Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Cognitive War, Perang 5.0 yang Menyerang Pikiran

    18 Mar 2026 | Dilihat: 8 kali

    RILISID, nasional — Oleh Riri Satria

    Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam cara manusia saling berhadapan alias perang. Dulu perang selalu hadir dengan wajah yang bising, ledakan, dentuman, langit yang memerah oleh api, dan tanah yang menyimpan jejak-jejak luka. Kita mengenal perang sebagai sesuatu yang kasat mata, sesuatu yang bisa ditunjuk, sesuatu yang jelas batasnya, di sana medan tempurnya, di sini para penontonnya. Tetapi hari ini, saya merasa batas itu perlahan mengabur, seolah perang tidak lagi membutuhkan suara keras untuk menunjukkan kehadirannya. Ia menjadi sunyi, nyaris tak terasa, namun justru semakin dekat, namun tetap sebuah peang.

    Saya mulai menyadari bahwa medan tempur itu kini berpindah, masuk ke ruang yang paling intim, yaitu pikiran manusia. Ya, perang pikiran!

    Di sanalah apa yang disebut sebagai cognitive war bekerja, bukan dengan peluru, melainkan dengan narasi, bukan dengan tank, melainkan dengan informasi, bukan dengan invasi fisik, melainkan dengan infiltrasi makna. Ia tidak merobohkan bangunan, tetapi menggoyahkan keyakinan. Ia tidak menghancurkan tubuh, tetapi perlahan menggeser cara kita memahami dunia. Dan yang paling mengganggu, ia sering kali tidak kita sadari sedang berlangsung.

    Saya membaca tentang bagaimana perang generasi kelima atau 5.0 bekerja, tentang jaringan yang saling terhubung, tentang dunia yang tidak lagi terpisah antara sipil dan militer, tentang informasi yang mengalir tanpa henti dan menjadi bahan bakar utama konflik. Segalanya menjadi terhubung, seolah-olah tidak ada lagi ruang yang benar-benar netral. Informasi, penginderaan, aksi, dan komando melebur dalam satu sistem besar yang melibatkan manusia dan teknologi secara bersamaan. Di titik ini, perang bukan lagi milik tentara semata, tetapi juga milik kita semua, yang mungkin tidak pernah merasa sedang berada di dalamnya.

    Lalu saya berhenti sejenak, mencoba merasakan, sejak kapan hidup sehari-hari menjadi begitu dekat dengan logika perang?

    Ketika konsep combat cloud muncul, ketika data, konektivitas, dan sistem informasi saling bertukar secara real-time, saya membayangkan sebuah dunia di mana keputusan tidak lagi diambil secara perlahan, tetapi dalam kecepatan yang nyaris tidak manusiawi. Ada sesuatu yang dingin di sana, sesuatu yang efisien sekaligus mengasingkan. Seolah-olah perang tidak lagi membutuhkan waktu untuk berpikir, karena teknologi telah mengambil alih sebagian dari proses itu.

    Dan kemudian, ada gagasan tentang pertempuran lintas domain, darat, laut, udara, luar angkasa, hingga dunia siber, yang semuanya terhubung dalam satu orkestrasi besar. Saya membayangkan bagaimana batas-batas lama runtuh begitu saja. Perang tidak lagi berada “di sana,” jauh dari kehidupan kita, tetapi hadir di mana-mana, bahkan di ruang yang paling tidak kita curigai: layar ponsel, jaringan internet, percakapan digital yang tampak sepele.

    Ada momen-momen ketika saya berhenti sejenak saat menggulir layar ponsel, lalu bertanya dalam diam, apakah ini benar-benar pikiran saya, atau hanya gema dari sesuatu yang ditanamkan secara halus? Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang panjang. Sebab di zaman ini, kebenaran tidak lagi tumbang karena diserang, melainkan karena tenggelam dalam banjir versi. Segalanya tampak mungkin, segalanya terasa relatif, dan di antara riuh itu, kita perlahan kehilangan pijakan.

    Di titik ini, kehadiran kecerdasan buatan atau AI seperti membuka lapisan baru dalam cara perang bekerja. AI bukan sekadar alat yang membantu manusia berpikir lebih cepat; ia juga menjadi alat yang mampu memahami bagaimana manusia berpikir. Ia membaca pola, mengenali kecenderungan, memetakan emosi, dan pada saat yang sama, mampu menyusun pesan yang terasa begitu personal, begitu dekat, seolah-olah lahir dari dalam diri kita sendiri. Saya kadang merasa ngeri membayangkan betapa tipisnya batas antara keyakinan yang tumbuh secara alami dan keyakinan yang dibentuk secara sistematis oleh algoritma.

    Ketika saya mencoba melihat konflik di kawasan Teluk Persia, terutama ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, saya masih bisa mengenali wajah lama perang itu. Ada serangan, ada balasan, ada strategi militer yang konkret. Namun semakin lama saya memperhatikan, semakin terasa bahwa yang berlangsung bukan hanya perang fisik. Ada lapisan lain yang bergerak bersamaan, lebih halus, lebih cair, dan justru lebih luas jangkauannya.

    Narasi diproduksi, disebarkan, dipertahankan, dan dipertentangkan. Setiap pihak berusaha membingkai realitas dengan cara yang menguntungkan mereka, dan dunia, termasuk kita yang jauh dari sana, ikut terseret ke dalam arus itu.

    Saya menyadari bahwa kita bukan sekadar penonton. Kita adalah bagian dari ekosistem yang membuat perang itu hidup. Setiap kali kita membaca, mempercayai, membagikan, atau bahkan menolak sebuah informasi, kita sedang berpartisipasi dalam sesuatu yang lebih besar dari sekadar konsumsi berita. Kita sedang terlibat dalam perebutan makna.

    Mungkin inilah wajah dari apa yang sering disebut sebagai perang generasi kelima, sebuah bentuk konflik yang tidak lagi bergantung pada garis depan yang jelas. Ia hadir dalam bentuk yang cair, menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari, berbaur dengan rutinitas yang tampak biasa. Tidak ada deklarasi perang yang tegas, tidak ada akhir yang pasti, dan sering kali tidak ada kesadaran bahwa kita sedang berada di tengahnya. Dalam perang semacam ini, kemenangan tidak selalu diukur dari wilayah yang dikuasai, melainkan dari pikiran yang berhasil dipengaruhi.

    Dan di sinilah saya merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang sulit dijelaskan tetapi terasa nyata. Sejenis kedaulatan yang dulu kita anggap milik pribadi, kemampuan untuk berpikir secara utuh, untuk meragukan tanpa diarahkan, untuk percaya tanpa didorong. Kini semuanya terasa seperti berada di bawah bayang-bayang sistem yang lebih besar, yang bekerja tanpa wajah, tanpa suara, tetapi dengan pengaruh yang begitu dalam.

    Kadang saya membayangkan, betapa ironisnya bahwa di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, kita justru harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan hal yang paling mendasar, yaitu kejernihan pikiran. Seolah-olah kita sedang berdiri di tengah lautan informasi yang luas, tetapi kehilangan arah karena terlalu banyak arus yang saling bertabrakan. Kita tahu lebih banyak dari sebelumnya, tetapi belum tentu memahami lebih dalam.

    Dan mungkin, di situlah letak kegelisahan terbesar saya, bahwa perang hari ini tidak meminta kita untuk mengangkat senjata, tidak memaksa kita untuk turun ke medan tempur, tetapi cukup dengan membuat kita percaya pada sesuatu apa pun itu, tanpa pernah benar-benar yakin dari mana kepercayaan itu berasal.

    Perang generasi kelima atau 5.0 dengan segala konsep jaringan, integrasi, dan fusi teknologi, terasa seperti puncak dari perjalanan panjang manusia dalam menemukan cara untuk saling mengalahkan. Tetapi di saat yang sama, ia juga terasa seperti cermin yang memantulkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa mungkin, pada akhirnya, yang paling rentan dari manusia bukanlah tubuhnya, melainkan pikirannya.

    Dan di situlah saya berhenti, sejenak, dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan takut dalam arti yang biasa, tetapi semacam kesadaran yang pelan-pelan meresap, bahwa dunia telah berubah dengan cara yang tidak selalu kita sadari. Bahwa perang tidak lagi harus terdengar untuk bisa terasa. Di tengah segala kecanggihan teknologi dan strategi yang semakin kompleks, pertanyaan paling sederhana justru menjadi yang paling penting, apakah pikiran kita masih benar-benar milik kita sendiri, atau ia telah menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar, yang bekerja diam-diam di balik layar kehidupan kita.

    Jika benar medan perang telah berpindah ke dalam kepala manusia, maka saya, Anda, kita semua, bukan lagi sekadar pengamat. Kita adalah ruang yang diperebutkan. Dan di tengah segala kebisingan yang tak selalu terdengar itu, saya hanya berharap masih ada ruang sunyi di dalam diri, tempat di mana kita bisa kembali bertanya dengan jujur: apakah ini benar-benar suara kita sendiri, atau hanya gema dari perang yang tak kasat mata.

    Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture