Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • SELAMAT HARI BUKU NASIONAL 17 MEI 2026

    17 May 2026 | Dilihat: 21 kali

    oleh: Riri Satria

    Di dalam buku-buku, hidup jutaan percakapan, kegelisahan, pengetahuan, harapan, bahkan luka-luka manusia yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Buku adalah cara peradaban berbicara kepada masa depan.

    Di tengah dunia yang bergerak sangat cepat, ketika layar-layar digital menyala hampir tanpa jeda dan informasi datang seperti banjir yang sulit dibendung, keberadaan buku justru menjadi semakin penting. Buku mengajarkan manusia untuk masuk ke dalam ruang refleksi yang lebih dalam. Ia tidak sekadar menawarkan data, melainkan memberi kesempatan untuk memahami makna. Buku tidak hanya membuat manusia mengetahui sesuatu, tetapi juga membantu manusia mengerti dirinya sendiri.

    Pada Hari Buku Nasional tahun ini, kita kembali diingatkan bahwa literasi bukan semata kemampuan membaca huruf demi huruf. Literasi adalah kemampuan merawat akal sehat, memperluas cakrawala berpikir, dan menjaga empati di tengah dunia penuh prasangka dan kebisingan opini. Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang memiliki tradisi membaca, tradisi berpikir, dan tradisi menghargai ilmu pengetahuan.

    Masih terkait dengan Hari Buku Nasional tahun ini, alhamdulillah setelah melalui perjalanan panjang yang penuh dengan perenungan, revisi, dan diskusi, empat naskah buku saya siap terbit dalam beberapa hari ke depan. Bagi saya, ini sebuah penanda bahwa kegelisahan, pemikiran, dan jejak batin yang selama ini saya rawat dalam kata-kata perlahan sedang menuju perjumpaan dengan para pembaca.

    Buku "Bom Waktu" adalah kumpulan seratus puisi pilihan yang lahir dari kegelisahan saya terhadap arah perkembangan peradaban dunia hari ini. Kita hidup di sebuah zaman yang tampak bergerak begitu cepat, begitu maju, dan begitu memukau. Namun di balik kemajuan itu, saya melihat ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin semakin terasa, kerusakan lingkungan hidup terus terjadi, keadilan sosial masih menjadi cita-cita yang kerap tertunda, dan kemanusiaan acap kali terdesak oleh logika pertumbuhan yang tak mengenal jeda. Kita sedang hidup di atas sesuatu yang sewaktu-waktu dapat meledak, sebuah bom waktu yang kita simpan bersama, sering tanpa kita sadari.

    Buku "Selesai Tak Usai" hadir dari keinginan untuk berbagi proses berpikir dan pengalaman menulis. Saya mengajak pembaca memahami bahwa esai bukan sekadar tulisan bebas yang mengalir begitu saja, melainkan sebuah bentuk yang memiliki karakter, tujuan, dan arah. Buku ini membahas berbagai ragam esai, mulai dari deskriptif, naratif, reflektif, kontemplatif, argumentatif, hingga bentuk-bentuk yang lebih spesifik seperti advertorial dan bahkan sentuhan postmodernis. Menulis bukan hanya soal menuangkan ide, tetapi juga soal memilih bentuk yang paling tepat bagi maksud yang ingin disampaikan. Dengan memahami bentuk dan tujuan, tulisan menjadi lebih fokus, lebih bernas, dan lebih setia pada ruh gagasannya.

    Buku "Teknologi Bukan Musuh" merupakan kumpulan esai yang menghimpun tulisan-tulisan saya tentang transformasi digital, kecerdasan buatan, serta berbagai persoalan sosial ekonomi yang menyertainya, yang tersebar di berbagai media sejak tahun 2022. Saya selalu percaya bahwa teknologi tidak pernah layak diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Ia bukan musuh manusia. Tak kalah penting adalah bagaimana manusia memaknai, mengelola, dan menempatkan teknologi agar tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

    Sementara itu, buku "Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan" adalah kumpulan esai tentang sastra dan kebudayaan yang memuat tulisan-tulisan saya sejak tahun 2022. Buku ini tumbuh dari kedekatan batin saya dengan dunia kata, makna, dan kebudayaan. Saya mencoba membaca kembali sastra bukan hanya sebagai teks, tetapi sebagai cermin zaman, sebagai ruang tempat manusia berbicara tentang dirinya sendiri, tentang cinta, kehilangan, perubahan, dan harapan.

    Tiga dari empat buku tersebut, yaitu "Selesai Tak Usai", "Teknologi Bukan Musuh", serta "Masa Depan Sastra dan Kecerdasan Buatan", ditulis dalam bahasa yang sederhana, walaupun topik yang dibahas tidaklah sederhana. Buku-buku itu menyentuh perkembangan mutakhir seperti transformasi digital, kecerdasan buatan, industri 5.0, serta dampak kebudayaannya. Saya sengaja memilih bahasa yang lebih cair dan mudah dipahami agar masyarakat awam pun dapat membacanya tanpa merasa berjarak dengan isu-isu yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

    Buku-buku lahir dari perjalanan panjang manusia dalam memahami kehidupan. Ada buku yang lahir dari kegelisahan sosial, ada yang lahir dari pencarian spiritual, ada pula yang tumbuh dari kegagalan, kesepian, cinta, dan pergulatan batin. Karena itulah setiap buku sesungguhnya menyimpan jejak kemanusiaan. Ketika seseorang membaca, ia sedang membuka pintu menuju pengalaman orang lain, bahkan menuju kemungkinan-kemungkinan baru dalam hidupnya sendiri.

    Di era kecerdasan buatan dan transformasi digital seperti sekarang, sebagian orang mungkin bertanya: apakah buku masih relevan? Jawabannya justru semakin relevan. Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi buku membantu manusia berpikir lebih dalam. Teknologi dapat memperluas akses informasi, tetapi buku membantu manusia menyusun kebijaksanaan. Di titik inilah literasi menjadi sangat penting agar manusia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan juga pengendali arah peradaban.

    Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan budi baik, gagasan, pemikiran, serta ilmu yang bermanfaat. Barangkali itulah yang sedang saya usahakan melalui buku-buku ini: meninggalkan jejak pemikiran yang semoga tetap hidup dan berguna, bahkan ketika waktu telah berlalu jauh.

    Hari Buku Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia seharusnya menjadi momentum untuk kembali mendekatkan diri kepada budaya membaca dan budaya berpikir. Dari rumah-rumah sederhana, dari perpustakaan kecil, dari ruang kelas, dari warung kopi, hingga ruang digital, buku tetap memiliki peran untuk menyalakan kesadaran. Sebab bangsa yang membaca adalah bangsa yang sedang membangun masa depannya.

    Dengan buku, kita meningkatkan literasi. Dengan buku, kita memperluas cakrawala. Dengan buku, kita mengikat ilmu pengetahuan. Dengan buku, kita memperdalam wisdom. Dan dengan buku pula, kita memajukan peradaban.

    Semoga bermanfaat.

    Bogor, 17 Mei 2026

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    SEMINAR NASIONAL 2026 – ILCS Pelindo Solusi Digital dan STIAMI

    play-sharp-fill

    NEXT EVENT: 2 JUNI 2026


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture