Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
RILISID, - — Di balik setiap presiden atau pemimpin besar, selalu ada lingkaran manusia yang tak kalah menentukan arah sejarah. Mereka adalah orang-orang yang sering tidak terlihat oleh publik, tetapi justru berada paling dekat dengan pusat kekuasaan.
Dalam tradisi politik Amerika Serikat, lingkaran ini pernah dipopulerkan oleh buku dan film All the President's Men yang mengisahkan investigasi dua jurnalis dari The Washington Post, yaitu Bob Woodward dan Carl Bernstein, tentang Watergate Scandal pada masa Presiden Richard Nixon.
Namun jika kita melepaskannya dari konteks sejarah tersebut, frasa itu memiliki makna yang jauh lebih luas dan reflektif, semua orang presiden, atau orang-orang yang berada di lingkaran terdekat seorang pemimpin.
Di situlah sebenarnya salah satu ujian terbesar dari kepemimpinan dimulai. Bukan sekadar bagaimana seorang presiden berbicara di podium, menandatangani kebijakan, atau mengambil keputusan besar, melainkan bagaimana ia memilih orang-orang yang berdiri di sekelilingnya. Kepemimpinan pada akhirnya adalah seni memilih manusia.
Seorang presiden mungkin memiliki visi yang besar, niat yang baik, dan kecerdasan yang memadai. Namun ia tidak pernah bekerja sendirian. Setiap hari ia menerima laporan, analisis, rekomendasi, dan pertimbangan dari orang-orang yang berada di ring satu.
Mereka menyaring informasi sebelum sampai ke meja pemimpin. Mereka menerjemahkan kenyataan menjadi laporan. Mereka mengolah situasi yang kompleks menjadi nasihat strategis. Dalam arti tertentu, mereka adalah lensa yang membentuk bagaimana seorang pemimpin melihat dunia.
Saya pernah merasakan secara langsung bagaimana posisi itu bekerja. Dalam satu fase kehidupan saya, saya pernah dipercaya menjadi staf khusus di Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia atau Menko Polkam RI.
Posisi itu, dalam bahasa yang lebih sederhana, berarti berada di lingkaran dekat seorang pemimpin, sebuah posisi yang dalam refleksi saya kali ini mungkin dapat disebut sebagai bagian dari “all the minister’s men”.
Di ruang-ruang kerja yang tidak selalu terlihat oleh publik, tugas kami memberikan pertimbangan strategis, membaca situasi politik dan keamanan, serta menyampaikan masukan yang diharapkan dapat membantu pimpinan mengambil keputusan yang tepat.
Di situ saya belajar bahwa kedekatan dengan kekuasaan bukanlah privilese yang ringan. Ia adalah tanggung jawab intelektual sekaligus moral.
Karena setiap kata, setiap analisis, setiap catatan kecil yang kita sampaikan kepada pimpinan dapat memiliki konsekuensi yang jauh melampaui ruangan tempat ia ditulis.
Sebuah masukan yang keliru bukan hanya kesalahan teknis. Ia bisa menjadi awal dari keputusan yang salah arah. Dan ketika keputusan seorang pemimpin meleset, yang terdampak bukan hanya dirinya, tetapi masyarakat luas yang berada dalam lingkup kebijakannya.
Kesadaran itu sering membuat saya berpikir bahwa orang-orang yang berada di ring satu sebenarnya memikul tanggung jawab yang sangat besar.
Mereka harus cukup jujur untuk menyampaikan fakta apa adanya, cukup berani untuk mengemukakan pandangan yang berbeda, dan cukup rendah hati untuk menyadari bahwa nasihat yang mereka berikan akan mempengaruhi keputusan orang lain.
Dalam praktiknya, tantangan terbesar bukan sekadar menghasilkan analisis yang cerdas. Tantangan terbesar justru menjaga integritas pikiran.
Tidak terjebak dalam godaan untuk mengatakan hal-hal yang menyenangkan telinga atasan. Tidak membiarkan kepentingan pribadi mengaburkan penilaian.
Tidak menjadikan kedekatan dengan kekuasaan sebagai ruang untuk membangun pengaruh sempit.
Karena di sekitar seorang pemimpin selalu ada risiko lahirnya ruang gema, yaitu ruang di mana yang terdengar hanyalah suara-suara yang menguatkan keputusan yang sudah diinginkan sebelumnya.
Di ruang seperti itu, kebenaran sering kali menjadi korban pertama. Dan ketika kebenaran mulai disaring oleh kepentingan, kebijakan yang lahir pun berpotensi menjauh dari kepentingan masyarakat.
Dari pengalaman itu saya semakin memahami bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh kecerdasannya sendiri, tetapi juga oleh kualitas manusia yang ia pilih untuk berada di sekelilingnya. Kepemimpinan pada akhirnya adalah refleksi dari lingkaran kepercayaan yang mengitarinya.
Saya sering membayangkan betapa sunyinya posisi seorang pemimpin. Di tengah sorotan publik dan hiruk-pikuk politik, ada saat-saat ketika keputusan penting harus diambil hanya dengan beberapa orang di dalam ruangan. Di ruang kecil itulah sejarah kadang berubah arah. Dan di ruang itu pula kualitas orang-orang di ring satu menjadi penentu apakah keputusan yang lahir akan membawa kebaikan atau justru menjadi blunder.
Mungkin di situlah makna terdalam dari gagasan tentang all the president’s men atau dalam skala lain all the minister’s men, bahkan secara generik adalah all leader’s men. Kepemimpinan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu merupakan pantulan dari orang-orang yang mengelilinginya. Ketika lingkaran itu diisi oleh manusia yang jernih pikirannya, lurus niatnya, dan berani menjaga kebenaran, maka seorang pemimpin memiliki kesempatan untuk menjalankan kekuasaan dengan bijak.
Tetapi ketika lingkaran itu dipenuhi oleh bisikan yang menyesatkan, bahkan kepemimpinan yang dimulai dengan niat terbaik pun dapat terseret ke dalam kesalahan yang berdampak luas bagi masyarakat. (*)
Riri Satria adalah Staf Khusus Menko Polkam RI bidang Ketahanan Siber dan Transformasi Digital
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]