Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENGEJAR MIMPI, MENUMBUHKAN MAKNA DALAM HIDUP ORANG LAIN

    27 Mar 2026 | Dilihat: 26 kali

    oleh: Riri Satria

    Ada momen dalam hidup ketika ilmu pengetahuan berhenti menjadi sekadar akumulasi logika, dan berubah menjadi pengakuan paling jujur tentang apa arti menjadi manusia.

    Di titik itulah saya membayangkan Randy Pausch berdiri, bukan lagi sebagai profesor di Carnegie Mellon University, bukan lagi sebagai pakar human–computer interaction, melainkan sebagai seorang manusia yang tahu waktunya terbatas, dan karenanya memilih untuk berbicara tentang hal yang benar-benar penting.

    Divonis kanker pankreas pada 2006, lalu dihadapkan pada kenyataan bahwa waktu yang tersisa tak lagi panjang, ia tidak memilih diam. Ia tidak mengunci dirinya dalam kesedihan.

    Sebaliknya, ia justru membuka dirinya seluas mungkin, seolah ingin memastikan bahwa sebelum ia pergi, ada sesuatu yang tetap tinggal. Bukan rumus, bukan teori, melainkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu wisdom.

    Saya sering membayangkan suasana akhir tahun 2007 itu, sebuah panggung, sebuah ruangan, dan seorang pria yang tahu bahwa setiap kata yang ia ucapkan bisa jadi adalah kata-kata terakhirnya kepada dunia. Ketika ia ditanya, “Apa wisdom terakhir yang ingin Anda sampaikan?”, pertanyaan itu bukan sekadar retoris. Itu adalah undangan untuk merangkum seluruh hidup dalam satu tarikan napas.

    Dan jawabannya sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa menghujam, bahwa mewujudkan impian masa kecil kita adalah sesuatu yang menggembirakan, tetapi membantu orang lain mewujudkan impian mereka, itulah kebahagiaan yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih abadi.

    Kalimat itu tidak datang dari ruang hampa. Ia lahir dari kehidupan yang dijalani dengan kesungguhan. Dari kegagalan, dari keberhasilan, dari cinta terhadap sesama manusia, dari kelas-kelas yang diajarkan, dan dari mimpi-mimpi yang pernah ia kejar dengan seluruh tenaganya.

    Ia tahu rasanya mengejar impian. Ia juga tahu rasanya melihat orang lain berhasil karena kita pernah hadir dalam perjalanan mereka. Dan mungkin di situlah ia menemukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

    Ketika saya membaca buku "The Last Lecture", ada perasaan yang sulit dijelaskan, campuran antara haru, kesadaran, dan semacam teguran halus yang tidak menghakimi. Buku itu bukan sekadar kumpulan cerita atau nasihat.

    Ia seperti cermin yang diam-diam memantulkan kembali pertanyaan kepada diri saya sendiri, selama ini, apa yang sebenarnya saya kejar? Dan, lebih dalam lagi, siapa yang pernah saya bantu untuk sampai pada mimpinya?

    Kita sering diajarkan untuk bermimpi besar. Untuk menjadi sesuatu. Untuk mencapai sesuatu. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi ada satu lapisan yang sering terlewat bahwa hidup tidak hanya tentang sejauh mana kita melangkah, tetapi juga tentang berapa banyak orang yang bisa kita ajak berjalan bersama.

    Di usia yang semakin bertambah, saya mulai merasakan bahwa kebahagiaan yang paling jernih bukan lagi ketika sebuah target tercapai, melainkan ketika melihat orang lain tersenyum karena sesuatu yang pernah kita lakukan, sekecil apa pun itu. Ada ketenangan yang tidak riuh di sana. Tidak membutuhkan pengakuan. Tidak membutuhkan tepuk tangan.

    Mungkin itu yang dimaksud Randy, meski ia tidak pernah memaksakan tafsirnya kepada siapa pun. Ia hanya bercerita, sejujur mungkin, tentang hidupnya. Tentang mimpinya. Tentang bagaimana akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa warisan terbesar bukanlah apa yang kita capai, melainkan apa yang kita tanam dalam hidup orang lain.

    Dan ketika saya menutup halaman demi halaman buku itu, saya merasa seperti baru saja diajak duduk sebentar dengan seseorang yang tahu bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Ada kesunyian yang tertinggal, tetapi juga ada semacam keberanian yang perlahan tumbuh, keberanian untuk hidup dengan lebih sadar, lebih tulus, dan mungkin, sedikit lebih bermakna.

    Karena pada akhirnya, kita semua sedang menuju panggung kita masing-masing. Entah kapan, entah dalam bentuk apa. Dan ketika saat itu tiba, pertanyaannya mungkin akan sama: jika ini adalah kesempatan terakhir, apa yang benar-benar ingin kita tinggalkan?

    Saya tidak tahu jawaban yang sempurna. Tetapi dari kisah seorang profesor yang memilih untuk berbagi alih-alih mengeluh, saya belajar satu hal yang terasa sangat manusiawi bahwa hidup ini, pada akhirnya, menemukan maknanya bukan saat kita berdiri sendiri di puncak, melainkan ketika kita menoleh ke belakang dan melihat ada orang lain yang ikut sampai di sana, karena pernah ada sedikit bagian dari diri kita yang tinggal dalam perjalanan mereka.

    --- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture