Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Judul: Bom Waktu: 100 Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangan
Penulis: Riri Satria
Penerbit: Taresia
Tebal: 126 halaman
Cetakan: Pertama, Mei 2026
ISBN: 978-634-7496-12-6
Wartatrans.com, JAKARTA — Di tengah euforia kemajuan teknologi yang terus melesat, pertanyaan mendasar tentang keadilan sosial sering kali tenggelam dalam hiruk-pikuk peradaban modern. Pertanyaan itulah yang menjadi denyut utama dalam buku Bom Waktu, kumpulan 100 puisi karya Riri Satria yang terbit pada Mei 2026.
Melalui seratus puisi yang tersusun dalam buku ini, Riri Satria mengajak pembaca menelusuri sisi lain dari kemajuan zaman. Ia tidak menolak perkembangan teknologi, ekonomi, maupun ilmu pengetahuan, tetapi mengajak melihat secara lebih jernih kenyataan bahwa kemajuan tersebut belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh manusia.
Sebagaimana disampaikan dalam pengantar buku, kumpulan puisi ini lahir dari kegelisahan penulis ketika menyaksikan dunia bergerak semakin cepat. Internet memperluas akses informasi, kota-kota tumbuh menjulang, kecerdasan digital berkembang pesat, dan ekonomi terhubung dalam jaringan global. Namun di balik semua itu, masih terdapat jurang ketimpangan yang belum berhasil dijembatani.
Tema tersebut tampak jelas dalam puisi berjudul Perpustakaan Tanpa Dinding. Riri menggambarkan internet sebagai perpustakaan terbesar umat manusia yang menyimpan pengetahuan tanpa batas. Namun ia segera mengingatkan bahwa akses terhadap pengetahuan tidak selalu dimiliki semua orang. Melalui larik-larik sederhana, penulis menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tetap menyisakan persoalan klasik berupa kesenjangan akses.
Kesederhanaan menjadi salah satu kekuatan utama buku ini. Riri tidak menggunakan bahasa yang rumit atau metafora yang berlapis-lapis. Sebaliknya, ia memilih menyampaikan gagasannya secara lugas sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan pembaca. Pilihan ini membuat tema-tema yang sebenarnya cukup kompleks, seperti digitalisasi, ekonomi global, kecerdasan buatan, dan perubahan budaya, menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kritik sosial yang kuat juga hadir dalam puisi Pasar yang Lupa Doa. Di sana, istilah-istilah ekonomi seperti inflasi, spekulasi, dan likuiditas digambarkan sebagai kata-kata yang terdengar elegan, tetapi sering membuat manusia lupa bahwa di balik angka-angka dan grafik terdapat kehidupan nyata yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Melalui puisi ini, Riri mempertanyakan apakah kesejahteraan benar-benar dapat diukur hanya dengan pertumbuhan ekonomi.
Kegelisahan yang sama kembali muncul dalam puisi Warisan Zaman. Penulis menyoroti kenyataan bahwa setiap generasi memang mewarisi berbagai kemajuan dari generasi sebelumnya, tetapi juga menerima warisan ketimpangan yang belum terselesaikan. Pertanyaan pada akhir puisi tentang apakah kemajuan cukup berarti untuk mengakhiri ketidakadilan menjadi refleksi yang terus membekas setelah buku ditutup.
Keunggulan lain dari Bom Waktu adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman reflektif secara konsisten. Setiap puisi seperti lampu kecil yang menerangi satu sudut peradaban. Ada yang membahas teknologi, ada yang berbicara tentang ekonomi, ada pula yang menyoroti perubahan budaya dan kesenjangan sosial. Ketika dibaca secara keseluruhan, puisi-puisi tersebut membentuk mozaik besar tentang wajah dunia modern, dengan segala keberhasilan sekaligus problematikanya.
Meski demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Pembaca yang menyukai puisi dengan eksplorasi metafora yang kompleks atau permainan bahasa yang lebih eksperimental mungkin akan merasa sebagian puisi terlalu naratif. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Kesederhanaan bahasa membuat pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis lebih mudah diterima dan direnungkan oleh pembaca yang lebih luas.
Pada akhirnya, Bom Waktu menawarkan pemahaman bahwa kemajuan peradaban tidak semata-mata diukur dari kecanggihan teknologi atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sejati juga ditentukan oleh sejauh mana manusia mampu menghadirkan keadilan, pemerataan kesempatan, dan akses yang setara bagi semua orang.
Melalui seratus puisi yang reflektif dan relevan, Riri Satria mengingatkan bahwa gedung-gedung tinggi, jaringan internet cepat, dan kecerdasan buatan tidak otomatis menghapus ketimpangan yang telah lama mengakar. Kemajuan baru memiliki makna ketika seluruh manusia dapat bergerak maju bersama.
Karena itu, Bom Waktu: 100 Puisi tentang Perkembangan Peradaban dan Ketimpangan layak dibaca oleh penikmat sastra, mahasiswa, akademisi, aktivis sosial, maupun siapa saja yang ingin memahami wajah peradaban modern dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan cermin yang mengajak pembacanya mempertanyakan kembali makna kemajuan yang sesungguhnya.***
Penulis Resensi :
Khairani Piliang merupakan penulis yang aktif dalam dunia sastra Indonesia, khususnya di bidang cerpen dan puisi. Ia adalah penulis buku kumpulan cerpen Suatu Pagi di Dermaga (2017) dan buku kumpulan puisi Seduh Sedih yang Bertasbih (2025). Selain itu, ia telah berkontribusi dalam lebih dari 50 buku antologi bersama, baik cerpen maupun puisi.
Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring nasional, menunjukkan konsistensi berkarya serta kontribusinya dalam perkembangan sastra kontemporer Indonesia. Selain menulis, Khairani juga aktif dalam berbagai kegiatan literasi dan kerap dipercaya menjadi juri dalam sejumlah lomba kepenulisan.
Prestasinya antara lain sebagai pemenang lomba penulisan kreatif buku yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dan Dapur Sastra Jakarta. Melalui karya dan aktivitas literasinya, ia terus berupaya membangun ekosistem sastra yang inklusif dan berdaya, menjadikan sastra sebagai ruang bertumbuh dan berbagi gagasan bersama.*
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]