Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • MENYIMAK BANGSA DALAM PERCAKAPAN SENJA: NGOBROL BERSAMA DR. WAHYUNI REFI

    15 Mar 2026 | Dilihat: 32 kali

    Sore itu datang dengan tenang, seperti senja di bulan Ramadan yang selalu membawa suasana berbeda, lebih hening, lebih reflektif, seolah waktu berjalan sedikit lebih pelan. Di antara aroma hidangan berbuka puasa dan percakapan yang hangat, saya kembali berjumpa dengan seorang sahabat diskusi yang sudah lama tidak saya temui, Dr. Wahyuni Refi Setiabekti, yang akrab saya panggil Refi.

    Hampir dua tahun kami tidak duduk bersama untuk berbincang panjang. Refi adalah sosok yang menarik. Latar belakang akademiknya adalah doktor ilmu politik dari Universitas Indonesia, dengan fondasi pendidikan hukum pada jenjang sarjana dan magister.

    Namun bagi saya, Refi tidak hanya sekadar akademisi. Ia adalah seorang pengamat politik, penggiat kebangsaan, penulis fiksi, dan juga seseorang yang menjalani kehidupan kreatif melalui berbagai usaha dan aktivitas intelektual.

    Seperti biasa, ketika dua orang yang sama-sama menyukai diskusi bertemu, percakapan kami segera mengalir ke berbagai arah. Awalnya kami membicarakan isu-isu politik yang sedang hangat. Saya menyimak analisis Refi yang tajam, sebagaimana biasanya seorang pengamat politik membaca dinamika kekuasaan.

    Oh ya, Refi juga menulis novel. Novel pertamanya telah selesai dan diluncurkan dengan judul "Bumi Lorosae", sebuah karya setebal sekitar 500 halaman yang mengangkat kisah tentang Timor-Leste atau dulu yang kita kenal sebagai Timor Timur pada masa ketika wilayah itu masih menjadi bagian dari Indonesia.

    Satu hal ang membuat saya kagum adalah proses di balik penulisan novel itu. Refi melakukan riset hampir setahun di Timor-Leste. Bagi saya, ini menarik bagaimana sebuah penelitian serius yang kemudian diolah bukan menjadi laporan akademik, melainkan menjadi karya sastra. Fakta sejarah dan realitas sosial dilebur dengan imajinasi kreatif.

    Saya sudah membaca novel tersebut, saya ikut larut dalam kisah yang dibangunnya. Seperti banyak novel sejarah lainnya, cerita itu membuat emosi bergerak ke berbagai arah, kadang haru, kadang tegang, kadang juga membawa kita pada renungan tentang sejarah yang tidak selalu sederhana.

    Hal lain yang juga menarik bagi saya adalah sosok penulisnya sendiri. Bayangkan, eorang doktor ilmu politik, mantan aktivis dan politisi, yang juga menekuni dunia sinematografi, dan pada saat yang sama mencintai sastra. Seolah berbagai dunia bertemu dalam satu pribadi.

    Refi bahkan sempat memberi bocoran kepada saya bahwa novel "Bumi Lorosae" sedang dalam proses diadaptasi menjadi film. Prosesnya sudah berjalan. Mendengar itu, saya langsung membayangkan bagaimana kisah yang selama ini hidup dalam halaman-halaman buku itu nanti akan bergerak di layar.

    Percakapan kami kemudian mengingatkan saya pada satu momen sebelumnya. Refi pernah memandu diskusi bersama saya dalam sebuah podcast bertajuk "Let’s Talk The Dignity of Nation Podcast". Podcast itu dibuat untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79 pada tahun 2024.

    Tema besarnya waktu itu adalah pengelolaan sumber daya alam untuk kemandirian ekonomi, dengan fokus pada evaluasi kemandirian ekonomi sektor kelautan di era digitalisasi. Sebuah topik yang masih sangat relevan hingga hari ini.

    Silakan klik link untuk menyimak podcast tesebut: https://m.youtube.com/watch?v=jgosTQ6Hhx8

    Pikiran saya kembali pada satu hal yang semakin penting di zaman sekarang, kedaulatan digital dan siber. Di masa lalu, kedaulatan sering dibicarakan dalam konteks wilayah dan sumber daya alam. Namun hari ini, negara juga harus menjaga kedaulatannya di ruang digital. Data, algoritma, infrastruktur digital, semuanya telah menjadi bagian dari geopolitik baru.

    Bagi saya, pembangunan bangsa hari ini tidak bisa dilepaskan dari ekonomi digital. Namun di saat yang sama kita juga harus menghadapi berbagai kesenjangan, kesenjangan ekonomi, kesenjangan pendidikan, dan tentu saja kesenjangan digital atau digital divide.

    Di tengah diskusi, saya menyerahkan sebuah buku kepada Refi, "Log in Haramain". Buku itu berisi catatan kontemplasi saya ketika menjalankan Ibadah Haji setahun yang lalu, ada puisi, catatan ringan, dan beberapa esai reflektif.

    Refi membolak-balik halaman buku itu sebentar. Lalu ia berhenti pada sebuah puisi berjudul “Kembali Aku Dengar Azan Subuh di Masjid Nabawi.” Ia membaca sepintas, lalu tersenyum. Katanya, ia langsung jatuh cinta pada puisi itu.

    Mendengar itu, saya merasa hangat. Kadang bagi seorang penulis, tidak ada kebahagiaan yang lebih sederhana selain mengetahui bahwa kata-kata yang ia tulis menemukan pembacanya.

    Senja Ramadan pun perlahan bergeser menuju malam. Percakapan kami berakhir, tetapi gagasan-gagasan yang kami diskusikan terasa masih bergema di kepala saya.

    Terima kasih, Refi, atas diskusi yang hangat dan penuh makna. Terima kasih juga atas jamuan berbuka puasa yang begitu bersahabat.

    Insya Allah, ke depan kita akan terus berkolaborasi, berbincang, menulis, dan memikirkan kembali berbagai persoalan kebangsaan, karena pada akhirnya, membangun bangsa bukan hanya pekerjaan para politisi atau birokrat.

    Ia juga lahir dari percakapan-percakapan kecil di meja makan, dari buku-buku yang kita tulis, dari gagasan yang kita rawat bersama, dan mungkin dari senja Ramadan seperti sore itu 🥰😎⭐️🇮🇩

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture