Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Beberapa waktu terakhir, percakapan tentang deepfake tidak lagi berhenti pada rasa takut. Ia mulai bergerak ke wilayah yang lebih rumit, bahkan nyaris puitik, yaitu seni. Orang-orang menyebutnya sebagai deepfake art, dan kegelisahan berubah bentuk, dari kecemasan menjadi perenungan. Saya merasa kita sedang berdiri di ambang sebuah zaman yang aneh, ketika kepalsuan justru dipakai untuk mencari makna.
Deepfake art lahir dari teknologi yang sama dengan deepfake pada umumnya, yaitu berakar pada kecerdasan buatan dan berkembang melalui Generative Adversarial Networks atau GAN, namun niat estetikanya berbeda.
Ia tidak selalu hadir untuk menipu. Ia ingin menggugah, mempertanyakan, bahkan menyentuh wilayah emosional yang paling personal dalam diri manusia.
Saya pernah membayangkan sebuah ruang pameran yang gelap. Di hadapan kita, muncul wajah Picasso yang tiba-tiba “hidup”, menatap langsung ke mata pengunjung, berbicara dengan suara yang terasa nyata, seolah ia tidak pernah benar-benar pergi dari dunia.
Ketika membayangkannya saja, ada sensasi yang sulit dijelaskan yaitu antara takjub dan ganjil, antara kagum dan sedikit kehilangan. Kita tahu bahwa itu bukan yang sesungguhnya, tetapi mengapa rasanya seperti sebuah pertemuan?
Contoh lain terasa lebih mencengangkan, hampir seperti permainan kecil yang diam-diam mengusik batin. Wajah Monalisa yang selama berabad-abad membeku dalam misteri tiba-tiba bergerak, tersenyum lebih lebar, mungkin berkedip, mungkin menoleh. Sosok dalam lukisan klasik menatap balik kita dengan kesadaran yang sebelumnya tidak pernah ada.
Di satu sisi, ini tampak seperti hiburan visual. Di sisi lain, ia menggeser sesuatu yang lebih dalam, yaitu hubungan kita dengan waktu, sejarah, dan keheningan karya seni itu sendiri.
Ada pula seniman yang menggunakan wajahnya sendiri, lalu membiarkannya berubah tanpa henti menjadi lebih tua, lebih muda, berganti gender, berganti identitas, berganti ekspresi. Sebuah wajah yang tidak pernah selesai menjadi satu diri.
Ketika melihat itu, muncul pertanyaan yang sangat personal, apakah diri kita benar-benar tetap, atau hanya kumpulan kemungkinan yang selama ini kita bekukan dalam nama dan tubuh?
Inilah deepfake art, yang terasa sangat dekat dengan gagasan Jean Baudrillard tentang simulacra, yaitu sebuah dunia di mana salinan tidak lagi membutuhkan yang asli.
Dalam kerangka postmodernisme, batas antara realitas dan representasi memang telah lama dipertanyakan. Deepfake art seperti membawa gagasan itu keluar dari ruang teori dan menjadikannya pengalaman langsung. Kita tidak lagi sekadar membaca tentang simulasi; kita mengalaminya dengan mata, emosi, dan kesadaran.
Nah yang terus membuat saya memikirkan hal ini adalah ambiguitasnya. Deepfake art tidak sepenuhnya bisa dirayakan, tetapi juga tidak layak ditolak begitu saja. Ia seperti cermin yang memantulkan wajah kita dengan sedikit distorsi, cukup untuk membuat kita sadar bahwa apa yang kita anggap “asli” mungkin selama ini juga merupakan konstruksi.
Secara emosional, ada rasa rindu yang muncul ketika berhadapan dengan karya-karya semacam ini. Rindu pada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kita definisikan. Mungkin rindu pada keaslian. Mungkin rindu pada momen ketika melihat wajah seseorang berarti benar-benar bertemu dengannya. Ketika suara bukan sekadar gelombang yang bisa ditiru, tetapi jejak kehadiran yang tak tergantikan.
Di sisi lain, ada pula rasa takjub yang jujur. Deepfake art membuka kemungkinan baru dalam seni. Ia memungkinkan kita berdialog dengan masa lalu, menghidupkan kembali arsip, mengeksplorasi identitas dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Ia memperluas bahasa seni, bahkan mungkin sedang menciptakan bahasa estetik baru bagi abad ini.
Lalu bagaimana kita menyikapinya?
Barangkali bukan dengan penolakan total, tetapi juga bukan dengan penerimaan tanpa syarat. Deepfake art menuntut kesadaran yang lebih tajam, bukan hanya sebagai penonton, melainkan sebagai manusia yang sedang menafsirkan realitas. Kita perlu tahu kapan sedang berhadapan dengan karya seni, kapan sedang melihat manipulasi, dan kapan keduanya sengaja dicampur untuk menciptakan pengalaman tertentu.
Penting untuk menjaga konteks. Dalam seni, deepfake bisa menjadi eksplorasi yang sah, bahkan sangat bermakna. Namun ketika keluar dari ruang itu, lalu masuk ke politik, relasi sosial, atau informasi publik, ia bisa berubah menjadi alat yang merusak kepercayaan. Batas ini memang tidak selalu jelas, tetapi kesadaran atas batas itulah yang harus terus dilatih.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang deepfake art bukan hanya tentang teknologi atau seni, melainkan tentang manusia itu sendiri, bagaimana kita memahami kehadiran, identitas, dan kebenaran di tengah dunia yang semakin cair.
Mungkin kita tidak akan pernah kembali ke masa ketika segala sesuatu terasa pasti. Namun justru di situlah letak tugas kita sekarang: belajar hidup dalam ketidakpastian tanpa kehilangan kepekaan.
Deepfake art, dengan segala keindahan dan kegelisahannya, seakan berbisik pelan kepada kita bahwa di tengah dunia yang penuh simulasi, yang paling berharga mungkin bukan lagi apa yang tampak nyata, melainkan kemampuan kita untuk tetap merasakan secara jujur dan mendalam, apa arti senyatanya menjadi manusia.
-- Riri Satria ----
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]