Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • APAKAH ITU HOMELESS MEDIA?

    08 May 2026 | Dilihat: 61 kali

    oleh Riri Satria

    Pagi hari dimulai dengan layar telepon genggam. Jari bergerak cepat membuka Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, lalu berpindah lagi ke platform lain tanpa jeda yang jelas.

    Berita tentang politik muncul berdampingan dengan video lucu, potongan ceramah, promosi produk, pertandingan sepak bola, gosip selebritas, hingga rekaman kecelakaan yang baru saja terjadi beberapa menit sebelumnya. Semua bercampur menjadi satu arus informasi yang bergerak begitu cepat.

    Tidak banyak orang lagi yang bertanya dari mana sebuah informasi berasal. Tidak semua orang peduli apakah berita itu dibuat oleh wartawan profesional, kreator konten, pemilik akun anonim, atau sekadar unggahan ulang dari orang lain, yang penting adalah seberapa cepat informasi itu sampai dan seberapa besar daya tariknya di layar.

    Perubahan besar inilah yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai Homeless Media.

    Istilah tersebut terdengar unik sekaligus aneh. Kata homeless biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak memiliki rumah atau tempat tinggal tetap. Dalam dunia media, istilah itu dipakai untuk menjelaskan perubahan besar ketika informasi tidak lagi hidup dalam “rumah” media tradisional seperti surat kabar, majalah, radio, atau televisi.

    Dahulu media memiliki bentuk yang jelas. Sebuah koran mempunyai kantor redaksi, wartawan, editor, percetakan, dan jalur distribusi yang teratur. Televisi mempunyai studio, jadwal siaran, dan sistem kerja yang ketat. Publik mengenali media sebagai lembaga yang mempunyai identitas kuat sekaligus otoritas tertentu.

    Berita pada masa itu lahir melalui proses jurnalistik yang panjang. Wartawan turun ke lapangan, melakukan wawancara, memeriksa data, lalu menyerahkan hasil liputan kepada editor dan dewan redaksi. Sebuah berita tidak langsung diterbitkan begitu saja. Ada rapat redaksi, ada perdebatan internal, ada pertimbangan etis, bahkan ada kehati-hatian mengenai dampak sosial sebuah pemberitaan.

    Proses tersebut memang tidak selalu sempurna, tetapi setidaknya ada mekanisme yang membuat berita diperlakukan sebagai karya jurnalistik yang harus dapat dipertanggungjawabkan.

    Situasi itu berubah secara drastis ketika internet dan media sosial berkembang sangat cepat.

    Informasi kini tidak lagi tinggal di satu tempat. Berita berpindah dari satu platform ke platform lain hanya dalam hitungan detik. Sebuah video dapat muncul di TikTok, kemudian tersebar ke Instagram, masuk ke WhatsApp, dibicarakan di YouTube, lalu menjadi perdebatan di X. Konten bergerak seperti arus air yang tidak memiliki wadah tetap. Media akhirnya menjadi “tunawisma”.

    Fenomena ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan budaya yang sangat besar. Publik tidak lagi hanya menjadi pembaca atau penonton. Semua orang dapat menjadi pembuat informasi. Seseorang cukup memiliki telepon pintar dan koneksi internet untuk menyiarkan pendapatnya kepada ribuan bahkan jutaan orang.

    Keadaan seperti ini melahirkan demokratisasi informasi yang luar biasa. Banyak suara yang dahulu sulit terdengar kini memiliki ruang sendiri. Komunitas kecil, anak muda di daerah, kelompok minoritas, hingga individu biasa dapat berbicara langsung kepada publik tanpa harus melewati pintu media besar.

    Kecepatan informasi pun meningkat sangat tajam. Peristiwa yang baru terjadi beberapa menit sebelumnya sudah dapat disaksikan secara langsung melalui siaran langsung atau video pendek. Dunia seperti bergerak tanpa jeda.

    Namun perubahan tersebut juga membawa persoalan yang tidak sederhana.

    Homeless Media sangat berpotensi mengabaikan etika jurnalistik. Banyak konten diproduksi tanpa proses verifikasi, tanpa pemeriksaan fakta, tanpa editor, dan tanpa tanggung jawab kelembagaan yang jelas. Sebuah informasi dapat langsung dipublikasikan hanya karena dianggap menarik, emosional, atau berpotensi viral.

    Keadaan seperti ini membuat ruang digital menjadi sangat rentan terhadap penyesatan informasi dan penggiringan opini. Homeless Media bahkan sering kali lebih berfungsi sebagai corong personal atau kelompok tertentu dibanding sebagai media informasi yang sehat.

    Banyak akun digital dibangun bukan untuk menyampaikan fakta secara jernih, melainkan untuk memperkuat kepentingan, membangun persepsi tertentu, menggiring emosi publik, atau sekadar mengejar perhatian sebanyak mungkin.

    Fenomena clickbait menjadi sangat umum. Judul dibuat bombastis, dramatis, provokatif, bahkan menyesatkan hanya agar orang mau mengklik, membaca, melihat, atau menonton. Kalimat seperti “Terbongkar!”, “Fakta Mengejutkan!”, “Akhirnya Terungkap!”, atau “Publik Dibuat Shock!” terus diproduksi setiap hari untuk memancing rasa penasaran.

    Ketika isi konten dibuka, kenyataannya sering jauh berbeda dari judulnya.

    Banyak video ternyata tidak menyampaikan informasi penting apa pun. Banyak unggahan hanya berisi spekulasi, asumsi, opini sepihak, atau potongan peristiwa tanpa konteks yang utuh. Sebagian bahkan cenderung tendensius dan tidak jelas kebenarannya. Informasi dipelintir sedemikian rupa agar sesuai dengan arah opini yang diinginkan.

    Kondisi tersebut membuat publik perlahan terbiasa dengan sensasi dibanding substansi.

    Kebenaran akhirnya sering kalah oleh kemampuan membangun perhatian. Sesuatu yang paling ramai belum tentu paling benar. Sesuatu yang paling viral belum tentu paling akurat.

    Media tradisional pada masa lalu memang memiliki banyak kekurangan, tetapi ada pagar etik yang relatif jelas. Wartawan terikat kode etik jurnalistik. Redaktur melakukan penyuntingan. Dewan redaksi mempertimbangkan dampak sebuah pemberitaan sebelum dipublikasikan. Nama baik media menjadi taruhan jika berita yang disiarkan terbukti salah.

    Homeless Media sering kali tidak memiliki mekanisme seperti itu.

    Akun anonim dapat menyebarkan informasi tanpa identitas yang jelas. Konten dapat dihapus begitu saja ketika menimbulkan masalah. Permintaan maaf sering terlambat datang setelah opini publik telanjur terbentuk. Dalam banyak kasus, klarifikasi bahkan tidak pernah memperoleh perhatian sebesar informasi awal yang viral.

    Algoritma media sosial memperumit keadaan tersebut. Platform digital cenderung mengutamakan konten yang memancing emosi karena lebih mudah menghasilkan perhatian dan interaksi. Kemarahan, ketakutan, sensasi, dan konflik menjadi bahan bakar utama lalu lintas digital.

    Akibatnya ruang publik berubah menjadi sangat bising.

    Hoaks menyebar dengan cepat. Potongan video tanpa konteks dapat mengubah opini banyak orang. Judul provokatif lebih sering menarik perhatian dibanding penjelasan yang tenang dan mendalam.

    Publik semakin sulit membedakan mana fakta, mana opini, mana propaganda, dan mana sekadar permainan algoritma. Kondisi tersebut melahirkan gejala baru dalam kehidupan sosial. Banyak orang merasa sangat mengetahui sebuah persoalan hanya karena melihat beberapa video pendek atau membaca potongan unggahan di media sosial. Padahal kenyataannya informasi yang diterima sering kali terpisah-pisah dan dangkal.

    Perubahan itu juga membuat figur individu menjadi sangat kuat. Seorang kreator konten dapat memiliki pengaruh lebih besar dibanding media besar yang telah berdiri puluhan tahun. Akun pribadi seorang tokoh kadang lebih dipercaya daripada lembaga pers resmi. Personal branding perlahan berubah menjadi media itu sendiri.

    Indonesia mengalami gejala ini dengan sangat jelas. Berbagai akun informasi bermunculan di Instagram, TikTok, Telegram, dan YouTube. Sebagian menghadirkan informasi yang menarik dan cepat. Sebagian lain justru memperkeruh keadaan dengan sensasi dan manipulasi. Publik hidup di tengah banjir informasi yang bergerak terus-menerus tanpa henti.

    Fenomena buzzer politik juga tumbuh dalam situasi seperti ini. Opini dapat digiring secara sistematis melalui akun-akun tertentu. Percakapan publik sering kali tidak lagi berlangsung secara alami karena dipengaruhi kepentingan politik, ekonomi, atau kelompok tertentu.

    Dalam situasi tertentu, kebisingan digital bahkan terasa lebih dominan daripada kenyataan itu sendiri. Meski demikian, Homeless Media tidak sepenuhnya buruk. Banyak gerakan sosial lahir dari ruang digital yang cair ini. Banyak ketidakadilan dapat segera diketahui publik karena adanya video amatir atau unggahan masyarakat biasa. Banyak suara lokal memperoleh tempat yang sebelumnya tidak pernah diberikan oleh media arus utama.

    Teknologi pada akhirnya memang selalu memiliki dua wajah.

    Media tradisional dahulu memberi stabilitas dan otoritas, tetapi sering dianggap terlalu tersentralisasi. Homeless Media memberi kebebasan dan kecepatan, tetapi juga melahirkan kekacauan informasi yang sulit dikendalikan.

    Manusia modern akhirnya hidup dalam dunia yang penuh paradoks. Informasi tersedia dalam jumlah yang melimpah, tetapi kejernihan berpikir justru semakin sulit dipertahankan. Semua orang dapat berbicara, tetapi tidak semua orang mau mendengar dengan tenang. Semua orang dapat menjadi media, tetapi tidak semua orang memahami tanggung jawab dari sebuah informasi.

    Barangkali inilah tantangan terbesar zaman digital hari ini.

    Bukan lagi sekadar bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana tetap waras di tengah arus informasi yang terus bergerak tanpa rumah, tanpa jeda, dan tanpa akhir.

    (Jakarta, Mei 2026)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture