Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Ketika Kecerdasan Buatan Memasuki Ruang Kebudayaan Indonesia

    10 Apr 2026 | Dilihat: 17 kali

    Oleh Riri Satria

    Ada kegelisahan yang kian sering hadir dalam kehidupan kita hari-hari ini. Ia datang perlahan, nyaris tanpa suara, masuk melalui layar ponsel, komputer, ruang kerja, ruang kelas, bahkan ke ruang-ruang paling pribadi tempat manusia merenungkan dirinya sendiri. Kegelisahan itu bernama kecerdasan buatan atau artifical intelligence (AI). Ini bukan semata karena kemampuannya semakin canggih, melainkan karena ia mulai menyentuh sesuatu yang selama ini kita anggap paling manusiawi, yaitu kebudayaan.

    Dalam perspektif Clifford Geertz, kebudayaan adalah jejaring makna yang dipintal oleh manusia. Budaya bukan sekadar benda, melainkan sistem simbol, tanda, bahasa, ritual, serta cara manusia memberi arti atau makna kepada dunia. Jika kita memakai lensa ini, maka AI tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai teknologi. Ia telah menjadi bagian dari jejaring makna itu sendiri. AI ikut memproduksi bahasa, membentuk narasi, menyusun simbol visual, bahkan memengaruhi cara masyarakat membaca realitas.

    Dalam konteks Indonesia hal ini menjadi sangat menarik. Negeri ini bukan hanya kaya akan artefak budaya, tetapi juga kaya akan makna simbolik. Sebuah batik tidak hanya motif, ia memuat makna kosmologi. Sebuah wayang tidak hanya pertunjukan, ia memuat makna filsafat hidup. Sebuah ungkapan seperti tepa selira, silih asih, atau gotong royong tidak sekadar kata, tetapi makna dalam sistem nilai.

    Maka ketika AI mulai masuk ke ruang tersebut, pertanyaannya menjadi jauh lebih mendalam, apakah mesin hanya memproses simbol, atau juga memahami makna budaya di balik simbol itu?

    Di titik inilah perspektif Stuart Hall menjadi penting. Hall melihat budaya sebagai arena representasi dan perebutan makna. AI belajar dari data berupa teks, gambar, suara, arsip digital. Artinya ia belajar dari representasi budaya yang sudah ada. Persoalannya, representasi itu tidak pernah netral. Ia membawa bias, hegemoni, dominasi pusat atas pinggiran, global atas lokal. Ia mengamplifikasi pola-pola yang ada. Nah, kalau pola-pola itu ada masalah, maka ia akan memperbesar masalah itu.

    Dalam konteks Indonesia ini menjadi sangat relevan. Jika sebagian besar data AI berasal dari sumber global yang berbahasa Inggris atau berorientasi Barat, maka ada risiko budaya lokal Nusantara hanya menjadi pelengkap, bukan fondasi. Bahasa Jawa, Sunda, Bugis, Minang, Dayak, atau Aceh mungkin hadir sebagai data, tetapi belum tentu hadir sebagai kerangka makna atau basis utama sebuah pola untuk sebuah sistem AI. Riset mutakhir bahkan menunjukkan bahwa model bahasa masih mengalami kesulitan memahami nuansa lokal Indonesia secara mendalam, terutama pada konteks budaya dan penalaran sosial.

    Di sinilah perspektif Pierre Bourdieu juga relevan. Bourdieu melihat budaya sebagai medan (field) tempat modal simbolik dipertarungkan. Dalam dunia digital hari ini, AI telah menjadi modal budaya baru. Mereka yang mampu menguasainya memperoleh legitimasi sosial, akses ekonomi, bahkan otoritas intelektual.

    Namun, Indonesia memiliki konteks sosial yang berbeda. Budaya kita tidak semata bergerak dalam logika individual kapitalistik. Ada unsur kolektivitas yang sangat kuat. Nilai gotong royong, musyawarah, kebersamaan, serta solidaritas sosial merupakan fondasi penting kehidupan budaya.

    Di titik inilah saya merasa perspektif Koentjaraningrat menjadi sangat penting. Sebagai bapak antropologi Indonesia, beliau memandang kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, serta hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat. Ia juga membagi kebudayaan ke dalam tiga wujud yaitu gagasan, aktivitas, dan artefak.

    Jika kita terapkan pada AI, maka gagasan adalah di mana AI memengaruhi sistem nilai dan cara berpikir masyarakat. Lalu aktivitas di mana AI mengubah cara belajar, bekerja, berinteraksi, dan berkomunikasi. Sedangkan artefak, AI hadir sebagai perangkat, aplikasi, sistem, dan infrastruktur digital. Pendekatan Koentjaraningrat ini sangat membantu karena memberi kita kerangka yang membumi untuk membaca transformasi budaya Indonesia akibat teknologi.

    Misalnya pada aktivitas sosial, budaya gotong royong dapat bermetamorfosis menjadi gotong royong digital. Teknologi AI dapat dipakai untuk membantu petani membaca cuaca, guru menyusun materi, UMKM memasarkan produk, pemerintah desa mengolah data sosial, bahkan komunitas adat mendokumentasikan tradisi lisan. Dalam kerangka ini, AI tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi budaya Indonesia. Ia dapat menjadi medium baru untuk memperkuat kebudayaan, asalkan ruh nilai lokal tetap hidup.

    Namun, menurut saya, kita juga perlu berhati-hati. Koentjaraningrat pernah banyak berbicara mengenai pentingnya memahami mentalitas sosial dan orientasi nilai masyarakat Indonesia. Dalam konteks AI, pertanyaannya bukan sekadar apakah teknologi ini canggih, tetapi apakah ia memperkuat etos kebudayaan kita atau justru mengikisnya. Apakah AI memperkuat budaya musyawarah, atau justru mendorong individualisme? Apakah ia memperluas literasi budaya, atau justru menyeragamkan ekspresi lokal? Apakah ia membantu merawat memori kolektif, atau menggantikannya dengan logika algoritmik yang dingin? Bagi saya, inti persoalannya ada di sana.

    Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pengguna AI. Indonesia harus menjadi subjek budaya yang memberi jiwa pada AI. Teknologi boleh datang dari mana saja, tetapi makna harus tumbuh dari tanah tempat ia digunakan.

    Pada akhirnya, jika kita membaca AI dalam perspektif kebudayaan berarti membaca ulang siapa diri kita sebagai bangsa. Mesin mungkin semakin pintar, tetapi kebijaksanaan budaya tetap harus bersumber dari manusia.

    Sebab kebudayaan bukan hanya soal kecanggihan, melainkan tentang makna, memori, nilai, serta cara suatu masyarakat menjaga jiwanya di tengah perubahan zaman.

    Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; pecinta puisi, serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan. Saat ini sudah menerbitkan 6 buku kumpulan puisi tunggal serta 8 buku kumpulan esai. Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM).

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture