Riri Satria
KATEGORI
  • Dokumen
  • Terkini
  • Teknologi & Transformasi Digital
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Sastra (Puisi dan Esai)
  • Apa Kata Media?
  • Apa Kata Sahabat?
  • Batin, Narasi dan Jejak Kehidupan dalam Karya Khairani Piliang

    02 Feb 2026 | Dilihat: 27 kali

    Oleh Riri Satria

    Analisis terhadap Dua Buku Khairani Piliang: Kumpulan Puisi “Seduh Sedih yang Bertasbih” dan Kumpulan Cerpen “Satu Pagi di Dermaga”

    Tulisan ini merupakan hasil pembacaan dan analisis terhadap dua buku karya Khairani Piliang, yakni kumpulan puisi “Seduh Sedih yang Bertasbih” dan kumpulan cerpen “Satu Pagi di Dermaga”. Kedua buku tersebut didekati secara berdampingan untuk melihat kesamaan watak kepengarangan, kecenderungan tema, corak gaya bahasa, serta perbedaan cara masing-masing genre menyalurkan pengalaman batin. Dari pembacaan itu tampak bahwa meskipun bentuknya berbeda, yang satu liris, yang lain naratif, dan keduanya berangkat dari mata air yang sama yaitu pengalaman batin manusia yang diolah dengan keheningan, empati, dan kelembutan.

    Membaca karya-karya Khairani seperti memasuki rumah yang sama lewat dua pintu berbeda. Tata ruangnya bisa berubah, tetapi udara yang dihirup tetap serupa: kesedihan yang tidak gaduh, tidak meledak menjadi jeritan, melainkan mengendap perlahan, mengajak pembaca duduk diam, dan merasakan. Kesedihan dalam karya-karya ini bukan luka yang dipamerkan, melainkan ruang perenungan. Ia hadir sebagai bagian dari hidup, bukan sebagai tragedi yang harus diratapi berlebihan.

    Latar kehidupan penulis ikut memberi jejak pada dunia karyanya. Khairani Piliang, penulis berdarah Minang yang lahir di Medan, tumbuh di Rantau Prapat, dan kemudian bermukim di Bekasi, akrab dengan dinamika kehidupan keluarga, nilai budaya, serta pengalaman manusia sehari-hari. Profesinya di bidang kesehatan mempertemukannya dengan sisi rapuh manusia, sakit, kehilangan, dan ketabahan, yang kemudian menjelma menjadi denyut batin dalam puisi dan cerpennya. Pengalaman tersebut tidak hadir sebagai laporan realis, tetapi sebagai getaran batin yang telah melewati proses pengendapan.

    Dalam puisinya, kesedihan diperlakukan seperti sesuatu yang diseduh. Rasa pahit tidak ditolak, tetapi dibiarkan larut perlahan hingga menjadi kesadaran. Puisi-puisi itu bergerak dalam wilayah liris, menghadirkan momen batin yang padat, simbolik, dan personal. Metafora-metafora sederhana seperti “krikil menyandung” dalam puisi tentang nasihat ibu menunjukkan bagaimana pengalaman hidup yang kecil dapat memantulkan makna batin yang luas. Pengulangan panggilan “Nak” menghadirkan irama yang mirip doa—lirih, intim, dan menyentuh ruang terdalam pembaca. Dalam bentuk seperti ini, puisi bekerja sebagai bisikan batin yang langsung menyentuh perasaan.

    Namun dunia batin yang sama bergerak dengan cara berbeda dalam cerpen. Di sana, kesedihan, kehilangan, dan ketabahan tidak berdiri sebagai perasaan semata, melainkan dijalani oleh tokoh-tokoh dalam peristiwa konkret. Anak yang kehilangan, perempuan yang menanggung beban rumah tangga, keluarga yang berhadapan dengan sakit dan semuanya hadir dalam alur kehidupan yang bergerak. Cerpen memberi tubuh pada pengalaman batin itu, memberinya ruang, waktu, dan sebab-akibat. Jika puisi adalah denyut jantung, maka cerpen adalah langkah kaki yang menempuh jalan panjang dengan denyut itu tetap terasa di dalam dada.

    Pembacaan kualitatif ini diperkuat oleh analisis kuantitatif menggunakan text analytics software terhadap teks kedua buku tersebut. Setelah teks dinormalisasi dan kata-kata umum disaring, tampak bahwa kata-kata yang paling sering muncul adalah “wanita”, “ibu”, “rumah”, “anak”, “orang”, dan “rasa”. Angka kemunculan kelompok kata yang berkaitan dengan keluarga dan relasi manusia jauh melampaui kelompok kata lainnya. Ini menunjukkan bahwa dunia naratif dan liris Khairani berpusat kuat pada relasi personal, terutama figur perempuan dan ibu, serta ruang domestik sebagai pusat makna. Kata-kata emosi seperti “rasa”, “hati”, “rindu”, dan “luka” juga muncul signifikan, sementara kata “sedih” sendiri justru tidak terlalu sering disebut. Kesedihan dalam karya-karya ini lebih sering hadir sebagai suasana dan metafora ketimbang pernyataan langsung.

    Pada cerpen, kata-kata yang berkaitan dengan waktu dan perubahan seperti “hari”, “lama”, “kembali”, dan “tiba”, muncul menonjol. Ini menandakan gerak naratif yang kuat, kehidupan yang berjalan, situasi yang berubah. Puisi sebaliknya lebih padat dengan diksi batin dan simbol, serta lebih sedikit pengulangan literal. Dari sini terlihat bahwa puisi menyentuh batin secara langsung, sementara cerpen membawa batin itu berjalan dalam kehidupan tokoh.

    Baik puisi maupun cerpen Khairani memiliki kecenderungan ekspresi yang lembut dan empatik. Kritik sosial, bila muncul, disampaikan lewat rasa, bukan lewat teriakan. Kekuatan tidak lahir dari benturan, melainkan dari empati. Dalam kerangka ini, karya-karya Khairani memperlihatkan ekspresi yang bisa disebut reflektif-feminin: berpusat pada relasi, ingatan, tubuh, dan perasaan, bukan pada konflik ideologis yang keras.

    Pada akhirnya, puisi dan cerpen dalam karya Khairani Piliang bukan dua dunia yang terpisah, melainkan dua cara bernapas dari jiwa kepengarangan yang sama. Puisi adalah napas pendek yang dalam, seperti bisikan doa. Cerpen adalah napas panjang, seperti perjalanan hidup yang membawa doa itu di dalamnya. Dalam keduanya, kesedihan tidak dibiarkan menjadi gelap yang mematikan, tetapi diolah menjadi cahaya redup yang menenangkan, luka yang tidak mematahkan, melainkan mematangkan jiwa manusia yang menjalaninya.

     

    Riri  Satria adalah seorang praktisi dan akademisi teknologi digital di Indonesia, aktif bergiat di dunia kesusatraan Indonesia, pendiri serta Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta. Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), ” Algoritma Kesunyian” (kolaborasi dengn Emi Suy, 2023), serta “Login Haramain” (2025), di samping lebih dari 80 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya.  Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku.

    Riri Satria lahir di Padang, Sumatera Barat 14 Mei 1970, aktif bergiat di dunia kesusastraan Indonesia, pendiri serta Ketua Jagat Sastra Milenia (JSM) di Jakarta, serta menulis puisi. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia’ yang diterbitkan Yayasan Hari Puisi Indonesia (2018). Puisinya sudah diterbitkan dalam buku puisi tunggal: “Jendela” (2016), “Winter in Paris” (2017), “Siluet, Senja, dan Jingga” (2019), “Metaverse” (2022), serta "Login Haramain" (2025), di samping lebih dari 60 buku kumpulan puisi bersama penyair lainnya, termasuk buku kumpulan puisi duet bersama penyair Emi Suy berjudul “Algoritma Kesunyian” (2023).

    Riri juga menulis esai dengan beragam topik: sains dan matematika, teknologi dan transformasi digital, ekonomi dan bisnis, pendidikan dan penelitian, yang dibukukan dalam beberapa buku: “Untuk Eksekutif Muda: Paradigma Baru dalam Perubahan Lingkungan Bisnis” (2003), trilogi “Proposisi Teman Ngopi” (2021) yang terdiri tiga buku “Ekonomi, Bisnis, dan Era Digital”, “Pendidikan dan Pengembangan Diri”, dan “Sastra dan Masa Depan Puisi” (2021), serta “Jelajah” (2022). Diperkirakan buku kumpulan esai terbaruya tentang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, serta kemanusiaan akan terbit pada tahun 2026.

    Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak tahun 2018, Riri Satria aktif menekuni dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau AI) terhadap dunia kesusastraan, terutama puisi. Riri diundang menjadi narasumber untuk membahas topik ini di berbagai acara sastra, antara lain: Seminar Internasional Sastra di Universitas Pakuan, Bogor (2018), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2019), Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival, Banjarbaru Kalimantan Selatan (2019), Seminar Perayaan Hari Puisi Indonesia, Jakarta (2021), Malay Writers and Cultural Festival (MWCF) 2024 di Jambi (2024), Seminar Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) di Banyuwangi (2024), Seminar Etika Kreasi di Era Digital, Diskusi Hak Cipta dan Filosofi AI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (2025), serta memberikan kuliah umum tentang topik pada Pertemuan Penyair Nusantara XIII (2025) di Perpustakaan Nasional RI.

    Saat ini Riri Satria menjabat sebagai Komisaris Utama PT. ILCS Pelindo Solusi Digital PSD sejak April 2024, sebuah perusahaan teknologi dalam grup Pelabuhan Indonesia atau Pelindo. Sebelumnya selama 5 tahun Riri menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) 2019-2024, sebuah pelabuhan petikemas terbesar di Indonesia yag merupakan joint venture antara Pelabuhan Indonesia dengan Hutchison Port Holdings Hongkong melalui Hutchison Ports Indonesia.

    Riri juga pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Republik Indonesia (Meko Polkam RI) bidang Digital, Siber, dan Ekonomi sejak Oktober 2024 s/d September 2025,

    Riri juga anggota Dewan Juri untuk Indonesia Digital Culture Excellence Award serta Indonesia Human Capital Excellence Award sejak tahun 2021. Riri juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan mengajar topik Sistem Korporat, Bisnis Digital, Manajemen Strategis Sistem Informasi, serta Metodologi Penelitian untuk program Magister Teknologi Informasi (MTI). Selain itu Riri adalah Anggota Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Universitas Indonesia dan sebelumnya Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

    Konten Populer

    • Pada tahun 2025, transaksi ekonomi digital diperkirakan se besar Rp 1.775 T. Ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan terus berkembang dengan nilai transaksi diprediksi akan mencapai US$124 miliar atau sekitar Rp1.775 triliun pada tahun 2025. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia akan berada pada peringkat pertama di ASEAN sebagai negara dengan nilai transaksi ekonomi digital terbesar dengan kontribusi […]

      Jul 02, 2025
    • Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan alhamdulillah puji syukur kepada Allah Jalla wa Alaa atas segala karunia di setiap detik dan hela napas pada hamba-hamba-Nya. Saya mengucapkan selamat serta ikut bangga dan bahagia atas amanah baru yang diembankan negara kepada Ketua Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), abang, sahabat, penyair, sang inspirator Riri Satria sebagai Komisaris Utama […]

      Apr 13, 2024
    • Era digital ini dengan segala kemajuannya seperti kecerdasan buatan, metaverse, bahkan media sosial sederhana pun seperti Facebook ini memiliki potensi dahsyat untuk melakukan rekayasa terhadap persepsi atau perception engineering.   Ya, sekarang eranya post truth society dan dunia penuh dengan yang namanya perseption engineering. Saat ini, perception is the reality, walaupun mereka yang sanggup berpikir […]

      May 27, 2024
    •   oleh: Riri Satria Hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2024. Kita memperingatinya saat ini dengan meresmikan Digital Maritime Development Center (DMDC) PT. Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS) / Pelindo Solusi Digital (PSD), yang sama-sama kita banggakan. Ini adalah pusat penelitian, pengembangan, dan inovasi solusi digital terintegrasi untuk ekosistem logistik maritim di Indonesia. […]

      May 20, 2024
    • Riri Satria adalah seorang pengamat ekonomi digital dan kreatif, sekaligus pencinta puisi yang lahir di Padang, Sumatera Barat, 14 Mei 1970. Sarjana Ilmu Komputer (S. Kom) dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang mengambil Magister Manajemen (MM) dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM ini tengah menempuh program S3 Doctor of Business Administration (DBA) di Paris School […]

      Nov 14, 2021
    • MENJAWAB TANTANGAN, MENJEMPUT MASA DEPAN SASTRA KOTA   Ketika UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature pada tahun 2021, banyak dari kita yang bersorak—dengan bangga, tentu saja. Sebuah pengakuan internasional untuk kota yang sibuk, padat, dan penuh riuh—tapi ternyata juga menyimpan denyut sastra yang tak pernah mati. Namun bersamaan dengan sorak itu, sebuah pertanyaan segera […]

      May 17, 2025
    • Assalamu alaikum wr wb. Salam dari Arafah, Mekkah Al Mukarramah. Tahukah sahabat bahwa nama Sukarno sangat terkenal di Arafah? Ya, pohon yang di belakang saya itu disebut oleh orang sini sebagai Pohon Sukarno. Pohon Soekarno di Padang Arafah adalah warisan hijau yang berasal dari usulan Presiden Sukarno saat melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955. Usulan […]

      May 27, 2025
    • Mungkinkah seseorang mengeluti 3 profesi sekaligus secara serius dan sepenuh hati?. Bisa. Inilah yang dilakukan oleh Riri Satria, Sang Polymath Di suatu siang, Riri memasuki pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan santai. Berkaos oblong, bercelana jeans serta beralas sandal. Di perjalanan memasuki sebuah ruang sastra, ia bertegur sapa dengan sejumlah seniman yang sedang berkumpul. Tanpa […]

      Jun 06, 2021

    F R I E N D S


    RECENT EVENT

    Riri Satria tentang Bencana Alam Sumatera

    play-sharp-fill

    POJOK PODCAST

    KULBIZ SESI 1.3
    By BigThinkersID Host Pinpin Bhaktiar
    Kulbiz adalah tentang kuliah ilmu bisnis secara komprehensif, relevan dan asik 😁🥳🚀🔥
    video
    play-sharp-fill

    Podcast Selengkapnya klik disini...

    Hide picture