Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • PUISI, PERSAHABATAN, DAN DOA YANG TAK PERNAH PERGI Kenangan untuk Diyah Mahmawati

    17 Jan 2026 | Dilihat: 272 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada persahabatan yang tak pernah dimulai dari jabat tangan, namun tumbuh dari getar kata, dari puisi yang dibacakan dengan segenap jiwa. Diyah Mahmawati adalah sahabat seperti itu bagi saya.

    Saya mengenalnya pertama kali pada tahun 2017, bukan di sebuah ruang pertemuan sastra, bukan pula di kampus atau panggung kebudayaan. Saya menemukannya secara tak sengaja di YouTube, sebuah video yang menampilkan seorang perempuan membacakan puisi saya berjudul “Duka Anak Rohingya”. Ia membacakannya dengan aksi teatrikal yang memukau, penuh rasa, seolah luka kemanusiaan itu juga luka pribadinya. Saat itu saya terdiam. Puisi yang saya tulis menemukan tubuhnya, napasnya, dan getar emosinya sendiri.

    Dari situlah persahabatan kami bermula. Kami bersahabat secara daring. Diyah tinggal di Lumajang, Jawa Tiur, sementara saya di Bogor, Jawa Barat. Jarak geografis itu tak pernah benar-benar terasa, sebab kami dipertemukan oleh satu bahasa yang sama yaitu puisi. Diyah kerap mengirimkan karya-karyanya kepada saya, pelan, setia, dan penuh kejujuran batin. Puisi-puisi yang kini terkumpul itu adalah seluruh puisi yang pernah ia kirimkan kepada saya dalam rentang waktu panjang 2017 hingga 2025. Delapan tahun percakapan jiwa yang tak pernah gaduh, tapi selalu dalam.

    Diyah bukan hanya penyair. Ia adalah seorang dosen dan aktivis kebudayaan di Lumajang. Ia mengajar Bahasa Inggris, namun napas hidupnya adalah sastra dan kemanusiaan. Dalam percakapan-percakapan kami, puisi sering menjadi pintu masuk menuju pembahasan yang lebih luas: penelitian humaniora, kebudayaan, filsafat Jawa, spiritualitas, bahkan keterkaitannya dengan sains dan teknologi. Diyah memiliki cara pandang yang jernih, ia tidak memusuhi modernitas, tetapi juga tidak menanggalkan akar kebudayaannya. Ia merangkul keduanya dengan kesadaran.

    Kami akhirnya bertemu secara fisik dua kali di Malang, tahun 2018 dan 2019. Pertemuan itu singkat, namun hangat. Tidak banyak basa-basi. Rasanya seperti dua sahabat lama yang akhirnya memastikan bahwa yang mereka kenal selama ini benar-benar nyata. Bahwa suara di layar dan kata di pesan digital itu memang berdiam dalam tubuh manusia yang sama: sederhana, rendah hati, dan penuh cahaya tenang.

    Waktu terus berjalan. Diyah terus menulis. Puisinya kian hening, kian spiritual, kian jujur. Ia menulis tentang penerimaan, napas, Tuhan, keutuhan, dan nerima ing pandhum, bukan sebagai konsep, tetapi sebagai laku hidup. Belakangan saya tahu, ia menulis sambil berjuang melawan penyakit kanker. Namun tak sekali pun puisinya menjadi ratapan. Ia justru semakin jernih, semakin pasrah, semakin penuh doa. Dan di sanalah satu momen yang paling menyentuh hati saya.

    Puisi-puisi karya Diyah bagi saya bukan sekadar deretan teks yang lahir dalam rentang waktu 2017–2025, melainkan sebuah bentangan perjalanan batin yang utuh dan saling terhubung. Membacanya seperti mengikuti langkah seseorang yang berjalan perlahan, kadang tersendat, kadang berhenti untuk menarik napas, lalu melanjutkan dengan kesadaran baru. Setiap puisi terasa sebagai fragmen jiwa yang saling menyapa, dari pencarian makna, keheningan yang dipeluk dengan sengaja, relasi antarmanusia yang dihadirkan sebagai perjumpaan jiwa, hingga kepasrahan yang matang kepada Tuhan.

    Saya merasakan bahwa puisi-puisi ini tidak ditulis untuk dipamerkan, melainkan untuk dijalani, ebagai catatan kontemplatif, sebagai jurnal batin, sebagai laku spiritual yang jujur.

    Di dalamnya, puisi tidak diperlakukan sebagai produk bahasa, melainkan sebagai ruang jiwa. Ada bilik hening tempat kata-kata menanggalkan kesombongannya, ada ruang tafakur tempat makna tumbuh tanpa perlu diteriakkan. Tema penerimaan, nerima ing pandhum, hadir berulang, bukan sebagai sikap menyerah, tetapi sebagai kesadaran yang telah melewati perlawanan panjang.

    Hidup dipahami sebagai sajian utuh, rhabineda, yang tak perlu dipilah-pilah secara reaktif. Napas menjadi simbol yang sangat kuat: tarikan sebagai penerimaan, embusan sebagai pelepasan. Membaca puisi-puisi ini, saya sering tanpa sadar ikut melambatkan napas, seolah diajak masuk ke ritme batin penulisnya, ke kesadaran yang tidak tergesa-gesa menilai, tetapi memilih menyinari.

    Relasi dengan sesama, dengan sahabat, dan terutama dengan Tuhan, dihadirkan secara intim dan membumi. Tuhan tidak muncul sebagai konsep teologis yang jauh, melainkan sebagai tempat mengadu, pusat kesadaran, dan energi yang menenangkan. Simbol-simbol seperti sunyi, taman batin, langit, bintang, hitam dan biru, hingga aksara, membentuk kosmos makna yang saling menggemakan satu sama lain. Gaya bahasanya minimalis dan liris, sederhana namun berdaya hening, seperti doa yang diulang pelan agar meresap.

    Sebagai pembaca dan sebagai sahabat yang mengenal penulisnya, saya merasakan bahwa kekuatan puisi-puisi ini justru terletak pada keberaniannya untuk tidak berisik. Ia tidak memaksa kita untuk terharu, tetapi mengundang kita untuk diam sejenak. Dan dalam diam itulah, saya menemukan sesuatu yang jarang, kejujuran batin yang utuh, yang bekerja pelan namun tinggal lama di dalam diri.

    Puisi terakhir yang ia kirimkan kepada saya, tertanggal 14 Mei 2025, bukan tentang dirinya. Ia menulis sebuah puisi doa untuk saya. Untuk ulang tahun saya yang ke-55, serta untuk keberangkatan saya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Di saat tubuhnya melemah, ia justru menguatkan orang lain. Di saat hidupnya sendiri berada di tepi, ia memilih mendoakan perjalanan spiritual sahabatnya.

    Itulah Diyah. Tanggal 25 Juli 2025, kabar duka itu datang. Diyah Mahmawati meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker. Saya membaca kabar itu dalam diam yang panjang. Ada kehilangan, tentu. Namun yang lebih kuat adalah rasa syukur bahwa saya pernah dipertemukan dengan jiwa sebersih itu, dengan sahabat yang mencintai dunia melalui kata-kata, dan mencintai Tuhan melalui keheningan.

    Diyah mungkin telah pergi dari dunia yang kasat mata. Namun puisinya tetap hidup. Doanya tetap bekerja. Dan persahabatan kami yang lahir dari sebuah video YouTube sederhana, akan selalu tinggal sebagai bagian dari perjalanan batin saya.

    Ada orang yang dikenang karena jasanya.

    Ada yang dikenang karena ilmunya.

    Diyah Mahmawati akan selalu saya kenang

    karena ketulusan jiwanya.

    Dan saya percaya,

    puisi-puisi yang ia tulis

    kini telah menemukan rumah

    di keabadian.

     

    Bogor,

    dalam kenangan dan doa.


    PUISI DAN JIWA

    (Diyah Mahmawati)

     

    Puisi adalah jiwa

    tempat bisikan pulang

    ke sunyi paling dalam

     

    Di sana aku menanggalkan nama

    dan berbicara tanpa suara

    pada inti diriku sendiri

     

    Hanya puisi dan Tuhan

    memahami makna sejati jiwa

    tak sanggup dipikul oleh kata

     

    Puisi adalah bilik hening

    ruang tafakur yang tak berdinding

    tempat jiwa merangkai dan mengurai dirinya

    tanpa tepi

    tanpa ikatan

     

    Saat kulihat engkau membaca puisiku

    kurasa jiwaku menyeberang

    memasuki semestamu

    kita saling menjelma

    menjadi makna

     

    Di taman rahasia yang tak terpetakan

    jiwa kita bersua

    dalam cahaya hitam dan biru

    warna malam dan kedalaman

    tempat ego luruh

    dan kesadaran menyala

     

    Di sana kita melebur

    dalam getar yang tak bernama

    sebuah ekstase sunyi

    yang mengangkat roh

    melampaui kata

    memasuki trance makna

    meniti aksara cahaya

    terbang ke langit pengertian

     

    Sebab

    di balik kata

    puisi adalah jiwa

     

    Dan jiwa

    adalah anugerah

    yang dititipkan Tuhan

    kepada bahasa

     

    (Lumajang, 2017)

    AKSARAKAN MAKNA

    (Diyah Mahmawati)

     

    Mari kita satukan jemari

    menurunkan aksara dari sunyi hati

    bersama

     

    Kita semayamkan makna

    di tubuh semesta

    sebagai panggilan jiwa

    kepada

    alam

    sesama

    sekitar

    dan Yang Maha Ada

     

    Kita merawat aksara

    seperti doa yang berulang

    hingga cakrawala

    mengenali dirinya

     

    Kita menari dalam kata

    menabur kisah dunia dan riuhnya

    bahkan getar semesta

    barangkali ada jiwa yang tersentuh

    dan kehidupan kembali menemukan wajah indahnya

     

    Aksara pun berdiam

    di ruang terdalam

    lebih dahsyat dari ledakan kisah

    sebab ia berjalan senyap

    tepat di relung hati

     

    Aksara adalah mula kesadaran

    benih peradaban yang bernapas

    menuntun pikiran melangkah

    di jalan sempit bernama hidup

    menebar terang

    meski jejaknya tak selalu ramah

     

    Namun aksara tetap berikhtiar

    menyusup ke batin

    menjadi bahagia yang sederhana

    namun hakiki

     

    Menggerakkan sendi makna

    menuju

    titik hakikat

    hakiki

     

    (Lumajang, 2017)

    HITAM DAN BIRU

    (Diyah Mahmawati)

     

    Hitam, hitam, hitam

    warna kuturunkan dari sunyi

    meniti langkah

    di bawah hujan takdir

     

    Biru, biru, biru

    jiwa menggenggam arah

    menengadah

    menuju ujung perjalanan

     

    (Lumajang, 2017)

    LANGIT TINGGI

    (Diyah Mahmawati)

     

    Kupandangi langit

    menyimpan harap untuk terbang

    bintang terasa jauh

    terlampau tinggi

    dalam cahaya

     

    Bagaimana mungkin

    aku tanpa sayap

    aku hanya berdiam di sini

    bersama retak-retak diri

     

    Langkahku mencoba meraih pelangi

    peluh dan air mata menjadi anak panah

    segala niat

    segala tujuan

     

    Tuhanlah yang menitikkan akhir

     

    (Surabaya, 2017)

    HUMA DI ATAS BUKIT

    (Diyah Mahmawati)

     

    Inilah huma kita

    bukan sekadar atap dan dinding

    melainkan teduh

    bagi jiwa yang lelah

     

    Inilah ruang kita

    tempat riuh dunia diluruhkan

    makna dipanggil kembali

    dan yang tersembunyi dalam jiwa

    mengalir tanpa nama

     

    Inilah huma kita

    di punggung bukit batin

    hijau oleh harap dan sabar

    jauh dari dengung keramaian

    dekat dengan suara asal

     

    Di sini kita merajut makna

    memupuk satu niat

    menggenggam satu doa

    sementara bintang

    penunjuk arah pulang

    tetap menyala di langit kita

     

    (Lumajang, 2018)

    MENYALAKAN LANGIT

    (Diyah Mahmawati)

     

    Mari saling menyemangati

    agar nyala jiwa tetap hidup

     

    Kita bangun gerbang

    menuju takdir yang dipanggil

     

    Kobarkan ruh

    biarkan ia senantiasa menyala

    hingga meledak menjadi cahaya

     

    Dan tangan kita

    mencapai bintang

    di langit yang tinggi

     

    (Lumajang, 2018)

    SEKAT FAKTA

    (Diyah Mahmawati)

     

    Di ruang sunyi yang tersembunyi

    aku menatap warna-warna

    sebagai isyarat alam

    yang dititipkan kodrat

     

    Aku menyepi di sudut qalbu

    mengusap relung diri

    menyaring jejak

    di titian semesta

     

    Aroma mayapada memabukkan

    pelangi menjulur ke angkasa

    angan terlelap

    dalam panggilan cita

     

    Lalu aku diam

    merenung, menata sikap

    fakta berdiri sebagai sekat

    rambu-rambu kesadaran

    agar jiwa tetap waspada

     

    (Lumajang, 2018)

    BIARKAN JIWA BICARA SENDIRI

    (Diyah Mahmawati)

     

    Biarkan jiwa bicara sendiri

    tanpa lilitan aksara

    dalam diam

    murni

     

    Jiwa berbisik

    ada yang tak sempurna

    ddiksi yang tak biasa

     

    Dan aku terperangkap

    di antara diksi yang tak termaknai

     

    (Lamajang, 2018)

    BLOODY TO HIGH SKY

    (Diyah Mahmawati)

     

    I wanna be on high sky

    but no wings to fly

    I step on the rain bow

    reaching aim, need pain and brain as arrow

     

    Sometimes it’s slippery

    push me away

    down to valley

    in bloody

     

    Again

    I am alone

    with only hope

    still l hold

     

    (Lumajang, 2019)

    PUISI INTELEKTUAL

    (Diyah Mahmawati)

     

    : untuk Riri Satria

     

    meneliti adalah jalan senyap dan sunyi; memaksa diri merenung hingga pedih perih syaraf otak akan tumpang tindih teori; tidak hanya tumpang tindih, tetapi juga ketidakhadiran serta ketidakpahaman teori itu sendiri

     

    tetapi setidaknya; di sini, di jalan yang sunyi ini; kita masih mampu mencipta puisi; iya

    tetaplah di sini; di sela-sela benaman rumus dan teori; walaupun kita berada di lorong senyap dan sunyi; bahkan tersesat pada peliknya arti; tetaplah di sini

     

    mengurai kusut menuju kerucut di satu sudut paparan renung terhampar

    penuhi imaji; dengan merdunya lagu pedih perih; irama alam bawah sadar sedahsyat landasan teori mengaliri nadi hingga ke langkah sendi

     

    (Lumajang, 2019)

    LOVE IN SOUL

    (Diyah Mahmawati)

     

    Although I pour my soul in love

    but it doesn't mean to fall in love

    or to make love

     

    Love is something glorious

    Love is something universal

    Love is something we feel deep inside

     

    Love is more than falling in love

    Love is more than making love

     

    I want to fall in love in universal way

    I believe not so many people understand the way

    Coz paradigm and openness will lead to that way

     

    Love is all about paradigm

    Love is all about mindset

    Love is all about openness

    Love is all about honesty

    Love is all about trust

     

    The words of I love you

    - is not the meaning of falling in love

     

    The words of I love you

    - is not meaning of a wish to make love

     

    Throw away the narrow meanings about love

    nor the degraded meaning on love

    never give bad name to love

     

    Love is spirituality

    will lead us to eternity

    in glorious universal infinity

     

    I  love you all guys

    I love you all girls

    I will love you in this way

    Not an ordinary way

    May be not a simple say

    In spirituality way

    Let's paint the world with glorious love

     

    (Lumajang, 2019)

    SUNYI

    (Diyah Mahmawati)

     

    Biarlah sekat itu

    menempati ruang fitrahnya

    dan aku di sini

    di ruang ini

    dengan segala rasa

    terbungkus ruang sukma

     

    (Lumajang, 2019)

     

     

    EYES

    (Diyah Mahmawati)

     

    Your eyes grab in detail

    Then you catch me

    as the woman in black

    now I am here with you

    in our Huma

     

    My eyes

    your eyes

    heart eyes

    thru the eyes

    you can see the soul

    never lies

    in you

    in me

     

    (Lumajang, 2020)

    YA ROHMAN YA ROHIM

    (Diyah Mahmawati)

     

    Ya Rohman, ya Rohim

    pemilik alur kahuripan

    plot demi plot telah ditentukan

    kulalui semua liku

    atas kodratMu

     

    Ya Rohman, ya Rohim

    awal kisah pun juga akhir

    tertuang dalam takdir

    kujalani segala kisah

    ridhoilah langkah

     

    (Sumberejo, 2020)

    AKU BISA

    (Diyah Mahmawati)

     

    Kutapaki dunia

    dengan senyum yang disematkan doa

    dan keyakinan tenang

    sebab seberkas bahagia

    telah menunggu

    di garis takdir

     

    “Ya, engkau bisa”

    demikian bisik batin

    kata-kata itu mengalir

    sebagai energi cahaya

    menyusuri sendi dan saraf sunyi

    menjadi iman yang bekerja

    di dalam diri

     

    “Ya, aku yakin”

    itulah peneguhan jiwa

    sebuah energi dukungan tak terlihat

    yang menggulung harap

    menjadi daya gerak

    menghimpun keberanian

    hingga dunia pun bergeser

     

    Bukan karena kuatku

    melainkan karena

    keyakinan diberi izin

    untuk tumbuh

    di dalam cahaya-Nya

     

    (Lumajang, 2020)

    CEMBURU

    (Diyah Mahmawati)

     

    Aku cemburu pada laut

    Aku cemburu pada biru

    Terampas buih pada airnya

    Apalah daya, itulah fitrah

    Biruku adalah warna alam

    Sajian makna tersimpan

    Pada laut menghampar

    Di atas imaji khayal

     

    (Lumajang, 2020)

    KAU LAUTKU

    (Diyah Mahmawati)

     

    Tak usah cemburu

    karena kau adalah laut

    melukis birumu sendiri

     

    Kau adalah laut

    sedang kusibak

    kuselami perlahan

     

    Dan jika seandainya aku tenggelam

    ketika menyelaminya

    tidak apalah

     

    (Lumajang, 2021)

    SEJENAK (1)

    (Diyah Mahmawati)

     

    aku melihat dari kejauhan

    itupun hanya sejenak

    segera kuabadikan

    kau pun berlalu

     

    (Lumajang, 2021)

     

     

     

     

    SEJENAK (2)

    (Diyah Mahmawati)

     

    dan senja datang

    mengusik resahku

    merebahkan jiwa sejenak

    rereguk lega sua di ruang kita

     

    (Lumajang, 2021)

    SOULMATE

    (Diyah Mahmawati)

     

    So cool

    greeting empty wall

    always in cheerful smile

    fill the lonely heart

    far away apart

    felt close

    most

     

    (Lumajang, 2022)

    MERINDU SAPA

    (Diyah Mahmawati)

     

    Merasa sendiri

    di tengah rutinitas hari

    berbisik hati

    kemana sapa pergi?

    terasa hampa tiada arti

    hidup tanpa kawan hati

    cukup doa

    dan senyum tulus menyapa

     

    Dinding Maya

    tempat kita sua

    menyertai masa

    bersama sahabat jiwa

    aku selalu mengunjungi ruang ini

    berharap selalu ada jejakmu di sini

    ruang kita

    berdua saja

    tersembunyi

    di dasar lubuk hati

     

    Ya, hanya kita

    kita saja

    tak ada yang boleh tahu

    karena Fujiyama 'kan lelehkan bekunya

    dan Mahameru 'kan muntahkan Lavanya

     

    (Lumajang, 2022)

    BISIKAN ALAM

    (Diyah Mahmawati)

     

    Lenyaplah gundah kelam

    hijau pucuk dedaunan

    ampaikan pesan

    uasal dan sejatinya tujuan

     

    (Lumajang, 2022)

    AIUEO

    (Diyah Mahmawati)

     

    A i u e o

    Jiwaku berkelana mengejar karang

    yang sejatinya diam

    dan aku terbentur keras

    berkeping

     

    Namun

    tetap saja kuberkelana

    nyanyikan kesejatian makna jiwa

    walau hampa adanya

    A i u e o

     

    (Lumajang, 2023)

    DALAM TEDUH MAKNA

    (Diyah Mahmawati)

     

    Jabat tangan

    menjadi ikrar sunyi

    senyum menjelma doa

     

    Kita duduk

    dalam satu lingkar waktu

    berteduh di bawah pohon kesabaran

    tanah memeluk tubuh

    dan sunyi ikut mendengar

     

    Kita bercakap

    tentang jejak kaki

    dan gugurnya sehelai daun

    isyarat perjalanan

    dan pasrah yang pelan

     

    Berjam-jam kita menunggu

    tanpa menghitung waktu

    kegelisahan disimpan

    menjadi benih makna

     

    Di sanalah estetika bersemayam

    tak pada rupa

    melainkan pada rasa

    yang bila disulam kata

    setara dengan diksi terdalam

     

    Itulah puisi

    yang hidup dalam laku

    ketika rasa

    lebih dahulu berbicara

     

    (Lumajang, 2023)

    NYANYIKU DIAM
    (Diyah Mahmawati)

     

    Detak jantungku pun tunduk

    tatkala senyum teraduk

    dalam harmoni sesibuk

    entahlah rindu apa.

     

    Jika semua terburai masa

    itukah nada cinta?

     

    Kala tahu kuiringi jemari

    namamu tersimpan rapi

    di rentetan kontak, juga di hati

    tapi suara ini tak bisa berbunyi

    karena laguku bernyanyi

    mengalir dalam sendi

    duhai dalam sanubari.

     

    Sungguh aku memvisualisasi

    setiap sisimu penuh hati-hati.

     

    (Lumajang, 2023)

    SURAT UNTUK TUHAN (1)

    (Diyah Mahmawati – versi simbolik & spiritual)

     

    Tuhan

    telah jauh kakiku meniti jalan

    dan kini kupahami

    setiap jejak adalah arah pulang

    menuju-Mu.

     

     

    Di sepanjang waktu

    jengkel, marah, kecewa

    datang sebagai bayang

    bantulah aku

    melebur getar yang keruh

    menjadi kejernihan

    agar langkahku murni

    menghadap cahaya-Mu.

     

    Bimbing aku

    dalam gerak yang sederhana

    temani aku

    di tiap denyut laku harian

    ika keindahan hari

    adalah bersama-Mu

    seperti kelak akhir nafasku

    ajarilah aku

    menetap di hadirat itu.

     

    Kuatkan aku

    isi pikiranku dengan ingat

    hatiku dengan tenang

    nafasku dengan damai

    yang bersumber dari-Mu.

     

    Tuhan

    surat ini kutulis dari ruang terdalam.

    Hanya Engkau tempatku mengadu

    labuhan segala hari

    simpul pikiranku

    tambatan hatiku

    dan nyala kerjaku.

     

    Maka kuhadapkan diriku

    sepenuhnya kepada-Mu

    Kupenuhi hatiku dengan nama-Mu

    kuliputi pikiranku dengan cahaya-Mu

    dan kuikat nafasku

    pada hembusan-Mu.

     

    (Lumajang, 2023)

    SURAT UNTUK TUHAN (2)

    (Diyah Mahmawati)

     

    Tuhan

    Engkau mendidikku

    melalui ruang sempit

    hingga aku belajar berterima

    saat genggaman kulepaskan

    kelapangan pun Kau bukakan.

     

     

    Engkau mengajariku

    melepaskan ikatan darah

    aku menempuh musim sabar

    dalam jarak yang panjang

    ketika aku pasrah,

    Engkau kembalikan

    yang Kau titipkan

    ke dalam pelukanku.

     

    Engkau kembali memanggilku

    untuk melepaskan sandaran hati

    kini aku berjalan sendiri

    mengisi pikir, rasa, dan langkah

    dengan ingat kepada-Mu

    dan dalam sepi itu

    kudapati

    hanya Engkau dan aku

    yang saling menatap.

     

    Tuhan

    tuntunlah aku

    penuhi pikiranku dengan cahaya-Mu,

    hatiku dengan cinta-Mu

    langkahku dengan ridho-Mu

    Jadikan ucapanku dzikir

    tulisanku doa

    dan nafasku pengakuan

    atas kehadiran-Mu.

     

    Tiada yang kuinginkan

    selain cinta kepada-Mu.

     

    (Lumajang, 2023)

    SURAT UNTUK TUHAN (3)

    (Diyah Mahmawati)

     

    Tuhan,

    aku berdiri di ruang tak nyaman

    tempat kehendakku bergetar

    dan keikhlasan Kau panggil perlahan.

     

    Ada arus kuat

    yang ingin membawaku pergi

    menuju tepi baru

    yang belum bernama

    namun Kau mengajarkanku

    berdamai dengan arus

    dan bersyukur pada ombak

    yang tengah kupijak.

     

    Apakah ini garis-Mu?

    tanyaku pada sunyi

    seperti dulu

    saat pertanyaan berbuah jawaban.

     

    Jika ini memang jalanku

    kuatkan aku menerimanya

    ajari aku suwung,

    hingga yang tersisa

    hanya tenang

    dalam dekapan-Mu

     

    Tata pikirku

    agar terikat pada cahaya terindah

    hingga setiap lintasan

    kembali kepada-Mu

    ata hatiku

    agar berdenyut

    dalam getar yang Kau ridhoi

     

    Selaraskan frekuensiku

    agar aku senantiasa terhubung

    tanpa jarak

    tanpa ragu.

     

    Kini aku menepi

    merapikan diri

    di tepi rahmat-Mu

    tiada daya selain energi-Mu

    yang menyembuhkan

    dan menyelaraskan langkah.

     

    Hanya kepada-Mu aku bertanya

    mengadu

    dan menyandarkan urusan

    aku yakin Kau mendengar

    menjawab

    dengan isyarat yang lembut.

     

    Kau memintaku diam

    menerima

    bersyukur

    dan berjalan

    dalam kesadaran napas

    selebihnya

    Kau yang menata.

     

    Maka kutitipkan resahku

    kuletakkan sepenuhnya

    di tangan-Mu

    aku tinggal di diamku

    di syukurku

    menjalani hari

    tanpa diguncang gelisah.

     

    Aku telah mengadu

    aku telah berserah

    an aku percaya

    kehendak-Mu

    selalu yang terbaik

    bagi jiwa yang Kau ajari

    untuk pulang.

     

    (Lumajang, 2023)

    AKSARA KITA

    (Diyah Mahmawati)

     

    Jika waktuku tiba

    aku ingin aksara kita

    terbungkus kain sutra

     

    (Lumajang, 2023)

    CURHATAN HATI PADA HATI

    (Diyah Mahmawati)

     

    Wahai Hati

    tersenyumlah

    bukan oleh bibir

    melainkan oleh terang di dalam dada.

     

    Bila pahit, getir, pedih, dan sesak

    datang sebagai tamu

    terimalah dengan lapang

    kasihilah ia

    sebagaimana malam

    mengasihi hujan.

     

    Amatilah lukamu

    dari jarak hening

    hingga ia melebur

    menjadi pelajaran

    tanpa rasa

    di sanalah

    tenang bersemayam

    dan damai menemukan rumahnya.

     

    Wahai Hati,]

    sebarlah cinta

    ke segenap arah:

    - kepada yang memalingkan wajah

    - kepada yang menaruh benci

    - kepada makhluk yang mendekat

    - dan yang berakar di tanah

    terlebih

    kepada sahabat

    dan keluarga jiwa.

     

    Terimalah segala peristiwa

    dengan senyum batin

    dan syukur

    berjaraklah dari gelap rasa

    amati tanpa mengikat

    syukuri tanpa menuntut

    dan ucapkan terima kasih

    kepada Yang Menggerakkan.

     

    Maka energi Ilahi

    akan meliputimu

    seperti cahaya

    yang tak memilih

    kepada siapa ia jatuh.

     

    (Lumajang, 2023)

    TERTUTUPLAH RASA

    (Diyah Mahmawati)

     

    Tidak semua rasa dapat tercurah

    tertutup atau ditutupi

    adalah cara yang bijak

    untuk sebuah keselarasan.

     

    Biarlah rasa menempati ruangnya

    diam menikmati keindahannya

    tertutup dan diam dalam keheningan

    tertutup dan diam untuk kebeningan.

     

    Semakin diam

    semakin indah merasuk sel sel darah

    mengendap dalam serah jiwa

    ada koridor-Nya.

     

    Inilah pengendapan

    untuk sebuah kebeningan

    sejatinya rasa

    sejatinya cinta.

     

    (Lumajang, 2024)

    PUISI UNTUK SAHABAT TERKASIH

    (Diyah Mahmawati)

     

    Sahabat datang

    seperti nyala di musim gelap

    bukan untuk mengusir malam

    melainkan menunjukkan arah

    agar langkah berani tetap berjalan.

     

    Ia hadir

    saat gelisah mengaburkan pandang

    membukakan jalan sunyi

    menuju harap yang bersinar.

     

    Sahabat adalah tangan

    yang mengusap air mata

    tanpa bertanya sebab

    dan suara lembut

    yang berbisik:

    tataplah dunia

    dengan senyum,

    aku bersamamu.

     

    Dalam salah dan alpa

    ia memilih memaafkan

    tersenyum tanpa menghitung

    membuka dada

    sebagai ruang pulang.

     

    Pelukannya

    adalah doa yang hangat,

    dan ucapannya sederhana:

    tersenyumlah.

     

    Maka marilah kita melangkah

    menyusuri dunia

    dengan senyum yang dipinjamkan cahaya

    dan cinta

    yang terus menghangatkan jiwa.

     

    (Lumajang, 2024)

    TAMAN YANG KUPILIH UNTUK MENUNGGU

    (Diyah Mahmawati)

     

    Seekor kupu-kupu

    melintas di hadapanku

    sayapnya mengandung cahaya

    geraknya seperti doa

    yang tak ingin digenggam.

     

    Hatiku bergetar

    ingin memilikinya

    ingin memastikan keindahan itu

    menjadi milikku

    kubawa jaring harap

    kubentangkan ambisi

    kulangkahkan kaki dengan tergesa

    mengejar apa yang kukira

    akan memberiku bahagia.

     

    Namun langkahku goyah

    tanah menolak kesombonganku

    aku terjatuh

    oleh berat keinginan sendiri

    sementara kau,

    wahai kupu-kupu,

    tetap terbang ringan

    menjauh dari genggaman

    yang berniat memiliki.

     

    Di debu kejatuhan itu

    aku terdiam

    menyadari sesuatu

    yang lama luput kupahami:

    bahwa keindahan

    tak pernah datang

    kepada mereka

    yang memaksanya tinggal.

     

    Aku pun berhenti mengejar

    kulepaskan jaring

    kukumpulkan serpih kesadaran

     

    Pelan-pelan

    kubangun sebuah taman

    bukan untuk memanggilmu

    melainkan untuk merawat diriku

    kutumbuhkan bunga kesabaran

    kutanam benih syukur

    kusiram tanah dengan doa

    kubiarkan waktu

    menjadi cahaya matahari

    yang setia.

     

    Taman itu

    tak menjanjikan apa-apa

    ia hanya menjadi ruang

    yang jujur dan lapang

    penuh warna

    namun tanpa paksaan

    penuh wangi

    namun tanpa tuntutan.

     

    Dan ajaibnya

    ketika hatiku tak lagi mengejar

    ketika tanganku tak lagi ingin menangkap

    ketika aku cukup

    menjadi tanah yang subur

    kau datang sendiri.

     

    Bukan hanya satu

    tetapi berbondong-bondong

    kupu-kupu lain pun hinggap

    menyapa bunga-bunga

    yang tumbuh dari keikhlasan.

     

    Saat itu aku paham:

    apa yang dititipkan Tuhan

    tak pernah perlu dikejar

    cukup dipantaskan

    cukup dirawat

    cukup disiapkan ruangnya.

     

    Dan aku pun tersenyum

    menjadi taman

    yang belajar menerima

    bukan pemburu

    yang lelah oleh keinginan.

     

    (Lumajang, 2025)

    UTUH

    (Diyah Mahmawati)

     

    Utuh

    bukan karena hidup selalu manis

    melainkan karena aku belajar

    berterima pada setiap sajian

    yang disuguhkan waktu

    yang pahit, yang asin

    yang getir, maupun yang tak sempat kupahami.

     

    Utuh

    bukan sebab dunia selalu ramah

    melainkan karena hatiku

    tak lagi memilih-milih pengalaman

    aku bersyukur atas hadirnya apapun

    yang singgah

    yang menetap

    atau yang berlalu tanpa pamit.

     

    Di antara tarikan dan embusan napas

    Kusadari ada Kasih yang tak pernah absen

    ia mengalir tanpa suara

    menyusup ke relung paling sunyi

    mengajarkanku diam

    tanpa kehilangan makna.

     

    Tarikan napas

    adalah penerimaan

    embusan napas

    adalah pelepasan

    di sanalah aku belajar

    bahwa hidup tak perlu dilawan

    cukup disadari.

     

    Kesadaran itu

    menjadi pintu keberlimpahan

    bukan semata limpahan materi

    melainkan rasa cukup

    yang meneduhkan batin.

    Ia membuka simpul-simpul keresahan

    mengurai benang masalah

    tanpa harus ditarik dengan paksa.

     

    Ketika aku utuh,

    aku tak lagi tercerai oleh takut

    tak terbelah oleh harap berlebih

    tak terombang-ambing

    oleh ingin yang tak kunjung reda.

     

    Aku hadir sepenuhnya

    di detik ini

    di napas ini

    di kehendak-Nya yang lembut.

     

    Dan di keheningan itu

    aku mengerti:

    keutuhan bukan tujuan

    melainkan cara berjalan

    bersyukur

    dan menyatu

    dalam Kasih-Nya

    yang senantiasa memeluk

    tanpa syarat.

     

    (Lumajang, 2025)

    NERIMA KANTHI SYUKUR

    (Diyah Mahmawati)

     

    Nerima ing pandhum

    bukanlah sikap pasrah yang lemah

    melainkan kesadaran yang telah matang oleh perjalanan batin.

     

    Ia adalah laku sunyi

    di mana manusia berhenti melawan alur

    lalu belajar mendengar

    bisik Kasih Tuhan

    yang bekerja melalui segala peristiwa.

     

    Dalam ajaran Jawa

    nerima bukan berarti kalah

    melainkan tiba pada pemahaman

    bahwa hidup tak pernah salah alamat

    bahwa setiap langkah

    baik yang terang maupun yang gelap

    telah ditakar dengan kebijaksanaan

    yang melampaui nalar manusia.

     

    Di sanalah kesadaran bertumbuh

    anusia tidak lagi menimbang hidup

    dengan timbangan suka dan duka

    untung dan rugi,

    positif dan negatif

    semua diterima sebagai satu sajian utuh

    sebuah rhabineda

    yang justru menyempurnakan makna Kasih-Nya.

     

    Berterima atas keutuhan itu

    adalah bentuk syukur tertinggi

    syukur yang tidak bersyarat,

    tidak menunggu keadaan membaik

    tidak menawar takdir

    syukur yang lahir

    karena menyadari

    bahwa apa pun yang hadir

    adalah cara Tuhan

    menyentuh jiwa manusia

    agar terbangun dari kelalaiannya.

     

    Tarikan napas

    menjadi isyarat penerimaan

    hembusan napas menjadi tanda pelepasan

    i antara keduanya

    kesadaran berdiri tegak

    hening, jujur, dan utuh.

     

    Napas bukan lagi sekadar kehidupan biologis

    melainkan doa yang terus berulang

    tanpa kata.

     

    Ia mengingatkan manusia

    untuk kembali ke pusat dirinya

    ke ruang batin

    di mana kegelisahan luruh

    tanpa harus dilawan.

     

    Ketika nerima ing pandhum

    menjadi laku sehari-hari

    keberlimpahan pun terbuka

    bukan semata dalam wujud materi

    melainkan dalam rasa cukup

    ketenangan yang tak mudah goyah

    dan kejernihan melihat hidup

    sebagaimana adanya.

     

    Masalah tak lagi dipandang

    sebagai musuh

    melainkan pesan

    Ia terurai bukan karena dipaksa selesai

    melainkan karena disinari kesadaran

    dalam terang itu

    jalan pulang selalu tersedia.

     

    Begitulah nerima ing pandhum bekerja:

    mengantar manusia

    dari kegaduhan menuju hening

    dari penolakan menuju penerimaan

    dari keterpisahan menuju keutuhan.

     

    Dan di puncak hening itu

    manusia memahami satu hal sederhana

    namun abadi:

    bahwa Kasih Tuhan

    tak pernah terpisah dari hidupnya

    ia hadir utuh

    dalam setiap tarikan dan embusan napas

    menyertai

    menuntun

    dan melimpahkan makna

    bagi siapa pun

    yang bersedia menerima

    dengan sadar.

     

    (Lumajang, 2025)

    DOA
    (Diyah Mahmawati)

     

    : untuk Uda Riri Satria

     

    Hari ini

    waktu berhenti sejenak

    menyebut namamu

    sebagai penanda syukur

    atas satu jiwa

    yang terus bertumbuh

    dalam lintasan usia.

     

    Sahabatku

    usia bukan sekadar angka

    ia adalah jejak-jejak sunyi

    dari doa yang dijawab perlahan

    dari luka yang diam-diam menguatkan

    dari sabar yang menjelma kebijaksanaan.

     

    Semoga langkahmu

    makin tegap meniti jalan rezeki

    bukan hanya berlimpah

    tetapi lapang dan berkah

    sukses yang kau raih

    menjadi cahaya

    bagi keluarga yang kau cintai

    dan teduh

    bagi siapa pun yang bersua denganmu.

     

    Semoga rumahmu

    selalu dipenuhi tawa yang jujur

    doa yang saling menguatkan

    dan cinta

    yang tumbuh seiring syukur

    keluarga menjadi tempat pulang,

    bukan hanya bagi raga

    tetapi juga bagi jiwa.

     

    Dan bila kelak

    langkahmu dipanggil

    menjadi tamu-Nya,

    menyusuri tanah suci

    dengan hati yang bersih

    semoga ibadahmu

    diterima sebagai perjalanan pulang

    menjadi Haji yang mabrur

    yang tercermin dalam laku

    dan kasih yang kian luas.

     

    Sahabatku

    panjang umur bukan tentang lama

    melainkan tentang makna

    bahagia bukan tentang banyak

    melainkan tentang cukup

    dan ridho.

     

    Di hari lahirmu ini

    kutitipkan doa pada langit:

    semoga langkahmu dijaga

    hatimu ditenangkan

    dan hidupmu

    selalu berada

    dalam lingkar rahmat-Nya.

    Selamat menempuh perjalanan ke Tanah Suci

    menjadi tamu-Nya.

     

    (Lumajang, Mei 2025)

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    NEXT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture