Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada persahabatan yang tak pernah dimulai dari jabat tangan, namun tumbuh dari getar kata, dari puisi yang dibacakan dengan segenap jiwa. Diyah Mahmawati adalah sahabat seperti itu bagi saya.
Saya mengenalnya pertama kali pada tahun 2017, bukan di sebuah ruang pertemuan sastra, bukan pula di kampus atau panggung kebudayaan. Saya menemukannya secara tak sengaja di YouTube, sebuah video yang menampilkan seorang perempuan membacakan puisi saya berjudul “Duka Anak Rohingya”. Ia membacakannya dengan aksi teatrikal yang memukau, penuh rasa, seolah luka kemanusiaan itu juga luka pribadinya. Saat itu saya terdiam. Puisi yang saya tulis menemukan tubuhnya, napasnya, dan getar emosinya sendiri.
Dari situlah persahabatan kami bermula. Kami bersahabat secara daring. Diyah tinggal di Lumajang, Jawa Tiur, sementara saya di Bogor, Jawa Barat. Jarak geografis itu tak pernah benar-benar terasa, sebab kami dipertemukan oleh satu bahasa yang sama yaitu puisi. Diyah kerap mengirimkan karya-karyanya kepada saya, pelan, setia, dan penuh kejujuran batin. Puisi-puisi yang kini terkumpul itu adalah seluruh puisi yang pernah ia kirimkan kepada saya dalam rentang waktu panjang 2017 hingga 2025. Delapan tahun percakapan jiwa yang tak pernah gaduh, tapi selalu dalam.
Diyah bukan hanya penyair. Ia adalah seorang dosen dan aktivis kebudayaan di Lumajang. Ia mengajar Bahasa Inggris, namun napas hidupnya adalah sastra dan kemanusiaan. Dalam percakapan-percakapan kami, puisi sering menjadi pintu masuk menuju pembahasan yang lebih luas: penelitian humaniora, kebudayaan, filsafat Jawa, spiritualitas, bahkan keterkaitannya dengan sains dan teknologi. Diyah memiliki cara pandang yang jernih, ia tidak memusuhi modernitas, tetapi juga tidak menanggalkan akar kebudayaannya. Ia merangkul keduanya dengan kesadaran.
Kami akhirnya bertemu secara fisik dua kali di Malang, tahun 2018 dan 2019. Pertemuan itu singkat, namun hangat. Tidak banyak basa-basi. Rasanya seperti dua sahabat lama yang akhirnya memastikan bahwa yang mereka kenal selama ini benar-benar nyata. Bahwa suara di layar dan kata di pesan digital itu memang berdiam dalam tubuh manusia yang sama: sederhana, rendah hati, dan penuh cahaya tenang.
Waktu terus berjalan. Diyah terus menulis. Puisinya kian hening, kian spiritual, kian jujur. Ia menulis tentang penerimaan, napas, Tuhan, keutuhan, dan nerima ing pandhum, bukan sebagai konsep, tetapi sebagai laku hidup. Belakangan saya tahu, ia menulis sambil berjuang melawan penyakit kanker. Namun tak sekali pun puisinya menjadi ratapan. Ia justru semakin jernih, semakin pasrah, semakin penuh doa. Dan di sanalah satu momen yang paling menyentuh hati saya.
Puisi-puisi karya Diyah bagi saya bukan sekadar deretan teks yang lahir dalam rentang waktu 2017–2025, melainkan sebuah bentangan perjalanan batin yang utuh dan saling terhubung. Membacanya seperti mengikuti langkah seseorang yang berjalan perlahan, kadang tersendat, kadang berhenti untuk menarik napas, lalu melanjutkan dengan kesadaran baru. Setiap puisi terasa sebagai fragmen jiwa yang saling menyapa, dari pencarian makna, keheningan yang dipeluk dengan sengaja, relasi antarmanusia yang dihadirkan sebagai perjumpaan jiwa, hingga kepasrahan yang matang kepada Tuhan.
Saya merasakan bahwa puisi-puisi ini tidak ditulis untuk dipamerkan, melainkan untuk dijalani, ebagai catatan kontemplatif, sebagai jurnal batin, sebagai laku spiritual yang jujur.
Di dalamnya, puisi tidak diperlakukan sebagai produk bahasa, melainkan sebagai ruang jiwa. Ada bilik hening tempat kata-kata menanggalkan kesombongannya, ada ruang tafakur tempat makna tumbuh tanpa perlu diteriakkan. Tema penerimaan, nerima ing pandhum, hadir berulang, bukan sebagai sikap menyerah, tetapi sebagai kesadaran yang telah melewati perlawanan panjang.
Hidup dipahami sebagai sajian utuh, rhabineda, yang tak perlu dipilah-pilah secara reaktif. Napas menjadi simbol yang sangat kuat: tarikan sebagai penerimaan, embusan sebagai pelepasan. Membaca puisi-puisi ini, saya sering tanpa sadar ikut melambatkan napas, seolah diajak masuk ke ritme batin penulisnya, ke kesadaran yang tidak tergesa-gesa menilai, tetapi memilih menyinari.
Relasi dengan sesama, dengan sahabat, dan terutama dengan Tuhan, dihadirkan secara intim dan membumi. Tuhan tidak muncul sebagai konsep teologis yang jauh, melainkan sebagai tempat mengadu, pusat kesadaran, dan energi yang menenangkan. Simbol-simbol seperti sunyi, taman batin, langit, bintang, hitam dan biru, hingga aksara, membentuk kosmos makna yang saling menggemakan satu sama lain. Gaya bahasanya minimalis dan liris, sederhana namun berdaya hening, seperti doa yang diulang pelan agar meresap.
Sebagai pembaca dan sebagai sahabat yang mengenal penulisnya, saya merasakan bahwa kekuatan puisi-puisi ini justru terletak pada keberaniannya untuk tidak berisik. Ia tidak memaksa kita untuk terharu, tetapi mengundang kita untuk diam sejenak. Dan dalam diam itulah, saya menemukan sesuatu yang jarang, kejujuran batin yang utuh, yang bekerja pelan namun tinggal lama di dalam diri.
Puisi terakhir yang ia kirimkan kepada saya, tertanggal 14 Mei 2025, bukan tentang dirinya. Ia menulis sebuah puisi doa untuk saya. Untuk ulang tahun saya yang ke-55, serta untuk keberangkatan saya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Di saat tubuhnya melemah, ia justru menguatkan orang lain. Di saat hidupnya sendiri berada di tepi, ia memilih mendoakan perjalanan spiritual sahabatnya.
Itulah Diyah. Tanggal 25 Juli 2025, kabar duka itu datang. Diyah Mahmawati meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker. Saya membaca kabar itu dalam diam yang panjang. Ada kehilangan, tentu. Namun yang lebih kuat adalah rasa syukur bahwa saya pernah dipertemukan dengan jiwa sebersih itu, dengan sahabat yang mencintai dunia melalui kata-kata, dan mencintai Tuhan melalui keheningan.
Diyah mungkin telah pergi dari dunia yang kasat mata. Namun puisinya tetap hidup. Doanya tetap bekerja. Dan persahabatan kami yang lahir dari sebuah video YouTube sederhana, akan selalu tinggal sebagai bagian dari perjalanan batin saya.
Ada orang yang dikenang karena jasanya.
Ada yang dikenang karena ilmunya.
Diyah Mahmawati akan selalu saya kenang
karena ketulusan jiwanya.
Dan saya percaya,
puisi-puisi yang ia tulis
kini telah menemukan rumah
di keabadian.
Bogor,
dalam kenangan dan doa.
PUISI DAN JIWA
(Diyah Mahmawati)
Puisi adalah jiwa
tempat bisikan pulang
ke sunyi paling dalam
Di sana aku menanggalkan nama
dan berbicara tanpa suara
pada inti diriku sendiri
Hanya puisi dan Tuhan
memahami makna sejati jiwa
tak sanggup dipikul oleh kata
Puisi adalah bilik hening
ruang tafakur yang tak berdinding
tempat jiwa merangkai dan mengurai dirinya
tanpa tepi
tanpa ikatan
Saat kulihat engkau membaca puisiku
kurasa jiwaku menyeberang
memasuki semestamu
kita saling menjelma
menjadi makna
Di taman rahasia yang tak terpetakan
jiwa kita bersua
dalam cahaya hitam dan biru
warna malam dan kedalaman
tempat ego luruh
dan kesadaran menyala
Di sana kita melebur
dalam getar yang tak bernama
sebuah ekstase sunyi
yang mengangkat roh
melampaui kata
memasuki trance makna
meniti aksara cahaya
terbang ke langit pengertian
Sebab
di balik kata
puisi adalah jiwa
Dan jiwa
adalah anugerah
yang dititipkan Tuhan
kepada bahasa
(Lumajang, 2017)
AKSARAKAN MAKNA
(Diyah Mahmawati)
Mari kita satukan jemari
menurunkan aksara dari sunyi hati
bersama
Kita semayamkan makna
di tubuh semesta
sebagai panggilan jiwa
kepada
alam
sesama
sekitar
dan Yang Maha Ada
Kita merawat aksara
seperti doa yang berulang
hingga cakrawala
mengenali dirinya
Kita menari dalam kata
menabur kisah dunia dan riuhnya
bahkan getar semesta
barangkali ada jiwa yang tersentuh
dan kehidupan kembali menemukan wajah indahnya
Aksara pun berdiam
di ruang terdalam
lebih dahsyat dari ledakan kisah
sebab ia berjalan senyap
tepat di relung hati
Aksara adalah mula kesadaran
benih peradaban yang bernapas
menuntun pikiran melangkah
di jalan sempit bernama hidup
menebar terang
meski jejaknya tak selalu ramah
Namun aksara tetap berikhtiar
menyusup ke batin
menjadi bahagia yang sederhana
namun hakiki
Menggerakkan sendi makna
menuju
titik hakikat
hakiki
(Lumajang, 2017)
HITAM DAN BIRU
(Diyah Mahmawati)
Hitam, hitam, hitam
warna kuturunkan dari sunyi
meniti langkah
di bawah hujan takdir
Biru, biru, biru
jiwa menggenggam arah
menengadah
menuju ujung perjalanan
(Lumajang, 2017)
LANGIT TINGGI
(Diyah Mahmawati)
Kupandangi langit
menyimpan harap untuk terbang
bintang terasa jauh
terlampau tinggi
dalam cahaya
Bagaimana mungkin
aku tanpa sayap
aku hanya berdiam di sini
bersama retak-retak diri
Langkahku mencoba meraih pelangi
peluh dan air mata menjadi anak panah
segala niat
segala tujuan
Tuhanlah yang menitikkan akhir
(Surabaya, 2017)
HUMA DI ATAS BUKIT
(Diyah Mahmawati)
Inilah huma kita
bukan sekadar atap dan dinding
melainkan teduh
bagi jiwa yang lelah
Inilah ruang kita
tempat riuh dunia diluruhkan
makna dipanggil kembali
dan yang tersembunyi dalam jiwa
mengalir tanpa nama
Inilah huma kita
di punggung bukit batin
hijau oleh harap dan sabar
jauh dari dengung keramaian
dekat dengan suara asal
Di sini kita merajut makna
memupuk satu niat
menggenggam satu doa
sementara bintang
penunjuk arah pulang
tetap menyala di langit kita
(Lumajang, 2018)
MENYALAKAN LANGIT
(Diyah Mahmawati)
Mari saling menyemangati
agar nyala jiwa tetap hidup
Kita bangun gerbang
menuju takdir yang dipanggil
Kobarkan ruh
biarkan ia senantiasa menyala
hingga meledak menjadi cahaya
Dan tangan kita
mencapai bintang
di langit yang tinggi
(Lumajang, 2018)
SEKAT FAKTA
(Diyah Mahmawati)
Di ruang sunyi yang tersembunyi
aku menatap warna-warna
sebagai isyarat alam
yang dititipkan kodrat
Aku menyepi di sudut qalbu
mengusap relung diri
menyaring jejak
di titian semesta
Aroma mayapada memabukkan
pelangi menjulur ke angkasa
angan terlelap
dalam panggilan cita
Lalu aku diam
merenung, menata sikap
fakta berdiri sebagai sekat
rambu-rambu kesadaran
agar jiwa tetap waspada
(Lumajang, 2018)
BIARKAN JIWA BICARA SENDIRI
(Diyah Mahmawati)
Biarkan jiwa bicara sendiri
tanpa lilitan aksara
dalam diam
murni
Jiwa berbisik
ada yang tak sempurna
ddiksi yang tak biasa
Dan aku terperangkap
di antara diksi yang tak termaknai
(Lamajang, 2018)
BLOODY TO HIGH SKY
(Diyah Mahmawati)
I wanna be on high sky
but no wings to fly
I step on the rain bow
reaching aim, need pain and brain as arrow
Sometimes it’s slippery
push me away
down to valley
in bloody
Again
I am alone
with only hope
still l hold
(Lumajang, 2019)
PUISI INTELEKTUAL
(Diyah Mahmawati)
: untuk Riri Satria
meneliti adalah jalan senyap dan sunyi; memaksa diri merenung hingga pedih perih syaraf otak akan tumpang tindih teori; tidak hanya tumpang tindih, tetapi juga ketidakhadiran serta ketidakpahaman teori itu sendiri
tetapi setidaknya; di sini, di jalan yang sunyi ini; kita masih mampu mencipta puisi; iya
tetaplah di sini; di sela-sela benaman rumus dan teori; walaupun kita berada di lorong senyap dan sunyi; bahkan tersesat pada peliknya arti; tetaplah di sini
mengurai kusut menuju kerucut di satu sudut paparan renung terhampar
penuhi imaji; dengan merdunya lagu pedih perih; irama alam bawah sadar sedahsyat landasan teori mengaliri nadi hingga ke langkah sendi
(Lumajang, 2019)
LOVE IN SOUL
(Diyah Mahmawati)
Although I pour my soul in love
but it doesn't mean to fall in love
or to make love
Love is something glorious
Love is something universal
Love is something we feel deep inside
Love is more than falling in love
Love is more than making love
I want to fall in love in universal way
I believe not so many people understand the way
Coz paradigm and openness will lead to that way
Love is all about paradigm
Love is all about mindset
Love is all about openness
Love is all about honesty
Love is all about trust
The words of I love you
- is not the meaning of falling in love
The words of I love you
- is not meaning of a wish to make love
Throw away the narrow meanings about love
nor the degraded meaning on love
never give bad name to love
Love is spirituality
will lead us to eternity
in glorious universal infinity
I love you all guys
I love you all girls
I will love you in this way
Not an ordinary way
May be not a simple say
In spirituality way
Let's paint the world with glorious love
(Lumajang, 2019)
SUNYI
(Diyah Mahmawati)
Biarlah sekat itu
menempati ruang fitrahnya
dan aku di sini
di ruang ini
dengan segala rasa
terbungkus ruang sukma
(Lumajang, 2019)
EYES
(Diyah Mahmawati)
Your eyes grab in detail
Then you catch me
as the woman in black
now I am here with you
in our Huma
My eyes
your eyes
heart eyes
thru the eyes
you can see the soul
never lies
in you
in me
(Lumajang, 2020)
YA ROHMAN YA ROHIM
(Diyah Mahmawati)
Ya Rohman, ya Rohim
pemilik alur kahuripan
plot demi plot telah ditentukan
kulalui semua liku
atas kodratMu
Ya Rohman, ya Rohim
awal kisah pun juga akhir
tertuang dalam takdir
kujalani segala kisah
ridhoilah langkah
(Sumberejo, 2020)
AKU BISA
(Diyah Mahmawati)
Kutapaki dunia
dengan senyum yang disematkan doa
dan keyakinan tenang
sebab seberkas bahagia
telah menunggu
di garis takdir
“Ya, engkau bisa”
demikian bisik batin
kata-kata itu mengalir
sebagai energi cahaya
menyusuri sendi dan saraf sunyi
menjadi iman yang bekerja
di dalam diri
“Ya, aku yakin”
itulah peneguhan jiwa
sebuah energi dukungan tak terlihat
yang menggulung harap
menjadi daya gerak
menghimpun keberanian
hingga dunia pun bergeser
Bukan karena kuatku
melainkan karena
keyakinan diberi izin
untuk tumbuh
di dalam cahaya-Nya
(Lumajang, 2020)
CEMBURU
(Diyah Mahmawati)
Aku cemburu pada laut
Aku cemburu pada biru
Terampas buih pada airnya
Apalah daya, itulah fitrah
Biruku adalah warna alam
Sajian makna tersimpan
Pada laut menghampar
Di atas imaji khayal
(Lumajang, 2020)
KAU LAUTKU
(Diyah Mahmawati)
Tak usah cemburu
karena kau adalah laut
melukis birumu sendiri
Kau adalah laut
sedang kusibak
kuselami perlahan
Dan jika seandainya aku tenggelam
ketika menyelaminya
tidak apalah
(Lumajang, 2021)
SEJENAK (1)
(Diyah Mahmawati)
aku melihat dari kejauhan
itupun hanya sejenak
segera kuabadikan
kau pun berlalu
(Lumajang, 2021)
SEJENAK (2)
(Diyah Mahmawati)
dan senja datang
mengusik resahku
merebahkan jiwa sejenak
rereguk lega sua di ruang kita
(Lumajang, 2021)
SOULMATE
(Diyah Mahmawati)
So cool
greeting empty wall
always in cheerful smile
fill the lonely heart
far away apart
felt close
most
(Lumajang, 2022)
MERINDU SAPA
(Diyah Mahmawati)
Merasa sendiri
di tengah rutinitas hari
berbisik hati
kemana sapa pergi?
terasa hampa tiada arti
hidup tanpa kawan hati
cukup doa
dan senyum tulus menyapa
Dinding Maya
tempat kita sua
menyertai masa
bersama sahabat jiwa
aku selalu mengunjungi ruang ini
berharap selalu ada jejakmu di sini
ruang kita
berdua saja
tersembunyi
di dasar lubuk hati
Ya, hanya kita
kita saja
tak ada yang boleh tahu
karena Fujiyama 'kan lelehkan bekunya
dan Mahameru 'kan muntahkan Lavanya
(Lumajang, 2022)
BISIKAN ALAM
(Diyah Mahmawati)
Lenyaplah gundah kelam
hijau pucuk dedaunan
ampaikan pesan
uasal dan sejatinya tujuan
(Lumajang, 2022)
AIUEO
(Diyah Mahmawati)
A i u e o
Jiwaku berkelana mengejar karang
yang sejatinya diam
dan aku terbentur keras
berkeping
Namun
tetap saja kuberkelana
nyanyikan kesejatian makna jiwa
walau hampa adanya
A i u e o
(Lumajang, 2023)
DALAM TEDUH MAKNA
(Diyah Mahmawati)
Jabat tangan
menjadi ikrar sunyi
senyum menjelma doa
Kita duduk
dalam satu lingkar waktu
berteduh di bawah pohon kesabaran
tanah memeluk tubuh
dan sunyi ikut mendengar
Kita bercakap
tentang jejak kaki
dan gugurnya sehelai daun
isyarat perjalanan
dan pasrah yang pelan
Berjam-jam kita menunggu
tanpa menghitung waktu
kegelisahan disimpan
menjadi benih makna
Di sanalah estetika bersemayam
tak pada rupa
melainkan pada rasa
yang bila disulam kata
setara dengan diksi terdalam
Itulah puisi
yang hidup dalam laku
ketika rasa
lebih dahulu berbicara
(Lumajang, 2023)
NYANYIKU DIAM
(Diyah Mahmawati)
Detak jantungku pun tunduk
tatkala senyum teraduk
dalam harmoni sesibuk
entahlah rindu apa.
Jika semua terburai masa
itukah nada cinta?
Kala tahu kuiringi jemari
namamu tersimpan rapi
di rentetan kontak, juga di hati
tapi suara ini tak bisa berbunyi
karena laguku bernyanyi
mengalir dalam sendi
duhai dalam sanubari.
Sungguh aku memvisualisasi
setiap sisimu penuh hati-hati.
(Lumajang, 2023)
SURAT UNTUK TUHAN (1)
(Diyah Mahmawati – versi simbolik & spiritual)
Tuhan
telah jauh kakiku meniti jalan
dan kini kupahami
setiap jejak adalah arah pulang
menuju-Mu.
Di sepanjang waktu
jengkel, marah, kecewa
datang sebagai bayang
bantulah aku
melebur getar yang keruh
menjadi kejernihan
agar langkahku murni
menghadap cahaya-Mu.
Bimbing aku
dalam gerak yang sederhana
temani aku
di tiap denyut laku harian
ika keindahan hari
adalah bersama-Mu
seperti kelak akhir nafasku
ajarilah aku
menetap di hadirat itu.
Kuatkan aku
isi pikiranku dengan ingat
hatiku dengan tenang
nafasku dengan damai
yang bersumber dari-Mu.
Tuhan
surat ini kutulis dari ruang terdalam.
Hanya Engkau tempatku mengadu
labuhan segala hari
simpul pikiranku
tambatan hatiku
dan nyala kerjaku.
Maka kuhadapkan diriku
sepenuhnya kepada-Mu
Kupenuhi hatiku dengan nama-Mu
kuliputi pikiranku dengan cahaya-Mu
dan kuikat nafasku
pada hembusan-Mu.
(Lumajang, 2023)
SURAT UNTUK TUHAN (2)
(Diyah Mahmawati)
Tuhan
Engkau mendidikku
melalui ruang sempit
hingga aku belajar berterima
saat genggaman kulepaskan
kelapangan pun Kau bukakan.
Engkau mengajariku
melepaskan ikatan darah
aku menempuh musim sabar
dalam jarak yang panjang
ketika aku pasrah,
Engkau kembalikan
yang Kau titipkan
ke dalam pelukanku.
Engkau kembali memanggilku
untuk melepaskan sandaran hati
kini aku berjalan sendiri
mengisi pikir, rasa, dan langkah
dengan ingat kepada-Mu
dan dalam sepi itu
kudapati
hanya Engkau dan aku
yang saling menatap.
Tuhan
tuntunlah aku
penuhi pikiranku dengan cahaya-Mu,
hatiku dengan cinta-Mu
langkahku dengan ridho-Mu
Jadikan ucapanku dzikir
tulisanku doa
dan nafasku pengakuan
atas kehadiran-Mu.
Tiada yang kuinginkan
selain cinta kepada-Mu.
(Lumajang, 2023)
SURAT UNTUK TUHAN (3)
(Diyah Mahmawati)
Tuhan,
aku berdiri di ruang tak nyaman
tempat kehendakku bergetar
dan keikhlasan Kau panggil perlahan.
Ada arus kuat
yang ingin membawaku pergi
menuju tepi baru
yang belum bernama
namun Kau mengajarkanku
berdamai dengan arus
dan bersyukur pada ombak
yang tengah kupijak.
Apakah ini garis-Mu?
tanyaku pada sunyi
seperti dulu
saat pertanyaan berbuah jawaban.
Jika ini memang jalanku
kuatkan aku menerimanya
ajari aku suwung,
hingga yang tersisa
hanya tenang
dalam dekapan-Mu
Tata pikirku
agar terikat pada cahaya terindah
hingga setiap lintasan
kembali kepada-Mu
ata hatiku
agar berdenyut
dalam getar yang Kau ridhoi
Selaraskan frekuensiku
agar aku senantiasa terhubung
tanpa jarak
tanpa ragu.
Kini aku menepi
merapikan diri
di tepi rahmat-Mu
tiada daya selain energi-Mu
yang menyembuhkan
dan menyelaraskan langkah.
Hanya kepada-Mu aku bertanya
mengadu
dan menyandarkan urusan
aku yakin Kau mendengar
menjawab
dengan isyarat yang lembut.
Kau memintaku diam
menerima
bersyukur
dan berjalan
dalam kesadaran napas
selebihnya
Kau yang menata.
Maka kutitipkan resahku
kuletakkan sepenuhnya
di tangan-Mu
aku tinggal di diamku
di syukurku
menjalani hari
tanpa diguncang gelisah.
Aku telah mengadu
aku telah berserah
an aku percaya
kehendak-Mu
selalu yang terbaik
bagi jiwa yang Kau ajari
untuk pulang.
(Lumajang, 2023)
AKSARA KITA
(Diyah Mahmawati)
Jika waktuku tiba
aku ingin aksara kita
terbungkus kain sutra
(Lumajang, 2023)
CURHATAN HATI PADA HATI
(Diyah Mahmawati)
Wahai Hati
tersenyumlah
bukan oleh bibir
melainkan oleh terang di dalam dada.
Bila pahit, getir, pedih, dan sesak
datang sebagai tamu
terimalah dengan lapang
kasihilah ia
sebagaimana malam
mengasihi hujan.
Amatilah lukamu
dari jarak hening
hingga ia melebur
menjadi pelajaran
tanpa rasa
di sanalah
tenang bersemayam
dan damai menemukan rumahnya.
Wahai Hati,]
sebarlah cinta
ke segenap arah:
- kepada yang memalingkan wajah
- kepada yang menaruh benci
- kepada makhluk yang mendekat
- dan yang berakar di tanah
terlebih
kepada sahabat
dan keluarga jiwa.
Terimalah segala peristiwa
dengan senyum batin
dan syukur
berjaraklah dari gelap rasa
amati tanpa mengikat
syukuri tanpa menuntut
dan ucapkan terima kasih
kepada Yang Menggerakkan.
Maka energi Ilahi
akan meliputimu
seperti cahaya
yang tak memilih
kepada siapa ia jatuh.
(Lumajang, 2023)
TERTUTUPLAH RASA
(Diyah Mahmawati)
Tidak semua rasa dapat tercurah
tertutup atau ditutupi
adalah cara yang bijak
untuk sebuah keselarasan.
Biarlah rasa menempati ruangnya
diam menikmati keindahannya
tertutup dan diam dalam keheningan
tertutup dan diam untuk kebeningan.
Semakin diam
semakin indah merasuk sel sel darah
mengendap dalam serah jiwa
ada koridor-Nya.
Inilah pengendapan
untuk sebuah kebeningan
sejatinya rasa
sejatinya cinta.
(Lumajang, 2024)
PUISI UNTUK SAHABAT TERKASIH
(Diyah Mahmawati)
Sahabat datang
seperti nyala di musim gelap
bukan untuk mengusir malam
melainkan menunjukkan arah
agar langkah berani tetap berjalan.
Ia hadir
saat gelisah mengaburkan pandang
membukakan jalan sunyi
menuju harap yang bersinar.
Sahabat adalah tangan
yang mengusap air mata
tanpa bertanya sebab
dan suara lembut
yang berbisik:
tataplah dunia
dengan senyum,
aku bersamamu.
Dalam salah dan alpa
ia memilih memaafkan
tersenyum tanpa menghitung
membuka dada
sebagai ruang pulang.
Pelukannya
adalah doa yang hangat,
dan ucapannya sederhana:
tersenyumlah.
Maka marilah kita melangkah
menyusuri dunia
dengan senyum yang dipinjamkan cahaya
dan cinta
yang terus menghangatkan jiwa.
(Lumajang, 2024)
TAMAN YANG KUPILIH UNTUK MENUNGGU
(Diyah Mahmawati)
Seekor kupu-kupu
melintas di hadapanku
sayapnya mengandung cahaya
geraknya seperti doa
yang tak ingin digenggam.
Hatiku bergetar
ingin memilikinya
ingin memastikan keindahan itu
menjadi milikku
kubawa jaring harap
kubentangkan ambisi
kulangkahkan kaki dengan tergesa
mengejar apa yang kukira
akan memberiku bahagia.
Namun langkahku goyah
tanah menolak kesombonganku
aku terjatuh
oleh berat keinginan sendiri
sementara kau,
wahai kupu-kupu,
tetap terbang ringan
menjauh dari genggaman
yang berniat memiliki.
Di debu kejatuhan itu
aku terdiam
menyadari sesuatu
yang lama luput kupahami:
bahwa keindahan
tak pernah datang
kepada mereka
yang memaksanya tinggal.
Aku pun berhenti mengejar
kulepaskan jaring
kukumpulkan serpih kesadaran
Pelan-pelan
kubangun sebuah taman
bukan untuk memanggilmu
melainkan untuk merawat diriku
kutumbuhkan bunga kesabaran
kutanam benih syukur
kusiram tanah dengan doa
kubiarkan waktu
menjadi cahaya matahari
yang setia.
Taman itu
tak menjanjikan apa-apa
ia hanya menjadi ruang
yang jujur dan lapang
penuh warna
namun tanpa paksaan
penuh wangi
namun tanpa tuntutan.
Dan ajaibnya
ketika hatiku tak lagi mengejar
ketika tanganku tak lagi ingin menangkap
ketika aku cukup
menjadi tanah yang subur
kau datang sendiri.
Bukan hanya satu
tetapi berbondong-bondong
kupu-kupu lain pun hinggap
menyapa bunga-bunga
yang tumbuh dari keikhlasan.
Saat itu aku paham:
apa yang dititipkan Tuhan
tak pernah perlu dikejar
cukup dipantaskan
cukup dirawat
cukup disiapkan ruangnya.
Dan aku pun tersenyum
menjadi taman
yang belajar menerima
bukan pemburu
yang lelah oleh keinginan.
(Lumajang, 2025)
UTUH
(Diyah Mahmawati)
Utuh
bukan karena hidup selalu manis
melainkan karena aku belajar
berterima pada setiap sajian
yang disuguhkan waktu
yang pahit, yang asin
yang getir, maupun yang tak sempat kupahami.
Utuh
bukan sebab dunia selalu ramah
melainkan karena hatiku
tak lagi memilih-milih pengalaman
aku bersyukur atas hadirnya apapun
yang singgah
yang menetap
atau yang berlalu tanpa pamit.
Di antara tarikan dan embusan napas
Kusadari ada Kasih yang tak pernah absen
ia mengalir tanpa suara
menyusup ke relung paling sunyi
mengajarkanku diam
tanpa kehilangan makna.
Tarikan napas
adalah penerimaan
embusan napas
adalah pelepasan
di sanalah aku belajar
bahwa hidup tak perlu dilawan
cukup disadari.
Kesadaran itu
menjadi pintu keberlimpahan
bukan semata limpahan materi
melainkan rasa cukup
yang meneduhkan batin.
Ia membuka simpul-simpul keresahan
mengurai benang masalah
tanpa harus ditarik dengan paksa.
Ketika aku utuh,
aku tak lagi tercerai oleh takut
tak terbelah oleh harap berlebih
tak terombang-ambing
oleh ingin yang tak kunjung reda.
Aku hadir sepenuhnya
di detik ini
di napas ini
di kehendak-Nya yang lembut.
Dan di keheningan itu
aku mengerti:
keutuhan bukan tujuan
melainkan cara berjalan
bersyukur
dan menyatu
dalam Kasih-Nya
yang senantiasa memeluk
tanpa syarat.
(Lumajang, 2025)
NERIMA KANTHI SYUKUR
(Diyah Mahmawati)
Nerima ing pandhum
bukanlah sikap pasrah yang lemah
melainkan kesadaran yang telah matang oleh perjalanan batin.
Ia adalah laku sunyi
di mana manusia berhenti melawan alur
lalu belajar mendengar
bisik Kasih Tuhan
yang bekerja melalui segala peristiwa.
Dalam ajaran Jawa
nerima bukan berarti kalah
melainkan tiba pada pemahaman
bahwa hidup tak pernah salah alamat
bahwa setiap langkah
baik yang terang maupun yang gelap
telah ditakar dengan kebijaksanaan
yang melampaui nalar manusia.
Di sanalah kesadaran bertumbuh
anusia tidak lagi menimbang hidup
dengan timbangan suka dan duka
untung dan rugi,
positif dan negatif
semua diterima sebagai satu sajian utuh
sebuah rhabineda
yang justru menyempurnakan makna Kasih-Nya.
Berterima atas keutuhan itu
adalah bentuk syukur tertinggi
syukur yang tidak bersyarat,
tidak menunggu keadaan membaik
tidak menawar takdir
syukur yang lahir
karena menyadari
bahwa apa pun yang hadir
adalah cara Tuhan
menyentuh jiwa manusia
agar terbangun dari kelalaiannya.
Tarikan napas
menjadi isyarat penerimaan
hembusan napas menjadi tanda pelepasan
i antara keduanya
kesadaran berdiri tegak
hening, jujur, dan utuh.
Napas bukan lagi sekadar kehidupan biologis
melainkan doa yang terus berulang
tanpa kata.
Ia mengingatkan manusia
untuk kembali ke pusat dirinya
ke ruang batin
di mana kegelisahan luruh
tanpa harus dilawan.
Ketika nerima ing pandhum
menjadi laku sehari-hari
keberlimpahan pun terbuka
bukan semata dalam wujud materi
melainkan dalam rasa cukup
ketenangan yang tak mudah goyah
dan kejernihan melihat hidup
sebagaimana adanya.
Masalah tak lagi dipandang
sebagai musuh
melainkan pesan
Ia terurai bukan karena dipaksa selesai
melainkan karena disinari kesadaran
dalam terang itu
jalan pulang selalu tersedia.
Begitulah nerima ing pandhum bekerja:
mengantar manusia
dari kegaduhan menuju hening
dari penolakan menuju penerimaan
dari keterpisahan menuju keutuhan.
Dan di puncak hening itu
manusia memahami satu hal sederhana
namun abadi:
bahwa Kasih Tuhan
tak pernah terpisah dari hidupnya
ia hadir utuh
dalam setiap tarikan dan embusan napas
menyertai
menuntun
dan melimpahkan makna
bagi siapa pun
yang bersedia menerima
dengan sadar.
(Lumajang, 2025)
DOA
(Diyah Mahmawati)
: untuk Uda Riri Satria
Hari ini
waktu berhenti sejenak
menyebut namamu
sebagai penanda syukur
atas satu jiwa
yang terus bertumbuh
dalam lintasan usia.
Sahabatku
usia bukan sekadar angka
ia adalah jejak-jejak sunyi
dari doa yang dijawab perlahan
dari luka yang diam-diam menguatkan
dari sabar yang menjelma kebijaksanaan.
Semoga langkahmu
makin tegap meniti jalan rezeki
bukan hanya berlimpah
tetapi lapang dan berkah
sukses yang kau raih
menjadi cahaya
bagi keluarga yang kau cintai
dan teduh
bagi siapa pun yang bersua denganmu.
Semoga rumahmu
selalu dipenuhi tawa yang jujur
doa yang saling menguatkan
dan cinta
yang tumbuh seiring syukur
keluarga menjadi tempat pulang,
bukan hanya bagi raga
tetapi juga bagi jiwa.
Dan bila kelak
langkahmu dipanggil
menjadi tamu-Nya,
menyusuri tanah suci
dengan hati yang bersih
semoga ibadahmu
diterima sebagai perjalanan pulang
menjadi Haji yang mabrur
yang tercermin dalam laku
dan kasih yang kian luas.
Sahabatku
panjang umur bukan tentang lama
melainkan tentang makna
bahagia bukan tentang banyak
melainkan tentang cukup
dan ridho.
Di hari lahirmu ini
kutitipkan doa pada langit:
semoga langkahmu dijaga
hatimu ditenangkan
dan hidupmu
selalu berada
dalam lingkar rahmat-Nya.
Selamat menempuh perjalanan ke Tanah Suci
menjadi tamu-Nya.
(Lumajang, Mei 2025)
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]