Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DARI MANAKAH INSPIRASI MENULIS ILMIAH ITU DATANG?

    17 Jun 2026 | Dilihat: 27 kali

    oleh Riri Satria

    Beberapa waktu yang lalu saya menulis sebuah artikel tentang dari manakah inspirasi menulis itu datang. Dalam tulisan tersebut saya mencoba menguraikan bagaimana inspirasi untuk menulis populer, menulis opini, bahkan menulis karya sastra dan karya fiksi dapat lahir dari berbagai sumber. Ada inspirasi yang datang dari pengalaman pribadi, dari peristiwa yang disaksikan, dari bacaan, dari percakapan, dari perjalanan, dari kegelisahan, bahkan dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian.

    Tulisan itu ternyata mengundang cukup banyak tanggapan. Banyak kawan berdiskusi dan berbagi pengalaman mereka tentang proses kreatif dalam menulis. Namun ada satu pertanyaan yang berulang kali muncul, terutama dari kalangan akademisi, sesama dosen, mahasiswa, dan peneliti. Jika inspirasi menulis populer atau sastra dapat datang dari berbagai arah, lalu bagaimana dengan menulis ilmiah? Dari manakah sesungguhnya inspirasi untuk menulis ilmiah itu datang?

    Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mungkin ada baiknya kita terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan tulisan ilmiah. Selama ini banyak orang langsung membayangkan jurnal penelitian ketika mendengar istilah tulisan ilmiah. Padahal cakupannya jauh lebih luas.

    Tulisan ilmiah memang dapat berupa artikel hasil penelitian, tetapi juga dapat berupa kajian pustaka, artikel konseptual, telaah teoritis, analisis kebijakan, kajian filosofis, makalah akademik, laporan penelitian, hingga esai akademik yang disusun dengan menggunakan cara berpikir yang sistematis, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Tulisan ilmiah tidak selalu identik dengan tumpukan angka, tabel, atau hasil survei. Tulisan ilmiah pada dasarnya adalah upaya menjelaskan, memahami, atau menafsirkan suatu persoalan dengan pendekatan yang rasional dan berbasis pengetahuan.

    Pemahaman ini penting karena sering kali orang menganggap bahwa menulis ilmiah hanya dapat dilakukan setelah penelitian selesai. Akibatnya, banyak yang membayangkan bahwa inspirasi tulisan ilmiah pasti lahir dari penelitian. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

    Nah, ini adalah tulisan hasil refleksi saya yang pernah mengajar lebih dari 10 tahun tentang Metodologi Penelitian dan Penulisan Ilmiah pada tingkat pascasarjana di Universitas Indonesia.

    Dalam pengalaman saya, inspirasi menulis ilmiah justru sering muncul dari sumber yang sama dengan ide menulis lainnya, yaitu dari perjumpaan kita dengan kenyataan. Ada sesuatu yang kita lihat, kita dengar, kita baca, atau kita alami, lalu timbul rasa ingin tahu. Mengapa hal itu terjadi? Apa penyebabnya? Apa dampaknya? Mengapa fenomena tersebut berbeda dengan yang selama ini kita pahami? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang sering menjadi benih awal lahirnya sebuah tulisan ilmiah.

    Saya melihat adanya hubungan yang sangat erat antara menulis ilmiah dan melakukan penelitian. Banyak orang menganggap penelitian dan penulisan ilmiah sebagai dua kegiatan yang berbeda, padahal keduanya sesungguhnya merupakan bagian dari satu proses yang sama. Ide ilmiah biasanya lahir lebih dahulu dalam bentuk pertanyaan atau kegelisahan intelektual. Pertanyaan itu kemudian mendorong seseorang untuk mencari jawaban secara sistematis. Proses pencarian jawaban itulah yang disebut penelitian.

    Hasil dari penelitian tersebut kemudian dituangkan ke dalam bentuk tulisan ilmiah agar dapat dibaca, diuji, diperdebatkan, dan dikembangkan oleh orang lain. Penelitian adalah proses menemukan pengetahuan, sedangkan tulisan ilmiah adalah cara menyampaikan pengetahuan yang ditemukan itu.

    Semakin lama saya mengamati dunia akademik, semakin saya menyadari bahwa tidak semua inspirasi menulis ilmiah lahir dari kebutuhan untuk melakukan penelitian empiris. Ada pula inspirasi yang muncul dari perenungan yang lebih mendalam terhadap makna suatu fenomena. Seseorang mungkin tidak sedang menghitung data, melakukan survei, atau mengumpulkan statistik. Ia justru sedang bertanya tentang makna yang tersembunyi di balik sebuah peristiwa.

    Mengapa manusia begitu mudah percaya pada informasi digital? Apa arti kreativitas ketika kecerdasan buatan mulai mampu menghasilkan puisi, lukisan, dan musik? Apa makna keaslian ketika gambar, suara, dan video dapat direkayasa sedemikian rupa oleh teknologi? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini berangkat dari wilayah filsafat, tetapi dapat melahirkan tulisan ilmiah yang sama seriusnya dengan penelitian lapangan.

    Saya semakin yakin bahwa salah satu sumber penting inspirasi menulis ilmiah adalah refleksi filosofis. Banyak orang mengira filsafat dan ilmu pengetahuan berjalan pada jalur yang berbeda. Padahal, dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, hampir semua cabang ilmu lahir dari pertanyaan-pertanyaan filosofis. Filsafat bertugas mengajukan pertanyaan yang mendasar tentang manusia, pengetahuan, kebenaran, nilai, dan realitas. Ilmu pengetahuan kemudian berusaha menjawab sebagian pertanyaan tersebut melalui metode yang lebih terukur dan sistematis.

    Filsafat dapat dipandang sebagai hulu, sedangkan penelitian merupakan salah satu aliran yang mengalir dari hulu tersebut. Tidak sedikit tulisan ilmiah yang sesungguhnya merupakan pencabaran intelektual dari sebuah gagasan filosofis yang direnungkan secara mendalam.

    Saya sendiri sering merasakan bahwa inspirasi ilmiah datang ketika pikiran sedang dipenuhi oleh berbagai informasi. Terlalu banyak membaca berita, mengikuti perkembangan teknologi, menghadiri diskusi, membaca buku, mendengarkan pandangan orang lain, atau mengamati perubahan yang terjadi di sekitar. Semua itu perlahan-lahan menumpuk di dalam kepala.

    Pada suatu saat muncul dorongan untuk memahami hubungan antara berbagai informasi tersebut. Ada pola yang ingin dijelaskan, ada fenomena yang ingin dipahami, ada persoalan yang terasa penting untuk dibahas lebih dalam.

    Kadang-kadang dorongan itu melahirkan keinginan untuk melakukan penelitian. Kadang-kadang ia melahirkan refleksi konseptual. Kadang-kadang pula ia berkembang menjadi telaah filosofis. Namun ujungnya tetap sama, yaitu keinginan untuk menuliskan hasil pergulatan pikiran tersebut secara sistematis.

    Membaca memiliki peran yang sangat besar dalam proses itu. Setiap buku, artikel, jurnal, atau laporan penelitian yang kita baca sesungguhnya bukan hanya memberikan jawaban, melainkan juga melahirkan pertanyaan baru.

    Semakin banyak membaca, semakin kita menyadari bahwa masih begitu banyak hal yang belum diketahui dan belum dipahami.

    Kadang-kadang sebuah kalimat pendek dalam sebuah artikel mampu memancing renungan yang panjang. Kadang-kadang sebuah data statistik yang sederhana justru membuka ruang pertanyaan yang lebih luas.

    Bacaan yang baik bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga mempertajam kepekaan untuk menemukan masalah, merumuskan pertanyaan, dan melihat kemungkinan makna yang tersembunyi di balik suatu fenomena.

    Saya semakin yakin bahwa sumber utama inspirasi menulis ilmiah bukanlah metode penelitian semata, melainkan kepekaan intelektual. Metode penelitian memang penting untuk memastikan bahwa jawaban yang kita peroleh dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Akan tetapi sebelum metode digunakan, seseorang harus terlebih dahulu memiliki pertanyaan yang ingin dijawab. Pertanyaan itu dapat lahir dari pengalaman, pengamatan, bacaan, diskusi, kegelisahan sosial, maupun perenungan filosofis.

    Dua orang dapat melihat peristiwa yang sama, tetapi belum tentu menemukan pertanyaan yang sama. Seorang penulis ilmiah biasanya memiliki kebiasaan untuk melihat lebih jauh daripada apa yang tampak di permukaan. Ia tidak hanya bertanya tentang apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terjadi, mengapa hal itu penting, dan apa maknanya bagi kehidupan manusia.

    Pada akhirnya, inspirasi menulis ilmiah dapat datang dari mana saja. Ia dapat lahir dari pengalaman sehari-hari, dari percakapan sederhana, dari bacaan, dari pengamatan terhadap perubahan sosial, dari perkembangan teknologi, dari penelitian yang sedang dilakukan, atau bahkan dari kegelisahan filosofis yang terus berputar di dalam pikiran.

    Menulis ilmiah dan melakukan penelitian bukanlah dua dunia yang terpisah. Keduanya tumbuh dari akar yang sama, yaitu rasa ingin tahu terhadap kehidupan. Di saat yang sama, keduanya juga sering memperoleh tenaga dari dorongan yang lebih mendasar, yaitu hasrat manusia untuk memahami makna dunia yang sedang dihadapinya.

    Penelitian membantu kita menemukan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan, sementara tulisan ilmiah membantu kita membagikan jawaban, pertanyaan, dan refleksi tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.

    Ketika seseorang bertanya dari manakah inspirasi menulis ilmiah itu datang, saya cenderung menjawab bahwa ia datang dari tempat yang sama dengan lahirnya ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu dari manusia yang tidak pernah berhenti bertanya, tidak pernah berhenti berpikir, dan tidak pernah berhenti mencari makna di balik setiap fenomena yang ditemuinya.

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023). Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI. Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia. Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025, Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture