Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • TEMPURUNG, WAWASAN. DAN ILUSI

    31 May 2026 | Dilihat: 9 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada masa dalam hidup ketika kita begitu mudah mengatakan sesuatu sebagai yang terbaik. Buku terbaik. Pembicara terbaik. Kota terbaik. Cara berpikir terbaik. Semua terasa begitu pasti. Semua seolah tidak membutuhkan ruang untuk diperdebatkan lagi. Belakangan kita sadar, kepastian itu belum tentu lahir dari keluasan pengetahuan. Bisa jadi justru lahir dari keterbatasan pengalaman.

    Ketika seseorang mengatakan bahwa A adalah yang terbaik, sesungguhnya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, ia telah melihat banyak hal. Ia sudah membandingkan A dengan B, dengan C, dengan D, bahkan mungkin dengan puluhan pilihan lainnya. Kesimpulan yang ia buat lahir dari proses panjang, dari pengamatan, dari pengalaman, dari perenungan. Penilaiannya mungkin tetap subjektif, tetapi setidaknya berdiri di atas pijakan yang cukup luas.

    Kemungkinan kedua justru lebih menarik sekaligus lebih berbahaya. Seseorang menganggap A sebagai yang terbaik bukan karena A memang paling unggul, melainkan karena hanya itu yang ia kenal. Ia tidak memiliki pembanding. Ia tidak pernah keluar dari lingkar kecil pengetahuannya sendiri. Dunia yang luas dipersempit hanya sebesar pengalaman pribadinya. Pada titik itulah lahir apa yang sering disebut sebagai fenomena katak di bawah tempurung.

    Katak di bawah tempurung merasa bahwa sekali ia melompat, ia sudah mencapai langit. Ia merasa lompatan kecilnya adalah sesuatu yang luar biasa besar. Padahal sesungguhnya ia tetap berada di ruang yang sama, di batas yang sama, di tempurung yang sama. Tidak ada perjalanan yang benar-benar jauh. Tidak ada cakrawala yang benar-benar luas.

    Semua rasa besar itu muncul karena keterbatasan pengetahuannya sendiri. Ia tidak tahu bahwa di luar tempurung itu masih ada dunia yang jauh lebih luas, lebih tinggi, dan lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan.

    Saya merasa fenomena ini semakin sering hadir dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang begitu cepat memuji, begitu cepat mencela, begitu cepat menghakimi. Sebuah karya disebut paling hebat. Sebuah pemikiran dianggap paling benar. Sebuah kelompok dinilai paling buruk.

    Padahal bisa jadi yang bekerja bukan ketajaman analisis, melainkan keterbatasan wawasan. Bukan keluasan bacaan, melainkan sempitnya pengalaman. Ada orang yang terlalu cepat yakin hanya karena belum pernah melihat dunia yang lebih luas.

    Pengalaman hidup mengajarkan bahwa kerendahan hati intelektual adalah sesuatu yang mahal. Semakin banyak membaca, semakin banyak bepergian, semakin banyak berdialog dengan orang-orang berbeda, justru semakin terasa betapa luas dunia ini. Banyak hal yang dahulu saya anggap mutlak ternyata hanya sepotong kecil dari kenyataan. Banyak keyakinan yang dulu terasa sangat kokoh ternyata masih mungkin dipertanyakan kembali.

    Kehidupan agaknya memang meminta kita untuk berhati-hati dalam memberi penilaian. Tidak semua keyakinan lahir dari kedalaman berpikir. Tidak semua suara yang terdengar paling yakin benar-benar memahami apa yang dibicarakannya. Kadang-kadang, seseorang terdengar sangat percaya diri hanya karena ia belum pernah melihat alternatif lain.
    Kesadaran semacam itu membuat saya belajar untuk sedikit menahan diri. Menunda kesimpulan. Membuka ruang untuk kemungkinan lain. Mendengarkan lebih banyak. Membaca lebih jauh. Sebab dunia terlalu luas untuk dipahami hanya dari bawah satu tempurung kecil.

    (Akhir Mei 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 30 MEI 2026

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture