Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Membaca Ulang Sepuluh Buku Emi Suy: Ziarah Sunyi Seorang Perempuan Penyair

    01 Jan 2026 | Dilihat: 18 kali

    oleh: Riri Satria

    Poetry is a sociohistorical record of both facts and emotion
    — Rosemarie Dombrowski

     

    Saya selalu percaya bahwa puisi bukan sekadar susunan kata yang indah atau permainan metafora yang memikat. Puisi adalah jejak. Ia merekam sesuatu yang sering luput dari arsip sejarah resmi yaitu emosi, luka, ketakutan, harapan, dan kesunyian manusia. Jika sejarah mencatat apa yang terjadi, maka puisi mencatat bagaimana rasanya mengalami itu semua.

    Dalam konteks itulah saya memandang perjalanan kepenyairan Emi Suy. Sepuluh buku yang pernah ia lahirkan bukan hanya katalog karya, melainkan peta batin berupa penanda fase hidup, pergulatan eksistensial, dan proses belajar yang panjang. Saya tidak menuliskan esai ini sebagai kritikus sastra yang menjaga jarak, melainkan sebagai sahabat seperjalanan yang menyaksikan, berbincang, dan kadang ikut terlibat di dalamnya.

    “Tirakat Padam Api” (2011) adalah buku Emi yang pertama dan sering disebut Emi sendiri sebagai “buku gagal”. Ia lahir dari eksperimen, pencarian bentuk, dan dinamika penerbitan yang tidak sepenuhnya sehat. Bahkan Emi sempat menghapusnya dari biodata, seolah ingin meniadakan jejak itu dari sejarah hidupnya.

    Namun saya justru melihat buku ini sebagai buku tirakat yang sesungguhnya. Dalam tradisi spiritual Jawa tempat Emi berasal, tirakat adalah laku batin berupa menahan diri, belajar menerima, dan memahami bahwa kegagalan bukan lawan dari keberhasilan, melainkan bagian darinya. Buku ini mengajarkan Emi banyak hal di luar puisi yaitu tentang pertemanan, kepercayaan, reputasi, dan batas antara idealisme dan realitas. Buku ini mungki padam secara publikasi, namun tetap ada api dalam perjalanan puisi.

    Tidak ada penyair yang benar-benar matang tanpa buku pertama yang goyah. Menghapusnya sama saja menghapus jejak pertumbuhan. Maka bagi saya, Tirakat Padam Api adalah fondasi sunyi yang kelak menopang bangunan estetik Emi Suy.

    Buku kedua berjudul “Alarm Sunyi” (2017) menandai kelahiran identitas kepenyairan Emi secara lebih utuh. Inilah buku yang bukan hanya dibaca, tetapi diingat. Puisi “Penjahit Luka” menjadi ikon, bukan karena sensasional, melainkan karena ia mengucapkan sesuatu yang selama ini hanya dipendam banyak perempuan.

    “Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri.” Kalimat ini bukan slogan. Ia adalah kesaksian. Ia hidup, dikutip, dipinjam, bahkan melampaui konteks buku. Saya menyaksikan langsung bagaimana puisi ini dibawa Emi ke panggung Women of Words Poetry Slam di Ubud Writers and Readers Festival 2017. Sore itu di Betelnut Café, kami mendiskusikan terjemahannya ke dalam Bahasa Inggris, bagaimana luka diterjemahkan tanpa kehilangan getarnya.

    Di titik ini, saya melihat bagaimana puisi Emi mulai menemukan resonansi sosial, tanpa kehilangan kedalaman personalnya. Buku ini megalami cetak ulang karena bayaknya peminat, dengan beberapa revisi dan dianggap Emi sebagai buku ketiga (2018).

    Ayat Sunyi (2019) adalah buku Emi yang keempat, memperlihatkan perubahan penting di mana puisi-puisi Emi menjadi lebih pendek, lebih hemat kata, namun justru lebih tajam. Dalam teori estetika, ini bisa dibaca sebagai pergeseran dari expressive excess menuju essential minimalism. Puisi tidak lagi berteriak melainkan berbisik dan justru karena itu lebih terdengar.

    Pengakuan dari Perpustakaan Nasional RI pada 2019 bukan sekadar legitimasi institusional, melainkan penanda bahwa puisi sunyi pun punya tempat dalam lanskap sastra Indonesia yang sering riuh.

    Buku kelimaya adalah “Api Sunyi” (2020) melanjutkan eksplorasi ini. Api dan sunyi tampak paradoks, namun justru di situlah kekuatan metaforiknya. Api tidak selalu membakar, kadang ia menghangatkan. Sunyi tidak selalu kosong, ia sering kali penuh. Buku ini memperlihatkan Emi yang lebih matang, lebih sadar posisi, dan lebih berani menyusun puisinya sebagai pernyataan etis, bukan sekadar ekspresi perasaan.

    Buku “Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami” (2022) adalah salah satu buku paling personal Emi. Pada buku keenam ini sosok ibu menjadi pusat gravitasi. Dalam kajian sastra feminis, figur ibu sering kali hadir sebagai simbol pengorbanan, keheningan, dan kekuatan yang tidak dipamerkan. Emi menuliskannya tanpa romantisasi berlebihan malahan justru dengan kesederhanaan yang jujur.

    Saya melihat buku ini sebagai puncak dari tiga gelombang kepenyairan Emi yaitu mencari jati diri, kemudian tinggal landas, dan akhirnya melebarkan sayap. Emi adalah pembelajar yang baik. Ia menyerap pengalaman, menyimpannya dalam sunyi, lalu mengolahnya menjadi puisi. Ia memiliki apa yang saya sebut sebagai tacit poetic knowledge atau kecerdasan puitik yang tidak selalu teoritis, tetapi tajam secara intuitif. Poetic street smart, begitu saya menyebutnya.

    Lalu sempat muncul buku kumpulan puisi “Alarm Sunyi” edisi cetakan ketiga (2023), setelah cetakan pertama tahun 2017 dan kedua tahun 2018. Puisi dalam buku ini tidak ada yang berubah dibandingkan cetakan sebelumnya. Perubahan hanya terjadi pada endorsemen, epilog, serta tata letak. Selebihnya sama dengan edisi yang sebelumnya.

    Dengan “Interval” (2023) sebagai buku kedelapan, Emi menantang dirinya sendiri. Dari menulis puisi ke menulis esai. Dari metafora ke argumentasi. Ini bukan sekadar peralihan genre, melainkan latihan intelektual. Menulis esai berarti membuka pikiran lebih terang, mengambil risiko dipahami atau bahkan disalahpahami. Di sini saya teringat diktum Goenawan Mohamad bahwa penyair yang baik seharusnya juga esais yang baik. Emi sedang berjalan ke arah itu.

    Sementara buku kesembilan “Algoritma Kesunyian” (2023) yang isinya adalah kumpulan puisi kami berdua, merupakan pertemuan dua dunia algoritma dan sunyi, teknologi dan kontemplasi. Buku ini membuktikan bahwa kesunyian bukan monopoli satu penyair. Ia bisa hadir dalam dimensi sosial maupun eksistensial, keluar maupun ke dalam. Puisi-puisi kami berkelindan tanpa janji, tanpa rencana seperti dialog batin yang menemukan pasangannya secara tak terduga.

    Buku kesepuluh “Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidakya Mejahit Lukanya Sendiri “ (2025) adalah pengukuhan. Puisi-puisi yang lahir dari tubuh yang pernah sobek, dari diam yang menyesakkan, dari ketidakadilan yang kerap disenyapkan. Buku ini bukan nostalgia, melainkan arsip keberanian. Puisi-puisi ini perlu rumah. Mereka tidak cukup tinggal di media sosial atau koran pagi. Mereka perlu dirawat, dibaca ulang, dan diwariskan.

    Sunyi dalam puisi Emi bukan kesepian atau loneliness. Ia adalah silence atau kejernihan batin yang memungkinkan seseorang mendengar suara yang tak terdengar. Dalam tradisi pemikiran dari Emily Dickinson, Thomas Carlyle, hingga The Voice of the Silence karya Blavatsky, sunyi adalah jalan menuju pencerahan, bukan pelarian dari dunia. Bagi Emi, sunyi adalah ruang pulang. Di sanalah puisi lahir. Sunyi yang berbunyi.

    Dunia sastra adalah dunia intelektual yang menuntut keseriusan, ketekunan, dan keberanian untuk terus belajar. Emi Suy telah menapaki jalan itu dengan konsisten. Sepuluh buku ini bukan akhir, melainkan penanda bahwa perjalanan masih berlangsung.

    Saya percaya, selama Emi setia pada sunyinya, ia akan terus menemukan suara yang jujur, tajam, dan perlu didengar. Selamat dan teruslah berkarya untuk Emi.

    (Riri Satria)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • DOWNLOAD DOKUMEN

      May 17, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    RECENT EVENT

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture