Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DEEPFAKE: WAJAH-WAJAH PALSU DAN DUNIA YANG KEHILANGAN ASAL-USULNYA

    31 Mar 2026 | Dilihat: 13 kali

    oleh: Riri Satria

    Akhir-akhir ini saya banyak ditanya oleh berbagai sahabat, malahan juga dari media, mengenai kegelisahan tentang berkembangnya deepfake atau kepalsuan namun seolah nyata yang bisa menyebabkan berbagai persoalan dalam kehidupan sosial kita.

    Ada sesuatu yang diam-diam berubah dalam cara kita memandang dunia digital. Dulu ketika sebuah foto atau video muncul di layar, kepercayaan datang hampir tanpa syarat. Mata menjadi saksi, telinga menjadi hakim, pikiran menerima semuanya sebagai kenyataan. Hari ini, kepercayaan itu retak perlahan. Internet menjelma ruang di mana kenyataan dan rekayasa saling bertaut begitu rapat, sementara deepfake hadir sebagai salah satu gejala paling mencolok dari perubahan itu.

    Deepfake lahir dari perkembangan kecerdasan buatan atau AI, terutama dalam ranah machine learning yang memungkinkan mesin “belajar” meniru pola manusia. Teknologi seperti Generative Adversarial Networks atau GAN membuat mesin mampu menciptakan wajah, suara, dan gerakan yang nyaris tak terbedakan dari aslinya.

    Namun yang berubah bukan hanya kemampuan teknologi, melainkan juga hubungan emosional manusia dengan kebenaran. Ada kegelisahan baru setiap kali melihat sesuatu yang terlalu meyakinkan.

    Video deepfake menjadi bentuk paling populer. Wajah seseorang dapat ditempelkan dengan presisi luar biasa ke tubuh orang lain. Seorang tokoh politik dapat tampak berpidato tentang hal yang tidak pernah ia katakan. Ekspresi wajah, gerak bibir, bahkan kedipan mata hadir dengan kehalusan yang dulu dianggap mustahil.

    Contoh sederhana sudah banyak beredar, video selebritas yang “diperankan ulang” dalam adegan film lain, atau rekaman tokoh publik yang seolah membuat pernyataan kontroversial. Video tidak lagi menjadi bukti, melainkan kemungkinan.

    Suara pun tidak lagi aman dari tiruan. Deepfake audio memungkinkan peniruan suara hanya dari beberapa detik rekaman. Banyak kasus penipuan memanfaatkan ini, seseorang menerima panggilan yang terdengar persis seperti anaknya yang meminta uang karena keadaan darurat. Rasa panik muncul sebelum sempat berpikir. Teknologi berhasil menembus pertahanan rasional manusia melalui jalur emosi yang paling intim. Suara yang dulu menjadi tanda kehadiran kini bisa menjadi ilusi yang sangat personal.

    Gambar statis pun tidak luput dari rekayasa. Wajah manusia yang tampak begitu nyata dapat dihasilkan sepenuhnya oleh mesin. Situs seperti "This Person Does Not Exist" memperlihatkan potret manusia yang tak pernah lahir, tak pernah hidup, namun tampak memiliki cerita.

    Profil media sosial dengan foto semacam itu bisa terasa meyakinkan, bahkan mengundang empati. Pada momen tertentu, muncul kesadaran sunyi: betapa mudahnya kita merasa akrab dengan sesuatu yang sepenuhnya tidak nyata.

    Kemudian hadir deepfake real-time. Dalam panggilan video langsung, wajah dapat diubah secara instan. Senyum, gerakan mata, sinkronisasi bibir berlangsung secara hidup. Dunia virtual menjadi panggung di mana identitas bisa dipakai dan dilepas seperti topeng. Batas antara performa dan keaslian semakin kabur.

    Bentuk yang lebih jauh lagi adalah simulasi tubuh penuh, di mana gerakan manusia direkonstruksi atau digenerasikan ulang. Industri film dan gim memanfaatkannya untuk menciptakan aktor virtual. Namun di luar konteks kreatif, kemampuan ini juga membuka kemungkinan manipulasi yang lebih luas, di mana seseorang bisa “dihadirkan” dalam situasi yang tidak pernah ia alami.

    Semua ini membawa kita pada satu titik refleksi yang lebih dalam, sebuah wilayah pemikiran yang pernah disentuh oleh Jean Baudrillard melalui konsep simulacra. Ia berbicara tentang dunia di mana representasi tidak lagi merujuk pada realitas, melainkan berdiri sendiri sebagai realitas baru. Dalam dunia semacam itu, yang palsu tidak lagi sekadar meniru yang asli, melainkan menggantikan kebutuhan akan yang asli itu sendiri.

    Deepfake tampak seperti perwujudan konkret dari gagasan tersebut. Kita tidak lagi hanya berhadapan dengan tiruan, tetapi dengan simulasi yang terasa cukup untuk menggantikan kenyataan. Video palsu bisa lebih meyakinkan daripada rekaman asli. Suara sintetis bisa terdengar lebih jernih daripada suara manusia yang sesungguhnya. Wajah yang dihasilkan mesin bisa tampak lebih “ideal” daripada wajah nyata.

    Dunia bergerak menuju apa yang oleh banyak pemikir disebut sebagai kondisi post-truth, di mana kebenaran tidak lagi ditentukan oleh fakta, melainkan oleh seberapa meyakinkan sesuatu itu terasa.

    Ada perasaan ganjil yang muncul ketika menyadari semua ini. Sesuatu yang dulu sederhana kini menjadi kompleks. Melihat tidak lagi berarti percaya. Mendengar tidak lagi berarti memahami. Bahkan mengenali pun menjadi aktivitas yang meragukan.

    Dunia digital seperti cermin, memantulkan sesuatu yang tampak nyata, tetapi kehilangan kedalaman asal-usulnya.

    Secara pribadi, ada semacam kesedihan yang sulit dijelaskan. Bukan karena teknologi ini sepenuhnya buruk, justru ia membuka kemungkinan kreatif yang luar biasa, melainkan karena ia menggeser fondasi kepercayaan yang selama ini kita anggap stabil.

    Jika setiap hal bisa dipalsukan dengan begitu sempurna, maka apa yang tersisa dari keaslian? Jika setiap wajah bisa dibuat, setiap suara bisa ditiru, setiap kata bisa direkayasa, maka di mana letak “kehadiran” manusia yang sebenarnya?

    Mungkin pertanyaan itu tidak memiliki jawaban yang sederhana. Namun satu hal menjadi semakin jelas, di era ini, menjadi manusia berarti belajar meragukan dengan bijak. Bukan untuk kehilangan kepercayaan sepenuhnya, melainkan untuk membangun bentuk kepercayaan yang lebih sadar.

    Deepfake tidak hanya menguji kecanggihan teknologi, tetapi juga kedalaman kesadaran kita dalam menghadapi realitas yang semakin cair.

    Pada akhirnya, kita tidak hanya hidup di dunia yang dipenuhi gambar dan suara. Kita hidup di dunia yang dipenuhi kemungkinan. Di antara yang nyata dan yang palsu, manusia berdiri sebagai satu-satunya makhluk yang masih harus memilih untuk percaya atau tidak.

    --- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture