Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
oleh: Riri Satria
Ada suatu perubahan senyap namun mendasar yang sedang terjadi dalam cara manusia membangun nilai dalam kehidupan ekonomi modern. Jika pada masa lalu kita terbiasa membayangkan ekonomi sebagai sesuatu yang berkaitan dengan pabrik, produksi barang, atau perdagangan yang kasat mata, maka dunia digital perlahan menggeser pusat gravitasi tersebut.
Nilai kini tidak hanya lahir dari apa yang diproduksi, tetapi juga dari bagaimana manusia saling memperhatikan, saling terhubung, dan saling membangun hubungan. Dalam konteks inilah muncul berbagai istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan wajah baru ekonomi digital: attention economy, relationship economy, dan network economy.
Salah satu gagasan yang paling menarik adalah apa yang disebut sebagai attention economy. Dalam dunia yang dipenuhi oleh informasi yang berlimpah, perhatian manusia justru menjadi sesuatu yang semakin langka. Ekonom dan ilmuwan sosial seperti Herbert A. Simon pernah mengingatkan bahwa kelimpahan informasi akan menciptakan kelangkaan perhatian. Ketika setiap detik layar kita dipenuhi oleh pesan, notifikasi, video pendek, berita, komentar, dan berbagai arus informasi lainnya, yang sebenarnya sedang diperebutkan bukan lagi sekadar konten, melainkan waktu dan fokus manusia itu sendiri.
Platform digital seperti YouTube, Instagram, atau TikTok pada dasarnya berdiri di atas logika ini. Mereka bukan sekadar tempat orang berbagi video atau foto, melainkan ruang besar di mana jutaan bahkan miliaran potongan perhatian manusia beredar setiap saat. Konten yang mampu menahan kita beberapa detik lebih lama, membuat kita berhenti menggulir layar, atau membuat kita kembali menonton sebuah video untuk kedua kalinya, sesungguhnya sedang memenangkan sebuah pertarungan yang sangat sunyi: pertarungan untuk mendapatkan perhatian.
Namun perhatian, jika hanya berhenti sebagai kilatan singkat, tidak selalu memiliki makna yang dalam. Ia seperti cahaya yang menyala sebentar lalu padam. Dari sinilah muncul dimensi lain yang lebih manusiawi, yaitu relationship economy. Dalam ekonomi yang berbasis hubungan ini, nilai tidak lagi semata-mata berasal dari banyaknya orang yang melihat atau mengklik sesuatu, tetapi dari kedalaman hubungan yang terbentuk di antara manusia yang saling terhubung. Hubungan yang dibangun melalui kepercayaan, kedekatan emosional, dan pengalaman bersama sering kali jauh lebih kuat daripada sekadar interaksi sesaat.
Kita bisa melihat fenomena ini dalam berbagai komunitas digital. Seorang kreator yang berbicara secara jujur kepada para pengikutnya, yang berbagi cerita, kegelisahan, atau pengalaman hidupnya, sering kali mampu membangun hubungan yang jauh lebih kuat daripada sekadar memproduksi konten yang viral. Para pengikutnya tidak hanya datang untuk melihat sesuatu yang menarik, tetapi karena mereka merasa terhubung secara personal. Hubungan ini terkadang bahkan melampaui ruang digital itu sendiri. Ia berubah menjadi loyalitas, dukungan, bahkan solidaritas.
Platform seperti Patreon memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana hubungan semacam ini dapat memiliki nilai ekonomi yang nyata. Orang tidak hanya membayar untuk konten, tetapi untuk mempertahankan hubungan, untuk merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas, atau untuk mendukung seseorang yang mereka percayai dan kagumi. Di titik ini, ekonomi tidak lagi sekadar persoalan transaksi, melainkan persoalan relasi antarmanusia.
Jika hubungan adalah jalinan antara individu, maka ketika hubungan-hubungan itu berkembang dan saling terhubung satu sama lain, terbentuklah apa yang disebut sebagai network economy. Dalam ekonomi jaringan ini, nilai tidak lagi hanya berasal dari satu hubungan atau satu interaksi, melainkan dari keseluruhan jaringan yang terbentuk. Semakin banyak orang yang berada di dalam jaringan tersebut, semakin besar pula nilai yang dihasilkan oleh jaringan itu.
Fenomena ini terlihat sangat jelas pada berbagai platform digital yang kita gunakan sehari-hari. Aplikasi seperti WhatsApp menjadi bernilai bukan karena teknologi pesannya semata, tetapi karena hampir semua orang yang kita kenal berada di dalamnya. Demikian pula dengan Facebook atau jaringan layanan transportasi seperti Grab. Nilai mereka bertumbuh seiring bertambahnya jumlah orang yang terhubung di dalam jaringan tersebut. Dalam dunia seperti ini, konektivitas menjadi mata uang baru.
Menariknya, ketiga gagasan ini sebenarnya tidak berdiri sendiri. Mereka saling terkait dalam sebuah alur yang hampir terasa seperti proses alami dalam kehidupan digital. Perhatian sering kali menjadi pintu masuk pertama. Seseorang menemukan sebuah video, membaca sebuah tulisan, atau melihat sebuah gagasan yang menarik perhatiannya.
Dari perhatian yang singkat itu, hubungan bisa mulai tumbuh. Ketika hubungan tersebut dipelihara dan berkembang, ia kemudian membentuk jaringan yang lebih luas, yang pada akhirnya menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.
Kadang-kadang saya merasa bahwa perubahan ini tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga sangat manusiawi. Di balik layar yang kita sentuh setiap hari, sebenarnya sedang terjadi proses sosial yang sangat kompleks. Manusia tetap mencari perhatian, tetapi juga mencari pengakuan.
Mereka membangun hubungan, tetapi juga mencari komunitas. Mereka masuk ke dalam jaringan digital yang luas, tetapi pada saat yang sama tetap membawa kebutuhan yang sangat tua dalam sejarah manusia yaitu kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain.
Mungkin inilah paradoks yang paling menarik dari ekonomi digital. Ia tampak sangat teknologis, penuh algoritma, penuh data, dan penuh mesin. Namun di dalamnya, yang terus bergerak sebenarnya tetap manusia dengan rasa ingin tahu, dengan kebutuhan akan kedekatan, dan dengan kerinduan untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dalam dunia yang dipenuhi oleh layar dan jaringan tak terlihat, perhatian, hubungan, dan jaringan akhirnya bukan sekadar konsep ekonomi, melainkan cermin dari cara manusia modern mencoba menemukan makna dalam ruang digital yang semakin luas.
-- Riri Satria ---
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]