Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria
Memasuki tahun 2026, kata yang paling sering saya dengar dari para ekonom bukanlah optimisme, melainkan kewaspadaan. Bukan karena Indonesia rapuh, tetapi justru karena dunia sedang tidak baik-baik saja. Gejolak ekonomi global sepanjang 2025 mulai dari ketegangan dagang, dampak resiprokal tarif, hingga arah kebijakan moneter negara-negara besar telah meninggalkan riak panjang yang belum sepenuhnya reda. Indonesia berdiri di tengah arus itu, berusaha tetap tegak, meski kadang terasa limbung.
Secara makro, kita patut bersyukur. Stabilitas ekonomi nasional kita relatif terjaga. Pemerintah bergerak dengan kebijakan yang responsif dan kolaboratif yaitu menjaga konsumsi rumah tangga, memastikan dunia usaha tetap bernapas, dan merawat iklim investasi agar tidak layu sebelum berkembang. Angka-angka resmi memberi harapan di mana pertumbuhan ekonomi 2026 diproyeksikan tetap berada di sekitar 5 persen, bahkan sebagian kajian memperkirakan di kisaran 5,1–5,4 persen. Ini bukan kabar buruk, terutama di tengah pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan berada di bawah 3 persen.
Namun sebagai manusia yang hidup di balik statistik, saya tak bisa sepenuhnya tenang membaca angka-angka itu. Sebab di balik proyeksi, ada catatan kaki yang sunyi yaitu gejala perlambatan. Bright Institute mengingatkan bahwa perekonomian nasional berisiko kehilangan daya dorong, terjepit oleh tekanan global dan keterbatasan ruang kebijakan domestik.
CORE Indonesia bahkan lebih berhati-hati, memperkirakan pertumbuhan 2026 hanya di kisaran 4,9–5,1 persen. Artinya, meski 2026 dipandang lebih baik dari 2025, laju itu belum cukup untuk mengejar target ambisius pemerintah dalam UU APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Di sisi lain, ada secercah harapan dari investasi. Trimegah Sekuritas memperkirakan pertumbuhan investasi 2026 bisa mencapai 5,13 persen, meningkat dari sekitar 4,81 persen pada 2025. Bagi saya, ini seperti api kecil di tengah angin. Investasi adalah janji masa depan tentang lapangan kerja, tentang produktivitas, tentang keberanian pelaku usaha untuk percaya bahwa esok masih layak diperjuangkan.
Namun api itu juga terancam oleh arah angin nilai tukar. Rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan, bergerak ke kisaran Rp16.784 per dolar AS secara rata-rata tahunan, bahkan ada kekhawatiran menembus Rp17.234 per dolar jika pasar merespons kebijakan moneter yang dianggap terlalu longgar. Angka ini mungkin terdengar teknis, tetapi dampaknya terasa sangat manusiawi yaitu harga impor, biaya produksi, dan akhirnya daya beli masyarakat.
Pemerintah menyadari tantangan ini dan memilih jalan fiskal yang lebih ekspansif. Defisit APBN 2026 dinaikkan menjadi Rp689,1 triliun atau 2,68 persen PDB. Sebuah keputusan berani atau berisiko, tergantung dari mana kita memandang. Bagi saya, kebijakan ini seperti menarik napas panjang sebelum menyelam lebih dalam: perlu, tetapi tak bisa dilakukan sembarangan. Defisit bukan sekadar angka, melainkan utang ke masa depan yang harus dibayar dengan pertumbuhan yang benar-benar bermakna.
Di titik inilah saya merasa 2026 bukan sekadar soal menjaga pertumbuhan di angka 5 persen. Tantangan sejatinya adalah memastikan pertumbuhan itu berkualitas, produktif, dan berkelanjutan. Pertumbuhan yang menciptakan nilai tambah, bukan sekadar konsumsi sesaat. Pertumbuhan yang memberi ruang bagi inovasi, pendidikan, dan ketahanan sosial, bukan hanya menumpuk angka PDB.
Sebagai warga yang hidup di antara laporan ekonomi dan realitas sehari-hari, saya belajar satu hal yaitu bahwa ekonomi bukan hanya grafik naik-turun, tetapi juga cerita tentang harapan dan kecemasan kolektif. Tahun 2026 mungkin tidak akan menjadi tahun yang spektakuler. Tetapi jika dikelola dengan kehati-hatian, keberanian, dan empati, ia bisa menjadi tahun konsolidasi yaitu tahun ketika Indonesia tidak sekadar bertahan di tengah badai global, tetapi menata layar untuk pelayaran yang lebih panjang dan lebih bermakna.
Tahun 2026 datang tidak dengan gegap gempita, melainkan dengan langkah yang hati-hati. Angka-angka pertumbuhan ekonomi masih berdiri di sekitar 5 persen dan itu cukup untuk bertahan, namun belum cukup untuk membuat kita benar-benar merasa aman. Nilai tukar rupiah masih gelisah, ruang fiskal kian sempit, dan dunia global tak sepenuhnya ramah.
Dalam situasi seperti ini, saya sering bertanya pada diri sendiri, ke mana arah kebudayaan kita melangkah ketika ekonomi mengetat?
Pengalaman mengajarkan bahwa setiap kali ekonomi melambat, kebudayaan sering kali menjadi yang pertama “dikorbankan”. Anggaran dipangkas, kegiatan seni dipersempit, dan kerja-kerja kebudayaan dipandang sebagai pelengkap, bukan kebutuhan. Namun justru di titik itulah saya menyadari satu hal penting bahwa kebudayaan tidak pernah benar-benar mati karena ekonomi. Ia hanya berubah cara bernapas.
Di tahun 2026, saya membayangkan kebudayaan Indonesia tidak lagi tampil dalam wajah perayaan besar yang gemerlap. Ia hadir lebih senyap, lebih intim, dan lebih jujur. Di ruang-ruang kecil komunitas, di diskusi sederhana, di puisi yang dibaca lirih, dan di musik yang lahir dari kamar-kamar sempit. Ketika daya beli melemah dan kecemasan ekonomi meningkat, ekspresi budaya pun bergerak dari perayaan menuju perenungan.
Tekanan ekonomi juga mengubah cara kita mengonsumsi budaya. Kita menjadi lebih selektif, lebih hemat, dan lebih mencari makna. Platform digital menjadi rumah baru bagi banyak karya, bukan karena idealisme, tetapi karena kebutuhan. Di sana, kebudayaan diuji, apakah ia hanya akan mengejar algoritma, atau tetap menjaga kedalaman. Sebagai penikmat dan pelaku budaya, kegelisahan ini terasa personal. Ada kecemasan bahwa kualitas bisa tergerus, tetapi juga harapan bahwa jangkauan makna justru meluas.
Namun di balik semua keterbatasan itu, saya melihat kebudayaan memainkan peran yang sering luput dari perhitungan ekonomi yaitu menjadi penyangga batin kolektif. Ketika harga-harga naik, ketika masa depan terasa tak pasti, kebudayaan menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh kebijakan fiskal yaitu rasa dipahami. Lagu, puisi, cerita, dan tradisi memberi bahasa bagi kegelisahan yang tak selalu bisa diucapkan dengan data.
Tahun 2026 mungkin bukan tahun kemewahan, tetapi bisa menjadi tahun kejujuran. Kebudayaan belajar berdiri tanpa banyak sandaran, bertumpu pada solidaritas, komunitas, dan ingatan bersama. Ia mengingatkan kita bahwa pertumbuhan bukan sekadar soal angka, tetapi tentang menjaga martabat, makna, dan keberlanjutan hidup bersama.
Ketika ekonomi tidak runtuh tetapi juga tidak sepenuhnya ramah, seperti yang kita hadapi menjelang dan sepanjang 2026, tantangan terbesarnya sering kali bukan pada angka pertumbuhan, melainkan pada cara kita bersikap sebagai manusia. Dalam situasi yang serba tanggung di mana harga-harga terasa naik, masa depan terasa samar, sementara tuntutan hidup terus berjalan, maka perilaku kolektif masyarakat menjadi penentu apakah kita sekadar bertahan, atau justru tumbuh dengan lebih dewasa.
Saya belajar bahwa pada masa seperti ini, hal pertama yang perlu dikembangkan adalah ketenangan batin. Panik adalah musuh tersembunyi ekonomi. Ketika kecemasan menguasai, kita cenderung bereaksi berlebihan: menimbun, konsumtif demi pelarian, atau menyebarkan ketakutan. Padahal, ekonomi yang melambat justru menuntut kejernihan berpikir. Tenang bukan berarti pasrah, melainkan sadar bahwa setiap keputusan kecil seperi belanja, menabung, berutang, justru memiliki konsekuensi jangka panjang.
Perilaku kedua yang semakin penting adalah hidup secukupnya. Tahun-tahun pertumbuhan yang tidak spektakuler mengajarkan ulang nilai kesederhanaan. Bukan kemiskinan yang dipuja, tetapi kecukupan yang disadari. Saya merasakan sendiri bagaimana menahan keinginan, membedakan antara kebutuhan dan hasrat, memberi ruang bernapas bagi keuangan pribadi. Jika kesadaran ini tumbuh secara kolektif, daya tahan ekonomi masyarakat akan jauh lebih kuat dibanding sekadar mengejar gaya hidup.
Di saat yang sama, kita perlu menumbuhkan etos belajar dan beradaptasi. Dunia kerja dan usaha di tengah tekanan global menuntut keterampilan baru, cara baru, dan keberanian untuk berubah. Tidak semua perubahan nyaman, tetapi stagnasi jauh lebih berbahaya. Belajar ulang, meningkatkan kapasitas diri, dan membuka diri pada teknologi bukan lagi pilihan elitis, melainkan kebutuhan bertahan hidup. Saya percaya, investasi terbaik di masa ekonomi sulit bukanlah spekulasi, melainkan pengetahuan.
Namun ekonomi bukan hanya urusan individu. Karena itu, perilaku yang tak kalah penting adalah solidaritas sosial. Dalam kondisi normal, kita mungkin cukup sibuk dengan urusan masing-masing. Tetapi ketika tekanan meningkat, empati menjadi modal sosial yang tak tergantikan. Saling menguatkan, berbagi informasi yang sehat, mendukung usaha kecil di sekitar kita, di maa semua itu adalah bentuk kebijakan mikro yang dilakukan oleh warga biasa. Saya sering merasa, di titik inilah kemanusiaan diuji: apakah kita menjadi semakin individualistik, atau justru saling menopang.
Perilaku lain yang perlu dirawat adalah kepercayaan pada proses jangka panjang. Ekonomi 2026 menuntut kesabaran. Tidak semua hasil bisa dipetik cepat. Menabung perlahan, membangun usaha kecil dengan konsisten, dan merawat reputasi kerja menjadi lebih penting daripada mencari keuntungan instan. Di tengah godaan jalan pintas, kesetiaan pada proses adalah bentuk keberanian yang sunyi.
Akhirnya, saya menyadari bahwa menghadapi ekonomi yang menantang bukan soal menjadi manusia yang keras, melainkan menjadi manusia yang lebih bijaksana. Lebih tenang, lebih sadar, lebih peduli, dan lebih siap belajar. Jika perilaku-perilaku ini tumbuh di tengah masyarakat, maka meskipun pertumbuhan ekonomi tidak melonjak tinggi, kualitas hidup dan ketahanan sosial kita justru bisa menjadi jauh lebih kuat.
Tahun 2026 mungkin bukan tentang berlari kencang. Ia adalah tentang melangkah mantap, bersama-sama, dengan hati yang tetap utuh.Pada akhirnya, saya percaya ketika ekonomi mengetat, justru kebudayaanlah yang mengajarkan kita untuk bernapas lebih dalam, agar bangsa ini tidak sekadar bertahan hidup, tetapi tetap merasa hidup.
*Dirangkum dari berbagai sumber, diolah ulang oleh penulis.
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi, bisnis, dan teknologi; dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia; Komisaris Utama BUMN ILCS Pelindo Solusi Digital; serta seorang penyair, aktivis sastra dan kebudayaan.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera