Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
untuk Emi Suy, yang berulang tahun 2 Februari
oleh: Riri Satria
First, when there's nothing
but a slow glowing dream
That your fear seems to hide
deep inside your mind
All alone, I have cried
silent tears full of pride
In a world made of steel
made of stone
Ada yang tahu potongan lirik lagu tersebut? Ya, itu lagu "What a Feeling" yang dinyanyikan oleh Irene Cara pada film Flashdance sekitar tahun 1987, yang mengisahkan sosok perepuan bernama Alex Owens, dan menurut saya kisah itu indah karena sinema tahu cara membungkus perjuangan dengan cahaya.
Namun 30 tahun kemudian, saya menyadari bahwa ada cerita yang lebih sunyi, lebih panjang napasnya, dan lebih nyata. Cerita itu tidak berada di layar lebar, melainkan di lorong-lorong gudang, di antara forklift, peti kayu, truk peti kemas, dan debu logistik. Di situlah sahabat saya, Emi Suy menjalani siangnya.
Alex Owens mengelas baja di pabrik las baja di Pittsburgh. Tubuhnya berhadapan dengan api, logam, dan suara mesin. Seusai kerja, ia menari untuk mengejar dunia yang sama sekali berbeda dari siang harinya. Banyak orang mengingat adegan kursi dan air yang diguyurkan dari atas, tetapi bagi saya inti kisahnya ada di satu hal sederhana, Alex tetap datang ke audisi, meski ragu, meski merasa bukan siapa-siapa. Dia bersemangat!
Sejak bebeapa tahun ini, setiap kali mengingat film atau lagu itu, pikiran saya selalu kembali pada sosok sahabat saya, penyair Emi Suy. Pagi hingga sore Emi bekerja di kawasan pergudangan di Jakarta Barat. Ia berbicara dengan barang-barang, bukan metafora, menghitung box, memindahkan muatan, berurusan dengan ekspedisi, jadwal, dan ketepatan distribusi. Dunia yang presisi, fisik, tidak puitis. Dunia yang menuntut tenaga, ketahanan, dan fokus. Tidak ada tepuk tangan di sana, hanya target dan tanggung jawab.
Namun setelah jam kerja, dunia bergeser. Emi membuka buku, bukan palet baja. Ia memegang pena dan laptop, bukan dokumen inventori atau pengiriman barang. Ia memasuki ruang yang sering disalahpahami orang sebagai kesepian, padahal sebenarnya kejernihan batin, yaitu sunyi yang membuat suara halus kehidupan bisa terdengar.
Jika Alex menari setelah shift kerjanya selesai, Emi Suy menulis setelah shift kerjanya selesai juga di sore hari. Jika Alex berkeringat di ruang latihan, Emi berkeringat di halaman-halaman sunyi kata-kata. Jika Alex menghadapi audisi, Emi menghadapi halaman kosong, yang kadang jauh lebih menakutkan. Dia juga tidak segan mendatangi para penyair senior, dan terkadang harus menempuh perjalanan jauh, hanya untuk memperlihatkan karya puisinya serta meminta tanggapan serta masukan. Begitulah dia belajar waktu demi waktu.
Dari proses dan semangat persisten Emi Suy itu lahir puisi-puisi yang kemudian tumbuh menjadi buku demi buku, penghargaan demi penghargaan bahkan tingkat nasional, peran demi peran seperti penyair, juri, kurator, narasumber forum diskusi atau seminar, serta sebuah nama yang kini masuk dalam lanskap sastra Indonesia.
Saya mengenalnya bukan hanya sebagai penyair, tapi sebagai manusia yang tidak pernah memisahkan keras dan lembut dalam dirinya. Siang hari ia mengatur logistik benda. Malam hari ia mengatur logistik rasa. Gudang menyimpan barang, sementara puisi menyimpan makna. Tanpa ia sadari, hidupnya sendiri sudah puitis sebelum dituliskan.
Persahabatan saya dengan Emi juga tak selamanya baik-baik saja, banyak debat, banyak pertengkaran dan ribut juga, up and down, bahkan pernah berjarak.
Namun sepanjang lebih dari 12 tahun mengenal sosok Emi, saya bisa menilai bahwa justru yang membuat saya kagum bukan pencapaiannya sekarang, namun ketekunannya saat belum ada yang melihat. Disiplin sunyi. Emi Suy tidak pernah menunggu waktu ideal untuk menjadi penyair. Ia menciptakan waktunya sendiri, di sela lelah, di antara kewajiban, di ruang yang tersisa. Seperti api kecil yang dijaga, bukan dipamerkan.
Dalam banyak hal, kisahnya bahkan melampaui sosok Alex Owens dalam film Flashdance. Alex adalah fiksi yang menginspirasi menjadi sosok disebut "penari". Emi Suy adalah kenyataan yang bertahan. Tidak ada montase dramatis, tidak ada musik latar yang mengangkat suasana, hanya hari-hari panjang yang dijalani terus-menerus, sampai suatu hari orang menyebutnya “penyair”.
Setelah lelah bergulat seharian di gudang dengan segala keehebohan dan hiruk-pikuknya, malamnya Emi Suy bisa saja muncul di Taman Ismail Marzuki (TIM) atau tempat acara sastra lainnya, untuk membacakan kata-kata puitis yang dia susun untuk memahami, memaknai, dan menyuarakan kehidupan.
Ketika orang melihat sosok Emi Suy di panggung dengan puisi, buku dan penghargaan, saya melihat forklift, peti kayu, dan tubuh lelah yang tetap setia pada kata-kata. Setiap kali mengingat Alex Owens berdiri di depan panel audisi, saya tahu bahwa Emi Suy telah melakukan audisinya yang puiis setiap malam, di hadapan halaman kosong, tanpa juri terlihat, kecuali nuraninya sendiri.
Alex Owens dan Emi Suy, dua perempuan, dua dunia keras, satu kesamaan, tidak menyerah pada panggilan jiwanya.
Selamat berulang tahun setiap 2 Februari, Emi Suy. Seorang perempuan yang membuktikan bahwa dari gudang yang penuh benda, box kayu dan pelat baja, dengan suasana bising dan hiruk-pikuk, bisa lahir puisi yang penuh cahaya.
Selamat bertambah usia, Emi. Tetap nyalakan api itu. 🔥
-- Riri Saria ---
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera