Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Oleh Riri Satria
Ada kegelisahan kecil yang sering muncul setiap kali saya mengamati dunia perpuisian atau kepenyairan di era sekarang, sebuah kegelisahan yang mungkin terdengar aneh, bahkan sedikit naif.
Saya membayangkan para pengamat puisi, para akademisi, para ahli sastra, duduk tekun membedah puisi seperti ilmuwan membedah organisme atau hukum fisika yang rumit, mencari pola, menemukan struktur, mengklasifikasikan gaya, memetakan kecenderungan.
Di satu sisi itu indah, karena menunjukkan betapa puisi dianggap cukup penting untuk diteliti dengan serius. Tapi di sisi lain, ada bisikan halus dalam diri saya, kalau semua pola itu akhirnya ditemukan, bukankah tinggal selangkah lagi menuju algoritma?
Menariknya kegelisahan ini bukan lahir dari jarak terhadap teknologi, justru dari kedekatan. Saya mencintai puisi, membacanya, merasakannya, menulisnya, bahkan tersesat di dalamnya. Tapi di sisi lain, keseharian saya akrab dengan dunia algoritma, matematika, software engineering, systems development, dan transformasi digital.
Saya hidup di wilayah yang berusaha menaklukkan ketidakpastian, menyederhanakan kompleksitas, mengubah kekacauan menjadi sistem, dan sistem menjadi proses yang bisa diulang. Saya tahu betul bagaimana sebuah pola yang samar bisa diterjemahkan menjadi model, lalu menjadi logika, lalu menjadi kode.
Karena itu, ketika saya melihat puisi dianalisis, dipetakan, dicari polanya, saya tidak hanya melihat itu sebagai kajian sastra semata, lebih jauh saya juga melihat bayangan flowchart di belakangnya. Sesuatu yang memiliki pola dan struktur, pada dasarnya bisa dirumuskan. Sesuatu yang bisa dirumuskan, cepat atau lambat bisa dikodekan. Dan sesuatu yang bisa dikodekan, pada akhirnya bisa direplikasi oleh mesin. Di titik itulah saya merasa seperti berdiri di tepi jurang kecil antara puisi sebagai getaran jiwa dan puisi sebagai produk engineering.
Saya membayangkan sebuah masa ketika orang tidak lagi duduk termenung menunggu kata datang seperti tamu tak diundang, melainkan membuka layar, menulis prompt, menekan enter, lalu menunggu puisi lahir dari sistem. Puisi sebagai hasil proses, bukan lagi pergulatan batin, melainkan hasil optimasi matematis dalam algoritma.
Kata-kata tersusun rapi, metafora bekerja presisi, emosi muncul di tempat yang “seharusnya”. Secara teknis mungkin indah. Tapi entah kenapa, hati saya merasa ada yang terlalu sempurna di sana, terlalu halus, terlalu tepat, seperti lantai marmer yang dingin.
Bagi saya, seni selalu terasa menyenangkan justru karena ia tidak sepenuhnya bisa dijinakkan. Ia liar sedikit,berantakan sedikit, kadang gagal, kiadang canggung, sehingga kalau terlalu jujur sampai membuat kita tak nyaman.
Puisi yang menyentuh saya bukan selalu yang paling rapi, tapi yang paling terasa “manusia”-nya, justru yang seperti ditulis dengan tangan gemetar, dengan napas yang tak stabil, dengan logika yang sesekali bocor karena perasaan terlalu penuh.
Mungkin justru karena saya berasal dari dunia yang sangat terstruktur, saya semakin menghargai wilayah yang tidak bisa sepenuhnya dipetakan. Di dunia sistem, bug adalah masalah. Dalam puisi, “retak” justru bisa menjadi keindahan. Di dunia engineering, inkonsistensi harus diperbaiki. Dalam puisi, ketidakteraturan bisa menjadi jiwa. Sehingga yang satu mengejar presisi, yang lain merayakan celah.
Ketika sesuatu terlalu “engineered”, saya merasa ada jarak. Seperti berbicara dengan orang yang selalu menjawab sempurna, tapi kita tak pernah benar-benar tahu apakah ia pernah menangis diam-diam di kamar gelap. Puisi bagi saya adalah jejak-jejak retak itu. Ia hidup di wilayah yang tidak sepenuhnya terstruktur, acak, tak terduga, terbuka pada banyak tafsir. Justru karena tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, ia terus mengundang kita kembali, bukan untuk mengerti sepenuhnya, tapi untuk merasakan ulang.
Namun di titik ini saya juga sadar, mungkin saya romantis berlebihan. Bisa jadi para penyair tidak merasa terancam. Bisa jadi mereka justru melihat algoritma dan AI sebagai alat baru, seperti dulu pena menggantikan lisan, mesin tik menggantikan pena, komputer menggantikan mesin tik. Mungkin yang penting bukan medianya, tapi apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh merasa di baliknya.
Saya sendiri tidak punya jawaban pasti. Bisa jadi saya keliru. Bisa jadi kegelisahan saya hanyalah reaksi seseorang yang berdiri di dua dunia sekaligus, dunia yang ingin menstrukturkan segalanya, dan dunia yang justru bernapas dari ketidakteraturan.
Tapi sebagai pembaca, sebagai pencinta puisi, dan sebagai orang yang sehari-hari bergelut dengan logika, sistem, dan algoritma, saya tetap berharap satu hal sederhana: semoga selalu ada ruang bagi yang tak terukur, yang tak efisien, yang tak bisa sepenuhnya diprediksi.
Ruang bagi kesalahan, bagi kejanggalan, bagi kalimat yang lahir bukan karena ia optimal, tapi karena ia tak bisa lagi ditahan di dalam dada.
Mungkin di situlah, bagi saya, puisi tetap bernapas.
Riri Satria adalah seorang praktisi dan akademisi teknologi digital di Indonesia, aktif bergiat di dunia kesusatraan Indonesia, pendiri serta Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta. Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), ” Algoritma Kesunyian” (kolaborasi dengn Emi Suy, 2023), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 80 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya. Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera