Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • LIMA BUKU DAN SEBUAH KEHADIRAN YANG TAK PERNAH PERGI

    03 Jan 2026 | Dilihat: 59 kali

    Catatan Mengenang Penyair Yoevita Soekotjo

    ole: Riri Satria

    Beberapa hari terakhir ini saya membereskan buku-buku di ruang kerja, sebuah ruang yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berdiam pikiran, kenangan, dan percakapan sunyi dengan diri sendiri. Rak demi rak saya kosongkan, saya susun ulang, sebagian besar buku-buku itu saya lepaskan. Hingga pada satu rak, pandangan saya tertahan. Lima buku! Sudah lama tak saya sentuh, apalagi saya baca, namun entah mengapa kelimanya tetap bertahan di ruang itu, seolah memang tak pernah berniat pergi.

    Lima buku tersebut terkait dengan penyair Yoevita Soekotjo yang meninggal dunia pada awal tahun 2021. Empat di antaranya adalah karya Yoevita sendiri yaitu "Pengantin Puisi" (2019), "Opera Tujuh Purnama" (2020), kumpulan esai "Reborn! Move On!" (2020), dan satu buku puisi yang terbit setelah Yoevita wafat, "Sampailah Pada Bait Terakhir" (2021). Satu buku lainnya adalah buku kenangan dari ratusan puisi dan catatan sahabat yang ditulis untuk Yoevita. Sebuah buku yang bukan sekadar memorial, melainkan gema dari cinta kolektif, berjudul "Perempuan Pengantin Puisi dalam Opera Tujuh Purama: Obituari Mengenang Yoevita Soekotjo" (2021).

    Saya berdiri lama di depan rak itu. Ada perasaan ganjil, seperti bertemu seseorang yang lama tak dijumpai, namun kehadirannya tak pernah benar-benar hilang.

    Ingatan saya lalu melompat ke Desember 2020. Saat itu, sejak awal bulan, saya membantu Yoevita mengumpulkan dan menyeleksi puisi-puisi yang ia tulis sepanjang tahun. Kesibukan pekerjaan membuat saya tak bisa mendampingi secara intens. Hingga pertengahan Januari 2021, kami baru menuntaskan sekitar 75 persen seleksi dari hampir 200 puisi. Jumlah yang hingga kini masih terasa fantastis bagi saya, terutama jika mengingat kondisi fisik Yoevita kala itu.

    Setelah opname selama sebulan pada Februari–Maret 2020, kesehatannya tak pernah benar-benar pulih. Ia harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Mobilitasnya dibantu kursi roda. Bahkan tentang kursi roda itu pun, Yoevita menuliskan puisi tersendiri. Seolah setiap keterbatasan baginya bukan alasan untuk diam, melainkan bahan baku permenungan.

    Puisi-puisi itu tersebar di mana-mana, Facebook, grup WhatsApp, dokumen pribadi, dan berbagai buku antologi. Kami mengumpulkannya satu per satu yang bisa dilacak. Saya meminta bantuan sahabat-sahabat di berbagai komunitas sastra, barangkali Yoevita pernah menulis di grup mereka. Proses ini tidak mudah, namun berkat gotong royong banyak pihak, termasuk keluarga besar Yoevita, semuanya dapat berjalan. Untuk itu, saya selalu menyimpan rasa terima kasih yang tak terucap.

    Menjelang akhir hidupnya, Yoevita melakukan seleksi sendiri. Saya hanya menjadi second opinion. Kami menyepakati dua pertimbangan yaitu kualitas puisi, dan kekuatan ikatan emosional Yoevita terhadap peristiwa yang melahirkan puisi itu. Ada puisi yang secara teknis mungkin biasa saja, tetapi sarat emosi dan itu, bagi Yoevita, justru penting.

    Kami sering membahas puisi-puisi itu di Kafe Cerita, Jalan Otista. Tak jarang kami berdebat, karena sudut pandang kami berbeda. Namun dari perdebatan itulah buku "Sampailah Pada Bait Terakhir" lahir, sebuah buku yang, tanpa kami sadari, menjadi penutup perjalanan kreatifnya dan baru diterbitkan setelah Yoevita meninggal dunia.

    Tak banyak yang tahu bahwa latar awal Yoevita adalah teater. Sejak bersekolah di SMA Negeri 12 Jakarta Timur tahun 1983, ia aktif di Teater Alun. Puisi datang kemudian. Barangkali itu sebabnya puisinya selalu memiliki unsur dialog, konflik batin, bahkan perlawanan. Teater dan puisi baginya adalah ruang kontemplasi yaitu tempat berdialog dengan diri sendiri dan dengan Tuhan.

    Yoevita tahu ia tak punya kuasa mengubah sistem sosial atau politik. Maka ia menggugat lewat panggung dan kata-kata. Puisi menjadi suara hati tempat menumpahkan sedih, marah, takjub, kasih, dan cinta. Dalam pengertian ini, puisi Yoevita adalah apa yang oleh filsuf disebut sebagai ekspresi autentik eksistensi atau suara terdalam manusia yang sedang berusaha memahami hidupnya sendiri.

    Dalam "Pengantin Puisi" dan "Opera Tujuh Purnama", puisinya masih berupa catatan perjalanan hidup, sosial, dan kemanusiaan. Namun Yoevita merasa ada kemajuan di buku kedua. Ia menyimak masukan sahabat-sahabat penyair saat peluncuran "Pengantin Puisi" bahwa banyak puisinya terlalu reaktif, terlalu cepat merespons peristiwa, kehilangan perenungan. Yoevita menanggapi kritik itu dengan keseriusan. Ia belajar menunda, merenung, memperdalam.

    Tahun 2019, Yoevita mencatat tonggak penting lain yaitu menjadi juara pertama Women of Words Poetry Slam di Ubud Writers and Readers Festival 2019 di Ubud, Bali. Kompetisi internasional dengan juri kelas dunia. Poetry slam menuntut energi, keberanian, dan kejujuran. Bukan deklamasi, bukan teatrikal. Yoevita berdiri di sana, membawa tubuh dan suaranya sendiri dan menang.

    Di sela pemulihan pasca-opname, ia menulis "Reborn! Move On!". Buku ini bukan puisi, melainkan proses transformasi. Yoevita menyadari bahwa tidak semua orang beruntung menemukan jati diri sejak dini. Ia sendiri baru menemukannya pada 2019, terlambat menurut usia, tetapi tidak menurut hidup. Buku ini adalah pengakuan tentang diacak-acaknya diri, tentang disusun ulangnya arah, tentang keberanian untuk lahir kembali.

    Baginya, hidup tanpa jati diri dan visi adalah hidup yang kehilangan makna. Tuhan tak akan mengubah nasib seseorang tanpa usaha manusia itu sendiri. Dan kasih sayang Tuhan sering kali hadir, tetapi kita gagal melihatnya. Dalam proses itu, Yoevita percaya, setiap manusia butuh sahabat, mentor, sparring partner, motivator.

    Yoevita juga sosok yang teguh pendirian. Ia mendukung revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM), sepanjang marwahnya sebagai rumah seniman tetap dijaga. Ia menolak jika seni direduksi menjadi pelengkap ekonomi. Bagi Yoevita, TIM adalah ruang kebudayaan, bukan pusat bisnis.

    Dan hingga akhir, Yoevita tak pernah berhenti menulis. Selama pikirannya bekerja, selama jari-jarinya bisa mengetik, ia akan menulis. Selama ia bisa berteriak, ia akan membaca puisi. Bahkan dengan kursi roda, bahkan dengan cuci darah dua kali seminggu, dan kontrol kesehatan yang ketat di bawah pengawasnan dokter, ia hadir membaca puisi pada 17 Agustus 2020. Sebuah keteguhan yang hanya dimiliki mereka yang benar-benar mencintai hidup.

    Yoevita adalah salah seorang pendiri Jagat Sastra Milenia (JSM) sekaligus anggota gerakan Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (FSPTIM).

    Yoevita Soekotjo alias Yoevita Maria Ekowati Handayani wafat pada 16 Februari 2021, setelah berjuang melawan Covid-19. Ia dimakamkan di Bambu Apus, Jakarta Timur. Yoevita meninggal dunia sekitar pukul 03.30 dini hari. WA-nya masih aktif sampai pukul 00.12 pada saat itu. Beberapa saat sebelumnya, Yoevita masih mengirimkan sebuah puisi doa kepada saya melalui WA.

    Kini di depan rak buku itu, saya menyadari satu hal bahwa kelima buku ini tak pernah sekadar menjadi koleksi. Mereka adalah penanda kehadiran. Selama buku-buku ini masih ada, selama puisinya masih dibaca, Yoevita belum benar-benar pergi. Ia hanya berpindah, dari tubuh yang rapuh ke kata-kata yang abadi.

    Al-Fatihah untuk Yoevita ... šŸ˜”šŸ˜¢šŸŒ·

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku ā€œApa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: ā€œJendelaā€ (2016), ā€œWinter in Parisā€ (2017), ā€œSiluet, Senja, dan Jinggaā€ (2019), ā€œMetaverseā€ (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul ā€œAlgoritma Kesunyianā€ (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: ā€œUntuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnisā€ (2003), trilogi ā€œProposisi Teman Ngopiā€ (2021) yang terdiri tiga buku ā€œEkonomi, Bisnis, dan Era Digitalā€, ā€œPendidikan dan Pengembangan Diriā€, dan ā€œSastra dan Masa Depan Puisiā€ (2021), serta ā€œJelajahā€ (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa AlaaĀ atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ā  Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Ā  oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ā  Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik šŸ˜šŸ„³šŸš€šŸ”„
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture