Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • TRANSFORMASI DIGITAL BUKAN SOAL TEKNOLOGI, TAPI SOAL MASA DEPAN

    04 Feb 2026 | Dilihat: 19 kali

    Oleh: Riri Satria

    Setiap kali saya masuk kelas untuk membahas ekonomi digital dan transformasi digital, saya selalu merasa bahwa kita sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada teknologi. Kita sedang membicarakan masa depan organisasi, masa depan daya saing, bahkan masa depan sebuah bangsa.

    Hari ini, pada kuliah perdana mata kuliah Digital Business Strategy di Program Magister Teknologi Informasi, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, perasaan itu kembali muncul dengan kuat. Mata kuliah ini sudah saya asuh sekitar delapan tahun, dan dari tahun ke tahun saya melihat satu hal yang sama bahwa teknologi berubah sangat cepat, tetapi tantangan manusia dalam memaknainya tetap kompleks. Tujuan utama mata kuliah ini sederhana namun strategis yaitu membekali mahasiswa agar mampu merancang strategi dan roadmap transformasi digital bagi sebuah organisasi secara utuh, bukan parsial.

    Banyak orang masih mengira transformasi digital identik dengan membeli sistem baru, membangun aplikasi, atau memigrasikan data ke cloud. Itu tidak salah, tetapi itu hanya permukaan. Transformasi digital sejatinya adalah perubahan cara berpikir, cara mengelola organisasi, dan cara menciptakan nilai di tengah dunia yang kini digerakkan oleh data dan algoritma.

    Hari ini kita hidup dalam ekonomi digital, sebuah ekosistem yang terbentuk dari miliaran koneksi antara manusia, bisnis, perangkat, data, dan proses. Dunia menjadi hiper-terhubung. Keputusan bisnis tidak lagi hanya berdasarkan intuisi dan pengalaman, tetapi semakin ditopang oleh data analytics, kecerdasan buatan, dan sistem digital yang bekerja nyaris real-time. Kita telah memasuki apa yang saya sebut sebagai the world of algorithms.

    Namun, di tengah kecanggihan itu, muncul paradoks menarik. Kita masuk ke Era Industry 5.0, yang justru menegaskan kembali pentingnya manusia. Industry 5.0 berbicara tentang human-centricity, sustainability, dan resilience. Artinya teknologi tidak boleh menghilangkan peran manusia, tetapi harus memperkuat kapasitas manusia. Bisnis tidak boleh hanya mengejar profit jangka pendek, tetapi harus membangun kekayaan yang berkelanjutan. Organisasi tidak hanya dituntut efisien, tetapi juga tangguh menghadapi disrupsi.

    Perubahan paradigma ini juga terlihat dalam evolusi dunia bisnis. Dulu, fokus utama adalah profit. Lalu bergeser ke value creation. Kini, kita berbicara tentang sustainable wealth. Ini bukan sekadar istilah indah. Ini adalah tuntutan zaman. Perusahaan yang tidak memikirkan keberlanjutan, tata kelola data, keamanan siber, dan dampak sosial dari teknologinya, pada akhirnya akan tertinggal.

    Karena itu, saya selalu menekankan kepada mahasiswa bahwa transformasi digital bukan sekadar komputerisasi atau otomatisasi. Komputerisasi hanya memindahkan pekerjaan manual ke komputer. Otomatisasi menyederhanakan proses. Tetapi transformasi digital mengubah fondasi: visi organisasi, strategi, struktur, proses kerja, budaya, hingga kompetensi SDM. Inilah sebabnya mata kuliah yang saya asuh tidak berhenti pada diskusi teknologi, melainkan menuntut mahasiswa berpikir strategis, bagaimana menyelaraskan bisnis dan teknologi, lalu menerjemahkannya ke dalam peta jalan transformasi yang realistis.

    Di sinilah tantangan sebenarnya muncul. Berdasarkan pengalaman saya di berbagai organisasi, hambatan terbesar transformasi digital bukan pada teknologi, melainkan pada manusia dan tata kelola. Mindset yang belum berubah, model bisnis yang usang, proses yang tidak didesain ulang, serta jurang antara bisnis dan teknologi menjadi penghambat utama. Belum lagi isu data governance, privasi, keamanan siber, dan ancaman dari dalam organisasi sendiri (insider threats). Semua itu membuat transformasi digital menjadi perjalanan kompleks, bukan langkah instan.

    Karena itu, transformasi digital harus dipimpin dari level strategis. Ia memerlukan tim lintas fungsi: ahli model bisnis, arsitek enterprise, perencana IT, manajer proyek, spesialis keamanan siber, hingga pengelola talenta digital. Transformasi digital bukan urusan satu divisi. Ia adalah agenda organisasi secara keseluruhan.

    Lebih jauh lagi, bagi saya, transformasi digital tidak berhenti di level perusahaan. Ia adalah agenda nasional. Indonesia yang kita cita-citakan menuju 2045 tidak mungkin terwujud tanpa talenta digital yang kuat, pendidikan yang bertransformasi, riset dan inovasi teknologi, pemerintahan digital, serta ketahanan siber. Kita juga harus berbicara tentang kedaulatan digital—bagaimana data, infrastruktur, dan teknologi strategis tidak sepenuhnya bergantung pada pihak luar.

    Akhirnya, setiap awal semester saya selalu mengingatkan: transformasi digital bukan tren sementara. Ia adalah keniscayaan sejarah. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita perlu bertransformasi, tetapi seberapa cepat, seberapa terarah, dan seberapa siap kita mengelola perubahan itu.

    Teknologi akan terus berkembang. Algoritma akan semakin cerdas. Tetapi masa depan tetap ditentukan oleh manusia melalui visi, etika, kepemimpinan, dan keberanian kita untuk berubah. Di situlah esensi transformasi digital yang sesungguhnya.

    -- Riri Saria --

    About Author

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture