Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • UNDER-INVOICING DAN KERUMITAN PERDAGANGAN GLOBAL

    26 May 2026 | Dilihat: 17 kali

    oleh: Riri Satria

    Beberapa hari terakhir publik Indonesia kembali dihadapkan pada istilah yang sebelumnya lebih sering beredar di ruang-ruang ekonomi dan perdagangan internasional, yaitu under-invoicing. Istilah ini merujuk pada praktik mencantumkan nilai barang dalam dokumen ekspor atau impor lebih rendah daripada nilai sebenarnya.

    Di permukaan transaksi seperti ini tampak biasa saja karena seluruh dokumen formal tampak lengkap dan sah. Invoice tersedia, pembayaran dilakukan melalui jalur perbankan, barang benar-benar dikirim, dan kontrak perdagangan pun tampak legal.

    Kerumitan muncul ketika nilai yang dicatat ternyata sengaja direkayasa agar lebih kecil dari harga sebenarnya demi mengurangi pajak, menekan kewajiban devisa, atau memindahkan keuntungan ke luar negeri.

    Perhatian publik menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut dugaan praktik manipulasi ekspor yang nilainya mencapai sekitar USD 908 miliar selama periode 1991 hingga 2024. Angka tersebut setara ribuan triliun rupiah dan langsung memunculkan kegelisahan kolektif mengenai besarnya potensi kebocoran ekonomi nasional selama puluhan tahun.

    Pemerintah menyebut praktik itu berkaitan dengan under-invoicing, transfer pricing, dan berbagai bentuk manipulasi perdagangan internasional lainnya. Perdebatan segera berkembang, terutama mengenai bagaimana angka sebesar itu dihitung dan sejauh mana seluruh nilai tersebut benar-benar mencerminkan persoalan ekonomi yang konkret.

    Dalam praktik perdagangan global, manipulasi semacam ini sering melibatkan perusahaan-perusahaan yang sebenarnya masih berafiliasi. Sebuah perusahaan di Indonesia dapat mengekspor barang kepada perusahaan lain di luar negeri yang sesungguhnya berada dalam grup usaha yang sama. Harga ekspor kemudian ditetapkan jauh di bawah harga pasar.

    Keuntungan besar akhirnya muncul di negara lain yang memiliki tarif pajak lebih rendah atau pengawasan devisa yang lebih longgar. Mekanisme seperti ini berkaitan erat dengan praktik transfer pricing. Transfer pricing sendiri sebenarnya lazim dipakai perusahaan multinasional. Persoalan mulai muncul ketika harga transaksi tidak lagi mencerminkan prinsip kewajaran pasar dan sengaja dipakai untuk menghindari kewajiban perpajakan maupun pengawasan negara.

    Kesulitan terbesar dalam mengungkap praktik semacam ini terletak pada sifatnya yang berada di wilayah abu-abu antara legalitas formal dan manipulasi ekonomi. Harga dalam perdagangan internasional memang tidak pernah benar-benar tunggal. Perbedaan kualitas barang, kontrak jangka panjang, biaya logistik, hingga dinamika pasar dapat membuat harga tampak bervariasi.

    Situasi inilah yang sering dimanfaatkan untuk membangun pembenaran administratif. Sebuah perusahaan cukup mengatakan bahwa harga tersebut merupakan hasil kesepakatan bisnis yang sah. Otoritas pajak dan bea cukai kemudian harus bekerja jauh lebih keras untuk membuktikan apakah harga itu masih wajar atau sudah merupakan bentuk rekayasa sistematis.

    Berbagai lembaga internasional sebenarnya telah lama menaruh perhatian pada praktik trade misinvoicing dan arus keuangan  lintas negara. Selisih data ekspor suatu negara dengan data impor negara mitra sering dipakai untuk memperkirakan potensi manipulasi perdagangan.

    Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi persoalan ini. Negara-negara berkembang yang bergantung pada ekspor komoditas primer seperti batu bara, minyak sawit, mineral, dan hasil tambang memang kerap menghadapi tantangan serupa. Nilai transaksi sektor-sektor tersebut sangat besar sehingga manipulasi kecil sekalipun dapat menghasilkan dampak finansial yang luar biasa ketika diakumulasikan selama puluhan tahun.

    Perbincangan mengenai under-invoicing pada akhirnya bukan sekadar soal angka triliunan rupiah atau besarnya potensi kerugian negara. Persoalan ini memperlihatkan bagaimana sistem ekonomi global modern memungkinkan sebuah praktik tampak seolah legal di atas kertas, tetapi sekaligus menyimpan persoalan keadilan ekonomi yang serius. Negara memerlukan investasi dan perdagangan internasional, sementara perusahaan berusaha mencari efisiensi serta keuntungan sebesar mungkin.

    Ketegangan di antara keduanya melahirkan ruang-ruang abu-abu yang sulit diawasi secara sempurna. Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa dalam ekonomi global, batas antara kecanggihan bisnis, optimalisasi pajak, dan manipulasi sistem kadang hanya dipisahkan oleh interpretasi hukum dan kemampuan negara melakukan pengawasan.

    (25 Mei 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 30 MEI 2026

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture