Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
PojokTIM — Menggali kembali memori kelam masa revolusi melalui sastra menjadi sajian utama pada hari kedua forum kebudayaan Bertemu di Cikini. Memasuki sesi kedua yang berlangsung di Aula Akademi Jakarta, Lantai 13 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (26/9/2026), diskusi berfokus membedah novel Winarta karya sastrawan eksil Basuki Gunawan. Mengangkat tema besar “Revolusi dan Dendam”, diskusi ini mengupas sisi gelap serta absurditas manusia di tengah gejolak sejarah dekolonisasi Indonesia.
Diskusikan yang dipandu oleh moderator Nunung El Niel dari Jagat Sastra Milenia ini menghadirkan dua pembahas utama yakni akademisi Dewi Anggraeni dan penerbit serta pendiri Penerbit Marjin Kiri, Ronny Agustinus.
Dalam pemaparannya, Dewi Anggraeni soroti bagaimana novel Winarta berhasil menangkap absurditas kehidupan manusia di tengah situasi yang tak terduga. Kisah berpusat pada tokoh Winarta, seorang mahasiswa kedokteran yang mendapati orang tuanya terbunuh saat ia pulang ke kampung halaman, hingga memicu dorongan dendam dan pencarian makna yang tidak pernah tuntas.
Dewi menyepadankan novel ini dengan karya klasik modernis L’Étranger (Orang Asing) karya Albert Camus. “Selesai membaca, saya langsung teringat novel Camus tentang absurditas kehidupan. Winarta menghadirkan tokoh yang tindakan dan emosinya tidak selalu sinkron dengan logika linier atau idealisme muluk,” ujar Dewi.
Ia juga memuji keberanian penulis yang menggunakan gaya bahasa sangat efisien dan langsung (direct). Menurutnya, gaya penulisan efisien ini menjadi ciri khas sastra pasca-perang, ketika manusia tidak lagi memiliki ruang untuk berpikir secara permanen di tengah ketidakpastian. Tokoh Winarta bahkan sejak sebelum konflik telah memperlihatkan kepribadian pragmatis—ingin menjadi dokter bukan semata demi pengabdian, melainkan demi status sosial dan kekayaan.
“Ini memberikan angin segar di tengah karya sastra kita yang sering kali terlalu sibuk pada plot adegan tanpa mengupas kedalaman emosi dan absurditas respons manusia terhadap luar dirinya,” tambah Dewi.
Sementara itu, Ronny Agustinus membedah novel Winarta dari sudut pandang sejarah tebitan dan historiografi dekolonisasi Indonesia-Belanda. Penulisnya, Basuki Gunawan (lahir 1929), berangkat ke Belanda pada tahun 1950-an untuk melanjutkan studi dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Novel Winarta sempat memenangkan penghargaan sastra di Belanda pada masa itu dan dijanjikan terbit sebagai buku, namun terlupakan selama puluhan tahun hingga akhirnya berhasil diterbitkan oleh Marjin Kiri pada 2022.
Ronny menjelaskan konteks historis mengapa karya ini sempat terkubur pada era 1950-an. Pada masa pasca-pengakuan kedaulatan 1949, pemerintah Indonesia maupun Belanda cenderung memilih untuk segera melupakan kejamnya peristiwa sepanjang 1945–1949 demi menjalin hubungan diplomasi dan ekonomi yang baru.
“Masa-masa 1945 hingga 1949 adalah periode yang sangat chaos dan brutal dari kedua belah pihak. Kejelekan dan kekejaman tidak hanya datang dari agresi militer Belanda, tetapi juga dari aksi-aksi balasan pihak Indonesia yang tidak kalah brutalnya,” ungkap Ronny.
Ia menegaskan bahwa novel Winarta menjadi penting karena memotret realitas historis yang jujur tanpa dibungkus romantisme nasionalisme tunggal. Dalam historiografi mainstream Indonesia, para pemuda pejuang kerap digambarkan melangkah semata-mata didorong oleh gelora patriotisme. Namun, Winarta merekam bahwa di balik narasi agung revolusi, terdapat kompleksitas dendam pribadi, kekerasan dua arah, trauma, dan kekacauan moral yang nyata.
Melalui diskusi hari kedua ini, novel Winarta terbukti bukan sekadar dokumen literatur masa lalu, melainkan medium kritis untuk membaca kembali sejarah revolusi secara jujur, objektif, dan manusiawi.
Masa Bersiap
Dari paparan Ronny, diskusi akhirnya melebar pada ungkapan “Bersiap” yang terjadi di awal kemerdekaan Indonesia. Isu ini menyentuh salah satu isu paling sensitif dalam historiografi Indonesia dan Belanda.
Istilah “Bersiap” merujuk pada periode kekacauan dan kekerasan pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia (sekitar Agustus 1945 hingga 1947), ketika kelompok-kelompok pemuda pejuang menggunakan seruan “Siap!” atau “Bersiap!” sebagai lambang mobilisasi massa. Dalam gejolak politik dan kekosongan kekuasaan (power vacuum) pasca-kekalahan Jepang, aksi-aksi kekerasan, pembantaian, serta penjarahan menyasar kelompok yang dianggap sebagai simbol kolonialisme atau pengkhianat revolusi—termasuk warga Indo-Belanda, keturunan Tionghoa, masyarakat Ambon, Timor, serta bangsawan feodal lokal.
Isu ini sempat menjadi kontroversi panas di tingkat internasional pada awal tahun 2022, saat Rijksmuseum di Amsterdam menggelar pameran sejarah bertajuk Revolusi! Indonesië Onafhankelijk. Jelang pembukaan pameran, kurator tamu asal Indonesia, Bonnie Triyana, menulis opini di media Belanda NRC Handelsblad yang mengusulkan agar istilah “Bersiap” tidak digunakan dalam pameran tersebut.
Bonnie berargumen bahwa penggunaan istilah “Bersiap” kerap dipolitisasi dan mengandung stigma rasial, seolah-olah menggambarkan bangsa Indonesia pada masa itu secara kolektif berwatak rasis dan barbar. Menurut pandangan historis yang progresif, kekerasan yang terjadi pada periode tersebut bukanlah motif rasial tunggal, melainkan dampak dari kekosongan hukum, trauma penindasan kolonial berabad-abad, serta kepanikan massal akibat ancaman kembalinya tentara Sekutu dan NICA (Belanda).
Namun, usulan tersebut memicu gelombang protes keras dari federasi organisasi warga Indo-Belanda (Federatie Indische Nederlanders/FIN) di Belanda. Bagi komunitas korban, penyebutan “Bersiap” adalah bentuk pengakuan atas trauma, penderitaan, dan hilangnya ribuan nyawa sanak keluarga mereka selama periode kekacauan tersebut. Laporan pidana bahkan sempat dilayangkan kepada pihak kurator, meski akhirnya kepolisian Belanda memutuskan untuk tidak melanjutkan gugatan tersebut.
Di ruang diskusi Bertemu di Cikini, kembalinya wacana “Bersiap” melalui pembedahan novel Winarta menegaskan peran penting karya sastra. Berbeda dengan narasi sejarah resmi negara yang sering kali memoles masa revolusi hanya dengan patriotisme tunggal, sastra seperti Winarta hadir secara jujur dan berani memotret bahwa perang dekolonisasi meninggalkan luka gelap di kedua belah pihak.
Melalui sudut pandang kemanusiaan, pemahaman atas periode “Bersiap” tidak dimaksudkan untuk meniadakan legitimasi perjuangan kemerdekaan Indonesia, melainkan untuk melihat sejarah secara utuh—bahwa di dalam gelora revolusi, terdapat tragedi kemanusiaan dan korban jiwa yang semestinya dibaca dengan empati serta kedewasaan berpikir oleh kedua bangsa.
“Di era internet, tidak ada peristiwa di masa lalu yang bisa ditutupi lagi. Jadi tidak perlu negara atau suatu kelompok sibuk menutupi,” ujar Anggraeni menjawab penanya.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]