Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Akhir-akhir ini saya beberapa kali kembali mendengarkan lagu-lagu synthesizer dari masa lalu yang pernah sangat akrab di telinga saya, seperti Magic Fly, Chase, Zoolook, Rendez-Vous IV, Axel F, Crockett's Theme, Don't You Want Me, dan The Model. Menariknya, yang sering saya nikmati justru versi instrumentalnya, ketika vokal tidak lagi menjadi pusat perhatian dan seluruh kekuatan komposisi musik tampil apa adanya.
Setiap kali nada-nada elektronik itu mengalun, saya seolah diajak kembali ke sebuah masa yang telah lama berlalu. Musik-musik tersebut tidak hanya membangkitkan kenangan pribadi, tetapi juga menghadirkan kembali suasana sebuah zaman yang penuh optimisme terhadap kemajuan teknologi dan masa depan.
Pada akhir dekade 1970-an hingga pertengahan 1980-an, synthesizer menjadi simbol modernitas. Kehadirannya mengubah wajah musik populer dunia. Bunyi-bunyian elektronik yang sebelumnya terdengar asing mulai memasuki radio, televisi, film, dan berbagai ruang publik. Saat itu, teknologi dipandang sebagai sesuatu yang menjanjikan.
Komputer mulai dikenal masyarakat luas, perjalanan ruang angkasa masih menjadi sumber inspirasi, dan masa depan terasa seperti wilayah yang menarik untuk dijelajahi. Tidak mengherankan apabila banyak musisi menggunakan synthesizer untuk menghadirkan suara yang futuristis sekaligus penuh imajinasi.
Dalam daftar lagu yang saya sukai, Magic Fly dari Space dan Chase karya Giorgio Moroder menempati posisi yang istimewa. Magic Fly menghadirkan nuansa petualangan dan eksplorasi yang seolah membawa pendengarnya melintasi ruang angkasa. Sementara itu, Chase menawarkan energi yang terus bergerak maju melalui ritme elektronik yang kuat dan berulang. Bahkan hingga sekarang, lagu tersebut masih terdengar modern. Kedua karya ini menggambarkan bagaimana musik elektronik pada masa itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi representasi semangat zaman yang sedang bergerak menuju era baru.
Jean-Michel Jarre hadir melalui dua karya yang menunjukkan sisi berbeda dari kreativitas musik elektronik. Zoolook memperlihatkan keberanian untuk bereksperimen dengan suara manusia, teknologi digital, dan berbagai tekstur bunyi yang tidak lazim. Sebaliknya, Rendez-Vous IV menghadirkan melodi yang lebih hangat, megah, dan emosional. Bagi saya, lagu ini merupakan salah satu komposisi elektronik paling indah yang pernah diciptakan. Di dalamnya terdapat optimisme, harapan, dan keyakinan bahwa masa depan menyimpan berbagai kemungkinan yang menarik untuk diwujudkan.
Sementara itu, Axel F karya Harold Faltermeyer dan Crockett's Theme karya Jan Hammer memperlihatkan bagaimana synthesizer berhasil menjadi bagian penting dari budaya populer pada dekade 1980-an. Axel F menghadirkan melodi yang sederhana tetapi sangat mudah dikenali. Sebaliknya, Crockett's Theme terasa lebih reflektif dan melankolis. Lagu ini seolah mengajak pendengarnya menikmati suasana malam, merenungkan perjalanan hidup, dan memberi ruang bagi kenangan untuk berbicara.
Daftar tersebut menjadi semakin lengkap dengan hadirnya Don't You Want Me dari The Human League dan The Model dari Kraftwerk. Meskipun keduanya lebih dikenal sebagai lagu dengan vokal, versi instrumentalnya justru memperlihatkan kekuatan aransemen elektronik yang luar biasa. Don't You Want Me menghadirkan nuansa urban yang romantis dan khas awal dekade 1980-an, sementara The Model menggambarkan modernitas dengan cara yang elegan dan visioner.
Kenangan terhadap musik-musik tersebut ternyata tidak berhenti hanya sebagai pendengar. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, ketika masih memiliki lebih banyak waktu untuk bermain-main dengan berbagai peralatan musik elektronik, saya sempat cukup serius menekuni dunia synthesizer.
Dua "mainan" favorit saya saat itu adalah Korg R3 dan Yamaha PSR-290. Dengan penuh semangat saya mencoba mengeksplorasi berbagai suara, membuat aransemen sederhana, dan sesekali merekam komposisi musik karya sendiri. Pada masa itu, dalam imajinasi saya, rasanya ingin bisa menciptakan musik seperti Jean-Michel Jarre, Giorgio Moroder, Jan Hammer, dan para pionir musik elektronik lainnya. Walaupun harus diakui, hasilnya lebih sering meleset daripada mendekati... hahaha.
Namun justru di situlah letak kesenangannya. Bermain musik bukan semata-mata soal hasil akhir, melainkan tentang kegembiraan dalam proses belajar dan bereksperimen. Beberapa komposisi sempat saya rekam dan simpan sebagai bagian dari perjalanan kreatif pada masa itu.
Waktu kemudian berjalan, minat dan aktivitas pun berubah mengikuti perjalanan hidup. Sebagian besar peralatan musik yang pernah menemani saya akhirnya saya hibahkan kepada mereka yang membutuhkan. Kini hanya satu yang masih tersisa, yaitu Yamaha PSR-290 yang masih tersimpan sebagai pengingat sebuah fase kehidupan yang menyenangkan.
Sesekali ketika melihatnya, saya teringat kembali pada masa-masa ketika suara synthesizer memenuhi ruangan dan berbagai ide musikal mencoba mencari bentuknya.
Ketika saya mendengarkan kembali seluruh lagu tersebut hari ini, saya menyadari bahwa yang saya rindukan sebenarnya bukan hanya musiknya. Saya merindukan semangat sebuah era yang tercermin melalui nada-nada itu. Era ketika teknologi dipandang dengan rasa ingin tahu, ketika masa depan terlihat penuh harapan, dan ketika beberapa bunyi synthesizer sederhana mampu membangkitkan imajinasi yang tak terbatas.
Kini dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, bahkan jauh melampaui apa yang dibayangkan para musisi pada masa itu. Namun lagu-lagu tersebut tetap memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan. Mereka bukan sekadar karya musik, melainkan penanda sebuah zaman, penyimpan kenangan, dan pengingat bahwa di balik setiap kemajuan teknologi selalu ada mimpi, harapan, dan kreativitas manusia yang menggerakkannya.
Saya juga menyadari bahwa setiap orang memiliki medium ekspresi yang paling sesuai dengan dirinya. Saya pernah mencoba mengekspresikan diri melalui musik dan menikmati prosesnya dengan sepenuh hati. Akan tetapi, seiring waktu saya menemukan bahwa kata-kata terasa lebih akrab daripada tuts-tuts keyboard. Jika dahulu saya mencoba merangkai nada demi nada untuk menyampaikan perasaan dan gagasan, kini saya lebih sering merangkainya menjadi kalimat demi kalimat.
Hubungan saya dengan musik-musik synthesizer tersebut ternyata tidak berhenti pada upaya memainkan atau menciptakan komposisi musik. Beberapa di antaranya justru menjadi sumber inspirasi dalam proses kreatif saya sebagai penulis puisi. Saya pernah menulis sejumlah puisi yang terinspirasi oleh Magic Fly, Chase, dan Crockett's Theme.
Bagi sebagian orang, ketiga lagu tersebut mungkin hanya karya musik elektronik instrumental. Namun bagi saya, lagu-lagu itu memiliki kualitas puitis yang sangat kuat. Di dalamnya terdapat suasana, imaji, emosi, dan ruang-ruang tafsir yang seolah mengundang kata-kata untuk lahir dengan sendirinya.
Magic Fly menghadirkan bayangan tentang perjalanan dan petualangan yang tak berujung. Chase menghadirkan energi, gerak, dan semangat untuk terus melangkah. Sementara Crockett's Theme membawa nuansa yang lebih sunyi, reflektif, dan kontemplatif.
Ketika mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya sering merasa seolah sedang membaca puisi yang tidak ditulis dengan kata-kata, melainkan dengan nada dan harmoni.
Saya pada akhirnya merasa lebih dekat dengan dunia puisi daripada dunia musik. Musik memberikan inspirasi, sementara puisi menjadi medium yang saya gunakan untuk menerjemahkan inspirasi tersebut ke dalam bahasa. Jika para komposer seperti Jean-Michel Jarre, Giorgio Moroder, Jan Hammer, dan para musisi lainnya mengekspresikan gagasan mereka melalui bunyi dan melodi, saya mencoba menangkap gema yang ditinggalkannya melalui rangkaian kata-kata.
Dengan cara itu, musik dan puisi tidak lagi menjadi dua dunia yang terpisah, melainkan dua bahasa yang berbeda untuk menyampaikan pengalaman manusia yang sama.
Saya pernah mencoba mengekspresikan diri melalui synthesizer, merekam beberapa komposisi, dan menikmati proses kreatifnya. Namun seiring waktu saya menyadari bahwa kata-kata terasa lebih akrab dibandingkan tuts-tuts keyboard. Musik tetap menjadi sahabat yang memberi inspirasi, tetapi puisi menjadi rumah tempat inspirasi itu berlabuh.
Saya tetap mencintai musik elektronik dan segala kenangan yang menyertainya, namun ternyata berpuisi dan menulis jauh lebih pas untuk saya daripada bermusik. Seperti halnya sebuah melodi yang baik, setiap orang pada akhirnya akan menemukan nadanya sendiri dalam kehidupan.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]