Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Di Antara Fakta dan Tafsir, Catatan untuk Riri Satria tentang Menulis Interpretatif

    09 Mar 2026 | Dilihat: 17 kali

    “Setiap fakta menyimpan sunyi yang menunggu ditafsirkan.”

    Wartatrans.com, ESAI — Barusan saya membaca dan menyimak paparan tentang menulis interpretatif oleh Bang Riri Satria. Saya juga berkesempatan mendengarkannya langsung sambil menikmati suasana buka puasa. Penjelasannya sederhana, namun justru mengingatkan pada sesuatu yang sebenarnya sudah lama hadir dalam pengalaman menulis meskipun sering tidak kita sadari sepenuhnya.

    Bagi banyak orang, menulis mungkin hanya dipahami sebagai kegiatan menyusun kata. Namun dari penjelasan Bang Riri terlihat bahwa menulis juga merupakan cara memahami dunia cara manusia membaca fakta dan mencoba menemukan makna yang tersembunyi di baliknya.

    Bang Riri menjelaskan bahwa menulis interpretatif dimulai dari sesuatu yang paling dasar: fakta. Fakta menjadi titik awal peristiwa, data, artefak, atau sesuatu yang benar-benar ada. Dari sana penulis bergerak menuju analisis, lalu ke interpretasi, kemudian menentukan sudut pandang sebelum akhirnya menuliskannya. Urutan ini tampak rapi, hampir seperti peta perjalanan yang jelas.

    Namun ketika saya merenungkannya, saya teringat bahwa dalam kehidupan sehari-hari fakta sering datang dengan cara yang jauh lebih sunyi. Ia hadir sebagai pengalaman kecil yang mungkin dianggap sepele, sebagai percakapan singkat yang tidak direncanakan, atau sebagai ingatan yang tiba-tiba muncul ketika kita sedang menulis sesuatu.

    Seorang penulis sering bertemu fakta bukan hanya di museum, buku, atau arsip, tetapi juga di dalam perjalanan hidupnya sendiri. Sebuah peristiwa sederhana kadang meninggalkan gema panjang dalam pikiran. Hal-hal yang tampaknya kecil sebuah berita yang lewat, wajah seseorang yang kita temui di jalan, atau percakapan yang terdengar sekilas sering kali justru menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.

    Di situlah interpretasi mulai bekerja. Fakta memang memberi kita peristiwa, tetapi tafsir memberi kita kesadaran. Tanpa tafsir, fakta hanya berhenti sebagai informasi: ia benar, tetapi belum tentu bermakna.

    Bang Riri juga menekankan pentingnya sudut pandang atau point of view. Seorang penulis perlu menentukan dari posisi mana ia melihat sesuatu: apakah sebagai “aku”, sebagai “Anda”, atau sebagai pengamat yang berdiri agak jauh dari peristiwa. Pilihan ini mungkin tampak teknis, tetapi sebenarnya sangat menentukan cara sebuah tulisan berbicara kepada pembacanya.

    Kadang kita memilih menulis sebagai “aku”, karena pengalaman itu terlalu dekat untuk dijauhkan. Di waktu lain kita mengambil jarak, agar peristiwa dapat dilihat dengan lebih luas. Setiap sudut pandang membawa nada yang berbeda dan dengan sendirinya menghadirkan cara yang berbeda pula dalam memahami peristiwa yang sama.

    Bagi saya, yang menarik adalah gagasan bahwa tulisan tidak harus sepenuhnya objektif. Hal ini terasa menarik karena saya mengenal Bang Riri sebagai seorang scientist, pengamat teknologi, sekaligus pelaku bisnis dan ekonomi bidang yang biasanya menuntut ketelitian serta objektivitas tinggi. Namun dari penjelasannya terlihat bahwa kepekaan reflektif juga memiliki tempat dalam cara berpikirnya.

    Selama tulisan berangkat dari fakta dan melalui proses analisis yang jujur, sudut pandang pribadi justru dapat memberi napas pada tulisan itu. Pengalaman manusia memang tidak pernah sepenuhnya netral. Kita melihat dunia melalui ingatan, keyakinan, bahkan luka yang kita bawa.

    Barangkali tugas penulis bukan menghapus pengalaman itu, melainkan menyadarinya lalu menuliskannya dengan jujur.

    Bang Riri juga memperkenalkan berbagai gaya penulisan: naratif, deskriptif, argumentatif, reflektif, hingga kritis, bahkan posmodernis. Membacanya terasa seperti membuka sebuah kotak alat yang penuh kemungkinan. Saya sepakat dengan Bang Riri bahwa dalam praktiknya seorang penulis sering bergerak di antara berbagai gaya itu sekaligus.

    Kadang ia bercerita, kadang ia menjelaskan, kadang ia mempertanyakan sesuatu. Tulisan yang hidup biasanya tidak memilih satu cara secara kaku; ia bergerak mengikuti kebutuhan gagasan yang ingin disampaikan.

    Dari paparan tersebut saya menangkap satu pelajaran sederhana yang terasa penting: tulisan yang baik lahir dari pertemuan antara fakta, analisis, sudut pandang, dan cara penyampaiannya. Fakta tanpa sudut pandang sering terasa dingin. Sebaliknya, sudut pandang tanpa fakta mudah berubah menjadi opini yang rapuh. Menulis menjadi semacam latihan panjang untuk menjaga keseimbangan di antara keduanya.

    Karena itu, menulis interpretatif bagi saya bukan hanya soal teknik menulis. Ia juga tentang cara manusia memahami hidupnya sendiri. Kita belajar membaca peristiwa dengan lebih sabar, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Kita mencoba melihat kembali sesuatu dari sudut yang berbeda, sampai perlahan maknanya muncul.

    Sebuah peristiwa mungkin selesai ketika ia terjadi. Namun maknanya sering baru dimulai ketika seseorang mencoba menuliskannya. Di antara fakta dan tafsir itulah sebuah tulisan menemukan napasnya sebagai ruang di mana pengalaman, pikiran, dan kesadaran manusia bertemu, lalu berubah menjadi kata-kata.

    Pada akhirnya, menulis mungkin memang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap fakta yang kita temui di dunia selalu membuka kemungkinan tafsir yang baru. Hari ini kita memahaminya dengan satu cara, besok mungkin kita melihatnya dari sudut yang berbeda. Waktu, pengalaman, dan kehidupan perlahan mengubah cara kita membaca sebuah peristiwa.

    Paparan tentang menulis interpretatif dari Bang Riri mengingatkan kita semua termasuk saya bahwa di balik setiap tulisan ada proses berpikir yang tidak sederhana. Fakta memberi kita pijakan, analisis membantu kita memahami hubungan antarperistiwa, sementara tafsir membuka ruang bagi kesadaran manusia untuk menemukan makna yang lebih luas.

    Di situlah tulisan tidak lagi sekadar menjadi rangkaian informasi, melainkan berubah menjadi jembatan antara pengalaman dan pemahaman.

    Barangkali pada akhirnya menulis adalah cara manusia berdialog dengan dunia. Kita membaca kenyataan, lalu mencoba menafsirkannya dengan bahasa yang kita miliki. Tidak selalu sempurna, tidak selalu selesai. Namun dari upaya yang sederhana itu, sebuah tulisan lahir sebagai jejak kecil bahwa manusia pernah berusaha memahami hidupnya sendiri.

    Saya sering merasa bahwa hampir semua ungkapan yang kita tuliskan di dunia ini sebenarnya adalah pengulangan. Kita mengulang gagasan yang pernah dipikirkan orang lain, mengulang pertanyaan yang telah lama hidup dalam sejarah manusia. Namun pengulangan itu tidak pernah benar-benar sama. Setiap zaman memberi sudut pandang baru. Setiap pengalaman memberi warna yang berbeda.

    Dari situlah pelajaran kecil itu muncul: menulis bukan tentang menemukan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan tentang membaca kembali kehidupan dengan kesadaran yang lebih jernih. Kita mungkin hanya mengulang, tetapi justru melalui pengulangan itulah manusia perlahan belajar memahami dunia dan sedikit demi sedikit memahami dirinya sendiri.

    Salam kreatif, mari terus menulis dan berkarya meninggalkan jejak rasa dan peristiwa, lalu membagikannya kepada dunia.*** (Emi Suy)

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture