Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada satu fenomena yang semakin sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, dan entah mengapa selalu meninggalkan rasa ganjil di dalam diri saya, di mana seseorang yang pengetahuannya masih tipis, pengalamannya belum luas, bahkan pemahamannya atas suatu persoalan masih di permukaan, justru berbicara dengan nada paling yakin, paling keras, dan kadang paling merendahkan orang lain.
Sementara itu mereka yang sungguh-sungguh menempuh jalan ilmu, yang bertahun-tahun bergulat dengan buku, pengalaman, kegagalan, dan perenungan, justru sering berbicara dengan hati-hati, memilih kata-kata dengan lebih tenang, bahkan tak jarang terdengar seolah ragu. Pada titik inilah kita mulai bertanya, mengapa yang sedikit tahu justru kerap merasa paling tahu?
Pertanyaan ini bukan sekadar kegelisahan sosial, melainkan juga persoalan psikologis yang sangat manusiawi. Dalam psikologi, salah satu konsep yang paling relevan untuk menjelaskan fenomena ini adalah efek Dunning–Kruger, sebuah bias kognitif yang menunjukkan bahwa orang dengan kompetensi rendah dalam suatu bidang cenderung melebih-lebihkan kemampuan dirinya sendiri.
Ironisnya, keterbatasan pengetahuan yang mereka miliki bukan hanya membuat mereka salah memahami suatu hal, tetapi juga membuat mereka tidak mampu menyadari bahwa mereka sedang salah. Di sinilah paradoks yang begitu menggetarkan itu muncul, di mana ketidaktahuan tidak hanya menghasilkan kesalahan, tetapi juga menutup pintu untuk melihat kesalahan tersebut.
Ada sesuatu yang hampir tragis dalam mekanisme ini. Untuk menyadari bahwa kita belum tahu, kita justru membutuhkan pengetahuan tertentu. Kesadaran atas batas diri bukanlah sesuatu yang otomatis hadir, ia adalah hasil dari proses belajar, pengalaman, dan refleksi yang panjang. Orang yang baru menjejakkan kaki di permukaan sebuah ilmu sering kali melihat dunia dalam bentuk yang sederhana dan rapi.
Segalanya tampak mudah dijelaskan, mudah diputuskan, mudah dinilai. Namun semakin seseorang masuk lebih dalam, semakin ia melihat betapa rumit dan berlapis-lapis kenyataan itu. Semakin banyak ia belajar, semakin besar pula wilayah yang tampak belum diketahui. Pada saat itulah kerendahan hati intelektual lahir.
Saya kira kita semua pernah bertemu dengan sosok seperti ini, dan mungkin pada satu masa tertentu kita juga pernah menjadi sosok itu. Ada fase dalam hidup ketika sedikit pengetahuan memberi kita rasa kuasa yang begitu besar. Kita membaca satu dua buku, mengikuti beberapa diskusi, memahami istilah-istilah tertentu, lalu merasa telah menggenggam kebenaran.
Ada semacam euforia intelektual yang memabukkan. Dunia mendadak terasa sederhana, dan kita merasa mampu menilainya dari satu sudut pandang yang kita anggap mutlak. Namun waktu, pengalaman, dan perjumpaan dengan kompleksitas hidup perlahan mengikis keyakinan yang terlalu cepat itu.
Konsep Johari Window memberikan lensa yang sangat menarik. Konsep ini menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada wilayah yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain, ada wilayah yang hanya diketahui diri sendiri, ada wilayah yang diketahui orang lain tetapi tidak kita sadari, dan ada wilayah yang sama-sama gelap bagi keduanya.
Sikap jumawa sering tumbuh subur di wilayah blind spot, titik buta psikologis yang membuat seseorang tidak mampu melihat kekurangan dirinya sendiri, sementara orang lain melihatnya dengan sangat jelas.
Betapa sering seseorang berbicara dengan penuh percaya diri tanpa menyadari bahwa logikanya rapuh, argumennya dangkal, atau datanya keliru. Orang lain mungkin bisa melihat semua itu, tetapi ia sendiri tetap merasa sedang berdiri di puncak kebenaran.
Ada dimensi emosional yang lebih dalam dari sekadar bias kognitif. Kesombongan intelektual sering kali bukan hanya soal tidak tahu, tetapi juga soal kebutuhan ego untuk merasa aman.
Mengakui “saya belum paham” bagi sebagian orang terasa seperti ancaman terhadap harga diri. Dalam bahasa psikologi, ini dapat dipahami sebagai mekanisme pertahanan diri.
Rasa percaya diri yang berlebihan kadang menjadi topeng bagi kegelisahan batin, bagi rasa takut dianggap tidak kompeten, atau bahkan bagi luka narsistik yang tidak tersadari. Maka kesombongan bisa menjadi cara jiwa melindungi dirinya dari rasa kecil.
Di sisi lain, semakin seseorang sungguh-sungguh menempuh jalan ilmu, semakin ia akrab dengan keterbatasan dirinya. Ia belajar bahwa setiap jawaban membuka pertanyaan baru. Setiap teori memiliki batas. Setiap konsep memiliki konteks. Setiap kepastian selalu mengandung ruang untuk revisi.
Dalam filsafat, kesadaran semacam ini mengingatkan kita pada kebijaksanaan klasik yang sering dikaitkan dengan Socrates: aku tahu bahwa aku tidak tahu. Kalimat ini bukan ekspresi kebodohan, melainkan puncak dari kesadaran intelektual. Ia adalah bentuk kerendahan hati yang lahir dari kedalaman berpikir.
Secara reflektif, ada sesuatu yang sangat menyentuh dari kenyataan ini. Mungkin yang paling menakutkan bukanlah ketidaktahuan itu sendiri, melainkan ketidaktahuan yang merasa dirinya pengetahuan. Sebab ketika seseorang tidak tahu tetapi sadar bahwa ia tidak tahu, masih ada ruang untuk belajar.
Namun ketika seseorang tidak tahu dan merasa sudah mengetahui segalanya, pintu belajar nyaris tertutup. Di situlah kesombongan menjadi penghalang pertumbuhan.
Saya sering merasa bahwa hidup justru mengajarkan kita untuk menjadi lebih lembut dalam menilai diri sendiri maupun orang lain. Orang yang tampak paling keras dan paling yakin belum tentu paling memahami; kadang ia justru sedang berusaha menyembunyikan ketidakpastiannya sendiri.
Sebaliknya, mereka yang tampak tenang, berhati-hati, dan sesekali mengakui keraguan, sering kali adalah mereka yang telah lama bersahabat dengan kompleksitas dunia.
Mungkin karena itu, ilmu yang sejati bukan pertama-tama membuat seseorang merasa lebih tinggi, melainkan membuatnya lebih manusiawi. Ia belajar mendengar, meragukan dirinya sendiri, menerima kritik, dan menyadari bahwa kebenaran tidak selalu hadir dalam suara yang paling lantang.
Ada kedewasaan emosional yang tumbuh ketika seseorang berani berkata, dengan jujur dan tanpa malu, “mungkin saya belum cukup tahu.”
Dan mungkin, justru di situlah kebijaksanaan dimulai.
--- Riri Satria ---
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]