Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada masa ketika jalanan Jakarta dipenuhi warna oranye biru yang berisik, panas, dan terasa begitu akrab. Metro Mini bukan sekadar kendaraan, melainkan bagian dari ritme kota yang tumbuh tanpa rencana besar, bergerak mengikuti denyut kehidupan warganya.
Saya masih bisa membayangkan bagaimana sopir memanggil penumpang dengan suara lantang, bagaimana tubuh bus bergetar di antara kemacetan, dan bagaimana orang-orang dari berbagai latar duduk berdempetan tanpa banyak pilihan selain saling menyesuaikan. Jakarta pada masa itu terasa liar, tidak rapi, tetapi justru hidup.
Pada masa ketika infrastruktur transportasi Jakarta belum tertata dengan baik, kehadiran Metro Mini justru menjadi solusi yang tepat. Ia mengisi kekosongan yang tidak mampu dijangkau oleh sistem formal. Ia fleksibel, mudah diakses, dan hadir hampir di setiap sudut kota.
Dalam konteks itu, Metro Mini bukan masalah, melainkan jawaban. Ia relevan karena mampu menjawab kebutuhan zamannya, menjadi penghubung bagi mobilitas warga yang tidak memiliki banyak pilihan lain.
Waktu kemudian berjalan, dan kota ini mulai berubah arah. Hadirnya sistem transportasi yang lebih terencana membawa logika baru tentang keteraturan, tentang jalur khusus, tentang jadwal yang bisa diprediksi. Moda-moda baru muncul dengan wajah yang lebih modern, lebih bersih, dan lebih terukur.
Metro Mini yang dahulu menjadi raja jalanan perlahan kehilangan ruang. Jalur yang dulu bebas dilintasi kini terbatasi, penumpang yang dulu setia mulai beralih, dan kota yang dulu toleran terhadap ketidakteraturan mulai menuntut standar yang lebih tinggi.
Perubahan itu tidak terjadi dalam satu malam. Ada fase panjang ketika dua dunia berjalan berdampingan, dunia lama yang penuh improvisasi dan dunia baru yang sarat perencanaan. Dalam bahasa teori perubahan, Jakarta sedang mencairkan kebiasaan lama, menggoyahkan legitimasi Metro Mini sebagai sesuatu yang “wajar”.
Narasi tentang keselamatan, kenyamanan, dan modernitas terus diulang hingga perlahan masyarakat menerima bahwa apa yang dulu biasa ternyata tidak lagi dapat dipertahankan. Fase ini terasa tidak stabil, penuh tarik-menarik antara kebutuhan untuk maju dan ketakutan kehilangan sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian.
Ketika sistem baru semakin menguat, proses pembekuan kembali terjadi. Transportasi terintegrasi menjadi norma baru, keteraturan menjadi harapan, dan spontanitas jalanan yang dulu dianggap lumrah mulai dipandang sebagai masalah.
Metro Mini tidak benar-benar “pergi”, melainkan kehilangan relevansinya dalam dunia yang telah berubah. Ada rasa ganjil ketika menyadari bahwa sesuatu yang dulu begitu dominan bisa lenyap tanpa jejak yang berarti. Seolah kota ini memiliki cara sendiri untuk melupakan masa lalunya.
Pandemi Covid-19 kemudian datang sebagai jeda yang sekaligus percepatan. Jalanan yang biasanya padat tiba-tiba lengang, penumpang menghilang, dan sistem yang rapuh semakin terlihat kelemahannya. Metro Mini yang bertahan dengan logika setoran harian tidak mampu menanggung guncangan itu.
Dalam sekejap, apa yang sebelumnya hanya melemah berubah menjadi runtuh. Krisis tidak menciptakan arah baru, melainkan mempercepat arah yang sudah ada, mendorong sesuatu yang berada di ambang menjadi benar-benar jatuh.
Refleksi tentang relevansi menjadi tidak terhindarkan. Ada sebuah gagasan yang sering diulang dalam dunia inovasi bahwa bertahan bukan tentang seberapa lama kita eksis, melainkan tentang seberapa mampu kita membaca perubahan dan mendefinisikan ulang diri.
Metro Mini bukan sekadar kalah bersaing. Ia tidak berhasil melakukan lompatan untuk tetap relevan. Ia bertahan terlalu lama dalam pola lama, dalam sistem setoran, dalam cara kerja yang tidak lagi sejalan dengan tuntutan kota yang berubah.
Dunia di sekitarnya bergerak menuju keteraturan dan integrasi, sementara ia tetap berada dalam logika lama yang semakin ditinggalkan.
Namun kegagalan untuk tetap relevan ini tidak sepenuhnya sederhana. Relevansi bukan hanya soal kehendak untuk berubah, tetapi juga soal kemampuan dan ruang untuk melakukan perubahan itu. Struktur yang terfragmentasi, keterbatasan modal, serta posisi dalam ekonomi informal membuat transformasi menjadi sesuatu yang tidak mudah, bahkan mungkin tidak mungkin.
Di sinilah terasa bahwa perubahan kota tidak pernah sepenuhnya netral. Ada yang berhasil beradaptasi, ada yang tertinggal, dan ada yang perlahan menghilang tanpa sempat menemukan bentuk baru.
Kasus Metro Mini pada akhirnya memberi pelajaran yang lebih luas, melampaui soal transportasi itu sendiri. Ia menjadi cermin tentang pentingnya menjaga relevansi di tengah perubahan zaman dan peradaban. Stay relevant!
Apa yang terjadi pada Metro Mini sesungguhnya dapat terjadi pada siapa saja, pada individu, pada organisasi, bahkan pada cara berpikir. Ketika perubahan datang dan kita tidak memiliki kapasitas untuk menyesuaikan diri, maka kita perlahan akan tersingkir.
Bukan karena kita sepenuhnya salah, melainkan karena kita tidak lagi mampu menjawab kebutuhan yang berubah.
Di sinilah pentingnya terus mengembangkan kompetensi dan kapasitas diri. Dunia tidak pernah berhenti bergerak, dan setiap perubahan menuntut kesiapan baru. Mereka yang mampu belajar, beradaptasi, dan mendefinisikan ulang dirinya akan tetap memiliki tempat.
Sebaliknya, mereka yang berhenti berkembang akan tertinggal, bahkan mungkin hilang tanpa banyak disadari. Metro Mini mengingatkan bahwa bertahan bukan hanya soal keberadaan, melainkan tentang kemampuan untuk tetap berarti di tengah arus perubahan yang tidak pernah menunggu siapa pun.
Stay relevant!
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]