Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • DI ANTARA PLATFORM, ALGORITMA, DAN MANUSIA: REFLEKSI TENTANG DIGITAL BUSINESS MODEL DI SESI TERAKHIR PADA BULAN RAMADAN

    12 Mar 2026 | Dilihat: 22 kali

    oleh: Riri Satria

    Ramadan selalu memiliki cara yang unik untuk menutup sebuah perjalanan dengan suasana yang lebih hening dan reflektif. Tadi malam di penghujung bulan yang penuh berkah ini, saya menyadari bahwa ini adalah sesi terakhir saya mengajar di bulan Ramadan. Materi yang dibahas terasa sangat khas dengan zaman yang kita hidupi sekarang yaitu digital business model.

    Dalam kuliah itu, saya juga mengajak mahasiswa untuk menyinggung satu gagasan yang semakin sering dibicarakan dalam dunia bisnis kontemporer, yaitu konsep Marketing 7.0, sebuah tahap evolusi pemasaran yang berupaya memahami manusia dalam ekosistem teknologi yang semakin cerdas dan saling terhubung.

    Suasana kelas sore itu terasa sedikit berbeda. Mungkin karena bulan Ramadan selalu membawa semacam atmosfer kontemplatif. Di tengah pembahasan yang tampak teknologis tentang platform digital, data, algoritma, dan ekosistem bisnis, ada perasaan bahwa sebenarnya yang sedang kita bicarakan bukan sekadar teknologi, melainkan perubahan cara manusia hidup dan berinteraksi di zaman jaringan.

    Di masa lalu, bisnis terasa begitu konkret. Ia hadir dalam bentuk toko yang membuka pintunya setiap pagi, transaksi yang terjadi di meja kasir, dan hubungan langsung antara penjual dan pembeli. Persaingan bisnis pun relatif sederhana: perusahaan bersaing melalui produk yang lebih baik, harga yang lebih murah, atau distribusi yang lebih luas. Namun dunia digital perlahan mengubah lanskap tersebut. Bisnis kini tidak selalu hadir sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai sistem yang hidup di dalam jaringan internet. Di situlah lahir apa yang kita sebut sebagai digital business model.

    Ini pada dasarnya adalah cara sebuah organisasi menciptakan nilai, menyampaikan nilai, dan memperoleh pendapatan dengan memanfaatkan teknologi digital. Namun definisi itu terasa terlalu dingin jika hanya dibaca sebagai konsep akademik. Dalam pengalaman sehari-hari, model bisnis digital sebenarnya adalah kisah tentang bagaimana teknologi membentuk ulang hubungan antara manusia, layanan, dan nilai ekonomi.

    Di titik inilah kita perlu memahami konsep yang lebih luas, yaitu transformasi digital. Transformasi digital bukan sekadar proses mengubah sistem analog menjadi sistem digital, atau memindahkan layanan ke dalam aplikasi. Ia adalah perubahan yang lebih mendasar, yaiu perubahan cara organisasi berpikir, bekerja, dan menciptakan nilai dengan memanfaatkan teknologi digital.

    Dalam banyak kasus, transformasi digital justru menuntut organisasi untuk merancang ulang model bisnisnya secara menyeluruh. Dengan kata lain, transformasi digital sering kali melahirkan model bisnis digital yang baru.

    Perusahaan yang dahulu hanya menjual produk fisik mulai berpikir tentang layanan digital, ekosistem platform, atau model berlangganan. Organisasi yang sebelumnya beroperasi secara linear mulai bergerak menuju model berbasis jaringan dan komunitas pengguna. Transformasi digital pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang keberanian untuk mengubah cara organisasi memahami dirinya sendiri di tengah perubahan zaman.

    Ketika seseorang membuka aplikasi seperti Gojek untuk memesan kendaraan, atau menikmati film melalui Netflix tanpa harus pergi ke bioskop, sesungguhnya yang sedang bekerja bukan hanya teknologi. Di balik layar terdapat sebuah model bisnis yang lahir dari proses transformasi digital yang panjang.

    Layanan transportasi, hiburan, bahkan perdagangan telah mengalami rekonstruksi ulang melalui platform digital yang mampu mempertemukan berbagai aktor dalam satu ekosistem yang sama.

    Di sinilah muncul dinamika yang disebut platform-based competition. Jika dalam ekonomi tradisional perusahaan bersaing produk melawan produk, maka dalam ekonomi digital yang bersaing sering kali adalah platform melawan platform. Platform bukan sekadar perusahaan yang menjual barang atau jasa, melainkan infrastruktur digital yang mempertemukan berbagai pihak, produsen, konsumen, kreator, penyedia layanan, dalam satu ruang interaksi yang sama.

    Sebuah platform seperti YouTube tidak hanya bersaing dalam hal konten video. Ia bersaing sebagai ekosistem tempat kreator, penonton, pengiklan, dan teknologi algoritma saling berinteraksi. Demikian pula marketplace seperti Tokopedia yang mempertemukan penjual dan pembeli dalam ruang virtual yang sama.

    Dalam konteks ini, nilai bisnis tidak lagi hanya dihasilkan oleh perusahaan, tetapi juga oleh komunitas pengguna yang terhubung di dalam platform tersebut. Semakin besar jaringan pengguna, semakin kuat pula daya saing platform tersebut.

    Fenomena ini sering dijelaskan melalui konsep network effect, yaitu kondisi ketika nilai sebuah platform meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah pengguna. Platform yang berhasil menarik banyak pengguna akan semakin sulit disaingi oleh pemain baru, karena kekuatan utamanya bukan hanya teknologi, melainkan ekosistem yang telah terbentuk di sekitarnya.

    Namun di balik dinamika platform ini, ada proses lain yang lebih halus tetapi sangat menentukan, yaiu peran algoritma dalam membentuk pengalaman manusia di dunia digital. Di sinilah konsep yang sering saya sebut sebagai algorithmic adolescence menjadi relevan. Istilah ini menggambarkan sebuah fase dalam perkembangan ekosistem digital ketika algoritma tidak hanya menjadi alat teknis, tetapi mulai berperan dalam membentuk preferensi, kebiasaan, bahkan identitas pengguna, terutama generasi yang tumbuh bersama media sosial dan platform digital.

    Ketika seseorang membuka platform seperti TikTok atau Instagram, algoritma di balik sistem tersebut secara perlahan mempelajari perilaku pengguna: video apa yang ditonton, konten apa yang disukai, berapa lama seseorang berhenti pada sebuah unggahan.

    Dari data-data kecil itu, sistem kemudian menyusun aliran konten yang semakin personal. Dalam jangka panjang, pengalaman digital tersebut dapat mempengaruhi cara seseorang melihat dunia, membentuk selera, bahkan mempengaruhi keputusan konsumsi.

    Di sinilah kaitan yang sangat menarik antara algorithmic adolescence dan digital business model. Bagi banyak platform digital, algoritma bukan hanya fitur teknologi, tetapi jantung dari model bisnis mereka. Algoritma membantu menjaga perhatian pengguna tetap berada di dalam platform, memperpanjang waktu interaksi, dan pada akhirnya menciptakan nilai ekonomi melalui iklan, data, atau transaksi digital.

    Dengan kata lain, perkembangan psikologis dan perilaku pengguna dalam ekosistem algoritmik menjadi bagian dari dinamika ekonomi platform itu sendiri.

    Dalam diskusi kelas, saya kemudian mengaitkan hal ini dengan gagasan Marketing 7.0. Jika pemasaran klasik dahulu hanya berbicara tentang produk dan promosi, maka pemasaran di era digital mulai bergerak ke arah pemahaman yang jauh lebih kompleks tentang manusia dalam ekosistem teknologi yang saling terhubung. Teknologi kecerdasan buatan, analitik data, dan algoritma memungkinkan perusahaan memahami pola perilaku pengguna secara lebih mendalam dan merancang pengalaman yang semakin personal.

    Di titik itulah saya sering merasakan semacam campuran perasaan antara kekaguman dan kegelisahan. Dunia digital membuka kemungkinan yang luar biasa luas. Ia membuat layanan menjadi lebih cepat, lebih efisien, dan lebih mudah diakses.

    Seorang pelaku usaha kecil kini bisa menjual produknya kepada pasar yang jauh lebih luas daripada sebelumnya. Namun pada saat yang sama, muncul pula pertanyaan-pertanyaan baru tentang data, privasi, dan kekuasaan algoritma yang semakin besar dalam kehidupan manusia.

    Mungkin karena latar belakang saya yang sejak awal berkecimpung dalam dunia teknologi dan ilmu komputer, topik seperti ini selalu terasa menarik untuk direnungkan lebih jauh.

    Model bisnis digital bukan hanya soal strategi perusahaan atau cara menghasilkan keuntungan. Ia juga menyentuh wilayah budaya, psikologi, bahkan filsafat teknologi. Setiap platform digital pada dasarnya adalah sebuah eksperimen sosial tentang bagaimana manusia hidup dan berinteraksi dalam ruang virtual.

    Ketika kuliah malam itu hampir berakhir, saya menyadari bahwa pembahasan tentang model bisnis digital sebenarnya juga merupakan refleksi tentang zaman yang sedang kita jalani. Dunia kita kini semakin ditenun oleh data, algoritma, dan konektivitas.

    Transformasi digital mendorong organisasi untuk beradaptasi, sementara model bisnis digital menjadi bentuk konkret dari adaptasi tersebut.

    Dalam lanskap baru ini, persaingan bisnis bergeser menuju persaingan antar platform, sementara algoritma perlahan membentuk perilaku generasi digital yang hidup di dalam ekosistem tersebut.

    Dan mungkin di situlah letak makna yang lebih dalam dari pembahasan hari itu. Digital business model bukan hanya tentang bisnis di era digital. Ia adalah cermin dari perubahan besar dalam cara manusia hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain di dunia yang semakin terkoneksi.

    Di penghujung Ramadan ini, di dalam ruang kelas yang perlahan menjadi hening, terasa bahwa teknologi pada akhirnya selalu kembali pada satu hal yang paling mendasar: manusia yang mencoba memahami dunia yang terus berubah di sekelilingnya.

    --- Riri Satria ---

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    RECENT EVENT

    REFLEKSI BUDAYA & TADARUS SASTRA


    F R I E N D S


    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture