Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • TENTANG MEMBACA

    17 Jun 2026 | Dilihat: 28 kali

    oleh:  Riri Satria

    Banyak orang mengira membaca adalah kegiatan yang sederhana. Kita membuka buku, membaca kalimat demi kalimat, lalu memperoleh pengetahuan baru. Apakah selesai? Belum! Itu baru permulaan dari proses membaca yang baik dan benar.

    Semakin lama saya bergelut dengan dunia buku, penelitian, dan penulisan, saya semakin menyadari bahwa membaca sesungguhnya jauh lebih rumit daripada sekadar melihat huruf dan memahami kata. Membaca adalah sebuah perjalanan intelektual. Ia memiliki tingkatan, kedalaman, bahkan mampu mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekelilingnya. Karena itu, membaca tidak hanya soal "apa" yang kita baca, tetapi juga "bagaimana" kita membaca.

    Pada tingkat yang paling dasar, seseorang membaca untuk memperoleh informasi. Ia ingin mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum diketahuinya. Ia membaca berita untuk mengetahui peristiwa terkini, membaca buku sejarah untuk mengetahui masa lalu, atau membaca artikel ilmiah untuk mengetahui hasil penelitian terbaru.

    Pada tahap ini, membaca berfungsi sebagai sarana mengumpulkan pengetahuan. Namun pengetahuan yang terkumpul belum tentu menjadi pemahaman. Di era digital saat ini, banyak orang mengonsumsi informasi dalam jumlah luar biasa besar setiap hari, tetapi sering kali hanya berhenti pada tahap mengetahui tanpa sempat mengolah apa yang diketahuinya.

    Tingkat berikutnya adalah membaca untuk memahami. Di sini seseorang tidak lagi hanya bertanya tentang apa yang dikatakan penulis, melainkan mulai bertanya mengapa penulis mengatakan hal tersebut dan bagaimana cara berpikir yang melatarbelakanginya. Ia mulai menelusuri logika, hubungan antar gagasan, dan struktur argumentasi yang digunakan.

    Dari sini lahir kemampuan untuk membuat ringkasan (summarize) dan menyajikan inti gagasan secara padat (concise). Kemampuan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya membutuhkan kedalaman pemahaman. Seseorang baru dapat meringkas dengan baik apabila ia benar-benar memahami apa yang sedang dibacanya.

    Ketika pemahaman semakin berkembang, pembaca mulai memasuki tahap membaca secara kritis. Pada tahap ini ia tidak lagi menerima semua pendapat sebagai kebenaran yang harus diikuti. Ia mulai membandingkan (compare) berbagai sumber, mencari persamaan dan pola yang muncul dari berbagai bacaan.

    Setelah itu ia mulai mengontraskan (contrast) berbagai pandangan yang berbeda, melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing argumentasi. Bahkan lebih jauh lagi, ia mulai mengkritisi (criticize) asumsi-asumsi yang digunakan oleh penulis.

    Membaca berubah menjadi sebuah dialog intelektual. Buku tidak lagi berbicara sendirian; pembaca mulai ikut berbicara.

    Apa yang terjadi pada tahap ini sesungguhnya sangat dekat dengan konsep double-loop learning. Dalam teori pembelajaran, seseorang tidak lagi hanya memperbaiki pengetahuannya, tetapi mulai mempertanyakan kerangka berpikir yang selama ini digunakannya. Ia tidak hanya bertanya apakah suatu gagasan benar, tetapi juga mengapa ia selama ini mempercayai gagasan tertentu.

    Membaca menjadi sarana untuk menguji keyakinan, asumsi, dan cara pandang yang sebelumnya dianggap mapan. Banyak perubahan besar dalam cara berpikir seseorang justru lahir pada tahap ini.

    Namun perjalanan membaca tidak berhenti pada kritik. Ada satu tingkat yang lebih tinggi, yaitu membaca secara reflektif dan kreatif. Pada tahap ini seseorang mulai melakukan sintesis (synthesize). Ia menghubungkan berbagai gagasan yang sebelumnya tampak terpisah, menemukan pola yang lebih besar, lalu membangun pemahaman baru.

    Bacaan tidak lagi diperlakukan sebagai kumpulan informasi yang berdiri sendiri-sendiri. Semua bacaan mulai saling berbicara, saling menjelaskan, dan saling melengkapi. Dari sini sering lahir ide-ide baru, artikel, penelitian, buku, bahkan teori-teori yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

    Hubungan membaca dengan triple-loop learning menjadi sangat menarik. Jika pada tahap sebelumnya seseorang mempertanyakan cara berpikirnya, maka pada tahap ini ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri sebagai pembelajar. Ia bertanya mengapa ia memandang dunia dengan cara tertentu, dari mana nilai-nilai yang diyakininya berasal, dan bagaimana pengalaman hidup membentuk perspektifnya.

    Buku tidak lagi hanya menjadi sumber informasi atau bahan diskusi. Buku berubah menjadi cermin yang memantulkan kembali wajah intelektual pembacanya. Membaca menjadi proses mengenali diri sekaligus memperluas diri.

    Saya sering merasa bahwa pengalaman membaca yang paling berharga justru bukan ketika menemukan jawaban, melainkan ketika menemukan pertanyaan baru. Ada buku yang selesai dibaca dalam beberapa hari, tetapi renungannya tinggal berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Ada artikel pendek yang memunculkan gagasan untuk sebuah penelitian. Ada sebuah paragraf yang membuka cara pandang yang sama sekali baru.

    Pada pengalaman seperti itulah membaca berubah dari aktivitas mengonsumsi pengetahuan menjadi aktivitas menciptakan pengetahuan.

    Karena itu mungkin sudah saatnya kita tidak lagi memandang membaca sebagai kegiatan pasif. Membaca adalah proses bertumbuh. Ia dimulai dari memperoleh informasi, berkembang menjadi pemahaman, berlanjut menjadi kritik, dan akhirnya sampai pada refleksi serta sintesis.

    Pada saat yang sama, ia membawa kita dari single-loop learning yang hanya menambah pengetahuan, menuju double-loop learning yang mengubah cara berpikir, hingga triple-loop learning yang mengubah cara kita memahami diri sendiri.

    Buat saya itulah tujuan tertinggi membaca, yaitu bukan sekadar membuat kita tahu lebih banyak, melainkan membuat kita menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam memaknai dunia dan kehidupan.

    Dalam ajaran Islam, wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah untuk beribadah, berperang, atau berdagang, melainkan perintah untuk membaca, mempelajari, menelaah, dan mencari pengetahuan.

    Banyak ulama memaknai iqra' bukan hanya membaca teks tertulis, tetapi juga membaca alam, membaca sejarah, membaca masyarakat, dan membaca diri sendiri sebagai bagian dari proses mengenal Tuhan dan memahami kehidupan.

    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

    Iqra' bismi rabbika alladzi khalaq. Khalaqal-insāna min 'alaq. Iqra' wa rabbukal-akram. Alladzi 'allama bil-qalam. 'Allamal-insāna mā lam ya'lam.

    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture