Indonesia akhir-akhir ini. Tentu saja tulisan ini bukanlah analisis ekonomi yang mendalam, melainkan sebuah refleksi atas situasi ekonomi Indonesia saat ini, dilihat dari sudut pandang seorang penulis yang sehari-harinya justru lebih banyak berkecimpung dalam dunia teknologi digital dan teknologi siber, yaitu sebuah dunia yang terbiasa dengan akselerasi cepat, disrupsi, dan keberanian mengambil risiko.

    Pada suatu titik, kita seperti sedang duduk di dalam sebuah kendaraan besar bernama Indonesia, melaju di jalan yang panjang, tidak sepenuhnya mulus, tetapi juga tidak berlubang parah. Kita tidak berhenti. Mesin tetap hidup. Jarum penunjuk kecepatan bergerak stabil, kira-kira di angka yang sama dari tahun ke tahun. Namun, ada perasaan samar yang sulit diabaikan, mengapa kita tidak pernah benar-benar melesat?

    Angka-angka di permukaan sebenarnya memberi ketenangan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir bertahan di kisaran 5 %, misalnya 5,3% pada tahun 2022, sekitar 5,0% pada 2023, dan tetap berada di sekitar angka itu pada 2024 menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS).

    Inflasi relatif terkendali di kisaran 2% –3%, bahkan sempat berada di sekitar 2,6% pada 2024. Defisit anggaran dijaga di bawah 3% dari PDB sesuai kerangka Undang-Undang Keuangan Negara. Jika dilihat dari kacamata stabilitas, ini seperti laporan medis yang menenangkan, di mana tekanan darah normal, detak jantung stabil, tidak ada tanda-tanda krisis akut.

    Dalam lanskap global yang penuh gejolak, dari perang dagang hingga ketegangan geopolitik, kondisi ini bahkan bisa disebut prestasi. Namun di balik angka-angka yang tampak rapi itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam, apakah stabilitas ini cukup? Atau justru kita sedang terlalu nyaman dengan kecepatan yang “cukup”, ketika dunia di sekitar kita berlari lebih cepat?

    Di satu sisi Kementerian Keuangan Republik Indonesia terus berupaya menekan pedal gas. Belanja negara digerakkan, bantuan sosial disalurkan, proyek infrastruktur dilanjutkan, insentif fiskal diberikan untuk menjaga konsumsi dan investasi tetap hidup. Di sisi lain, Bank Indonesia justru menarik rem dengan menaikkan atau menahan suku bunga di level yang relatif tinggi dalam beberapa waktu terakhir, demi menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar.

    Pada pandangan pertama, ini tampak seperti dua tangan yang bekerja berlawanan arah. Tetapi semakin lama dipikirkan, semakin terasa bahwa ini bukan pertentangan, melainkan semacam koreografi kehati-hatian, sebuah upaya menjaga agar kendaraan tetap melaju tanpa tergelincir.

    Di sinilah paradoks itu muncul. Pemerintah jelas memiliki ambisi. Target pertumbuhan 7% hingga 8% bukan sekadar retorika, ia lahir dari kebutuhan yang nyata, menciptakan lapangan kerja dalam skala besar, mempercepat industrialisasi, dan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Negara-negara seperti China pada awal 2000-an atau Vietnam dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa lompatan itu mungkin terjadi ketika investasi, ekspor, dan produktivitas bergerak serempak.

    Tetapi Indonesia tidak berada dalam kondisi yang sama persis. Struktur ekonominya masih sangat bertumpu pada konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari separuh PDB, sementara transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi masih berjalan, belum sepenuhnya matang.

    Justu yang sering terasa oleh masyarakat bukanlah angka 5% itu sendiri, melainkan distribusinya. Pertumbuhan tidak selalu terasa merata. Ada sektor yang bergerak cepat terutama yang terkait komoditas atau hilirisasi, tetapi ada juga yang berjalan biasa saja. Di saat yang sama, biaya hidup terasa naik, suku bunga kredit lebih tinggi, dan ruang napas kelas menengah terasa menyempit. Dalam pengalaman sehari-hari, ekonomi yang “tumbuh” itu bisa terasa seperti diam di tempat. Inilah jarak antara statistik dan perasaan.

    Maka menyebut kondisi ini sebagai stagnasi juga tidak tepat. Ekonomi Indonesia tidak berhenti, ia tetap bergerak, bahkan cukup stabil dibanding banyak negara lain. Tetapi menyebutnya sebagai akselerasi juga berlebihan. Ia lebih menyerupai gerak konstan atau sebuah ritme yang aman, namun tidak menggugah. Dalam bahasa yang lebih jujur, ini adalah pertumbuhan yang terkendali, tetapi belum transformatif.

    Pertanyaannya kemudian bergeser, apakah ini pilihan, atau keterpaksaan? Apakah Indonesia memang hanya mampu tumbuh di sekitar 5%, atau sebenarnya bisa lebih tinggi tetapi memilih untuk tidak mengambil risiko? Jawaban yang muncul tidak sederhana. Ada kapasitas yang nyata seperti demografi yang besar, sumber daya alam, dan potensi pasar domestik, tetapi ada pula batasan yang tidak bisa diabaikan yaitu risiko inflasi, tekanan nilai tukar, keterbatasan fiskal, serta pelajaran sejarah yang pahit seperti Krisis Moneter Asia 1997–1998, ketika pertumbuhan tinggi runtuh dalam sekejap karena fondasi yang rapuh.

    Trauma kolektif itu masih membentuk cara berpikir kebijakan hari ini, seolah-olah ada suara yang terus mengingatkan jangan terlalu cepat, jangan terlalu jauh. Dalam suasana seperti ini, Indonesia tampak seperti seorang pengemudi yang tahu mobilnya mampu melaju lebih kencang, tetapi memilih menjaga kecepatan karena jalan di depannya licin dan penuh tikungan.

    Ini bukan semata soal “tenaga kurang”, melainkan soal kalkulasi risiko. Ada ambisi untuk tiba lebih cepat, tetapi ada juga kesadaran bahwa satu kesalahan bisa membawa konsekuensi besar.

    Namun di titik ini pula kegelisahan mulai tumbuh. Dunia tidak menunggu. Negara-negara lain bergerak agresif menarik investasi, membangun industri, dan meningkatkan produktivitas. Jika Indonesia terlalu lama berada di zona aman, ada kemungkinan momentum itu lewat begitu saja. Bonus demografi yang seharusnya menjadi mesin pertumbuhan bisa berubah menjadi beban jika tidak diiringi penciptaan pekerjaan yang cukup cepat dan berkualitas.

    Akhirnya, kita kembali pada perasaan awal itu, duduk di dalam kendaraan yang stabil, aman, tetapi terasa kurang cepat. Tidak ada kepanikan, tidak ada krisis, tetapi juga tidak ada lonjakan yang membuat kita merasa sedang menuju lompatan besar.

    Mungkin inilah dilema dalam ekonomi, yaitu memilih antara keberanian untuk melaju lebih cepat dengan segala risikonya, atau ketenangan untuk tetap stabil dengan konsekuensi tertinggal perlahan. Indonesia setidaknya untuk saat ini, tampaknya masih memilih yang kedua, sambil sesekali menoleh ke depan, bertanya kapan saat yang tepat untuk benar-benar menginjak gas lebih dalam?

    -- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture