Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • KETIKA RAGU MENJADI PINTU MASUK MENUJU KEPASTIAN: Catatan untuk “dubito, ergo cogito, ergo sum” René Descartes

    29 Mar 2026 | Dilihat: 12 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada satu momen yang kadang datang tanpa diundang, ketika kita mempertanyakan segalanya. Bukan hanya tentang kebenaran, tentang fakta, tentang apa yang selama ini kita yakini, tetapi juga tentang diri kita sendiri.

    Dalam ruang batin seperti itu, ungkapan dubito, ergo cogito, ergo sum terasa bukan sekadar kalimat Latin biasa, melainkan seperti bisikan yang menenangkan, aku ragu, maka aku berpikir, maka aku ada. Di titik itu keraguan tidak lagi tampak sebagai ancaman, melainkan sebagai tanda bahwa kesadaran sedang bekerja, bahwa hidup sedang menyala.

    Gagasan yang diwariskan oleh filsuf Prancis René Descartes ini sering dipahami sebagai fondasi rasionalitas modern, tetapi jika direnungkan lebih dalam, ia juga sangat manusiawi. Kita tidak pernah benar-benar hidup tanpa ragu. Bahkan dalam keseharian yang tampak pasti, selalu ada celah kecil yang membuat kita bertanya apakah ini benar, apakah ini cukup, apakah ini nyata.

    Anehnya, justru dari celah itulah lahir dorongan untuk memahami, untuk mencari, untuk membangun sesuatu yang lebih kokoh daripada sekadar keyakinan tanpa dasar.

    Ilmu pengetahuan tumbuh dari kegelisahan yang sama. Metodologi ilmiah tidak pernah dimulai dari kepastian mutlak, melainkan dari pertanyaan, dari hipotesis yang diuji, dari kemungkinan bahwa kita bisa saja salah. Dalam Epistemologi, keraguan bahkan menjadi perangkat penting untuk memilah mana yang dapat dianggap sebagai pengetahuan dan mana yang hanya ilusi.

    Seorang ilmuwan, seperti halnya seorang filsuf, tidak diberi kemewahan untuk percaya begitu saja. Ia harus mengukur, mengamati, mengulang, dan membuka dirinya pada kemungkinan bahwa hasil yang ia pegang hari ini bisa runtuh besok.

    Di situ saya sering merasa ada semacam keindahan yang tenang. Bahwa kebenaran ilmiah bukanlah monumen yang berdiri kaku, melainkan sesuatu yang hidup, bergerak, dan kadang berubah arah. Seperti ketika dunia pernah begitu yakin akan satu hal, lalu perlahan-lahan merevisinya, memperbaikinya, bahkan menggugurkannya. Bukan karena ilmu itu lemah, tetapi justru karena ia cukup jujur untuk mengakui keterbatasannya sendiri. Keraguan di sini bukanlah kegagalan, melainkan mekanisme koreksi yang membuat pengetahuan tetap bernapas.

    Namun di tengah semua itu, ungkapan Descartes tetap menawarkan satu jangkar yang tidak mudah tergoyahkan. Ketika segala sesuatu bisa dipertanyakan, teori, data, bahkan realitas yang kita indra, ada satu hal yang tetap bertahan: bahwa kita sedang mengalami semua ini. Bahwa ada kesadaran yang merasakan ragu itu, yang mengolahnya menjadi pikiran, yang mencoba merangkai makna. Dalam kesadaran itulah, keberadaan kita menemukan bentuknya yang paling dasar.

    Saya kadang membayangkan, mungkin di situlah titik temu antara filsafat dan ilmu pengetahuan, di mana yang satu menggali ke dalam, mencari kepastian dari pengalaman batin yang paling intim. Sedangkan yang lain bergerak ke luar, menyusun metode untuk memahami dunia secara sistematis. Keduanya sama-sama berangkat dari ketidakpastian, dan keduanya sama-sama bergantung pada keberanian untuk meragukan. Tanpa itu, tidak akan ada pertanyaan. Tanpa pertanyaan, tidak akan ada pengetahuan.

    Akhirnya mungkin kita tidak pernah benar-benar selesai dengan keraguan. Ia akan selalu datang, dalam bentuk yang berbeda-beda, pada waktu yang tidak bisa kita tebak. Tetapi alih-alih menolaknya, ada sesuatu yang terasa lebih jujur jika kita menerimanya sebagai bagian dari cara kita ada di dunia.

    Karena setiap kali kita ragu, kita sebenarnya sedang diingatkan bahwa kita masih berpikir. Dan selama kita masih berpikir, kita belum hilang. Kita masih ada, diam-diam, di balik segala ketidakpastian yang kita hadapi.

    --- Riri Satria ----

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture