Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria
Ancaman siber melalui email atau surat elektronik kian terasa nyata dan mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan bahwa hampir separuh lalu lintas email global sepanjang 2025 bukanlah komunikasi yang sah, melainkan spam yang membawa risiko keamanan serius. Lanskap keamanan digital pada tahun 2025 menandai pergeseran taktik kriminal siber yang semakin canggih, terarah, dan sabar menunggu kelengahan manusia.
Berdasarkan data telemetri yang dirilis oleh Kaspersky, sebanyak 44,99% dari total lalu lintas email global pada 2025 dikategorikan sebagai spam. Angka ini bukan sekadar tumpukan pesan sampah yang mengganggu, melainkan gerbang awal bagi ancaman yang jauh lebih berbahaya: penipuan finansial, pencurian identitas, phishing, hingga penyebaran malware.
Sepanjang 2025 saja, individu maupun pengguna korporat di seluruh dunia tercatat harus menghadapi lebih dari 144 juta lampiran surel berbahaya, meningkat sekitar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini menunjukkan bahwa, seberapa pun kuatnya sistem pertahanan digital dibangun, pelaku kejahatan siber selalu dapat menemukan celah melalui volume serangan masif dan konten yang dirancang semakin meyakinkan.
Di sisi lain, email kini telah berevolusi jauh melampaui fungsi awalnya sebagai alat tukar pesan. Hampir seluruh aktivitas digital modern bertumpu padanya seperti aktivasi akun media sosial, pertukaran dokumen kerja, notifikasi transaksi, hingga verifikasi pembayaran. Email adalah nadi komunikasi daring yang menghubungkan berbagai layanan digital yang kita gunakan setiap hari. Namun yang sering luput disadari bahwahampir semua akun digital menjadikan email sebagai pusat pemulihan akses. Ketika kata sandi terlupa atau akun terkunci, email menjadi kunci utama untuk membuka kembali pintu tersebut.
Konsekuensinya sederhana sekaligus menakutkan, di mana jika satu akun email berhasil dikuasai, penyerang berpotensi mengambil alih seluruh ekosistem digital korban. Reset kata sandi media sosial, marketplace, layanan cloud, bahkan perbankan digital bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit. Efek domino inilah yang membuat kebocoran email menjadi salah satu skenario terburuk dalam keamanan siber, dan sering kali baru disadari ketika kerusakan telah meluas.
Tidak mengherankan jika email tetap menjadi target favorit para peretas. Lapora Kasperky di atas menunjukkan bahwa hampir separuh email global tergolong spam, dan sebagian signifikan di antaranya membawa malware atau tautan phishing yang dirancang untuk mencuri data pribadi.
Google sendiri melaporkan bahwa sistem mereka memblokir sekitar 100 juta email phishing setiap hari sepanjang 2025. Angka ini memberi gambaran betapa masifnya ancaman yang bersembunyi di balik kotak masuk yang tampak biasa. Setiap hari, jutaan pengguna berada satu klik saja dari potensi pencurian data, infeksi perangkat, atau kompromi akun yang lebih luas.
Pengalaman menerima email dengan subjek yang terdengar mendesak seperti “Gugatan Hukum untuk Perusahaan Anda” atau “Tagihan yang Belum Dibayar” bukanlah hal asing. Di balik tampilan profesional dan bahasa formalnya, pesan semacam ini sering kali merupakan senjata utama serangan phishing. Phishing bukan sekadar spam murahan, melainkan teknik rekayasa sosial yang secara sadar mengeksploitasi psikologi manusia yaitu rasa takut, urgensi, dan kepercayaan pada otoritas. Dengan satu klik pada tautan palsu atau satu lampiran yang dibuka tanpa curiga, penyerang dapat mencuri kredensial, memata-matai aktivitas layar, hingga melancarkan serangan ransomware berskala besar yang melumpuhkan operasional perusahaan.
Situasi semakin rumit ketika serangan phishing modern nyaris sulit dibedakan dari komunikasi sah. Pelaku menggunakan domain yang sangat mirip dengan institusi resmi, meniru logo dan format perusahaan, serta menyusun tata bahasa yang rapi dan meyakinkan. Bahkan email yang seolah dikirim oleh atasan atau rekan kerja pun bisa berasal dari akun yang telah lebih dulu diverifikasi.
Laporan keamanan dari Microsoft menegaskan bahwa serangan berbasis identitas, termasuk phishing melalui email, masih menjadi serangan paling dominan terhadap organisasi global. Sementara itu, lembaga penegak hukum seperti FBI secara konsisten menempatkan phishing sebagai salah satu kejahatan siber dengan kerugian finansial terbesar dalam laporan tahunan Internet Crime Complaint Center (IC3). Bagaimana dengan di Indoesia? Belum ada data yang jelas, namun diperkirakan situasinya tidak jauh bebeda.
Semua fakta ini mengarah pada satu kesimpulan penting bahwa teknologi keamanan saja tidak pernah cukup. Filter spam, firewall, dan sistem deteksi ancaman memang krusial, tetapi manusia tetap menjadi garis pertahanan terakhir sekaligus titik terlemah. Kesadaran, literasi digital, dan kebiasaan berhati-hati dalam memperlakukan email adalah fondasi utama perlindungan.
Memeriksa alamat pengirim dengan saksama, tidak tergesa-gesa mengklik tautan, waspada terhadap pesan bernada mendesak, serta membiasakan autentikasi multi-faktor pada akun email adalah langkah-langkah sederhana dengan dampak besar. Di era digital yang serba terhubung ini, memahami cara kerja phishing dan ancaman email bukan lagi urusan tim IT semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh pengguna. Karena sering kali, perbedaan antara sistem yang aman dan bencana siber hanya ditentukan oleh satu keputusan kecil di mailbox kita.
Waspadalah!
Riri Satria adalah seorang pengamat teknologi digital dan ekonomi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama sebuah BUMN di bidang Teknologi Digital; serta seorang aktivis sastra dan kebudayaan.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]