Riri Satria Lecturer - Researcher - Poetry & Coffee Lover
Catatan atas buku-buku karya Yuval Noah Harari
oleh: Riri Satria
Apakah Anda sudah membaca buku-buku karya Yuval Noah Harari? Saya sarankan Anda membacaya, terlepas dari soal setuju atau tidaknya dengan berbagai pemikiran yang terdapat dalam buku-buku tersebut.
Yuval Noah Harari adalah seorang sejarawan serta pemikir global, yang dikenal luas karena kemampuannya membaca sejarah manusia secara besar, lintas zaman, dan lintas disiplin, dari biologi, antropologi, filsafat, hingga teknologi mutakhir.
Ia lahir pada 1976 dan mengajar sejarah di Hebrew University of Jerusalem. Karya-karyanya mengajak kita berpikir bersama, apa pola besar perjalanan manusia sebagai spesies? Harari dikenal bukan karena menumpuk data sejarah, melainkan karena cara berpikirnya. Ia melihat manusia bukan hanya sebagai makhluk biologis, tetapi sebagai makhluk pencerita. Menurutnya, dunia modern berdiri di atas konsep kolektif yaiu uang, negara, hukum, agama, perusahaan, yang kita sepakati bersama, lalu kita hidupi di atas semua konsep tersebut yang dianggap realitas.
Melalui buku-bukunya, Harari membangun satu narasi utuh, menjelaskan bagaimana manusia sampai pada titik sekarang (Sapiens), ke mana teknologi dan ambisi manusia bisa membawa kita (Homo Deus), bagaimana menghadapi kekacauan zaman kini (21 Lessons for the 21st Century), serta bagaimana jaringan informasi membentuk kekuasaan, kebenaran, dan masa depan (Nexus).
Harari menonjol karena sikapnya yang tidak dogmatis. Ia tidak sedang berkhotbah, juga tidak menawarkan utopia. Ia justru konsisten mengingatkan satu hal di mana kemajuan teknologi tidak otomatis berarti kemajuan moral. Kecerdasan buatan bisa membuat hidup lebih efisien, tetapi juga bisa menggerus makna, kebebasan, dan empati jika tidak disertai kesadaran etis.
Singkatnya, Yuval Noah Harari mengajak kita berpikir ulang tentang kemanusiaan, bukan dari sudut heroik, tetapi dari posisi rendah hati bahwa manusia sangat cerdas, sangat rapuh, dan masa depannya sangat bergantung pada pilihan-pilihan yang kita buat hari ini.
Membaca buku-buku karya Yuval Noah Harari sering kali terasa seperti duduk di depan cermin yang terlalu jujur. Bukan cermin yang sekadar memantulkan wajah, melainkan yang memperlihatkan lapisan-lapisan terdalam tentang siapa kita sebagai manusia, bagaimana kita terbentuk, apa yang kita percayai, dan ke mana arah langkah kita sesungguhnya. Ia tidak meninabobokan pembaca dengan optimisme teknologi, juga tidak menakut-nakuti dengan distopia murahan. Harari memilih jalan mengajak kita berpikir!
Semua bermula dari kisah panjang manusia dalam buku "Sapiens: A Brief History of Humankind". Di sini sejarah tidak disajikan sebagai deretan tahun dan peristiwa, melainkan sebagai alur besar tentang bagaimana homo sapiens bisa mendominasi planet ini. Bukan karena kita paling kuat atau paling cerdas secara individual, melainkan karena kita mampu mempercayai cerita yang sama. Agama, uang, negara, bahkan konsep kemajuan, berdiri di atas kesepakatan imajiner yang kita rawat bersama. Saat membaca ini, ada perasaan takzim bahwa ternyata dunia yang kita bertumpu pada kepercayaan kolektif yang sanggup menggerakkan miliaran manusia.
Dari sana Harari mengajak melangkah ke wilayah yang lebih gelap sekaligus memesona lewat buku "Homo Deus: A Brief History of Tomorrow". Jika Sapiens membuat kita memahami dari mana kita berasal, buku ini memaksa kita bertanya ke mana kita akan pergi. Manusia modern, tulis Harari, tak lagi sekadar ingin selamat dari kelaparan dan penyakit. Kita ingin kebahagiaan tanpa henti, usia yang diperpanjang, bahkan kekuasaan menyerupai dewa. Namun di balik janji teknologi seperti bioteknologi, kecerdasan buatan, dan data science, justru mengintai pertanyaan yang tidak nyaman, apa arti manusia ketika algoritma mampu mengenali, memprediksi, bahkan mengambil keputusan lebih baik daripada kita sendiri? Di titik ini, kekaguman bercampur kecemasan di mana masa depan terasa menjanjikan sekaligus asing.
Kecemasan itu menjadi sangat dekat dan personal ketika membaca buku "21 Lessons for the 21st Century". Buku ini seperti berhenti dari lompatan sejarah besar, lalu menatap lurus ke wajah kita hari ini. Tentang dunia yang bising oleh informasi, tentang politik yang dipenuhi emosi, tentang pekerjaan yang terancam digantikan mesin, dan tentang kebenaran yang kian rapuh. Harari tidak menawarkan resep instan, tetapi menekankan satu hal yang terasa sangat manusiawi yaitu kejernihan berpikir. Di tengah banjir data, tantangan terbesar kita bukan kekurangan informasi melainkan kehilangan kemampuan untuk memilah, memahami, dan menjaga kesadaran diri.
Semua benang itu kemudian disimpulkan dengan cara yang lebih mendasar dalam buku "Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI". Di sini, Harari menempatkan informasi sebagai tulang punggung peradaban. Dari cerita lisan di sekitar api unggun, tulisan di atas batu dan kertas, mesin cetak, hingga era digital dan AI, manusia selalu dibentuk oleh cara ia memproduksi dan menyebarkan informasi. Jaringan-jaringan ini tidak hanya menyebarkan pengetahuan, tetapi juga kekuasaan, manipulasi, dan ilusi kebenaran. Membaca buku ini terasa seperti menyadari bahwa kita hidup di dalam sistem yang kita bangun sendiri yaitu sistem yang bisa mencerdaskan, tetapi juga bisa jadi sangat menyesatkan.
Jika semua buku itu dirangkai, terasa jelas bahwa Harari sedang menulis satu kisah panjang tentang manusia. Masa lalu memberi fondasi, masa depan membuka kemungkinan, masa kini menuntut kewaspadaan, dan informasi menjadi benang penghubung semuanya.
Nah, yang paling membekas bagi saya bukanlah ramalan-ramalannya, melainkan nada reflektif yang konsisten yaitu ajakan untuk rendah hati. Bahwa kejayaan manusia mungkin hanya satu episode singkat dalam sejarah panjang kehidupan, dan bahwa teknologi sehebat apa pun tidak pernah netral secara moral.
Pada akhirnya, membaca Harari bukan soal sepakat atau tidak sepakat dengannya. Ini tentang keberanian untuk berhenti sejenak, mengambil jarak dari rutinitas dan keyakinan sehari-hari, lalu bertanya dengan jujur, manusia macam apa yang sedang kita bangun, dan dunia seperti apa yang ingin kita wariskan.
Di tengah algoritma, data, dan percepatan zaman, mungkin tindakan paling manusiawi adalah terus bertanya, terus merasa, dan terus menjaga makna.
--- Riri Satria ---
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).
Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.
Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.
Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,
Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]
Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering. Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]
oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]
Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]
MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]
Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]
Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]