Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Oleh Riri Satria
Kira-kira beberapa minggu yang lalu, dalam salah satu perjalanan saya kembali ke Bali, saya menyempatkan diri mengunjungi lagi Museum Antonio Blanco di Ubud. Sebenarnya ini bukan kunjungan pertama. Sudah beberapa kali saya datang ke tempat ini dalam perjalanan-perjalanan saya ke Bali sebelumnya.
Namun, setiap kali kembali, selalu ada sesuatu yang terasa berbeda. Mungkin karena sebuah tempat tidak pernah benar-benar sama ketika kita yang datang kepadanya sudah berubah. Bangunan boleh tetap berdiri, lukisan-lukisan mungkin masih berada di tempatnya, taman dan pepohonan mungkin masih menyambut dengan suasana yang sama, tetapi orang yang datang membawa ingatan yang berbeda. Kali ini saya datang bukan hanya sebagai pengunjung museum. Saya datang sebagai seseorang yang memiliki sepotong kenangan pribadi yang sangat kuat dengan tempat ini.
Museum yang dikenal sebagai The Blanco Renaissance Museum pada dasarnya adalah rumah, studio, sekaligus dunia artistik Antonio Blanco yang kemudian diwariskan menjadi museum. Blanco, pelukis kelahiran Manila berdarah Spanyol, datang ke Bali pada 1952 dan kemudian memilih Ubud sebagai rumah kreatifnya.
Di kawasan Campuhan itulah ia membangun kehidupannya, berkarya, berkeluarga, dan mengembangkan gagasan tentang museum yang kelak menjadi tempat untuk menjaga warisan seninya. Museum ini mempertemukan unsur arsitektur Bali dan Spanyol, sebagaimana kehidupan Blanco sendiri yang merupakan perjumpaan antara latar belakang Eropa dan kebudayaan Bali.
Memasuki Museum Blanco, saya selalu merasa seperti memasuki ruang batin seorang seniman. Museum ini tidak terasa seperti gedung yang sengaja dibuat untuk menampung karya seni, melainkan seperti tempat di mana karya-karya itu memang lahir.
Ada lukisan, sketsa, litografi, kolase, ilustrasi puisi, juga berbagai benda yang berkaitan dengan kehidupan Blanco sebagai seniman. Bahkan studio tempat ia bekerja menjadi bagian dari pengalaman museum.
Karena itulah daya tarik museum ini bukan hanya terletak pada lukisannya, tetapi pada suasana yang membuat kita seolah-olah sedang mencoba memahami bagaimana seorang seniman melihat dunia.
Antonio Blanco memang memiliki hubungan yang sangat khas dengan Bali. Ia bukan sekadar datang untuk melukiskan Bali sebagai objek eksotis bagi mata orang Barat. Ia menetap, menikah dengan perempuan Bali bernama Ni Rondji, membangun rumah dan keluarganya, serta menjadikan Bali bagian dari perjalanan hidupnya.
Bahkan arsitektur museum kemudian menjadi semacam simbol pertemuan dua kebudayaan itu. Pemerintah melalui data permuseuman nasional mencatat bahwa Blanco meletakkan batu pertama museum pada 1998, tetapi ia tidak sempat menyaksikan museum itu diresmikan karena meninggal pada 1999.
Tetapi, bagi saya, semua sejarah itu masih memiliki lapisan lain. Museum Blanco menyimpan sebuah kenangan pribadi dalam perjalanan kepenyairan saya. Di tempat inilah, tepatnya di Cafe Ni Ronji, sebuah ruang yang berada di lingkungan Museum Blanco, buku puisi saya "Winter in Paris" diluncurkan pada rangkaian Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2019. Festival tersebut berlangsung pada 23–27 Oktober 2019 dan mempertemukan lebih dari 150 penulis, seniman, aktivis, dan pelaku budaya dari lebih dari 30 negara.
Karena itu, ketika beberapa minggu lalu saya kembali menginjakkan kaki di kompleks Museum Blanco, yang muncul bukan hanya kekaguman kepada karya Antonio Blanco. Ada semacam gema masa lalu yang tiba-tiba hadir kembali. Saya seperti kembali kepada sebuah sore beberapa tahun silam, ketika buku Winter in Paris diperkenalkan kepada publik di tempat ini. Ada buku, ada puisi, ada percakapan, ada orang-orang yang datang, dan ada suasana Ubud yang selalu mempunyai kemampuan aneh untuk membuat sastra terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saya kemudian berpikir, mungkin inilah salah satu kekuatan sebuah tempat kebudayaan, ia menyimpan lebih dari sekadar benda. Ia menyimpan peristiwa. Sebuah lukisan menyimpan sapuan kuas seorang pelukis. Sebuah buku menyimpan kata-kata seorang penyair. Tetapi sebuah ruang menyimpan perjumpaan antara manusia, karya, waktu, dan ingatan. Ketika kita kembali ke sana bertahun-tahun kemudian, yang kita temui bukan lagi sekadar ruang fisik. Kita menemukan diri kita sendiri yang pernah berada di sana.
Dan mungkin karena itulah Museum Blanco terasa istimewa bagi saya. Ada sesuatu yang menarik dari kenyataan bahwa seorang pelukis dan seorang penyair yang berbeda generasi dapat bertemu secara simbolik di sebuah ruang yang sama. Antonio Blanco menjadikan Bali sebagai kanvas kehidupannya. Saya, dalam perjalanan saya sebagai penyair, pernah membawa Winter in Paris ke ruang yang sama. Blanco melukiskan apa yang dilihat dan dirasakannya; saya mencoba mengabadikan pengalaman manusia melalui kata-kata. Medium kami berbeda, tetapi ada satu persamaan yang mendasar, keduanya berusaha menangkap sesuatu yang sebenarnya tidak mudah ditangkap, yaitu perasaan.
Barangkali itulah sebabnya saya tidak pernah melihat Museum Blanco hanya sebagai museum. Ia adalah ruang perjumpaan antara seni, kehidupan dan ingatan.
Saya menyadari bahwa karya seni tidak selalu selesai ketika lukisan dipajang atau ketika sebuah buku diterbitkan. Karya seni terus hidup melalui orang-orang yang melihatnya, membacanya, membicarakannya, mengingatnya, bahkan melalui tempat-tempat di mana karya itu pernah diperkenalkan kepada publik.
Museum Blanco sendiri adalah contoh yang menarik. Ia lahir dari perjalanan seorang manusia yang datang dari luar Bali, kemudian berakar begitu dalam di Bali. Hari ini, karya dan kehidupannya menjadi bagian dari sejarah seni Ubud. Museum tersebut bahkan terus menjadi ruang bagi peristiwa seni dan sastra. Pada UWRF 2019, misalnya, kawasan Blanco Museum kembali menjadi salah satu tempat berlangsungnya pertunjukan puisi dan musik.
Maka ketika saya berdiri kembali di sana beberapa minggu lalu, saya merasa sedang melihat dua masa sekaligus. Di satu sisi ada Antonio Blanco, dengan lukisan-lukisannya, dengan kehidupan dan obsesinya terhadap seni. Di sisi lain ada diri saya sendiri beberapa tahun lalu, ketika Winter in Paris diluncurkan di Cafe Nironji.
Waktu ternyata tidak benar-benar menghapus kenangan. Ia hanya membuat kenangan menjadi lebih dalam.
Saya pun pulang dengan kesadaran sederhana: barangkali yang membuat sebuah tempat menjadi istimewa bukan hanya apa yang ada di dalamnya, tetapi apa yang pernah terjadi pada diri kita ketika berada di sana.
Museum Antonio Blanco menyimpan karya-karya sang maestro. Tetapi bagi saya, ia juga menyimpan sesuatu yang tidak tercatat dalam katalog museum: sebuah bagian kecil dari perjalanan hidup saya sebagai penyair.
Dan setiap kali saya kembali ke Ubud, mungkin itulah sebabnya saya selalu ingin kembali melihat museum ini. Bukan semata-mata untuk melihat Antonio Blanco. Tetapi juga untuk bertemu kembali dengan diri saya sendiri yang pernah berada di sana.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
RILISID, nasional — Oleh Riri Satria Ada masa ketika ekonomi dibicarakan lewat pasar, pabrik, dan pelabuhan. Kini ia bergerak lewat sinyal, server, dan layar kecil di genggaman tangan. Inilah era ekonomi digital. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Bain & Company memperkirakan bahwa pada 2026 nilai ekonomi digital Indonesia akan melampaui USD 130 miliar dan ini yang […]
Tulisan ini saya buat ketika sedang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bukan di ruang kerja, bukan pula di kafe yang sunyi, melainkan di sebuah ruangan rapat sambil menunggu rapat dimulai. Saya berada di bandara ini bukan untuk terbang ke mana pun. Saya diundang menghadiri sebuah pertemuan atau rapat oleh pihak InJourney. Dalam perjalanan menuju ruang […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]