Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Sepotong Kisah tentang Emi Suy dan Riri Satria
Ditulis oleh Annisa Widya Puteri
Jauh sebelum Kafe Hoax menjadi ruang yang rutin mereka kunjungi sejak 2018, bahkan sebelum buku “Algoritma Kesunyian” terbit pada 2023, Emi Suy dan Riri Satria telah lebih dulu membuat fondasi estetik dan filosofis melalui sebuah puisi bersama berjudul “Kontemplasi” pada tahun 2015. Puisi itu bukan sekadar karya awal, melainkan fondasi cara pandang tentang hidup, sunyi, dan perjalanan manusia di tengah waktu.
Dalam “Kontemplasi”, sunyi tidak hadir sebagai kehampaan, melainkan sebagai ruang kesadaran:
sepi itu terdiri-aku-kau saat sendiri
mendengar desah nafas dan degup jantung ini
Sunyi adalah perjumpaan paling jujur antara diri dan kehidupan. Ia adalah cara memahami dunia sebelum dunia menjadi terlalu gaduh oleh opini, notifikasi, dan kebenaran instan.
Kesunyian dalam karya-karya mereka bukan eskapisme, melainkan strategi. Ia adalah bentuk perlawanan halus terhadap dunia yang memaksa manusia untuk terus bersuara, bereaksi, dan tampil. Dengan memilih sunyi, mereka merebut kembali kedaulatan batin sesuatu yang semakin langka di era saat ini.
Ketika kini mereka berdiri di depan Kafe Hoax, ruang itu terasa seperti ekstensi dari puisi yang ditulis lebih dari satu dekade sebelumnya. Jika hoaks adalah suara palsu yang berteriak, maka kontemplasi adalah sikap sebaliknya, mendengar dengan pelan, membaca dengan sabar, dan memberi jarak pada kesimpulan.
Puisi “Kontemplasi” juga menegaskan kesadaran tentang kefanaan:
hidup adalah perjalanan sementara
menuju kehidupan kekal
Baris-baris ini terasa seperti etika batin yang kelak menuntun perjalanan intelektual mereka. Menulis dan berpikir bukan sekadar produksi gagasan, melainkan bagian dari perjalanan eksistensial, yaitu cara manusia memberi makna pada waktu yang tak pernah kembali.
Relasi Emi Suy dan Riri Satria juga penting dibaca sebagai persahabatan intelektual dan puitis. Persahabatan ini tidak dibangun di atas kesamaan pandangan semata, melainkan pada kesediaan untuk saling mendengar, saling memberi ruang, dan saling menguji gagasan melalui bahasa puisi, bahkan prbedaan dan pertenangan pendapat. Percakapan mereka bukan sekadar latar belakang karya, melainkan metode berpikir itu sendir yaitu dialog yang berlangsung pelan, reflektif, dan terbuka pada keraguan.
Dalam persahabatan semacam ini, puisi berfungsi sebagai medan temu antara intelektualitas dan kepekaan rasa. Gagasan diuji bukan untuk dimenangkan, melainkan untuk diperdalam, perbedaan dirawat bukan untuk dipertajam, melainkan untuk memperkaya sudut pandang. Hubungan mereka menunjukkan bahwa berpikir bisa dilakukan tanpa hiruk-pikuk debat, dan berkarya bisa tumbuh dari kepercayaan serta ketekunan bersama. Di tengah ruang publik yang kian bising dan kompetitif, model persahabatan intelektual-puitis semacam ini menjadi sesuatu yang semakin langka namun justru semakin relevan.
Persahabatan ini berakar lebih jauh. Riri Satria dan Emi Suy pertama kali bertemu pada tahun 2011, dalam sebuah acara sastra di Taman Ismail Marzuki di Jakarta. Pertemuan itu menjadi titik awal dialog panjang yang kelak berkembang menjadi kerja kreatif bersama, sebuah relasi yang tumbuh secara organik, tanpa ambisi untuk segera sampai.
Tiga tahun setelah puisi “Kontemplasi” itu lahir tahun 2015, sejak 2018, Kafe Hoax menjadi ruang yang kerap mereka datangi. Di sanalah percakapan-percakapan berlangsung ditemani kopi dan suasana pantai tanpa tuntutan untuk segera selesai. Duduk, berbincang, membaca, atau sekadar diam, semua itu menjadi praktik keseharian dari apa yang dulu mereka tuliskan sebagai kontemplasi.
Di berbagai kota, kebersamaan itu juga menjelma ke atas panggung. Riri Satria dan Emi Suy beberapa kali tampil membaca puisi bersama atau berduet dalam berbagai acara sastra di Padangpanjang, Bukittinggi, Tanjung Pinang, Jakarta, serta Bali. Setiap kota menghadirkan konteksnya sendiri, tetapi nada puisinya tetap sama, pelan, reflektif, dan memberi ruang bagi pendengar untuk ikut berpikir.
Dan pada 2023, lahirlah buku puisi “Algoritma Kesunyian”. Jika “Kontemplasi” adalah titik hening di awal perjalanan, maka “Algoritma Kesunyian” adalah refleksi matang ketika dunia telah sepenuhnya dikepung algoritma, data, dan kecepatan. Dua karya ini dapat dibaca sebagai satu tarikan napas panjang, dari kesadaran batin menuju kegelisahan zaman digital.
Dalam “Algoritma Kesunyian”, kata “algoritma” menandai sistem yang mengatur perhatian dan perilaku manusia modern, sementara “kesunyian” menjadi ruang perlawanan yang lirih. Buku ini memperlihatkan bahwa Emi Suy dan Riri Satria tidak menolak teknologi, tetapi mengajaknya berdialog, dengan puisi sebagai medium.
Puisi 2015 mereka juga mengandung kesadaran kolektif yang kuat:
karena kita berada di pusaran narasi besar :
kehidupan
Kesadaran inilah yang membuat kebersamaan mereka tidak pernah eksklusif. Mereka menulis bukan untuk menara gading, melainkan untuk ikut mengurai narasi besar kehidupan, melalui puisi, esai, dan percakapan di ruang publik seperti Kafe Hoax.
Nama Kafe Hoax sendiri menjadi metafora yang semakin relevan. Hoaks bukan hanya informasi palsu, melainkan gejala masyarakat yang kehilangan kesabaran untuk berpikir dan merenung. Dalam konteks itu, perjalanan dari “Kontemplasi” (2015), pertemuan awal sejak 2011, kebiasaan berdialog sejak 2018, hingga terbitnya “Algoritma Kesunyian” (2023) menunjukkan satu hal penting: konsistensi sikap.
Puisi mereka menutup dengan pengakuan yang jujur:
masih banyak puisi
yang harus diselesaikan
Kalimat itu kini terasa seperti pesan lintas waktu. Masih banyak percakapan yang harus dilakukan. Masih banyak sunyi yang perlu dipeluk. Dan masih banyak kebenaran yang harus diuji dengan kesabaran.
Dua sosok di depan Kafe Hoax itu, jika dibaca melalui lintasan waktu ini, bukan sekadar figur literasi. Mereka adalah pejalan kesadaran yang percaya bahwa sebelum dunia dipahami lewat algoritma, ia perlu disentuh lewat kontemplasi. Dari sanalah kehidupan, perlahan, menemukan maknanya.
(Nisawidya)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera